Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Bagaimana jika seorang anak perempuan memiliki dua orang ayah? Haruskan cinta pertamanya terbagi? Atau harus memilih, kepada siapa dia harus berbakti?
Anak yang dilahirkan karena suatu kesalahan, dan harus ikut menanggung akibatnya seumur hidup. Pada kenyataannya memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya tidak bisa merubah julukan sebagai anak haram yang telah melekat pada dirinya.
Sebaik apapun anak itu, bagaimanapun usahanya menjadi orang baik, tetap saja cap sebagai anak haram telah melekat padanya seumur hidup. Kisah yang dimulai dari sebuah kesalahan, akankah berakhir dengan kebahagiaan?
Bagaimana seorang anak tetap harus berbakti kepada orang yang telah membuatnya terlahir tanpa mempunyai nasab seorang Ayah.
‘Tidak bisakah aku hanya menjadi seorang anak seperti yang lain?’
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
💚*“Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun (ke langit dunia) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman: “Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” (HR Bukhari dan Muslim).*💚
Sejak Riani menikah dengan Fares, sudah menjadi kebiasaan baginya bangun di sepertiga malam. Karena almarhum Ibu mertuanya yang meminta Riani membiasakan beribadah disaat kebanyakan orang masih tidur. Tidak banyak yang dapat memanfaatkan waktu di sepertiga malam untuk mendekatkan diri pada Sang Pemilik Kehidupan.
Seperti biasa pagi ini, setelah sholat malam berjamaah dengan suaminya, Riani membangunkan anak-anaknya satu persatu. Tidak perlu harus berteriak atau menggedor pintu kamar, karena anak-anaknya sudah otomatis bangun setelah mendengar suara Bundanya.
Setelah melaksanakan sholat malam secara sendiri-sendiri di kamarnya masing-masing, ketiga anak Riani tidak lantas tidur lagi. Melainkan melanjutkan aktivitas duniawi lainnya. Entah belajar, entah mempersiapkan peralatan sekolah, entah berselancar di dunia maya seperti yang sedang dilakukan Aneesha. Anak paling sulung itu sedang asyik menyapukan jemarinya diatas layar ponsel. Baca novel online kali, ya Dia?
Satu persatu akun sosmed miliknya, Ia buka. Scroll ke bawah, kemudian kembali lagi keatas. Merasa tidak ada yang menarik, Ia lalu membuka aplikasi pesan singkat paling populer saat ini. Tidak ada yang menarik, hanya beberapa percakapan grup yang sengaja belum Ia buka. Perlahan ibu jarinya terus menyapu layar, dan berhenti pada nama kontak seorang pria yang akhir-akhir ini dekat dengannya.
“Ah, kenapa semalam Kamu tidak menelponku, Kak?” gumamnya.
Ia lalu membuka roomchat nomer kontak itu. Membaca kembali percakapan dalam roomchat itu. Aneesha tersenyum sambil menatap layar ponselnya, apalagi saat melihat keterangan di bawah nama kontak, yang menunjukkan pemilik nomer sedang online. Aneesha berniat menghubungi pemilik nomer itu, tapi sudah ada panggilan masuk duluan.
Dalam deringan pertama Aneesha langsung mengangkatnya.
“Assalamu’alaikum Kak Tara…..” sapa Aneesha lirih.
“Wa’alaikum salam Aneesha. Cepet banget angkat telponnya?” suara dari seberang telepon terdengar lembut.
“Emang tadi aku lagi mau telpon Kakak, eh, malah Kakak telpon duluan. Kakak udah kangen ya sama Aku, hehe.”
“Ha ha ha. Aneesha, Aneesha. Jangan katakan itu selain padaku, ya.”
“Kenapa? Nggak kangen ya, udah. Aku tutup nih!” ancam Aneesha yang membuat Tara segera menghentikan tawa.
“Eh, jangan! Belum juga ngomong masa mau ditutup.”
“Habisnya Kakak malah ngetawain aku.”
“Iya, iya…. maaf. Kamu lagi apa?”
“Ehm. Nggak ngapa-ngapain lagi tiduran aja sambil main hp.”
“Aneesha…..”
“Ya Kak.”
“ehem!” Tara berdehem menetralkan suaraanya.
“Kayaknya Kita bakal jarang ketemu, deh….” Tara menjeda kalimatnya.
“Kenapa Kak? Ayah memarahimu karena kemarin kita pergi berdua?” suara Aneesha terdengar mulai gelisah.
“Nggak, Sha. Bukan itu. Banyak pekerjaan di kantor, Pak Fares banyak mendapat proyek dari luar kota. Aku yang diminta menanganinya, Kamu tau kan, Ayahmu hanya percaya padaku untuk proyek-proyek besar?” Aneesha hanya diam mendengar penjelasan Tara.
“Sebenarnya hari ini aku ingin bertemu denganmu, tapi Aku harus mengantar Papa ke jogja. Ada yang ingin Aku bicarakan padamu, Sha?”
“Bicara apa Kak?” Aneesha mengerutkan kening.
“Ah, harusnya Kita bertemu tapi aku sudah tidak bisa menahannya. Aku harus mengatakan sekarang, atau Aku akan kehilangan kesempatan untuk mengatakannya”
“Apa-an, sih, Kak. Jangan bikin aku penasaran.”
“Ha ha ha. sebentar, Sha. Kayaknya Aku perlu minum dulu deh. Nanti aja Aku telpon lagi, ya.”
“Kaakkaak!” teriak Aneesha kesal karena Tara sudah memutus sambungan telepon mereka.
Aneesha bersungut-sungut sambil menatap layar ponsel yang sudah berubah gelap itu. Ia melemparkan ponsel dengan sembarangan diatas tempat tidur, kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudlu. Sesaat yang lalu adzan subuh sudah terdengar dari pengeras suara masjid, tandanya Ia harus segera melaksanakan kewajibannya.
Setelah melaksanakan kewajiban sebagai muslim, Aneesha berniat membantu Ibunya didapur. Belum sampai Ia keluar kamar, terdengar suara notifikasi pesan singkat dari ponselnya. Aneesha mencari ponsel yang tadi Ia lemparkan asal ke tempat tidur. Ia menemukan ponselnya diantara bantal dan selimut, segera Ia membukanya. Dan membaca sebuah chat.
‘Keluar sebentar! Aku didepan pintu pagar rumahmu.”
Hanya seperti itu isi pesan dari orang yang baru saja membuatnya kesal. Setelah membaca pesan itu, Aneesha segera keluar kamar dan menuruni anak tangga. Ia penasaran akan apa yang dilakukan pengirim pesan itu sepagi ini dirumahnya.
Aneesha menemukan seorang pria yang masih duduk diatas motor, dengan helm yang sudah dibuka dan digantung di spion motornya. Pelan Ia membuka pintu pagar, lalu keluar menemui orang yang baru saja mengiriminya pesan.
“Maaf, pagi-pagi Aku harus kemari.” Ucap pria itu ketika Aneesha sudah berdiri di hadapannya.
“Ada apa sebenarnya Kak Tara? Sepertinya mendesak sekali. Ayo, masuk dulu!” Aneesha hendak berbalik, tapi segera dicegah oleh pria yang sekarang sudah turun dari motornya.
“Tidak, Sha. Disini saja, Aku tidak punya banyak waktu.” Tara berdiri didepan Aneesha, gadis yang masih memakai piyama dan jilbab instant berbahan kaos itu mendongakan kepala demi menatap wajah Tara. Selisih tinggi badan mereka cukup banyak.
Aneesha menunggu Tara mengatakan sesuatu padanya, sedangkan Tara masih terdiam memilih kalimat yang tepat untuk mengatakan tujuannya menemui gadis itu sepagi ini.
“Aku suka padamu, Aneesha.” ucap Tara dengan cepat, bahkan Aneesha sampai tidak bisa mencerna kata-katanya.
“Suka? Maksud Kakak?” kedua alis Aneesha saling bertaut, dengan raut wajah yang bingung mendengar kalimat Tara.
Sejenak mereka hanya saling pandang, lalu Tara sedikit membungkukkan badan dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya.
“Aku MENCINTAIMU, Aneesha Pramudhita Putri Adhitama….” Bisik Tara dengan suara pelan, tepat di depan telinga Aneesha yang tertutup jilbab.
Gadis itu reflek menarik kepala, menjauhi wajah Tara yang hanya berjarak sekitar lima sentimeter saja. Dua detik, tiga detik, lima detik Tara masih berada di posisi membungkukkan badan, sebelum akhirnya menarik diri dan kembali berdiri tegak. Kedua tangannya masih berada di dalam saku celana, mungkin sedang meremas jemari meredakan kegugupannya.
“Kak, Aku-”
Tara segera memangkas apa yang hendak dikatakan oleh Aneesha, “Aku tidak melihatmu sebagai teman, Adik atau putri dari pria yang pernah bertaruh nyawa demi Aku, Sha. Aku menganggapmu sebagai seorang wanita. Seorang wanita yang dicintai oleh Taraka Dhyra.”
“Kak, tapi Aku....” Aneesha menjeda kalimatnya, kini Ia menunduk menghindari tatapan mata tajam milik Tara.
“Aku tahu, Sha. Aku tahu apa yang dilarang oleh Ayahmu. Aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku. Karena kemarin Aku juga telah mengakui perasaanku terhadapmu kepada Pak Fares. Aku tidak ingin Kau mendengarnya dari orang lain, maka dari itu aku harus mengatakannya sekarang.” Tara tersenyum menatap Aneesha yang semakin tertunduk.
“Ah, harusnya Aku memegang tanganmu. Lalu bertanya, maukah Kau menjadi pacarku, Aneesha? Ha ha ha. Tapi tidak bisa kulakukan, karena Aku tidak mau mengkhianati kepercayaan Ayahmu padaku.”
Tara menghembuskan nafas kasar, lalu menaiki motornya. Aneesha masih bergeming, dengan kepala tertunduk.
“Aku lega telah mengatakannya, Sha. Karena beberapa hari kedepan Aku akan sering keluar kota dan Kita tidak bisa bertemu. Paling tidak, sekarang Kamu tahu perasaanku padamu.” Tara mengambil helm yang tergantung pada spion motor.
“Kak...." Aneesha mendekati Tara, pria itu menghentikan gerakan tangan yang akan memakai helm.
“Jangan dijawab sekarang, Sha. Biarkan saat ini Aku berpikir Kau juga punya perasaan yang sama denganku. Terserah jika nanti akhirnya Kau menolakku. Aku ingin selama kita tidak saling bertemu, Aku bisa merindukanmu dan biarkan Aku berpikir Kau juga merindukanku. Masuklah! Aku pergi, ya! Do’akan semua urusanku lancar.” Tara memakai helm, kemudian menyalakan mesin motornya. Aneesha hanya mengangguk pelan
Suara deru mesin motor menggema di pagi buta itu. Tara menganggukkan kepala yang sudah tertutup helm fullface, kemudian melajukan motornya meninggalkan Aneesha yang masih terpaku menatap kepergiannya.
“Neesha juga suka sama Kak Tara.” lirih Aneesha, hanya untuk didengar oleh dirinya sendiri.
‘Apa ini? Koq Aku jadi deg-degan sih? Aduh…. gimana ini? Bunda... tolong Neesha!’ Aneesha bergumam panik, berjalan mondar-mandir di depan pagar yang baru terbuka sedikit itu.
“Mbak Aneesha ngapain pagi buta mondar-mandir diluar?” Aneesha terkejut ketika tiba-tiba ada suara dari belakangnya, membuat Aneesha menghentikan gerakan paniknya.
“Olah raga, Pak Salim.” Aneesha merasa malu karena kepergok Pak Salim, segera Ia berjalan melewati pagar yang sedikit terbuka, kemudian berlari kecil untuk masuk kedalam rumah.
“Anak muda sekarang aneh-aneh saja.” gumam Pak Salim sambil masuk kemudian menutup pagar.
***
Malam minggu, malam yang panjang. Malam yang indah dinikmati bersama pasangan. Malam yang asyik juga dihabiskan untuk berkumpul bersama keluarga. Bagi yang belum punya pasangan, atau keluarga, bisa dinikmati bersama teman-teman.
Malam ini, seperti yang sudah disepakati sebelumnya. Aneesha memenuhi permintaan Reza untuk makan malam bersama. Seperti yang sudah Reza katakan juga Ia tidak datang sendiri, Aneesha masih enggan pergi hanya berdua dengan Reza.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan restorant bintang lima yang terletak di pusat kota Surabaya. Tiga Kakak beradik keluar dari pintu belakang mobil, setelah masing-masing berpamitan dengan mencium tangan kedua orang tuanya.
“Maafkan Bunda tidak bisa menemani Kamu, Nak. Kamu tau sendiri Bunda tidak bisa, lagi pula Bunda harus menemani Ayah menghadiri acara dengan rekan bisnisnya.” wanita paruh baya yang duduk di kursi depan bagian penumpang tersenyum menatap ketiga anaknya.
“Nggak pa-pa, Nda. Ada Jenar dan Lingga yang menemaniku. Bunda sama Ayah bisa menikmati kencan kalian.” Jawab gadis paling pendek tapi sepertinya paling dewasa diantara ketiga anak tersebut. Kulit putihnya terlihat bercahaya dalam balutan gamis polos warna hitam yang dipadukan dengan longvest warna biru elektrik, dan jilbab pasmina motif abstrak senada dengan longvestnya.
“Kabari kalau sudah selesai, ya. Nanti sekalian Ayah jemput, selamat menikmati malam minggu kalian. Aneesha, lembutkan sikap didepan Papamu!” pria paruh baya dibalik kemudi berbicara dengan sedikit berteriak. Penampilannya khas dengan jenggot dan rambut panjang yang diikat ala hairbund.
“Met malam minggu, Ayah!” ketiga anak itu kompak meneriaki mobil yang mulai melaju, membawa orang tua mereka meninggalkan halaman restorant.
“Kita masuk, Kak?” tanya jenar setelah mobil yang dikendarai Ayahnya menghilang dari pandangan.
“Ya, kita masuk saja.” Aneesha merangkul kedua adiknya, berjalan mendekati pintu masuk.
“Aneesha!” panggil seorang pria yang baru saja keluar dari mobil.
Aneesha dan kedua adiknya menghentikan langkah, menoleh kearah sumber suara. pria tadi sedang memberikan kunci mobil kepada petugas palet parkir yang berdiri di depan restorant.
“Baru datang?” tanya pria itu. Aneesha mengangguk.
“Hai Kak Reyfan.” Jenar dan Lingga kompak menyapa pria dengan setelan jas warna hitam dan dasi warna biru muda yang melilit lehernya.
“Hai Jenar, hai Lingga!” sapa Reyfan dengan senyum ramah.
“Kak Reyfan ikut juga?” tanya Aneesha. Pria dengan dagu terbelah itu hanya mengangguk.
“Ayo masuk! Pak Reza sudah menunggu di dalam.” Reyfan memimpin jalan, tiga kakak beradik itu mengekor di belakangnya.
Seorang karyawan pria menyambut kedatangan mereka di pintu masuk, “Selamat malam, “Tuan dan Nona. Apakah sudah melakukan reservasi?”
“Ya, atas na-”
“Dia tamuku,” belum sempat Reyfan bicara, kalimatnya sudah dipangkas oleh seorang pria berpakaian rapi yang sedang berjalan menuju kearahnya.
“Danish!” “Reyfan!” pekik dua pria itu sambil saling melempar senyum., kemudian berpelukan.
“Ku kira Kau masih di LA?” ucap Reyfan.
“Sudah sebulan aku kembali, Papa langsung menyuruhku mengelola restorant ini.” jawab pria yang berwajah sedikit kebarat-baratan itu.
“Aku tidak sengaja melihat namamu dalam daftar reservasi tadi, kukira Reyfan yang lain. Baru kutahu itu dirimu setelah bertemu Pak Reza di dalam baru saja.” keduanya telah melepas pelukan, dan mengobrol terlihat sudah sangat akrab. Mengabaikan tiga pasang mata yang memandang kedua pria itu dengan heran.
“Sebentar, Rey. Ini-” Danish menunjuk Aneesha dan kedua adiknya.
“Ah, Dia Aneesha. Dan itu kedua Adiknya.” Ucap Reyfan memperkenalkan tiga kakak beradik di belakangnya.
“Aneesha? Jadi ini yang namanya Aneesha. Ah, maaf Nona. Saya tidak mengenali Anda. Pak Reza sering bercerita tentang Anda. Perkenalkan Saya Danish.” Danish mengulurkan tangan, yang disambut oleh Aneesha.
“Aneesha.” gadis itu hanya tersenyum kecil saat mengucapkan namanya.
“Eh, Ayo masuk! Pak Reza sudah menunggu dari tadi.” Danish menggerakkan tangan mempersilakan Aneesha berjalan duluan. Kemudian Ia berjalan disamping Aneesha. Reyfan dan kedua Adik Aneesha mengikuti dari belakang.
“Kak Reyfan kenal Dia?” bisik Lingga kepada Reyfan.
“Dia teman kakak waktu kuliah, orang tuanya yang punya restorant ini. Pak Reza menanam investasi untuk restorant ini.” jawab Reyfan dengan berbisik dan sedikit menunduk agar Lingga mendengarnya.
“Wah… Om Reza hebat, ya.” Lingga menggelengkan kepala, membuat Reyfan tersenyum dan mengacak rambut remaja yang baru tumbuh gede itu.
Mereka berjalan beriringan menuju ke dalam restorant, Danish memimpin jalan sambil berbicara basa basi dengan Aneesha. Gadis itu hanya menanggapi dengan anggukan dan senyum terpaksa sambil memainkan tali tas slempangnya.
.
.
.
Bersambung…..
Terima kasih kalian yang sudah merelakan waktu untuk selalu setia menunggu Aneesha. Terima kasih untuk KOMENTAR, LIKE dan RATE bintang limanya. Terus ikuti kisah Aneesha. Share ke sosmed kalian kalau cerita ini bagus menurut kalian.
Salam dari Bunda Riani.
syuuukaaaa bgt sm novel yg pertama kali sy baca, ttg aneesha. nyandu bgt...
cerita'y ga pasaran, trs kalimat² nya ngena dan enak d baca'y.
terimakasih bnyk kak, udh bikin karya yg good abisss poko'y 😊