NovelToon NovelToon
Balasan Untuk Sang Mantan

Balasan Untuk Sang Mantan

Status: tamat
Genre:Romantis / Balas Dendam / Cerai / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Balas dendam. / Penyesalan Suami / Membalas dendam / Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Suami Tak Berguna / Dendam Kesumat / Tamat
Popularitas:10.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: cucu@suliani

IG suliani_cucu

Rela pergi meninggalkan orang tuanya demi lelaki yang Larasati cintai, ternyata merupakan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karena lelaki yang dia cintai dan dia bela ternyata rela menceraikan dirinya karena perubahan tubuhnya yang menjadi gendut.

Larasati dihina, dicaci, diceraikan dan bahkan hartanya pun diambil alih oleh lelaki yang sangat dia puja.

Dua tahun kemudian, dia datang dan menjelma menjadi wanita yang sangat cantik. Dia berniat untuk membalas dendam kepada mantan suaminya tersebut, dia ingin membalaskan rasa sakit hatinya.

Kuy kepoin kisahnya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kado Dari Papa Yudha

"Ehm, Bi. Aku ingin membelikan Satria kado ulang tahun, bisakah Bibi pergi denganku?" tanya Yudha.

"Kemana, Tuan?" tanya Bi Narti.

"Ke toko mainan," kata Yudha.

"Boleh, Tuan," jawab Bi Narti.

Mendengar jawaban dari Bi Narti, Yudha terlihat senang sekali. Dia bahkan langsung menelpon Rendy dan berkata jika dia tak bisa datang ke Resto.

Tentu saja Rendy pun dengan senang hati mengiyakan perkataan dari bosnya tersebut, karena ada hal yang harus dia kerjakan bersama dengan Angga dan juga Larasati.

"Tuan!" panggil Bi Narti.

"Ya," sahut Yudha.

"Sebaiknya Tuan meminta izin terlebih dahulu terhadap Laras, takutnya dia merasa tersinggung karena Tuan asal mengajak pergi, Den Satri." Bi Narti tersenyum penuh arti.

"Ah, Bibi benar. Aku sudah banyak kesalahan padanya, setidaknya aku tidak boleh mengecewakannya," kata Yudha.

Setelah mengatakan hal itu, Yudha kembali mengambil ponselnya. Lalu, dia pun mencoba untuk menelepon Larasati.

Sayangnya, berkali-kali dia mencobanya, namun tak kunjung diangkat jua.

"Ngga diangkat, Bi." Yudha terlihat putus asa.

"Mungkin sedang sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun untuk Den Satria, Tuan kirim pesan singkat saja," kata Bi Narti.

Setelah mendengar usulan Bi Narti, Yudha pun langsung tersenyum.

"Bibi benar," kata Yudha.

Yudha pun mulai berpikir, pesan singkat seperti apa yang pantas dia kirimkan kepada Larasati. Setelah cukup lama berpikir, Yudha pun jadi ingin mengajak Satria untuk sekalian bermain.

Toh di Resto sudah ada Rendy, pikirnya. Apa salahnya dia bersenang-senang dengan putra semata wayangnya.

"Ras, Mas mau ngajak Satria ke Mall. Boleh ya?" tanya Yudha lewat pesan singkat.

Cukup lama Yudha menunggu, Bi Narti hanya tersenyum melihat Yudha yang bertingkah bak anak abege yang sedang ingin mengajak gebetannya untuk pergi jalan-jalan.

Tak lama kemudian, ponsel Yudha nampak berdenting. Itu tandanya ada pesan singkat yang masuk.

"Boleh dong, Mas. Aku seneng banget malah, maaf tak bisa menemani." Satu pesan singkat dia dapatkan dari Larasati.

Senyum Yudha langsung mengembang dengan sempurna, dia benar-benar sangat senang dengan apa yang dia baca.

"Boleh, Bi. Tolong siapkan perlengkapan Satria," kata Yudha.

Bi Narti nampak tersenyum, lalu dia pun segera berlalu untuk menyiapkan tas perlengkapan Satria.

"Sudah, Tuan," ucap Bi Narti.

"Ah, baguslah." Yudha nampak menghampiri Satria yang terlihat sedang asik bermain.

"Satria, Sayang. Kita jalan-jalan, yu?" ajak Yudha.

Satria terlihat menghentikan tangannya yang sejak tadi begitu lincah memainkan mobil-mobilan.

"Papa mau ajak aku, pelgi kemana?" tanya Satria.

"Kita pergi ke tempat bermain yang besar, terus kita beli mainan yang banyak, mau?" tanya Yudha.

Mendengar perkataan Yudha, ternyata Satria tak serta-merta senang begitu saja. Anak itu terlihat menatap Bi Narti, dia seakan meminta persetujuan dari wanita paruh baya tersebut.

Bi Nati tersenyum, lalu dia pun menganggukkan kepalanya. Satria pun ikut tersenyum, lalu dia menghampiri Yudha dan memeluknya.

"Kata Nenek boleh, ayo kita pelgi," ajak Satria.

Mendengar ucapan Satria yang berucap dengan sangat menggemaskan, membuat Yudha ta tahan untuk menghujani ciuman di setiap inci wajah Satria.

"Papa ih, basah!" kesal Satria.

"Maaf, Sayang." Yudha terlihat mengambil tisu dan mengelap wajah Satria.

Satria langsung tersenyum, kemudian dia pun mengecup pipi Yudha. Wajah Yudha seketika sangat berseri, dia sangat senang mendapatkan perlakuan seperti itu dari putarannya

"Ayo, Bi," ajak Yudha.

Bi Narti tersenyum lalu mengangguk, Yudha terlihat menggendong Satria dan membawanya menuju mobil mewahnya.

Bi Narti pun dengan setia terus mengikuti langkah Yudha.

Setelah melakukan perjalana selama dua puluh menit, akhirnya Yudha sampai di pusat perbelanjaan terbesar di pusat kota.

Yudha pun langsung menggendong Satria dan mengajaknya untuk bermain di arena bermain anak, Satria terlihat antusias sekali.

Bahkan Yudha tak sedikit pun meninggalkan Satria, dia terus saja berada di samping bocah tampan itu.

Dia merasa bangga sekaligus terharu saat berada di samping putra tampannya.

"Ya Tuhan, ternyata rasanya sungguh nikmat saat bersama dengan buah hatiku," kata Yudha lirih.

Puas bermain di arena bermain anak, Yudha nampak mengajak Satria untuk masuk ke sebuah toko mainan terbesar yang ada di pusat perbelanjaan tersebut.

"Cape?" tanya Yudha.

"Ya, Papa," jawab Satria dengan anggukkan kepalanya.

"Sekarang pilihlah mainan yang kamu suka," kata Yudha.

Satria terlihat menganggukkan kepalanya.

Yudha menawarkan berbagai macam mainan anak yang terlihat mahal dan bagus, namun ternyata, Satria seperti sudah biasa mendapatkan semua mainan tersebut.

Tak lama kemudian matanya terpaku pada sebuah mobil mainan yang terlihat pas, jika dia yang memakainya.

"Aku mau itu," kata Satria.

Yudha tersenyum, lalu dia pun menganggukkan kepalanya. Tentu saja dia setuju untuk membelikan mobilan tersebut untuk putranya, bahkan jika Satria memilih mainan yang lebih mahal pun Yudha pasti akan membelikannya.

"Yeeey, Papa yang terbaik." Satria terlihat mengecupi wajah Yudha.

Yudha terlihat sangat bahagia sekali mendapatkan perlakuan seperti itu dari Satria, dia bahkan langsung tertawa dan mendekap tubuh Satria dengan erat.

"Mau langsung pulang atau masih mau main?" tanya Yudha.

"Langsung pulang saja, Pa. Aku mau mainin mobilnya," kata Satria.

"Baiklah, Papa menurut," kata Yudha.

Setelah mengatakan hal itu, Yudha terlihat menemui pemilik toko tersebut. Lalu, dia pun segera membayar mobilan yang diinginkan oleh Satria.

Tak lupa Yudha pun meminta agar mobil mainan tersebut segera dikirimkan ke alamat rumah Larasati, tentu saja dengan senang hati pemilik toko pun mengiyakan.

Yudha ntar lihat menggendong Satria sambil sesekali bercanda dengan bocah tampan tersebut, Bi Narti dengan setia mengekori langkah kedua pria tampan berbeda generasi tersebut.

Tak jauh dari sana, ada teman Jesicca yang melihat hal tersebut. Dia pun dengan cepat mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Jesicca"

"Ada apa Mel?" tanya Jesicca setelah sambungan telepon terhubung.

"Gue lihat laki elu di pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota, dia menggendong balita tampan sekitar berusia 2 tahun," ucap Melly sahabat Jesicca.

"Yang bener? Apa elu ngga salah lihat?" tanya Jesicca.

"Ya engga' lah! Mata gua masih normal, terus ada wanita paruh baya yang mengekori langkah dia dari belakang!" jelas Melly.

"Masa laki gue selingkuh sama nenek-nenek?" tanya Jesicca.

"Gue ngga tahu, bisa jadi perempuan itu ibunya si perempuan yang lagi laki elu pacarin," ucap Melly.

"Masa sih?" tanya Jesicca tak percaya.

"Bisa jadi, itu kan cuman kesimpulan gue!" ucap Melly.

"Coba elu fotoin laki gue yang kata elu lagi gendong balita tampan!" kata Jesicca.

Melly terlihat mencari sosok Yudha yang tadi terlihat sedang tertawa bersama dengan balita yang di ada di gendongannya.

Namun sayangnya, dia tak menemukan keberadaan Yudha.

"Engga ada, Jes. Kayaknya mereka udah pergi," ucap Melly.

"Bodohh! Aturan elu tadi videoin terus kirim ke gue, bukannya nelpon gue," kata Jesicca.

"Elu itu ya, jadi sahabat bukannya berterima kasih malah ngatain gue," ucap Melly seraya memutuskan sambungan teleponnya.

Dia terlihat kesal, karena respon Jesicca yang terkesan tak mengenakkan hatinya.

1
neng ade
otw
neng ade
siap om .. tapi pelan-pelan ya om .. jangan kasar juga
neng ade
kocak .. 😂😂😂
neng ade
boleh mencetak gol ya Kinar 😁😍
neng ade
terciduk 😂
neng ade
oh itu Louisa pacar nya Abian
neng ade
aduh.. Kinar. kenapa harus sembunyi sih ..
neng ade
semoga ga ada halangan apapun saat Kinar ke rumah Mich.. aku khawatir akan di hadang sama si jerami
neng ade
naahh .. papa mertua udah konek nih .. teringat saat Bu Airin lagi hamil Rachel juga sama tingkahnya..
neng ade
maklum ya Bun ..
neng ade
udah ada tanda Rachel hamil 😍😍
neng ade
nah tuh Mich udah ungkapkan perasaan nya pada mu Kinar.. sekarang jawab dengan jujur pertanyaan Mich kapan kamu siap menikah dengan Mich ..
neng ade
om jadi salah tingkah Kinar.. 😁😍
neng ade
ayo Mich bergerak cepat lah jangan sampai Jerami itu berbuat nekat sama Kinar ..
neng ade
syukurlah kalau Kinar udah tau ceritanya dari Merlin.. tapi Merlin belum tau kalau gadis kecil itu adalah Kinar.. satu hal yang harus Kinar ingat kalau Mich udah mencintai nya sejak kecil
neng ade
aduuhh.. kenapa harus ketemu sama si jerami itu lagi sih ..
neng ade
ahh.. akhirnya Kinara tau juga tentang foto masa kecilnya yang di simpan Mich.. om Mich udah jatuh cinta pada mu sejak kamu masih kecil Kinar..
neng ade
aku masih betah disini dulu ya thor .. nanti aku sambangi karya baru mu itu
neng ade
jangan negatif thinking dulu om ..
ayo semangat untuk memperjuangkan
Kinar ..
neng ade
buat Kinar dan Mich berjodoh ya thor 🙏❤️😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!