NovelToon NovelToon
Orion (Sang Pemburu)

Orion (Sang Pemburu)

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Balas Dendam / Pembunuhan
Popularitas:81.4k
Nilai: 5
Nama Author: Maysar

Orion mengiris telapak tangan kanannya dengan pisau. Matanya menatap tajam setiap darah yang menetes jatuh ke tanah di depan makam kedua orang tuanya. Orion bersumpah akan kembali untuk memburu siapapun yang telah membunuh kedua orang tuanya.

Orion akan menjadi pemburu kejam bagi mereka yang terlibat dalam pembunuhan itu. Bahkan Orion tidak akan melepaskan keturunan mereka satupun, sama sepertinya yang menderita mereka juga harus merasakan lebih menderita darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maysar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelang dan Gambar

" Jadi kalian menipuku ?"

Hansen dan Reina menggelengkan kepala bersama. Mereka serentak menyangkal tuduhan berupa pertanyaan yang diberikan Gabriel untuk mereka.

" Kau sendiri yang tiba tiba bertingkah tidak jelas. Menjauhi Hansen tanpa sebab lalu pura pura sibuk seakan akan kau sudah menjadi bos besar." ucap Reina.

Gabriel mengusap kasar rambutnya karena merasa frustasi. Bagaimana Gabriel bisa menjelaskan apa yang sedang dialaminya sedangkan masalahnya ini akan berakhir dengan putusnya persahabatan mereka. Gabriel tidak ingin itu terjadi. Hansen adalah sahabat terbaiknya begitu juga Reina.

" Aku benar benar sibuk."

Reina memutar mata bosan mendengarnya. " Ya sudah terserah, urus saja kesibukanmu itu"

Hansen beranjak pergi dari tempat duduknya. Reina dan Gabriel melihat kepergiannya dengan raut wajah bingung.

" Apa dia marah ?" tanya Gabriel. Baru saja disadarinya bahwa Hansen tidak bicara apapun setelah bersorak bersama Reina tadi.

Reina mengangkat bahu acuh. " Mungkin, tapi aku berharap dia muak denganmu dan bisa menerimaku."

Gabriel berdecak kesal mendengar ucapan Reina. " Jelek sekali pemikiranmu itu."

" Biarkan saja. Asal Hansen bisa kudapatkan menjadi iblis pun tidak masalah bagiku." Reina tersenyum angkuh sambil mengibaskan rambutnya menatap Gabriel penuh percaya diri.

" Gila." Gabriel mencibir pelan.

TUK !

Gabriel terkejut saat sebuah penampan yang berisi makanan dan minuman tiba tiba hadir di depannya dari belakang tubuhnya. Seketika kepalanya menoleh melihat orang yang melakukan itu kepadanya.

" Hans ?"

" Makan." Hansen kembali duduk di sebelah Reina.

Reina berdecih pelan sembari membuang pandangannya kearah lain. Melihat perhatian Hansen kepada Gabriel membuat Reina iri. Kapan Hansen juga perhatian kepadanya seperti pria itu memperlakukan Gabriel. Bahkan Reina mengharapkan lebih karena dirinya tidak ingin Hansen menjadi temannya tetapi kekasihnya.

Gabriel tersenyum menerima makanan di depannya. Biarkan rasa bersalahnya menjadi rahasia terdalamnya. Asalkan Hansen tidak mengetahuinya Gabriel akan berusaha untuk terus menyimpannya demi pertemanan mereka.

Hansen mengetuk punggung tangan Reina yang sedang memandang dinding. Apa yang menarik dari dinding bercat pastel dan datar tanpa lekukan apapun seperti itu. Hansen menjadi mengerutkan kening bingung menatap Reina dan dinding itu bergantian.

" Apa ?" Reina menoleh menatap Hansen.

Hansen menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pemikiran anehnya. " Tidak ada. Kau mau ke pantai ?"

Perlahan Reina tersenyum manis. Ternyata Hansen tidak seburuk apa yang dipikirkannya. " Apa bisa ?"

" Bisa, asal kau mau."

" Aku mau !"

Hansen tersenyum hingga menampakkan sepasang lesung pipinya. Tangannya menepuk gemas kepala Reina. " Setelah Gabriel selesai makan."

Reina memalingkan wajahnya yang terasa memanas. Perlakuan Hansen barusan membuat detak jantungnya sulit terkontrol. Reina menjadi salah tingkah hanya karena perlakuan kecil seperti itu.

Gabriel yang diam diam melihat interaksi Hansen dan Reina tersenyum tipis. Ternyata benar yang dikatakan Reina tentang kedekatannya dengan Hansen. Lihatlah, bahkan sekarang mereka terlihat serasi seperti sepasang kekasih.

Namun itu tidak berlangsung lama saat tanpa sengaja Gabriel melihat pergelangan tangan kanan Hansen yang masih terisi gelang bewarna hitam. Senyum yang tadi sempat hadir menjadi pudar perlahan. Gabriel sangat ingat gelang itu. Gelang pemberian Monica saat dulu gadis itu menerima gajih pertamanya menjadi model di perusahaan Gabriel.

Pandangan Gabriel beralih menatap wajah Hansen yang sedang tersenyum memandang Reina. Apa wajah itu benar benar sedang tersenyum saat merasa bahagia atau dia tersenyum hanya untuk menutupi hatinya yang sedang terluka ?.

...*****...

" Ternyata kau lebih menyeramkan dibandingkan aku Orion." Zairan berdiri di sebelah Orion sembari memandang foto besar yang berisi gambar Monica terpajang di dinding.

Orion menatap Zairan sekilas. " Setidaknya aku memasang gambarnya dengan berpakaian lengkap."

Zairan tertawa tanpa merasa tersindir. " Yah, kau kan tidak mengerti seni gambar jadi wajar saja."

Orion berdecak sebelum melirik Zairan sinis. Pria mesum yang tidak tahu diri. " Tidak masalah yang terpenting aku tidak mesum sepertimu."

" Mesum caraku menunjukkan cinta kepadanya karena dia pergi meninggalkan bekas penghianatan diingatanku." ucap Zairan.

" Jadi kau melecehkannya dengan menggambarnya seperti waktu itu ?" tanya Orion.

Zairan menyeringai dengan mata berbinar licik. " Untuk saat ini cukup gambarnya saja, lain kali mungkin aku langsung mencoba ke orang aslinya."

" Kau pria yang menjijikkan." cibir Orion.

" Itulah obsesi cinta jika terkhianati." balas Zairan.

" Terserah kau saja." Orion kembali memandang gambar Monica di depannya.

" Apa yang kau lihat sampai tidak berkedip seperti itu ? Apa itu kenangan masa lalu kalian ?" tanya Zairan.

" Tidak." Orion membalas singkat tanpa mengalihkan pandangannya.

" Wajah cantiknya ?" Zairan bertanya lagi.

" Tidak."

" Lalu ?" kali ini Zairan bertanya bingung.

" Kebodohannya."

" Apa ?!"

" Aku memandangi kebodohannya. Dia gadis yang cerdas dan mandiri tetapi mengapa dia bisa begitu bodoh ? Aku sudah menunjukkan Orion yang sebenarnya tetapi dia masih tetap bersikeras untuk mencari jati diri Hansen. Bahkan kenyataan masa lalu tidak membuatnya berpaling. Dia masih tetap menginginkan Hansen yang baik hati tanpa dendam dengan harapan melupakan masa lalunya. Bukankah dia gadis yang bodoh dan naif ?" Orion bertanya setelah menjelaskan panjangnya.

" Tidak." Zairan mengela napas sebelum melanjutkan ucapannya. " Dia gadis yang mencintai pria tanpa arah sepertimu dengan tulus. Dia tidak bermaksud menginginkanmu ataupun Hansen. Dia hanya ingin pria yang dicintainya untuk bisa berdamai dengan masa lalunya dengan harapan suatu hari kalian bisa hidup bahagia tanpa bayang bayang dendam."

Orion menatap Zairan di sampingnya. Perlahan kedua tangannya terkepal dengan rahangnya yang mulai mengeras. " Jangan mengarang."

Zairan tersenyum sambil menepuk pundak Orion. " Aku hanya menyimpulkan dari kisah kalian yang pernah kudengar setiap kali anggota Rasi Bintang membicarakan kisahmu dengannya."

" Ternyata kalian memiliki banyak waktu untuk mengurus hidup orang lain. " Orion menepis tangan Zairan dari pundaknya. Matanya berubah tajam menatap mata hitam Zairan seperti layaknya predator yang menantang lawannya.

" Kau tidak mencintainya." ucap Zairan setelah menyimpulkan.

" Diam kau." Orion menekan ucapannya.

Zairan terus tersenyum menatap Orion tanpa rasa takut. " Kau hanya merasa bersalah kan ? Karena disaat kematiannya kau tidak datang melindunginya seperti janji yang pernah kau ucapkan kepadanya dulu."

" Kubilang kau diam !" Orion berteriak marah. Tangannya menarik kencang kerah baju Zairan kearahnya. Pria ini terlalu ikut campur urusannya dan Orion sangat tidak menyukai hal itu.

" Kenali dirimu dan bangkitlah. Tidak ada gunanya kau termenung hanya dengan memandang potretnya. Cari dalangnya dan balaskan kematiannya seperti kau membalaskan kematian orang tuamu." Zairan melepaskan cengkeraman tangan Orion di kerah bajunya sebelum berbalik pergi.

Orion berteriak kencang menyalurkan rasa amarah yang sedari tadi dipendamnya. " Jangan berbicara omong kosong kalau kau sebenarnya tidak tahu tentang apapun Zairan !"

Orion beralih memandang gambar Monica di dinding. Melihat wajah cantik gadis itu yang sedang tersenyum manis. Kau bahagia sekarang melihatku begini Monica ?.

1
Muhammad Kusman
lanjut thor/Smile/
Maysar: oke kak, akan d usahakan y kak 👍
total 1 replies
Elsa Sabrina salsabilla
halo selamat malam
Maysar: Hai, selamat malam kak Elsa
total 1 replies
Nana Nabilla
Hansen scott sodara jansen scott 😁
Istrinya Hades
Pantas Gabriel marah-marah mulu, wong Hansen kalau ditanya gitu terus.
Istrinya Hades
Plis, Hansen. Nggak gitu juga kali nanya gitu abis bangun tidur.
Istrinya Hades
What the f
Istrinya Hades
Percuma kamu minta Dion ditangkap, Galiendro. Nggak bakal ketemu.
Istrinya Hades
Nah loh wkwkwk.
Istrinya Hades
Waw, benar-benar alat menyamar tercanggih.
Istrinya Hades
Aku rasa nggak.
Istrinya Hades
Gini nih kalau dua orang jahil disatukan.
Istrinya Hades
Uwaww, benar-benar pasukan berani mati.
Istrinya Hades
Sini, tak bercanda aja sama aku, Mintaka.
Istrinya Hades
Weh, sadis banget.
Istrinya Hades
Sial, aku malah penasaran sama Zero. ><
Istrinya Hades
Buset, canggih bet.
Istrinya Hades
Ya Allah, bengek bayangin imajinasi Hansen.
Istrinya Hades
Setuju.
Istrinya Hades
Jadi iba sama Hansen, tapi bengek bayangin dia pose gitu.
Istrinya Hades
Awww, kasihan banget Hansen. :(
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!