Nena Layla (20 tahun) yang harus pindah ke Jakarta dan hidup bersama Malik (29 tahun) sang Kakak. Nena harus terlibat dengan Janu Arsana (32 tahun), seorang duda yang berprofesi sebagai pejabat pemerintah dan terlahir di keluarga mapan. Sebagai asisten rumah tangga di apartemen Janu, akhirnya mereka saling tertarik dan muncullah benih-benih cinta. Namun, prasangka mengalahkan logika Janu hingga ia melukai Nena. Nena akhirnya hamil. Berbagai polemik dan intrik yang terjadi diantara kisah cinta keduanya, mengingat perbedaan, usia, status sosial juga gaya hidup. Tanpa mereka ketahui ada keterkaitan antara orangtua Janu dan Nena. Bagaimana kelanjutan kisah cinta Janu dan Nena?
18++
=======
Instagram : dtyas_dtyas
Facebook : dtyas auliah
Murni hasil imajinasi author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Harus Bagaimana ?
Janu langsung melajukan mobilnya menuju sebuah Mall. Sesampainya di sana, tentu saja ia mencari Apotek tempat Nena bekerja. Kebetulan sekali ia bertemu Tata,”Di mana Nena?” tanyanya sambil menatap sekeliling.
“Nena! Pak Janu cari Nena?” tanya Tata.
Janu mengangguk, “Iya, mana dia. Aku harus bertemu Nena,” jawab Janu. “Nena sudah tidak bekerja di sini, Pak. Sudah lama, hampir satu bulan yang lalu,” sahut Tata lagi.
“Jangan bercanda kamu?”
Tata berdecak, “Menurut Bapak saya bercanda atau serius. Saya juga bertanya-tanya kenapa tiba-tiba dia minta berhenti,” sahut Tata sedikit berbohong karena Nena bukan minta berhenti, tetapi mutasi dan Tata tau akan hal itu. Janu tidak banyak bicara lagi, setelah mengucapkan terima kasih dia keluar dari Apotek tersebut.
Janu kembali memukul setir mobilnya saat sudah berada di dalam mobil, “Nena, di mana kamu?” tanyanya bermonolog. Ia pun menghubungi orang yang pernah ditugaskan mengawasi Nena. “Besok pastikan tempat tinggalnya lalu segera infokan. Ingat, segera!” ucap Janu sebelum mengakhiri telpon.
Sedangkan di tempat berbeda, Nena yang baru akan berangkat kerja membuka pesan yang dikirim Tata.
Hyun Bin datang nyariin lo. Sudah gue duga, lo ada masalah sama dia makanya milih mutasi.
Nena menghela nafas membaca pesan Tata, mengendarai motor maticnya ia meninggalkan rumah. Nena sebenarnya malas berangkat, tubuhnya seakan tidak bisa diajak kompromi dengan jadwal shift malamnya.
“Nena, kamu malam ini stay di kasir aja,” perintah kordinator shiftnya saat mereka akan mulai aktifitas. “Iya, Kak.” Bersyukur jika ia berada di meja kasir karena selama delapan jam ke depan Nena hanya duduk di kursi tidak berdiri atau berada di gudang untuk update stok fisik.
Memikirkan apa yang Tata tadi sampaikan, jika Janu mencarinya ke sana bisa jadi besok pun pria itu akan mencari Nena ke rumah. Apalagi Janu sudah tau area tempat tinggal Nena. Pengunjung apotek saat malam hari seperti ini tentu saja tidak seramai siang. Hanya pelanggan darurat yang biasanya datang tanpa menunggu esok hari.
Saat bergantian istirahat, Nena menuju ruangan ganti merebahkan tubuhnya sejenak. Ia sudah memakai minyak angin untuk mengurangi mualnya. “Nena,” panggil rekan kerja Nena. “Eh, maaf Kak aku ketiduran,” sahut Nena.
“Kamu sakit ya? Kenapa enggak ijin aja, pucat banget loh.”
“Enggak apa kak, aku cuci muka dulu,” sahut Nena.
Kembali berada di meja kasir, saat tidak ada pelanggan Nena memilih memainkan ponselnya. Menjelang pergantian shift, Nena lebih dulu menuju ruang ganti. Tubuhnya semakin terasa tidak nyaman, bahkan ia berkeringat dingin. Saat hendak ke toilet, pandangan Nena berkunang-kunang ia meraih apapun untuk berpegangan.
Brukk. Nena semaput, tak sadarkan diri.
Dea bergegas menuju UGD Rumah sakit sesuai informasi Malik. Pagi tadi, pria itu menghubunginya, mengatakan jika Nena tak sadarkan diri dan dibawa oleh rekan kerja Nena ke rumah sakit. Malik meminta bantuan Dea untuk lebih dulu melihat Nena.
"Suster, saya keluarga pasien Nena," ucap Dea. "Masih diperiksa dokter, Bu. Ditunggu saja."
Dea duduk di kursi tunggu setelah mengucapkan terima kasih pada rekan Nena yang masih berada di sana, juga menerima tas dan ponsel Nena.
"Gimana? Di mana Nena?" tanya Malik yang baru saja datang. "Masih pemeriksaan, kayaknya udah lama. Padahal hanya pingsan ya, atau Nena ada keluhan serius?" tanya Dea pada Malik. Malik menggelengkan kepalanya, "Dia tidak pernah mengeluhkan apapun," ucapnya. "Atau kamu memang tidak perduli dengannya," sahut Dea.
Tidak lama perawat memanggil keluarga pasien atas nama Nena, Malik dan Dea pun mendekat dan menemui dokter yang memeriksa Nena.
"Anemia, kurang asupan makanan kungkin karena mual yang berlebihan. Tidak terlalu mengkhawatirkan tapi jangan sampai kejadian lagi," ucap dokter. "Sebaiknya konsultasikan lebih lanjut dengan dokter obgyn."
"Obgyn?" tanya Dea sambil menatap bergantian pada dokter dan Malik.
"Betul, kami sudah melakukan pemeriksaan, Nona Nena hamil kurang lebih sudah tujuh atau delapan minggu. Lebih jelasnya silahkan konsultasikan ke obgyn. Setelah infusan habis, sudah bisa pulang tidak perlu rawat inap," jelas dokter sebelum ia berpindah memeriksa pasien lain
Penjelasan dokter saat mengatakan Nena hamil, sungguh sangat mengejutkan Malik. Ia menatap Nena yang masih terlelap, menghapus keringat di dahi Nena. Wajah itu memang terlihat sangat pucat, ia menyesal tidak bisa menjaga adik satu-satunya.
Merasa bersalah bukan hanya pada dirinya sendiri dan juga Nena tapi pada mendiang orangtuanya. Bagaimana hidup Nena ke depan dengan kondisinya ini, kedua tangan Malik mengepal menahan geram mengingat pria pengecut yang sudah menyakiti Nena.
Dea mengusap lengan Malik, dia tau Malik saat ini pasti terbawa emosi. "Jangan gegabah, Nena butuh kamu saat ini."
Ponsel Malik bergetar, ternyata panggilan dari tetangganya. Malik semakin kesal saat mengakhiri panggilan telpon itu. Tetangganya memberitahu bahwa ada pria yang datang mencari Nena, jika sebelumnya pria yang datang mencari Malik terkait persoalan Ibunya di masa lalu kini pria lain yang mencari Nena. Malik sudah menduga jika itu pasti Janu. Pria brengsek dan pengecut yang sudah menghancurkan hidup Nena.
“Ada apa?” tanya Dea melihat raut wajah Malik tidak bersahabat.
“Seseorang mencari Nena, aku menduga kalau itu si pengecut Janu,” jawab Malik. Dea teringat pertemuan dengan Janu semalam. Mungkin setelah pria itu mengetahui bahwa apa yang ia lakukan pada Nena karena salah paham terkait hubungan Dea dengan Nena, Janu akhirnya merasa bersalah dan mencari Nena.
“Lalu bagaimana dengan Nena?” tanya Dea lagi.
“Setelah ini aku akan bawa dia ke kostan putri, untuk tinggal sementara di sana.
“Tapi, Janu harus tau hal ini untuk bertanggung jawab,” jawab Dea.
“Kalau pria itu ingin bertanggung jawab atau memang mereka saling menyukai, harusnya ia sudah datang menemui Nena jauh sebelum hari ini.”
“Malik ...”
“Sementara biar seperti ini, aku belum tau bagaimana seorang Janu. Tidak mungkin aku menyerahkan Nena begitu saja pada pria yang tidak bertanggung jawab.” Terlihat pergerakan di brankar pasien, Nena mengerjapkan kedua matanya menyesuaikan pandangannya. Ia mencium aroma khas rumah sakit dan menyadari bahwa saat ini ia berada di rumah sakit.
“Bang Malik,” panggilnya saat ia sudah sadar penuh dan melihat ada Malik di sampingnya juga Dea. “Aku kenapa bisa ada di sini?”
“Kamu pingsan, kita akan pulang kalau ini sudah habis,” jawab Malik menunjuk botol infus.
Nena masih merasakan mual dan kepala yang berdenyut nyeri. Namun, ia tidak ingin berada di sana terlalu lama. Setelah infusannya habis, ia segera minta pulang.
Malik, Dea dan Nena sudah berada dalam mobil Dea meninggalkan Rumah Sakit. Merasa bukan melewati arah menuju tempat tinggalnya. “Bang, kita mau kemana? Aku mau cepat sampai rumah,” ujar Nena.
Malik tidak menjawab, karena saat ini dia sudah berbelok memasuki gerbang rumah kost khusus putri. “Turunlah,” ujar Malik.
“Sementara kamu tinggal di sini, motor dan perlengkapan nanti aku antarkan.”
“Tapi kenapa?”
Malik tidak menjawab, Dea mengajak Nena ke kamarnya dan menjelaskan detail kenapa Nena harus tinggal di sana dan penyebab Nena pingsan.
“Kak Dea bercanda ‘kan? Aku enggak mungkin ...” kalimat Nena terhenti saat ia mengingat apa yang Janu pernah lakukan. Hubungan itu memang memungkinkan membuat Nena hamil. Mengkaitkan dengan apa yang Nena keluhkan akhir-akhir ini sangat mendukung hasil pemeriksaan Dokter.
Air mata Nena sudah merembes menetes pada pipinya. “Lalu, aku harus bagaimana?”