Cinta seperti angin. Datang tiba-tiba tanpa permisi. Cinta bagaikan penyihir yang memiliki kekuatan dahsyat. Menarik dua hati yang berbeda menjadi satu.
Ellery Anka (Anka), seorang gadis remaja yang baru mengenal cinta. Beruntungnya, cinta yang ingin dia raih menyambut cintanya dengan ramah. Harvin Nolan (Harvin), seorang CEO yang terkenal dingin dengan siapa pun. Kehangatannya hanya untuk Anka.
Namun, kebahagiaan Anka tidak berlangsung lama. Tanpa disengaja, Anka mengetahui rahasia kekasihnya yang membuat perasaan Anka perih dan hancur.
Disaat Anka dirundung kesedihan, masa lalu Harvin hadir. Menyusup dan meretakkan kehidupan asmara mereka.
Mengapa dulu Harvin melabuhkan cintanya pada Anka yang merupakan gadis biasa saja?
Apakah Harvin akan kembali pada masa lalunya?
Berhasilkah Anka meraih kembali cinta CEO dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triple.1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Masih Segel.
Sudah dua bulan berlalu semenjak Anka berstatus sebagai istri Harvin. Selama itu pula, ingatan Anka tentang Harvin belum kembali. Gadis itu sendiri bingung kenapa ingatan tentang Harvin masih belum terbayang meski sedikit. Sedangkan ingatan yang lain sudah lengkap menjadi gambaran yang utuh.
Saat ini mereka sudah kembali ke mansion Harvin. Mansion yang besarnya dua kali dari mansion Elvan. Kemegahan dan kemewahan yang diberikan Harvin pada Anka masih tidak membuat nyaman perasaan Anka. Dia bagai hidup dengan seseorang yang asing namun halal baginya.
"Dorr!"
"Eh, kucing," latah Anka.
"Lu ngapain bengong di sini sendiri?" tanya Liza. Gadis itu menarik kursi dan duduk tepat di samping Anka.
"Gue lagi mikir."
"Mikir apaan?" tanya Liza.
"Mikir-"
"Stop!" seru Liza menghentikan ucapan Anka. "Gue minta pelayan elu ambilin minum dulu sama cemilan," ucap Anka berlalu meninggalkan Anka menuju dapur.
Anka kembali merenung, kesal dengan ingatan akan Harvin yang belum terbesit di kepalanya. Ingatan akan Noah saja sudah kembali. Sepertinya kali ini kedudukan Harvin tergeser oleh asistennya.
"Lu kenapa sih, Ka?" Liza kembali dengan membawa sebuah camilan.
"Gue juga bingung."
"Ya udah, elu cerita aja sama gue."
Anka menghela napas dan menyandarkan punggungnya di kursi rotan. Halaman belakang menjadi tempat favorit Anka saat sedang bosan. Harvin tidak melarang Anka untuk melakukan apa pun. Suaminya itu hanya tidak mengizinkan Anka untuk keluar rumah dan bekerja. Alasannya sangat masuk akal sehingga Anka dengan ringan hati menerima perintah suaminya.
Harvin tidak ingin keberadaan Anka diketahui oleh Claudia dan antek-anteknya. Pria itu tidak ingin terpisah lagi dengan istri tercintanya. Anka lebih baik berdiam diri di mansion.
"Nah itu, Liz. Gue bingung mau ceritanya dari mana."
"Malam pertama ya?" Liza langsung bersemangat.
"Malam pertama dari Hongkong," cibir Anka.
"Eh, elu masih segel?" Liza terkejut mendengar penuturan Anka.
Tak ingin ada yang mendengar, Anka segera menutup mulut Liza dengan tangannya. "Sstt, jangan teriak bisa ngga sih, Liz!" ketus Anka.
"Ham, mam, haam,"
"Ngomong apa sih, Liz?"
Liza menunjuk mulutnya yang ditutup oleh Anka dengan tangan.
"Eh, colly!" ucap Anka sambil terkekeh. Dia langsung melepas tangannya dari mulut Anka. Pantas saja sahabatnya itu tidak bisa berbicara karena ulahnya sendiri.
"Cola ****, enak aja lu! Lipstik gue belepotan nih jadinya," kesal Liza. "Dah, buruan deh ceritanya, Ka! Jangan bikin gue pulang dengan membawa rasa penasaran di hari dan pikiranku ini."
"Idih, sok puitis banget bahasa lu," ejek Anka. Gadis itu menghela napas untuk kesekian kalinya. "Jadi gini, gue itu bingung sama diri gue sendiri." Anka memulai berbicara.
"Bingung kenapa, Ka?"
"Permisi nyonya, ini minuman untuk nyonya dan non Liza," ucap bi Emma.
"Makasih bi, makasih bi," ucap Anka dan Liza bersamaan.
Bi Emma tersenyum sambil undur diri. Wanita paruh baya itu diajak Anka untuk mengikutinya kembali ke ibu kota. Ajakan dari nyonyanya disambut dengan senang hati oleh wanita itu. Lagipula dia tinggal sebatang kara di sana.
"Ada aja iklannya," ketus Liza. "Ok, lanjut!" perintah Liza.
"Sampe di mana tadi?" tanya Anka.
"Sampe di sini," jawab Liza santai.
"Ish, apaan sih Liz. Ya udah, gue ngga jadi lanjut nih!"
"Idih, nyonya Harvin Nolan cemberut. Jangan suka cemberut, Ka! Ntar cepat keriputan loh. Terus nanti ngga lucu kan kalo elu punya anak, anak ku manggil elu oma bukan mama." Liza asyik menggoda Anka tanpa memperhatikan ekspresi Anka yang tiba-tiba berubah.
Anak. Ya ampun, bisa-bisanya aku melupakan hal itu! Harvin dari keluarga berada pasti menginginkan penerus. Bagaimana aku bisa memberinya keturunan. Anka bermonolog di dalam hati. Dia hampir saja melupakan sesuatu yang penting.
"Hmm, bengong lagi."
Nyonya muda itu langsung tersadar dari lamunannya saat sahabat super cerewetnya membuyarkan lamunan Anka. Tiba-tiba Anka langsung bersemangat. "Eh, Liz! Ingatan gue itu hampir komplit semuanya. Bahkan ingatan dari masa kecil gue hingga gue segede ini udah komplit."
"Beneran? Gue test nih. Pertama kali kita ketemu kapan, di mana, terus saat apa?"
"Ish, Liza!" rengek Anka.
"Ya kan gue butuh kepastian. Bener ngga elu udah inget beneran."
Anka menghela napas dengan kasar. "Pertama kali kita ketemu di butik Z. Waktu itu lu sama gue salah pakek sendal sebelah-sebelah. Gue pakek sendal elu yang sebelah, elu pakek sendal gue sebelah," jelas Anka dengan satu tarikan napas.
"Ih, beneran elu udah inget," Liza berteriak senang. "Eh, tunggu! Satu lagi. Siapa bos di cafe O?"
"Ya om Candra lah! Ih, pertanyaan gampang banget itu."
Liza langsung terdiam mendengar jawaban Anka yang spontan. Tak berapa lama, Liza langsung tertawa sambil menepuk bahu Anka. "Elu bener-bener udah come back," jawab Liza setelah menguasai diri.
Selama ini Anka masih belum sadar jika pemilik asli cafe O adalah Damar. Mendengar jawaban Anka dengan yakin membuat Liza percaya jika ingatan sahabatnya itu sudah kembali.
"Udah?" tanya Anka tidak sabar.
"Belom," jawab Liza. Gadis itu tertawa hingga memegangi perutnya.
"Ih, udahan dong Liz! Gue mau curhat nih."
"Oke," jawab Liza sambil menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. "Lanjut!" perintah Liza.
"Nah, jadi anehnya itu gue ngga ingat sedikit pun tentang laki gue. Segelintir bayangannya aja ngga ada. Aneh ngga tuh!"
"Kok bisa?"
"Mana gue tahu. Kalo gue tahu kan udah gue tempe," ketus Anka.
"Eh, ngajakin becanda!" goda Liza.
"Lagian elu. Gue cerita kan berarti gue ngga tahu kenapa sebabnya. Malah di tanya balik."
"Ok. Jadi elu ngga ingat sama sekali tentang Harvin?" tanya Liza meyakinkan Anka.
Lawan bicara Liza hanya mengangguk tanda iya sebagai jawaban.
"Sekarang gue tanya. Gimana dengan perasaan elu dengan laki lu?"
"Gimana ya jawabnya. Gue bingung."
"Gini, gini. Ada ngga sedikit rasa kek kesetrum di hati elu saat bersentuhan dengan Harvin?"
"Ih, gila lu, Liz! Mati dong gue kalo hari gue kesetrum!" seru Anka.
Liza menepuk keningnya sendiri. Dia tidak menyangka kecelakaan yang mengakibatkan sahabat baiknya itu, selain membuat Anka hilang ingatan juga merubah jalur syaraf di otaknya. "Ampun deh gue!" seru Liza. "Maksud gue itu, saat elu ngga sengaja bersentuhan dengan Harvin ada perasaan ser ngga di hati lu. Kek orang yang baru pertama kali jatuh cinta gitu." Liza menjelaskan dengan sabar.
Anka terdiam sejenak. Dia berpikir keras tentang perasaan yang dimaksud oleh Liza. Anka memutar kembali memorinya dua bulan terakhir dari awal dia menikah hingga tadi pagi. "Ah!" tiba-tiba Anka berteriak seperti mendapat sesuatu.
"Ada?" tanya Liza antusias sambil menatap Anka.
banget nie evan, tapi seru si ceritany lanjut terus thour....!!!
Semangat ✊