Slow update..
Athifah Farihan cantik dan periang, dua kata yang pertama kali orang lihat dari gadis tersebut, terlahir dari keluarga sederhana, membuatnya harus putus sekolah dan membantu perekonomian keluarga demi kedua orang tuanya
Muhamad Ahnaf Baqir tampan dan shalih, berasal dari keluarga yang cukup berada tak membuatnya sombong, di tambah dirinya sebagai lulusan salah satu pesantren membuatnya tidak pernah membedakan orang dari derajatnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak kita
Tiga hari sudah berlalu Thifah terbaring di rumah sakit. Meski kata dokter Delia keadaan Thifah sudah mulai membaik tapi entah kenapa dia belum juga mau membuka matanya, mungkin karena dia terlalu lelah dan banyak pikiran sebelumnya jadi saat ini dia masih tertidur. Karena dokter Delia pun mengatakan jika keadaan Thifah tidak perlu di khawatir kan lagi dia hanya tidur dalam waktu yang lama
Malam ini seperti biasa Naf bangun untuk melaksanakan sholat tahajud dan sholat hajat, ia meminta kesembuhan untuk istrinya yang masih terbaring lemah diatas brankar
Setelah melaksanan sholat sunah malam Naf membuka Alqur'an dan mulai membacanya, sudah sebanyak satu juz ia membaca ayat ayat suci Alqur'an, Naf menutup Alqur'an kemudian dia menengadahkan tangannya berdoa dan memohon ke pada Allah SWT
"Ya Allah sembuhkanlah istri hamba angkatlah segala penyakit dari tubuhnya, kembalikan lah kesehatan nya seperti sediakala, berilah kesempatan pada kami untuk mengurus dan membesarkan anak kami dalam keluarga yang utuh dan penuh ksih sayang, jadikan lah anak yang saat ini di kandung istri hamba anak yang shalih dan shalilhah. Amin ya Robal'alamin"
Naf melipat sajadahnya kemudian meletakan di atas meja bersama Alqur'an. Dia berbalik melihat istrinya dan betapa terkejutnya ia meihat Thifah tengah duduk bersandar sambil menatap dirinya tak lupa senyum manis terlukis di bibirnya
"Sayank, kamu sudah bangun" Naf tergopoh menghampiri istrinya
Thifah mengangguk sambil tersenyum, ia merentangkan tangannya meminta pelukan. Naf tersenyum lebar dia merengkuh Thifah erat ia mencium pucuk kepala Thifah berkali kali tak lupa Naf mengucapkan syukur, karena Thifah nya sudah kembali lagi seperti Thifah yang dulu
"Adek sudah sembuhkan?" Naf meregangkan pelukannya, ia duduk di samping istrinya
"Memang adek kenapa" bukannya menjawab Thifah malah balik bertanya
"Tidak adek tidak kenapa napa kok, mas seneng adek sudah kembali ceria lagi" Naf enggan mengungkit kejadian tempo hari karena takut membuat pikiran Thifah kembali terganggu
Thifah tersenyum "Adek tidak lupa kok, adek ingat semua, hanya entah kenapa adek seakan bisa melupakan semuanya setelah... " Thifah menghentikan ucapannya ingatannya kembali pada seorang anak laki laki di dalam mimpinya
"Setelah apa? " Naf menatap tajam pada istrinya
"Mas adek mimpi, bertemu seorang anak laki laki wajahnya mirip sekali dengan mas"
"Benarkah?"
"Iya, dia memanggil adek, Bunda" kening Thifah berkerut ia menatap Naf
Naf mengusap pipi istrinya lembut, kemudian ia mengecup keningnya
"Mas, siapa anak itu? Apa dia.. "
"Dia anak kita sayank" jawab Naf cepat sebelum Thifah menyelesaikan ucapannya
"Anak kita?" ulang Thifah dengan nada tidak percaya
"Iya anak kita, dia di sini" Naf mengarahkan tangan Thifah pada perutnya yang masih rata "tapi mas enggak nyangka ia menemui bunda secepat itu"
"Di sini? Anak kita? Adek.. " Thifah mulai berkaca kaca
"Adek hamil, di sini ada anak kita, buah cinta kita sayank" Naf melanjutkan ucapan Thifah
"Masya Allah, Alhamdulilah hirobbil 'alamin, kita akan jadi orang tua mas, adek akan jadi ibu?" air mata Thifah mulai menetes tapi kali ini yang keluar adalah air mata bahagia
"Iya sayank, kita akan jadi orang tua, kita sama sama besarkan anak kita supaya jadi anak yang shalih dan shalilhah" Naf kembali memeluk Thifah
"Tapi mas, apa bisa adek menjadi seorang ibu dalam usia yang masih sangat muda" wajah Thifah kembali lesu
"Isya Allah bisa, kita akan sama sama belajar ya sayank"
Thifah kembali tersenyum lebar dia mengeratkan pelukannya menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya
"Mas sudah memberi tahu ibu dan mbak Anisa belum, tentang kehamilan adek" Thifah melepaskan pelukannya
"Belum sayank, bagaimana mas mau memberi tau mereka, pikiran mas hanya terfokus pada adek seorang" Naf menjawil hidung mancung sang istri
"Mas, adek serius" ucap Thifah manja
"Memang mas kelihatan yang bercanda" Naf memicingkan matanya
"Mas ihh," Thifah mengerucutkan bibirnya lucu
Naf terkekeh dia mencium pipi istrinya kalo saja tidak mengingat kondisi istrinya yang masih lemah Naf ingin sekali mencium bibir Thifah bahkan meminta lebih, tapi saat ini ia hanya bisa bersabar sampai benar benar istrinya dinyatakan sembuh
"Alhamdulilah ya Allah, akhirnya engkau mengembalikan istri hamba seperti sedia kala"