Kirana hanyalah sebatas gadis muda yang baru mengenal mimpi dan cinta. Dia sedang bahagia merangkai satu demi satu kuncup cintanya bersama seorang pemuda bernama Keenan.
Namun, bunga yang baru akan mekar itu segera layu karena satu kejadian naas yang merenggut hampir seluruh akal sehatnya hingga keluarganya menerima lamaran Raihan begitu saja. Lalu, bagaimana kisah cinta Kirana dan Keenan? Haruskah dia merelakan egonya dan menatap masa depannya dengan laki-laki lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jia.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Sedikit Memaksa
Pagi berikutnya Kirana masih saja pucat. Masih tidak bertenaga dan tidak mampu melakukan banyak hal. Dia hanya bisa tiduran saja di tempat tidur. Bahkan dia sengaja mempercepat mandinya agar dia bisa segera kembali ke tempat tidurnya.
Raihan baru menerima paket sarapan dari petugas hotel kemudian meletakkannya di atas meja. Dengan perlahan dia mendekati Kirana dan mengecek suhu tubuhnya yang masih sama tingginya dengan semalam.
"Dek, kamu yakin nggak mau periksa ke dokter?" Tanya Raihan.
"Nggak mau Bang," jawab Kirana.
"Tapi Abang nggak tega lihat kamu seperti ini," kata Raihan.
"Abang maaf ya rencana kita malah jadi kacau gini gara-gara aku sakit."
"Nggak papa, next time kan kita bisa jalan-jalan lagi. Kemanapun kamu mau insyaallah Abang turutin," jawab Raihan memberi pengertian.
Raihan penasaran kenapa Kirana bisa merasakan begitu sakitnya hanya karena tamu bulanan yang memang sudah menjadi kodrat seorang wanita untuk mengalaminya. Dia menelepon Mamanya dan menanyakan perihal tersebut. Dia memang malu sih membahas soal ini dengan Mamanya tapi mau bagaimana lagi dia sudah kepalang bingung dan pertanyaannya harus segera terjawab.
"Kenapa? Kirana sakit?"
"Iya Ma," jawab Raihan.
"Ma, Mama kan perempuan juga. Raihan mau tanya nih kira-kira Raihan harus apa biar bisa setidaknya mengurangi sakitnya Kirana. Masa dia sampai lemes pucet gitu. Semalaman juga nggak nyenyak tidurnya," keluh Raihan.
"Mau tahu nggak obat paling manjurnya apa?" kata Mama.
"Apa Ma?"
"Berhubungan."
"Maksud Mama?" tanya Raihan yang belum mengerti maksud dari Mamanya.
"Ya berhubungan. Kamu dan Kirana kan sudah menikah, sudah legal untuk berhubungan badan," jawab Mama membuat Raihan terbelalak.
"Ah Mama nggak asik. Nggak sambung jawabannya," kata Raihan.
"Hey jagoan Mama. Mama paham kamu mau menunggu Kirana tapi mau sampai kapan? Kalau tidak dipaksakan sedikit-sedikit ya sampai kapanpun nggak akan bisa. Lagian sudah jauh-jauh sampai ke Bogor mbok ya dicoba sekali-kali," saran Mama membuat Raihan tepuk jidat.
"Duh Mama iya Raihan tahu tapi dia masih sakit masa iya aku paksa. Yang bener aja Ma," protes Raihan.
"Yaudah yaudah terserah kamu."
"Ya terus, ini Raihan nggak dapat jawaban lho. Raihan harus bantu Kirana gimana caranya Ma?"
"Makan minum yang anget-anget. Hindari kopi sama soda dulu. Kalau masih sakit juga dikompres perutnya pakai kompres hangat atau gimana lah yang penting perutnya dia nggak kedinginan biar dia rileks juga," jawab Mama sudah setengah hati.
"Ok makasih Ma."
Raihan langsung mematikan telepon kemudian dia meraih sebuah botol kaca bekas C1000 di atas meja. Setelah mencucinya hingga bersih, dia mengucurkan air hangat dari kran sampai memenuhi botol kemudian dia balut botolnya dengan handuk agar tidak melukai kulit istrinya. Raihan lebih dulu meminta izin pada Kirana untuk meletakkan botol itu di perut Kirana.
"Makasih Bang," kata Kirana mengambil alih botol itu kemudian dia letakkan di perutnya.
"Abang buatin teh anget mau ya?" Tawar Raihan diangguki oleh Kirana.
Diakui atau tidak Kirana ternyata berbeda dengan ekspektasinya selama ini. Dia pikir sikap keras dan tegas Kirana dan segala pola pikir bijaknya akan membuat dia menjadi pribadi yang idealis dan sulit dibelokkan. Tapi nyatanya Kirana begitu penurut. Apapun yang Raihan katakan selalu diiyakan begitu saja oleh Kirana.
Seharian ini Raihan hanya menemani Kirana di kamar. Raihan menyalakan tv dan mengajak Kirana untuk menonton apapun yang ada di televisi. Raihan juga membawa USB berisi koleksi filmnya jadi mereka tidak kehabisan cara untuk mengisi waktu luang.
Kirana meminta Raihan untuk ikut merebahkan diri di sampingnya. Tadinya Raihan menolak. Dia tidak mau Kirana kenapa-napa tapi berhubung Kirana sendiri yang meyakinkannya Raihan akhirnya merebahkan diri di samping Kirana. Dia meraih sebuah bantal kemudian meletakkannya di antara keduanya. Dia juga memberikan jarak antara dia dan Kirana.
“Abang…,” panggil Kirana.
“Kenapa?”
“Kirana pengen bisa lebih dekat sama Abang,” kata Kirana.
“Ini kan kita sudah dekat,” jawab Raihan.
Kirana menggeleng, “Bukan dekat seperti ini. Kirana pengen bisa jadi selayaknya suami istri Bang. Lagian apa Abang nggak pengen ngapain gitu sama Kirana? Kirana ini istri Abang lho, sudah sah Abang apa-apain. Aku juga dengar obrolan Abang sama Mama pagi tadi. Mama bener Bang, kalau nggak dipaksa dikit-dikit mau sampai kapan kita kaya gini terus?” kata Kirana.
“Kirana, Abang tahu kamu belum sepenuhnya percaya sama Abang. Abang juga tahu kalau sekarang badanmu menegang karena takut dekat dengan Abang. Ini saja menurut Abang sudah memaksa. Lihat kan, kita belum pernah sedekat ini sebelumnya tapi kamu sudah memberi izin pada Abang untuk dekat,” kata Raihan membuat Kirana terdiam.
“Abang, Kirana pengen nekat,” kata Kirana.
Belum sempat Raihan menjawab apa-apa, Kirana sudah membuang bantal yang tadinya memisahkan dirinya dengan Raihan. Kirana langsung mendekat dan memeluk Raihan sedangkan Raihan sendiri hanya bisa mematung melihat Kirana berusaha melawan ketakutannya sendiri.
Raihan mampu merasakan jika tubuh Kirana bergetar. Tapi ada satu dorongan dari dirinya yang membuatnya mengeratkan pelukan dan mengelus punggung Kirana untuk menenangkannya. Lama kelamaan gemetar ketakutan itu menghilang dan Kirana sudah tertidur. Dia terlelap dalam pelukan suaminya untuk pertama kalinya. Raihan tersenyum. Dia memberanikan diri untuk mencium kening Kirana dan ikut memejamkan matanya.
“Kirana aku bangga padamu,” kata Raihan sebelum ikut menyusul Kirana ke alam mimpi.
...***...
Untuk menghapus rasa bersalah Kirana kemarin, hari ini mereka kembali berjalan-jalan. Kali ini Raihan yang ingin sekali merasakan main ke taman safari. Mumpung mereka ada mobil sendiri walaupun modal rental tapi Raihan ingin merasakan sensasinya dikelilingi oleh hewan-hewan besar di sana. Raihan juga bilang tidak afdol kalau Kirana tidak mengunjungi rumah saudaranya. Padahal yang dimaksud Raihan ya monyet-monyet yang ada di taman safari itu.
“Tuh…, tuh…, tuh…, mirip kamu tuh,” kata Raihan.
“Nah kalau yang itu mirip Bang Adnan ya,” kata Kirana.
“Terus yang di sebelahnya yang ngerebut makanannya itu Bang Raihan kan,” lanjut Kirana.
“Asem kok Abang jadi ikut-ikutan kamu katain mirip monyet juga,” kata Raihan.
“Ya sebenarnya Abang nggak mirip sama monyet. Abang mah miripnya sama anjing,” kata Kirana.
“Ha?”
“Ih bukan maksud ngatain ya tapi Abang tuh mirip sama anjing samoyed punya bu Maria. Itu lho yang rumahnya di ujung gang. Kan kalau pagi si comel suka dibawa jalan-jalan keliling komplek. Aku juga suka pegang, bulunya lembut banget,” kata Kirana.
“Suka suka kamu sajalah. Asal nggak dibilang mirip sama melki saja,” kata Raihan.
“Melki? Siapa itu Bang?”
“Anjing herder yang dipelihara sama om tantenya Abang. Dulu waktu kecil setiap kali Abang ke rumah om tuh anjing selalu aja menggonggong. Padahal kan Abang nggak salah apa-apa,” curhat Raihan.
“Dih Abang kan nggak bisa menggonggong,” kata Kirana.
“Ahahahaha, belum tahu saja kamu. Abang kalau lagi tugas galak lho.”
“Kayaknya emang polisi dimana-mana galak deh. Papa galak, Bang Adnan juga galak,” kata Kirana.
“Bukan galak sih sebenarnya tapi tegas. Ya wajar kalau Papa galak, jebolan gegana. Orang-orang yang dihadapi kriminal kelas atas semua. Kalau Abangmu nggak galak ya nggak kerja jadi provost. Mana tugasnya kok ya di brimob gitu,” jelas Raihan.
“Abang nggak pengen gitu Bang? Bukannya Papa Nandar juga jebolan brimob ya?”
“Iya, yang duluan terjun di brimob malah Papa Nandar dibanding Papa Bagus. Tapi Abang nggak mau. Pengen sih, lagian siapa juga yang menolak bisa gabung dalam tim elite polri itu. Cuma Abang kan sekarang nggak sendirian, sudah ada kamu. Kalau Abang di brimob Abang akan sering banget ninggalin kamu. Ini saja Abang nggak janji Abang bisa selalu ada sama kamu karena Abang akan tetap sering patroli malam,” kata Raihan.
“Nggak papa Bang.”
“Tapi setidaknya Abang tenang ninggalin kamu soalnya kamu akan ada sama Papa Mama. Sementara kita tinggal di rumah Papa Mama dulu nggak papa kan? Sambil jalan nanti kita usahakan beli rumah,” kata Raihan yang memang belum mampu memberikan yang terbaik untuk istrinya.
“Nggak papa banget Bang. Kirana kan masih suka takut sendirian di rumah. Lagian kayaknya Mama Cecil sama Mama Hasna bakal tetap merusuh kalau kita tinggal di rumah sendiri. Kan Abang anak tunggal dan Kirana anak kesayangan jadi ya gimana tahu lah.”
“Ohh ternyata bukan cuma Abang yang diproteksi maksimal toh. Kamu juga. Cie samaan,” goda Bang Raihan.
“Ya emang Abang kalau punya anak tunggal atau punya anak cewek nggak bakal protektif? Firasatku sih Abang bisa lebih protektif dibanding Papa,” ledek Kirana.
“Emang sih. Tapi Abang tetep pengen punya anak perempuan ah. Tapi nanti. Ya empat atau lima tahunan lagi lah. Kalau sekarang belum berani.”
“Bilang aja Abang masih pengen pacaran. Kita kan nggak pacaran Bang tau-tau nikah aja. Ngegas banget sih,” kata Kirana.
“Biarin ngegas. Namanya Abang nggak PHP. Abang suka yang pasti pas,” jawab Raihan.
“SPBU dong.”
“O iya juga ya. Ya ampun tadi samoyed sekarang SPBU, mbuh lah Dek sak karepmu,” kata Raihan membuat keduanya tertawa.
semangat buat karya² baru nya kak💪
jngan marah yaa klo ada saran dan kritik dri readers mu😁
bantu dukung karyaku juga iya
simpanan brondong tampan
lebih banyak upnya thor