Putri seorang gadis berusia 17 tahun. Harus rela menerima kenyataan dijodohkan dengan seorang tentara berpangkat Lettu dari kesatuan Angkatan Udara skuadron pesawat tempur. Seperti gadis kebanyakan seusainya. Alias lagi masa puber-pubernya, dan zaman sekarang lagi demam-demamnya K-POP. Tentu dia mengidam-idamkan memiliki pacar seperti Oppa-Oppa Korea. Meski calon tunangannya ganteng dan berpangkat. Tapi masa, dia nikah sama om-om?
Ken yang saat ini menginjak usai 33 tahun. Tak menyangka akan mendapatkan malapetaka ini. Sejak ditinggal kekasihnya 5 tahun silam. Dia belum siap menjalin hubungan lagi. Tapi sekarang dia bisa apa? Tambah bikin suntuk lagi, kenapa lah calonnya cabe-cabean?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 Demi Kata 'Maaf'
“P-utri... P-utri....”
Mimi terus gemetaran. Kepalanya pun menunduk dalam.
“Habis dari sini, Putri pergi ya?”
“Ee... Ee...”
Ken mendesah tahu anak itu lagi ketakutan. Ya, sebaiknya dia bicara menenangkan saja.
“Nggak apa-apa... Ngomong saja sama Om. Om gak bakal marah kok! Putri juga nanti gak bakal marah sama Mimi. Kan Om yang nyamperin ke sini. Mimi juga nggak bisa mengelak iya, 'kan?”
“Iya, Om.”
Akhirnya Mimi memberanikan diri melihat. Karena itu, Ken jadi memohon lagi namun tetap berbicara dengan lembut.
“Nah... Ayo, ngomong."
“Putri pergi ke mall xxx. Tapi Mimi nggak tahu, Putri persisnya dimana.”
Mimi nggak mau menyebutkan Putri jalan dengan siapa. Jadi dia hanya bisa bilang begitu. Ken juga tidak ada niat mau bertanya. Dia paham anak ini sudah cukup tertekan. Hanya bermodal nama mall, baginya juga nggak masalah. Dia bisa mencari, dan memergoki di sana.
“Terima kasih ya, Mimi.”
Mengangguk. “Iya, Om.”
Kemudian Ken bergegas pergi. Menyalakan mesin, dan meluncur ke sana. Kira-kira 30 menit, dia sudah sampai tujuan. Setelah parkir dan turun dari mobil, dia berjalan masuk ke dalam.
Di dalam, dia tolak pinggang memandangi gedung yang memiliki 5 lantai yang cukup luas dan besar itu. Oke! Dia akan menelusuri semuanya dari lantai bawah hingga ke atas.
Dari cafe ke cafe, resto ke resto, toko ke toko, nggak luput sepanjang jalan diperhatikannya. Gampang, menandai gadis itu. Cukup warna pink yang dipakai gadis sebayanya Pasti bakal benar-benar diamatinya.
Selagi Ken terus mencari. Sementara itu di tempat lain. Putri duduk dengan Boy saling hadap-hadapan. Ditengah meja, ada grill yang di atasnya ada penghisap asap khas barbeque. Restoran yang menawarkan cita rasa negeri ginseng, jadi tempat pilihan Boy untuk kencan dengan Putri di sana.
Dia masih ingat waktu outbond tempo lalu. Gadis itu pernah meminjamkan ipod untuk di dengarnya di tenda, dan semua isinya lagu Korea. Maka untuk menyenangkan gadis itu, dia memilih tempat itu.
Mereka makan sambil chit-chat. Sehabis ini Boy berencana akan mengajak Putri nonton. Lalu dia akan menanyakan perihal pernyataan cintanya tempo hari setelah mereka keluar dari bioskop. Karena dia gak bisa menunggu lagi, dia ingin jawabannya sekarang.
Putri sangat senang, Boy perhatian padanya. Cuman dia rada kesal banyak cewek-cewek yang merhatiin cowok di depannya. Dia curi-curi mata dengan muka merengut. Ternyata Boy sama seperti Om Ken. Jadi pusat perhatian cewek-cewek. Ugh, sebal!
Nggak tahan lagi atas pandangan genit mereka, Putri jadi mengambil pisau dan menancapkannya ke daging. Hingga membuat Boy jadi tersentak.
“Kenapa, Put?”
“Ah, e-nggak kok!"
Putri menjawab terbata-bata disertai dengan kepala menunduk. Duh... Malunya... Tenang, Put... Tenang...
Lalu saat dia mendongakkan kepala karena sudah berhasil menenangkan dirinya. Rupanya apa yang digelisahkannya tadi gak terjadi lagi. Sekarang cewek-cewek sudah tidak ada merhatiiin Boy. Syukur deh!
Eits, tunggu dulu... Rupanya cewek-cewek sekarang berubah pada merhatiin seorang pria yang jauh lebih gagah, dan tampan, serta atletis dari pada Boy. Sedang celingukan di dekat pintu. Seketika Putri melotot.
Kenapa, kenapa, kenapa, Om Ken bisa ada di sini...?
Putri langsung panik. Boy memutar kepalanya ingin tahu apa yang dilihat Putri hingga terkesima begitu. Selagi Boy memalingkan kepala, Putri lekas jongkok bersembunyi di bawah kolong meja.
Lalu saat Boy melihat, matanya bersirobok dengan Ken di sana. Ken menyipitkan mata. Dia masih ingat cowok yang dilihatnya di ruang guru. Jangan-jangan Kencur jalan dengan ini? Jadi benar, dugaannya cowok ini yang dinaksir Putri? Lekas Ken menghampiri. Lalu Boy memalingkan kepalanya lagi, dan terkejut Putri menghilang. Dia mencari disekitaran.
“Put...”
“Kamu teman sekolah Putri, 'kan?” tegur Ken, setibanya.
"Iya, Om.” Boy menoleh.
“Putri mana?”
“Putri...” Boy celingukan lagi, dia pun nggak tahu.
Ken pun turut mencari, dan dilihatnya ada sepatu warna pink nongol sedikit di bawah meja. Lekas digebrak-gebraknya meja.
Brak! Brak! Brak!
“Keluar!"
Saking kagetnya dengar suara itu. Putri jadi sedikit menaikkan tubuhnya hingga kepalanya kepentok meja, dan dia meringis kecil.
“Aduh.....”
Tentu saja, aksi Ken jadi bahan tontonan orang-orang di sana. Perwakilan pihak resto mendekatinya. Namun sebelum orang itu tiba, Ken sudah menaikkan satu tangannya. Aura Ken yang menakutkan membuat orang itu jadi mundur. Lalu setelah orang itu pergi, Ken begitu lagi...
Brak! Brak! Brak!
“Keluar!”
Brak! Brak! Brak!
“Keluar! Om, hitung satu sampai tiga ya.”
Putri menggigit bibir bawahnya tipis. Sungguh, dia takut sekali...
“Satu...”
Putri menarik nafasnya panjang-panjang untuk menguatkan dirinya.
“Dua...”
Putri akhirnya memberanikan diri menggeser tubuhnya. Lalu sebelum Ken berucap yang ketiga. Putri sudah berdiri.
“Om...," ucapnya.
Dengar itu, serentak orang-orang yang di sana pada berbisik-bisik...
“Oo... Itu, Om-nya...”
“Jadi, kamu bohongi Om ya?” omel Ken.
Merasa bertanggung jawab atas hal ini, Boy angkat suara.
“Saya yang mengajak Putri, Om. Sa...”
Boy jadi berhenti bicara. Karena Ken memalingkan kepalanya, dan memasang muka menusuk tajam memotong bicaranya.
“Saya tidak bicara dengan kamu.”
“Tapi, Om...”
“Kamu masih kecil sudah pacar-pacaran. Mau jadi apa kamu? Belajar dulu yang benar, terus kerja yang matang. Baru mikirin cari pacar.”
Asik Ken... Hajar Ken... Seru ini, Gengs... Wkwkwk...
“Tunggu Om, tapi saya...”
“Saya tidak suka ya, keponakan saya diajar-ajarin pacaran.”
“Tapi saya, Om...”
“Siapa nama kamu?”
“Boy, Om.”
Boy?
Ken langsung memalingkan kepalanya kembali ke Putri. Tentu dia masih ingat salah satu kata yang tertera di baju yang dibeli pakai duitnya itu. Wong dia pun ada mencoba.
Karena kekesalannya nggak bisa dilampiaskannya ke Putri. Dia jadi menaikkan mukanya ke atas, disertai menghembuskan nafasnya berkali-kali demi menenangkan diri. Namun ternyata percuma emosinya gak bisa reda. Karena itu, sebaiknya dia pergi.
Tapi sebelumnya dia mengeluarkan beberapa lembar uang dulu diletakkannya di meja kasir. Sebagai bentuk kompensansinya atas ulahnya tadi yang telah membuat kegaduhan di tempat itu.
“Om!” Putri terbelalak.
Dia terus memandangi pria yang lagi berjalan di luar resto dengan muka tidak sedap itu. Lalu dia meraih tasnya ingin mengejar.
“Sorry Boy...," katanya ke Boy.
*********
“Om... Om....”
Putri terus berteriak hingga mereka ke luar mall. Tapi tetap saja gak digubris oleh orang yang dikejarnya.
Ken terus berjalan hingga langkah kakinya tiba di halte. Dia duduk di situ untuk menenangkan emosinya. Dia tidak ingin balik ke mobil. Dia ingin cari udara dulu.
Jadi dia nggak permasalahkan uang. Bukan... Bukan itu... Hanya dia kesal saja pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia mengira baju itu untuknya. Makanya tadi dia gak bisa marah sama Putri.
Putri berdiri di dekat warung di pinggir halte. Dia ingin sekali duduk di samping Ken untuk merayunya, tapi gimana caranya? Pasalnya di sekitaran Ken, ada bapak tua yang mengamatinya memasang muka mesum. Dan ada mas nakal yang meradarkan pandangannya memasang muka sama mesumnya.
Sebenarnya bukan dua orang itu saja. Banyak laki-laki lain di sekitaran situ mengamati paha gadis itu
Oh! Dia tahu caranya! Lekas Putri berjalan mendekat. Dia sudah tahu tempat yang aman dimana dia bisa duduk. Didekatinya pria yang terus mengabaikannya. Setelah tiba, ditempatkan pantatnya, di atas paha Ken.
“Om... Jangan marah dong sama Putri...”
Sontak Ken membeku tiba-tiba Putri duduk di depan mukanya. Mungkin saking kesalnya, dia jadi nggak tahu Putri mengikutinya.
Seketika suasana halte jadi semu. Semua mata pada melihat pemandangan tidak biasa itu. Apa lagi Putri memanggil Ken, Om.
“Koran... Koran...”
“Aqua... Aqua...”
“Tahu sumedang... Tahu sumedang....”
Iklan lewat...
Para pedagang asongan pun nggak luput menyaksikan hal tersebut. Mereka melintas sambil matanya pada ke arah halte.
Ken kikuk, dapat pandangan yang seolah menuduhnya sebagai om-om nakal yang lagi ngambek dengan ABG-nya.
“P-utri... P-utri... Kenapa kamu duduk di paha, Om?” Ken panik, sekaligus jadi gugup.
“Habis Putri mau duduk di mana, Om?”
Putri melihat orang-orang di sekitaran Ken yang tadi pada masang muka mesum. Sekarang berubah jadi pada melongo.
“Putri... Berdiri,” mohon Ken.
“Tapi, Om nggak marah lagi, 'kan?”
Menggeleng cepat. “Nggak! Nggak!"
Putri berdiri, dan diikuti oleh Ken. Sebaik mereka berdiri, Ken lekas mengajak Putri pergi dari situ. Sungguh, dia malu sekali...
Namun karena dia jalan cepat-cepat Putri jadi ketinggalan.
“Om, jalannya jangan cepat-cepat dong."
Ken tersadar, dan lekas menoleh. Lalu dia mengulurkan tangan.
“Pegang tangan, Om.”
Putri meraih, menggenggam tangan pria yang punggung telapaknya berurat itu.
“Genggam yang erat," pinta Ken lagi.
Putri menguatkan lagi genggamannya. Lalu pas mereka berjalan, Ken berkata lagi.
“Jangan sampai lepas ya.”
“Iya, Om," angguk Putri.
Dasar Ken! Rupanya meski malu, dia cari kesempatan memanfaatkan suasana hati Putri yang lagi takut padanya.
maaf othor sekedar koreksi menurut saya🙏
sampai sekarang kalo baca pasti lupa kasih like karwna keasyikan baca
tengah malam tahan2 Tawa 🤣🤣🤣🤣
tengah malam ketawak2 sendiri Thor..
semangat trus ya