"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Predator Berbalut Sutra
Empat puluh delapan jam kemudian. Kabut malam khas kota London turun perlahan, menyelimuti jalanan aspal yang basah oleh sisa gerimis. Di sebuah penthouse mewah berkeamanan tingkat tinggi di distrik Mayfair—salah satu rumah singgah rahasia klan Vassiliev—persiapan menuju perang dingin sedang dilakukan.
Di dalam kamar utama yang luas, Aletta berdiri di depan cermin setinggi langit-langit. Tim penata rias dan penjahit bawah tanah terbaik Eropa, yang diselundupkan secara khusus oleh Diego malam sebelumnya, baru saja menyelesaikan tugas mereka dan menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan.
Aletta menatap pantulannya sendiri. Ia mengenakan gaun malam sutra berwarna emerald green yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Gaun itu memiliki belahan tinggi hingga ke paha dan potongan punggung terbuka yang mengekspos kulit putihnya. Ia tidak terlihat seperti seorang buronan mafia yang pelabuhannya baru saja dibakar; ia tampak seperti seorang dewi yang siap menaklukkan kerajaan.
Pintu kayu ek berukir terbuka pelan. Xavier melangkah masuk.
Langkah sang Raja Mafia terhenti di tengah ruangan. Mata kelabunya yang tajam menyapu sosok istrinya dari ujung kaki hingga ke puncak kepala. Malam ini, Xavier mengenakan setelan jas tuxedo hitam pekat rancangan Tom Ford yang disesuaikan khusus untuk menyembunyikan otot-otot kasarnya, dipadukan dengan dasi kupu-kupu yang rapi. Aura brutalnya ditekan sedemikian rupa, memancarkan pesona bangsawan gelap yang sangat mematikan.
"Jika kita tidak memiliki jadwal untuk menghancurkan kerajaan seorang menteri malam ini," bisik Xavier serak, suaranya berat oleh gairah posesif saat ia melangkah mendekati Aletta, "aku bersumpah akan merobek gaun ini sekarang juga dan tidak membiarkanmu keluar dari kamar ini hingga besok pagi."
Aletta tersenyum nakal, memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan suaminya. Ia mengalungkan kedua lengannya di leher Xavier. "Tahan hasratmu, Tuan Vassiliev. Kita punya tikus yang harus dijebak malam ini."
Xavier mendengus pelan, mengecup bibir merah Aletta sekilas namun penuh tuntutan. Pria itu kemudian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kalung choker bertahtakan berlian hitam yang sangat berkilau.
"Berbaliklah, Sayang," perintah Xavier lembut.
Aletta menurut. Xavier memasangkan kalung berlian itu ke leher jenjang istrinya. Sensasi dingin dari logam mulia berpadu dengan sapuan hangat napas Xavier di tengkuknya membuat Aletta sedikit merinding.
"Kalung ini bukan sekadar perhiasan," jelas Xavier, jemarinya menyentuh liontin utama kalung tersebut. "Di balik berlian utama ini tertanam cip dekripsi mikro dan pemancar sinyal jarak dekat. Saat kau berada dalam radius dua meter dari server pribadi Sterling, kalung ini akan meretas firewall pertamanya secara otomatis."
Aletta menyentuh kalung itu, takjub. "Dan senjataku?"
Xavier berlutut dengan satu kaki. Ia mengangkat sedikit belahan gaun Aletta, mengekspos paha mulus istrinya, lalu memasangkan sebuah holster paha berbahan beludru tipis. Di sana terselip sebuah pistol mikro Sig Sauer P365 yang terbuat dari polimer komposit, tidak akan terdeteksi oleh pemindai logam mana pun.
"Aku tidak mengizinkanmu berjalan sejengkal pun tanpa perlindungan," gumam Xavier, mengecup paha Aletta sesaat sebelum berdiri. "Kau siap, Ratuku?"
"Lebih dari siap."
Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom antipeluru berwarna hitam pekat meluncur mulus melewati gerbang besi tempa Sterling Manor.
Mansion bergaya Victoria yang terletak di pinggiran London itu tampak bermandikan cahaya. Ratusan mobil mewah terparkir berjejer. Para politikus kelas atas, bangsawan Eropa, dan miliarder global turun dengan angkuh, disambut oleh kilatan lampu kamera dari beberapa jurnalis terpilih. Di balik kemewahan itu, Aletta bisa melihat puluhan penjaga keamanan bersenjata yang menyamar sebagai pelayan dan petugas valet.
Mobil Xavier berhenti tepat di depan karpet merah. Diego—yang menyamar sebagai kepala pengawal dengan lengan kirinya yang terluka disembunyikan apik di balik jas besar—membukakan pintu untuk mereka.
Xavier turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya. Saat jemari Aletta menyambut tangannya dan gadis itu melangkah keluar dari mobil, seluruh mata di area pintu masuk seolah tersedot ke arah mereka. Aura kekuasaan murni yang memancar dari pasangan itu membuat beberapa tamu tanpa sadar melangkah mundur, memberi jalan.
Di depan pintu utama, dua petugas keamanan bertubuh kekar menghentikan mereka.
"Undangan Anda, Sir?" tanya petugas itu dengan sopan namun waspada, memegang pemindai tablet.
Xavier tidak menjawab. Ia hanya menatap petugas itu dengan sorotan mata sedingin es. Diego maju selangkah, menyerahkan sebuah kartu undangan digital berwarna emas.
"Tuan dan Nyonya Romanov. Pengusaha teknologi dari Praha," ucap Diego lancar. Identitas palsu itu telah dibangun dengan sempurna oleh tim siber Vassiliev, lengkap dengan rekam jejak perusahaan bernilai miliaran dolar.
Petugas itu memindai kartu tersebut. Layar tabletnya menyala hijau.
"Selamat datang, Tuan Romanov. Silakan masuk," petugas itu menunduk, membuka pintu kayu ek ganda yang menjulang tinggi.
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ballroom, alunan musik orkestra klasik langsung menyapa telinga. Ruangan itu disepuh dengan emas dan kristal. Ratusan tamu menikmati sampanye dan berbincang dalam kelompok-kelompok kecil.
Xavier melingkarkan lengannya erat di pinggang Aletta, membimbing istrinya membelah kerumunan. Sambil berjalan, mata kelabu Xavier bekerja layaknya radar militer, memetakan setiap titik keluar, posisi penjaga bayangan, dan letak kamera CCTV.
"Server pribadi Sterling berada di lantai dua, di ujung sayap barat," bisik Aletta, senyumnya tetap terkembang manis membalas sapaan anggukan beberapa tamu, padahal bibirnya nyaris tak bergerak. "Ada dua penjaga bersenjata yang berdiri di depan tangga utama. Aku butuh pengalihan untuk bisa naik ke atas."
"Kau akan mendapatkannya, Sayang," jawab Xavier tenang.
Tiba-tiba, suara dentingan sendok pada gelas kristal menghentikan alunan musik. Di atas panggung kecil di ujung ruangan, berdiri seorang pria paruh baya berusia akhir lima puluhan. Rambutnya keperakan disisir rapi, wajahnya memancarkan kharisma seorang negarawan yang berwibawa, dan senyumnya terlihat begitu hangat dan dermawan.
Rahang Xavier mengetat hebat. Otot di lengan yang merangkul pinggang Aletta berubah sekaku baja.
Itu dia. Lord Arthur Sterling. Sang Menteri. Sang Filantropis. Sang dalang Il Morte yang memerintahkan kematian ibu Xavier lima tahun lalu.
"Terima kasih, para sahabat yang terhormat, karena telah hadir malam ini," suara Sterling bergema melalui pelantang suara, membius para pendengarnya. "Malam ini, kita berkumpul bukan hanya untuk menikmati anggur yang lezat, melainkan untuk mengumpulkan dana demi membangun panti asuhan di wilayah konflik. Dunia ini butuh kedamaian, dan kitalah pembawa kedamaian itu."
Mendengar kemunafikan luar biasa itu, Xavier mendengus—sebuah tawa iblis yang sangat pelan dan mematikan. Pria yang tangan kanannya berlumuran darah ribuan orang tak berdosa, kini berpidato tentang kedamaian.
Aletta menyentuh punggung tangan suaminya, mengelusnya lembut untuk meredam niat membunuh Xavier yang nyaris meledak keluar.
"Biarkan dia menikmati panggung kebohongannya selama beberapa menit lagi, Xavier," bisik Aletta tepat di telinga suaminya, matanya menatap lekat pria di atas panggung itu layaknya predator menatap mangsa. "Karena pada tengah malam nanti, aku akan memastikan rekeningnya menjadi nol, aibnya tersebar di seluruh layar ponsel di ruangan ini, dan kau... kau akan mencabut nyawanya."
Permainan sesungguhnya di sarang singa baru saja dimulai.