"Kau yakin dengan misi ini?" tanya Bela pada Anna.
"Kalau aku jawab tidak yakin, apa kau akan menyerahkan misi ini pada orang lain Bela?" Anna bertanya balik pada Bela sambil menyilangkan kaki nya di ujung sofa.
Bela mengerlingkan mata nya, ini bukan pertama kali nya dia mendengar Anna berkata seperti ini. Anna dalam mode ini memang sangat lah menyebalkan, bicara asal, belagu dan sangat suka merendahkan orang lain.
Namun sebagai teman baik Anna sekaligus bos dari bisnis rahasia ini, Bela sama sekali tidak masalah. Anggap lah dia sudah sangat maklum menghadapi setiap karakter yang ada di dalam diri Anna Dartmen.
"Ck.. kau ini sedang mengejek ku?!" Ujar Bela pada Anna.
"Tidak! aku tidak sedang mengejek mu! Aku hanya bertanya saja." Ucapnya yang sambil tiduran di atas sofa di dalam markas mereka.
"Ann, kau memang adalah orang yang paling tepat untuk menjalankan misi ini tapi aku tetap saja merasa was-was! Sebab yang tahu kapan kau akan berubah Bisa saja kau berubah menjadi Annna, B
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Kini hanya ada Giovani dan Lunna di dalam ruangan itu. Jujur saja Lunna merasa risih saat tidak ada orang lain disana kecuali diri nya dan Giovani.
“Kalau aku pikir-pikir, selama ini kita bahkan belum pernah bicara berdua saja kan, Lunna?”
Giovani yang tadi nya berdiri di sekitaran pintu kamar perlahan mendekat ke arah Lunna yang duduk di sofa.
“Maafkan aku yang terkesan tidak ada waktu untuk mu. Sungguh, pekerjaan di kantor sedang sangat banyak. Belum lagi ada beberapa janji yang sudah terlanjur ter-schedule yang tidak dapat aku batalkan, membuat ku tidak punya waktu berduan denagn mu Lunna. Padahal seharus nya kita berdua harus lebih banyak menghabiskan waktu berdua. Tapi lihatlah, karena diri ku kau jadi merasa kesepian.”
Giovani yang tadi nya sudah duduk di dekat Lunna, pelan-pelan bergeser lebih dekat ke sebelah Lunna.
Lunna tentu saja menyadari hal itu. Pelan-pelan Lunna juga bergeser menjauh dari Giovani.
Entah mengapa Lunna merasa seolah-olah kebersamaan nya bersama Giovani, membuatnya merasa menyelingkuhi Darren. Dan perasaan itu semakin terasa kental karena Lunna teringat Darren saat ini sedang berjuang hidup dan mati di dalam ruangan yang hanya berbatas kaca dengan ruangan tempat Lunna dan Giovani berada saat ini.
“Hmm.. Tidak perlu berkata sungkan seperti itu Giovani. Aku sangat mengerti.” Lunna pun langsung berdiri dan pura-pura mengambil sebotol air mineral dari lemari es. “Apa kau minum?” Tawa Lunna.
“Tidak! Terima kasih. Aku tidak membutuh air saat ini. Aku hanya membutuhkan Darren kembali sadar dan kita dapat lebih mengenal satu dengan lain nya lebih dalam.” Ucap Giovani yang tentu saja notice Lunna beranjak pergi karena dia yang bergeser semakin dekat ke tempat Lunna.
“Apa kau tidak ingin mengenal ku Lunna?” sambung Giovani lagi.
“Tentu saja aku ingin mengenal diri mu Giovani. Hanya saja aku merasa, disini bukan lah tepat yang tepat. Mungkin setelah Darren keluar dari masa kritis nya kita bisa ngobrol lebih jauh soal ini.” tolak Lunna halus.
“Kau benar. Sebaiknya saat ini kita fokus pada kesembuhan Darren dulu.” Sambung Giovani.
“Giovani, aku penasaran sesuatu.” Tanya Lunna.
“Ya, tanyakan lah. Kau penasaran soal apa, baby.”
Dasar Giovani playboy cap buaya buntung, tanpa ragu dia langsung manggil Lunna dengan embel-embel baby. Tapi kalau di pikir-pikir, Giovani sebenarnya sah-sah saja jika ingin memanggil Lunna dengan panggilan itu. Secara Lunna adalah calon istri nya.
Yang tidak wajar itu malah kelakuan keponakan Giovani yang sedang terbaring koma saat ini. Yang entah sudah berapa kali menyicipi bibir calon istri paman nya itu. Padahal Giovani saja belum pernah satu kali pun bertindak sampai sejauh itu.
“Siapa sebenarnya yang telah menyerang kediaman keluarga Smith? Dan bagaimana mereka datang bertepatan di saat pengawal yang ada di kediaman keluarga Smith hanya ada beberapa orang? Dan yang aku aneh kan lagi adalah kemana para pengawal yang lain nya?
Giovani melihat lekat pada Lunna. Mungkin karena terlalu panik Giovani sampai tidak terpikir ke hal-hal rinci seperti itu. Untung nya, Lunna adalah seorang yang sangat cedas. Sehingga hal-hal detail seperti itu tidak terlewatkan oleh nya.
“Aku akan sangat beruntung jika aku sampai menikah dengan wanita ini. Selain paras nya yang cantik, otak nya juga sangat pintar.” Batin Giovani.