NovelToon NovelToon
Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Bad Boy / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

​"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
​Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
​Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 29: Gerbang Sektor Nol

Suara deru mesin bor industri raksasa dan ekskavator memecah keheningan malam di Pelabuhan Barat. Hujan gerimis yang turun bagaikan jarum es tidak menyurutkan pergerakan puluhan teknisi dan pasukan elite Vassiliev yang sedang membongkar aspal tebal di pusat Sektor Tujuh.

​Area itu telah diblokade total. Tidak ada satu pun pekerja pelabuhan biasa yang diizinkan mendekat dalam radius dua kilometer. Lampu-lampu sorot berdaya tinggi menyinari lubang galian yang semakin dalam, menciptakan siluet-siluet panjang yang menakutkan di tengah kabut pelabuhan.

​Xavier berdiri di tepi galian, mengenakan mantel panjang hitam yang kerahnya ditegakkan untuk menahan angin laut. Tangan kirinya memegang payung besar berwarna pekat untuk melindungi Aletta yang berdiri di sampingnya, sementara tangan kanannya tak lepas merangkul pinggang istrinya posesif.

​Mata Aletta terpaku pada layar tablet yang terhubung langsung dengan sensor sonar bawah tanah. Jari-jarinya dengan lincah mencocokkan koordinat dari buku jurnal mendiang ayahnya.

​"Berhenti di sana!" teriak Aletta, suaranya membelah deru mesin. "Tarik ekskavatornya! Mereka sudah menyentuh pelat baja!"

​Diego, yang berdiri di dasar galian sedalam sepuluh meter, segera memberi isyarat tangan. Mesin-mesin berat itu dimatikan. Hening seketika menyergap, menyisakan suara deburan ombak di kejauhan.

​Diego dibantu dua anak buahnya menyemprotkan air bertekanan tinggi untuk membersihkan sisa lumpur dan beton. Perlahan, di bawah sorotan lampu, sebuah pintu palka raksasa berbentuk bundar dengan diameter tiga meter terungkap. Permukaannya berwarna abu-abu gelap, tidak berkarat sedikit pun meski telah terkubur bertahun-tahun di dekat laut.

​"Baja tungsten murni," lapor Diego dari bawah melalui saluran radio, suaranya terdengar takjub sekaligus ngeri. "Bos, Nyonya... tidak ada lubang kunci, tidak ada pemindai elektronik. Pintu ini benar-benar tertutup mati."

​Xavier menoleh pada Aletta. "Apa yang dikatakan jurnal ayahmu tentang cara membukanya, Sayang? Jika kita menggunakan bahan peledak C4 atau pemotong termit, baja ini mungkin akan bertahan, tapi apa pun yang ada di baliknya bisa hancur karena panas."

​Aletta menelan ludah, membuka kembali halaman terakhir jurnal bersampul kulit tersebut. Ayahnya adalah seorang arsitek genius yang paranoid. Pria itu tidak akan mempercayakan sistem elektronik yang bisa diretas untuk melindungi rahasia terbesarnya.

​"Ayahku menulis sebuah teka-teki mekanis di sini," gumam Aletta, matanya bergerak cepat membaca deretan angka. "'Kunci menuju neraka tidak dibuka dengan listrik, melainkan dengan beban dosa yang seimbang.' Xavier, perintahkan Diego untuk memeriksa apakah ada empat katup hidrolik di setiap sisi palka itu."

​Xavier mengangguk dan mengulangi perintah istrinya melalui radio. Benar saja, Diego menemukan empat katup tekanan berbentuk silinder yang tertanam rata dengan pelat baja.

​"Ditemukan, Nyonya!" seru Diego.

​"Putar katup utara searah jarum jam sebanyak tujuh kali, katup selatan berlawanan arah tiga kali. Itu melambangkan tanggal dan bulan kelahiran ibu Xavier," instruksi Aletta, suaranya sedikit bergetar menyadari bahwa ayahnya benar-benar merencanakan ini di sekitar kematian ibu suaminya. "Lalu katup timur dan barat, putar secara bersamaan hingga mentok."

​Di bawah sana, Diego dan pasukannya bergerak cepat melaksanakan instruksi Aletta dengan presisi militer. Begitu katup timur dan barat diputar secara bersamaan...

​KLAK. WUSSSHHH!

​Suara desisan keras udara yang terkompresi meledak dari celah palka, meniupkan debu yang tersisa. Tanah di sekitar mereka bergetar pelan. Secara mekanis, tanpa listrik sama sekali, pintu baja raksasa seberat puluhan ton itu berputar dan terbuka perlahan, menampakkan sebuah lorong gelap yang menurun tajam ke perut bumi.

​Udara pengap yang telah terperangkap selama lima tahun berhembus keluar, membawa aroma besi dan bahan kimia steril.

​Xavier menyerahkan payungnya pada salah satu pengawal. Pria itu mencabut senapan serbu HK416 dari punggungnya dan menyalakan senter taktis di bawah larasnya.

​"Tim Alfa, turun dan amankan perimeter pertama. Nyalakan suar cahaya," perintah Xavier dingin. Tiga pengawal elite melompat turun lebih dulu, senapan terangkat, bersiap menembak apa pun yang bergerak.

​"Area aman, Bos. Tidak ada ancaman biologis atau gas beracun. Sirkulasi udara mekanis masih berfungsi," lapor salah satu pengawal dari bawah.

​Xavier mengulurkan tangannya yang besar dan bersarung tangan kulit pada Aletta. "Tetap di belakangku, Ratuku. Jangan lepaskan genggamanku sedetik pun."

​Aletta mengangguk mantap, menyambut uluran tangan suaminya. Tangan kirinya diam-diam meraba gagang Browning di pinggangnya. Mereka berdua melangkah menuruni tangga spiral yang terbuat dari baja padat, semakin jauh meninggalkan permukaan pelabuhan.

​Begitu mencapai dasar, Diego menyalakan suar cahaya merah yang menerangi ruangan tersebut.

​Napas Aletta tercekat. Xavier terdiam kaku.

​Mereka tidak menemukan tumpukan emas, uang miliaran dolar, atau pun gudang senjata nuklir. Ruangan bawah tanah Sektor Nol itu luasnya hampir sebesar lapangan sepak bola, didominasi oleh warna putih steril. Dan di sepanjang ruangan itu, berdiri rapi ratusan rak server komputer raksasa berwarna hitam, kabel-kabel optik menjalar bagaikan urat nadi di lantai kaca.

​"Ini bukan brankas harta," bisik Xavier, matanya menyapu sekeliling dengan tajam. "Ini adalah pusat data. Server farm rahasia yang terisolasi sepenuhnya dari jaringan internet dunia."

​Aletta melangkah perlahan menuju sebuah ruangan kaca di tengah lautan server tersebut. Ruangan itu tampak seperti ruang kendali. Di dalamnya terdapat sebuah meja besi, satu buah monitor komputer kuno, dan sebuah tuas darurat berwarna kuning di dinding.

​"Ayahku membangun ini bukan untuk menyimpan uangnya..." Aletta menatap nanar ke arah layar monitor yang mati. "Dia membangun brankas penyimpanan informasi tak terbatas."

​Atas anggukan Xavier, Diego menarik tuas kuning di dinding.

​Suara dengungan rendah mulai terdengar. Generator darurat bawah tanah yang dirancang untuk bertahan puluhan tahun menyala. Lampu-lampu LED putih di langit-langit berkedip sebelum akhirnya menyala terang benderang. Ratusan rak server berdengung hidup, berkedip dengan lampu indikator hijau dan biru.

​Di saat yang sama, monitor kuno di atas meja menyala. Sebuah sistem operasi mandiri terbuka secara otomatis, dan sebuah video terputar di layar.

​Aletta menahan napas. Wajah ayahnya—yang tampak bertahun-tahun lebih muda namun terlihat sangat kacau dan kurang tidur—muncul di layar. Pria itu tampak sedang duduk di kursi yang sama dengan yang Aletta lihat sekarang.

​"Jika rekaman ini diputar, maka sistem mendeteksi palka utama telah dibuka secara paksa, dan artinya... aku sudah mati," suara mendiang ayah Aletta menggema serak di ruangan steril itu.

​Aletta mencengkeram lengan Xavier erat-erat. Xavier merengkuh bahu istrinya, memberikan kekuatan.

​"Maafkan ayah, Aletta," lanjut pria di video itu, menatap langsung ke kamera dengan keputusasaan yang mendalam. "Ayah terlalu serakah. Ayah menerima kontrak dari sebuah sindikat kuno yang menamakan diri mereka Il Morte. Mereka bukan mafia. Mereka adalah para politikus dunia, jenderal militer korup, dan penguasa bayangan yang mengendalikan para mafia, termasuk Volkov."

​Rahang Xavier menegang mendengarnya.

​"Mereka menyuruhku membangun Sektor Nol ini untuk menyimpan Buku Besar mereka. Data transaksi rahasia, bukti pemerasan, rekaman pembunuhan tokoh politik... semua aib dunia yang bernilai ratusan triliun dolar ada di dalam server ruangan ini," ayah Aletta menelan ludah dengan susah payah. "Tapi aku tahu, begitu Sektor Nol selesai, mereka akan membunuhku untuk menghilangkan jejak. Volkov ditugaskan untuk menghabisiku."

​Video itu sedikit berdesir. Ayah Aletta mencondongkan tubuhnya ke kamera, wajahnya dipenuhi teror murni.

​"Aku mencoba mencari perlindungan. Aku mendatangi ibu dari Xavier Vassiliev, pemimpin klan yang paling ditakuti Volkov. Aku memberikan sebuah salinan data kecil pada Nyonya Vassiliev sebagai jaminan agar ia mau melindungi keluargaku." Dada Xavier bergemuruh hebat, matanya memerah. Kebenaran yang sangat menyakitkan akhirnya terungkap.

​"Tapi Il Morte mengetahuinya," suara ayah Aletta pecah menjadi isakan. "Mereka memerintahkan Volkov untuk meledakkan kapal Nyonya Vassiliev hari itu juga. Aku gagal, Aletta. Aku tidak menyelamatkannya, dan aku menghancurkan keluarganya."

​Air mata menetes dari sudut mata Aletta. Kini ia tahu mengapa iblis sekelas Ivan Volkov repot-repot membunuh ibu Xavier secara terang-terangan. Itu bukan karena perang wilayah; itu karena ibu Xavier memegang rahasia dunia yang diberikan oleh ayah Aletta.

​"Semua data Il Morte ada di sini, Aletta. Jika kau menemukan ini, lari. Hancurkan tempat ini dan lari, karena mereka tidak akan pernah membiarkan—"

​BIP! BIP! BIP!

​Tiba-tiba, video itu terpotong oleh suara alarm melengking dari sistem radar di layar monitor. Seluruh lampu di dalam Sektor Nol berubah menjadi merah menyala yang berkedip cepat.

​Diego langsung menyentuh earpiece-nya, wajahnya memucat luar biasa.

​"B-Bos!" teriak Diego panik. "Tim pengintai di permukaan baru saja melapor! Ada enam helikopter tempur tanpa nomor seri dan puluhan speedboat bersenjata merapat ke pelabuhan! Mereka menyusup di bawah radar!"

​Xavier menarik pistolnya dari balik jas, matanya menyipit memancarkan aura membunuh yang paling gelap yang pernah Aletta lihat. Sindikat Il Morte telah datang untuk menjemput barang mereka.

​"Hancurkan tuas generatornya, Diego!" perintah Xavier mutlak, menarik Aletta ke balik tubuhnya. "Kita tidak akan lari. Kita akan membantai mereka semua dan menggunakan data ini untuk membakar dunia mereka hingga menjadi abu."

​Malam ini, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Nurwana
go go go Alleta....
Nurwana
semangat Alleta......
Nurwana
kayaknya makin berat hidupmu alleta....
Nurwana
alleta......
Nurwana
jangan cepat percaya alleta, selidiki dulu tentang kebenarannya. jangan sampai itu surat tipuan dari musuh suamimu.
Nurwana
saya mampir Thor.
Orang_Cuman_Cerita: Ok Semagat Ya 💪
total 1 replies
fatmawati (pipit)
disini aletta blm menguasai dunia IT apa untuk menemukan siapa yg menjadi dalang penjebakan
Orang_Cuman_Cerita
GOKIL💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!