Harap Baca Suamiku Pria Lumpuh, supaya nyambung dengan kisah mereka, ya.
Bagaimana, jika orang yang kamu cintai, adalah seorang yang telah menjadi masa lalu terburukmu. Yang telah menjadi penyebab penderitaanmu dimasa lalu. Padahal, Ia telah memberikan semuanta untukmu.
Carolina Hermawan. Gadis yatim piatu itu baru saja mengenal sebuah cinta dan bahagia, sejak bertemu dengan Reza Edwardo. Salah satu pewaris Nugraha's company.
Mereka sepakat menikah usai Olin wisuda, dan telah merancang semuanya. Tapi, rupanya keluarga Nugraha atau Papa Edward memiliki masa lalu diantara keluarga Olin.
Apa masalah itu, dan bagaimana mereka menghadapinya? Berstu, atau justru memcari jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan pertama, Olin dan Reza
Olin mondar mandir di depan kaca. Beberapa pakaian Ia coba dengan berbagai gaya. Yang biasa saja, dengan kaos oblong dan jeans. Yang rapi dengan rok dan kemejanya. Atau, bahkan yang formal. Tapi tak ada yang cocok.
"Aku baru sadar, jika aku tak punya baju yang bagus. Hanya baju ke kantor dan ke kampus yang aku punya." gumamnya.
Sedang merenung, pintu terdengar di ketuk. Ia pun bangkit dari tempat duduknya, dan membuka pintu itu lalu menyambut Reza.
"Mas, masuk." ucap Olin, sedikit lesu.
Reza tampak begitu tampan. Dengan kemeja kotak-kotak, dan celana jeans hitamnya. Rambut pun rapi, meski sedikit panjang dan berponi. Olin kembali insecure, ketika berhadapan dengan mode itu.
"Hay, Baby. Kenapa belum siap?"
"Maaf, Olin baru sadar, jika Olin tak punya baju yang bagus. Apalagi, untuk kencan malam ini." tunduknya lesu.
"Hey, memakai apapun, kamu itu cantik. Atau begini saja," Reza melepas kemejanya.
"Eh, jangan buka-buka. Malu."
"Aku pakai kaos di dalamnya." ucap Reza. Ia pun memberikan kemejanya pada Olin, yang telah memakai jeans hitamnya.
"Berdandanlah, sesuai dirimu. Bergaya lah dengan apa yang membuatmu nyaman. Aku suka, apapun yang ada sama kamu. Tomboinya kamu, cueknya kamu, dan prinsip dalam hidupmu. Meski berat, karena ada yang harus tertunda karena itu. Dan, kamu belum bisa manja seperti yang lain."
" Kenapa harus manja? "
" Karena wanita mandiri itu menakutkan. Apalagi, yang terlalu mandiri. Mereka dapat pergi kapan saja, karena tak pernah merasa bergantung dengan yang lain." jawab Reza, yang membantu mengikat ujung bawah kemejanya di pinggang Olin.
Olin menatap Reza dalam diam. Menatap semua ketulusan yang diberikan padanya. Apalagi, semua kasih sayang yang belum dapat Ia balas hingga sekarang. Terenyuh, tapi Ia juga tak dapat memaksakan kehendak yang belum teryakini dalam hatinya.
"Yuk," gandeng Reza padannya.
Meski hanya mengenakan kaos oblong berwarna hitam, aura tampannya tak luntur sedikitpun. Justru lebih memikat, apalagi tampak lengannya yang kekar.
Mereka turun bersama, menghampiri motor yang telah menunggu di parkiran.
"Kemana kita?" tanya Reza.
"Olin ngga tahu, soalnya ngga pernah kencan."
"Oke, kita turuti kemana angin akan membawa kita berjalan."
"Ngga jalan, kan bawa motor."
"Oliiiin."
"Iya, maaf."
Motorpun di jalankan. Mereka mulai membelah jalanan dintara keramaian malam minggu yang indah. Olin memeluk Reza dari belakang, dengan begitu erat. Karen Ia tahu, Reza dingin karena kemeja telah berpindah padanya.
Berhenti di sebuah Mall, mereka masuk dan menuju wahana bermain. Bak anak kecil yang dibiarkan Ibunya, Reza dan Olin kegirangan mencoba semua wahana yang ada. Bahkan, begitu bahagianya Reza ketika mendapatkan sebuah boneka untuk sang kekasih.
"Wuih, hebat." Puji Olin, dengan mengacungkan jempolnya.
"Upahnya, mana?" Reza menyodorkan pipi, dan menunjuknya dengan jari.
Olin yang mengetahui maksudnya, hanya memberi kecupan dengan jari yang Ia buat menguncup ke pipi Reza.
"Kok, cuma itu?" Reza melipat bibirnya, dan begitu menggemaskan.
"Maunya? Disini ramai, dan banyak orang lihat."
"Jadi, kalau sepi?"
"Kalau sepi, kenapa?" tanya Seorang pria, yang berdiri menggendong Balita di tangannya.
"Ali?" Reza terkejut bukan kepalang.
"K-kau, kenapa disini?"
"Kau kan tahu, jika aku jomblo. Jadi, aku membawa Kaila kemari. Kalian, jadi kencan?" tanya Ali.
"Ya jadi dong," rangkul Reza pada Olin. Tampak begitu bangga, dengan prestasi yang telah Ia capai. Apalagi, ketika berhadapan dengan Ali.
"Oh...." jawab Ali, dengan wajah datarnya.
dan dijawab tinggal ditempat jauh dan butuh waktu untuk pembuktian