NovelToon NovelToon
Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Status: tamat
Genre:Mafia / Pembunuhan / Tamat
Popularitas:40k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Persahabatan tiga cowok yaitu Izam, Roki dan Martin disekolah menengah.cerita ini sudah direvisi silakan para pembaca untuk datang menikmati kisahnya. Jika ada kesalahan penulisan atau kata, saya meminta maaf. Ayo datang meriahkan kisah fantasi ini.Terima kasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Amplop Merah

Interior mobil mewah itu terasa sunyi, hanya diisi oleh desau pelan mesin. Martin duduk di kursi penumpang, matanya menatap kosong ke jalanan yang mulai gelap setelah berpisah dengan Izam. Ia menghela napas panjang, berat, seolah baru saja melepaskan beban yang sangat ia sayangi.

"Apa ini keputusan yang bagus untuk berpisah?" lirih Martin, suaranya sedikit serak.

Mark, yang fokus mengemudi, meliriknya sekilas. "Apa yang kamu pikirkan?"

"Aku hanya memikirkan tentang Roki." Martin menutup mata sejenak, wajahnya menunjukkan keraguan yang dalam.

"Apa yang terjadi dengan dia? Bukankah seharusnya kamu merasa lega?" tanya Mark.

"Tadi kami sempat bertengkar, lagi-lagi karena masalah kelompok kita," jawab Martin. "Dia tahu ini bukan sekadar permainan."

"Maksudmu kecelakaan yang menimpa Tera dan Teri? Dan video yang kamu terima itu?" desak Mark.

"Iya," Martin mengangguk pelan. "Meskipun aku sudah tahu mereka baik-baik saja karena Rendi menyelamatkan mereka... Justru karena itu, aku harus berpisah dengannya. Lawannya bukan sembarangan, Mark. Aku tidak mau dia berada dalam bahaya lebih jauh." Matanya menyiratkan rasa sakit yang tersembunyi.

Mark mendengus. "Kamu itu memang tidak pernah berubah. Sejak pertama kali kita bertemu, kamu selalu begitu. Selalu mengkhawatirkan orang lain daripada dirimu sendiri. Kapan kamu akan berhenti menjadi malaikat pelindung yang selalu mengorbankan diri?"

Martin tersenyum getir. "Bukankah kamu sudah tahu sifat diriku? Itu sudah bawaan lahir." Ia kemudian menyentuh sisi emosionalnya yang lain. "Bagaimana dengan Ibu dan kedua kakakku? Apa mereka akan baik-baik saja?"

"Tenang saja. Mereka akan baik-baik saja," kata Mark dengan nada meyakinkan. "Aku menyuruh anak buah terbaik yang sudah aku seleksi untuk menjaga keluarga kita. Mereka tidak akan tersentuh."

"Ngomong-ngomong," Martin mengubah topik, matanya memancarkan rasa usil. "Kapan kamu akan menikahi Kak Mola?"

Mark terbatuk, wajahnya sedikit kaget. "Jika kamu ingin tahu, nanti, setelah semua urusan kita selesai. Kamu tahukan kalau kakakmu itu masih terobsesi dengan Ibumu, bukan?"

"Aku tahu itu," Martin mengangkat bahu. "Jadi kamu harus menunggu lagi, ya? Penderitaan cinta yang sungguh mendebarkan." Martin berusaha menahan tawa, ekspresinya nakal.

Mark memutar bola mata. "Senang sekali ya kamu melihat penderitaanku?"

"Tidak juga," balas Martin, tawanya akhirnya pecah. Ia berusaha menenangkan diri. "Daripada kamu memikirkan nasibku atau nasib cintaku, lebih baik pikirkan beberapa dokumen di samping kamu."

Martin meraih amplop cokelat tebal. Di dalamnya, terdapat daftar nama orang yang harus mereka singkirkan. Ia membuka satu per satu lembaran kertas, membaca setiap nama dengan ketajaman seorang pemburu.

"Apa ini sudah semua target yang kita ketahui?" tanya Martin.

"Sudah. Hanya saja, ada daftar nama yang identitasnya masih belum lengkap. Mereka ada di amplop merah," jelas Mark.

Martin membuka amplop merah itu. Saat matanya menyentuh salah satu nama yang tertulis samar di sana, tubuhnya menegang. Wajahnya yang tegang perlahan dihiasi oleh senyum licik dan dingin. "Apa... apa benar dia salah satu daftar nama yang harus kita waspadai?" Martin bertanya, nadanya penuh ketidakpercayaan yang menyenangkan.

"Iya. Apa ada masalah dengan nama itu?" Mark merasa ada yang aneh.

"Tidak, hanya saja... musuh yang kita hadapi ternyata tidak semudah yang kita bayangkan." Martin menoleh ke luar jendela, matanya tampak jauh, seolah sudah melihat pertarungan besar yang akan datang.

Mark mendesaknya, "Kenapa dengan kamu? Kenapa wajahmu terlihat senang sekaligus gelisah?"

"Tidak ada," Martin mengelak cepat.

"Jangan bilang kamu... merindukan Roki lagi?" goda Mark, mencoba memancingnya.

Martin menoleh dengan tatapan tajam. "Daripada kamu memikirkan diriku yang tidak pasti, kenapa kamu tidak mencari mereka bertiga yang belum kembali sampai sekarang?"

"Ayolah, biarkan mereka bersenang-senang sebentar. Mereka sedang berjuang di hutan belantara!" Mark tertawa.

"Kamu bahagia sekali melihat teman kamu sengsara karena ulahmu yang tidak becus!" Martin membalas, nadanya sedikit kesal.

"Siapa juga yang membuat masalah? Aku hanya memberikan 'tantangan'!" Mark membela diri.

"Apa kita akan langsung pergi ke pulau itu sekarang?" tanya Mark, mencoba mengalihkan fokus dari topik teman mereka.

Martin terdiam sejenak. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ia menerima pesan, dan ekspresi wajahnya berubah tegang. "Ada apa?" tanya Mark.

"Tidak ada. Hanya saja aku mendapatkan info kalau sebagian dari mereka sudah bergerak di ujung pulau," ujar Martin.

"Apa mereka yakin bisa mendapatkan pulau itu dengan pergerakan secepat itu?" Mark meragukan kemampuan lawan.

"Aku rasa tidak bisa," kata Martin yakin.

"Kenapa kamu bisa seyakin itu?"

"Kamu ingin tahu kenapa mereka tidak akan bisa mendapatkan pulau itu?" Martin memiringkan kepala, senyum jahil muncul lagi.

"Tidak jadi!" potong Mark cepat, ekspresinya frustrasi. Ia tahu persis apa yang ada di pikiran Martin.

"Kenapa?" Martin menantangnya.

"Pasti kamu akan bilang, 'Datanglah ke sana, biar kamu bisa tahu sendiri apa yang terjadi di sana'!" Mark menirukan gaya bicara Martin.

"Ternyata kamu tidak bodoh juga, ya," Martin tertawa puas.

"Mentang-mentang baru lulus SMA kamu sok pintar, ya?" balas Mark kesal.

"Kata siapa aku sok pintar? Aku memang pintar dari dulu, kamu saja yang tidak tahu," ujar Martin penuh percaya diri.

"Bagaimana dengan Marko?" tanya Mark, kembali serius.

"Dia masih bermain bersama kita," jawab Martin dingin.

"Sampai kapan kita akan terus bermain seperti ini?" Mark menatap layar ponselnya.

Tiba-tiba, ekspresi Mark berubah serius. Ia segera berbicara pada anak buahnya melalui interkom. "Ubah tujuan kita. Kita pergi ke markas rahasia sekarang!"

"Ada apa?" tanya Martin.

"Ada sedikit masalah di gudang," ucap Mark.

"Apa ini ulah Marko dan Andre lagi?" tebak Martin.

"Sepertinya iya," jawab Mark.

Mereka berdua segera menuju gudang senjata. Ketika mereka tiba, Marko dan Jel sudah berdiri di pintu masuk gudang. "Apa yang terjadi?" tanya Martin begitu ia keluar dari mobil.

Jel, orang kepercayaan Mark, melapor dengan wajah cemas. "Ini, Bos. Senjata yang kita pesan belum datang sampai sekarang!"

"Apa kamu sudah menghubungi pihak penjual?" tanya Martin tenang.

"Sudah, Bos. Mereka bersumpah sudah mengantarkannya," jawab Jel.

Martin menatap Marko. "Marko, coba kamu pergi ke tempat penjual. Jangan sampai mereka tidak memberikan barang yang kita inginkan. Apa kamu mengerti?" Martin mengucapkan perintah itu dengan nada santai, namun matanya penuh peringatan.

Marko pergi. Sementara itu, Martin beralih ke Jel. "Jel, apa yang kamu ketahui? Jangan diam saja."

Jel ragu sejenak, lalu berbisik, "Begini, Bos. Saat aku datang tadi, aku melihat Marko dan beberapa orang mengambil senjata yang ada di Pintu Kelima di gedung ini."

"Jadi dia sudah tidak sabar untuk membuat kita berselisih lagi," kata Martin, senyum tipisnya menunjukkan bahwa ia telah membaca permainan Marko.

"Apa yang Anda maksud, Bos?" Jel bingung.

"Mereka sudah bergerak untuk melakukan serangan kedua," jawab Mark, memotong pembicaraan.

Jel semakin tidak mengerti, namun saat itu juga, Marko menghubungi Jel. Ia memberitahukan bahwa pesanan senjata mereka diambil paksa oleh pihak Izam. "Bos!" seru Jel, menyodorkan ponselnya pada Martin.

Martin menerima ponsel itu dan membaca pesan dari Marko. Ia tetap tenang, kontras dengan situasi yang memanas. "Mark, coba kamu hubungi Erik, orang kepercayaan Izam. Tanyakan apakah mereka mengambil senjata pesanan preman Selatan."

Mark segera mengirim pesan. Ketika balasan datang, Mark menggeleng. Izam tidak mengambil senjata mereka.

Martin menghela napas. Ia menatap anak buahnya yang lain. "Baiklah. Jika Marko datang, kalian mulailah menyerang kelompok Izam. Katakan kalian tidak terima karena senjata kita diambil. Apa kalian tahu apa yang aku katakan?"

Kata-kata Martin sengaja dibuat samar, sebuah kode sandi untuk mengalihkan mata-mata yang mungkin mengawasi. Perintah ini bukan untuk menyerang Izam, tetapi untuk menggerakkan pasukan dan menciptakan narasi yang salah.

Sementara itu, di tempat Izam, suasana dipenuhi kesedihan yang mendalam atas kematian Terko. Izam duduk bersama keluarga yang sedang berduka, wajahnya menunjukkan empati yang tulus. Erik, salah satu anggota Geng SaNaHa, mendekat.

"Bos," ucap Erik, menunjukkan pesan dari Mark.

"Ada apa?" tanya Izam.

"Mark bertanya apakah pihak kita mengambil senjata pesanan milik preman Selatan. Mereka kehilangan senjata dan kabarnya pihak kita yang mengambilnya secara paksa," kata Erik, memodifikasi isi pesan untuk menutupi mata-mata yang mengawasi Izam. "Mereka sangat marah dan akan datang mengambilnya di tempat kita."

Izam bangkit, matanya memancarkan ketegasan seorang pemimpin. "Beritahu mereka, kita tidak mengambil senjata mereka. Jika mereka masih keras kepala untuk datang, kita ladeni dengan cara kita."

"Baik, Bos," Erik segera membalas pesan Mark.

Setelah Erik pergi, Izam memanggil orang kepercayaannya yang lain. "Hizam!"

"Ada apa, Bos?" tanya Hizam, mendekat.

"Siapkan anak buah kita. Kita akan kedatangan tamu yang tidak diundang," ucap Izam.

"Baik, Bos," jawab Hizam. Dalam hati, ia sudah tertawa kecil, "Akhirnya aku bisa melihat perselisihan keduanya lagi."

Benang-benang permusuhan, yang sebenarnya ditenun oleh pihak ketiga (Marko), kini hampir diikat menjadi simpul perang.

1
anggita
up trus..
anggita
organisasi kegelapan jiwa...
anggita
klo mau promo novel, bisa ketempat kami.. bebas👌
anggita
authornya kurang promo. padahal cukup rajin update. 🙄
Herwanti: gx pintar promo. terima kasih untuk kunjungannya ya
total 1 replies
anggita
pelabuhan X
anggita
👍👍👌👌👏👏,,
anggita
sastra ilmu bela diri 🙄
anggita
organisasi rose black.
anggita
👌👌,,,
anggita
mizuki.
anggita
remon.. roki..
anggita
mampir ,👍saja..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!