#1
#WAJIB LIKE, KOMENT, VOTE, DAN FAVORIT,
KALO KALIAN BISA!
Adiba Khanza Adira & Noah Aditama
"Jadi ada keperluan apa kamua kesini?" Tanya nya dengan to the point.
"Em jadi gini pak saya kesini mau meminjam
uang sebesar 100jt ke perusahaan untuk
pengobatan bapak saya" ucap Diba dengan lirih.
"Apa yang akan saya dapatkan dengan saya meminjamkan kamu uang?" Tanya pria itu.
"Saya tidak bisa memberikan apapun untuk bapak karena memang saya tidak punya apa pun pak, saya janji akan mengembalikan uang itu dengan cara mencicilnya sampai lunas walaupun sampi seumur hidup saya".
"Saya mohon pak,bapakk saya di kampung sedang sakit jantung dan perlu di oprasi jika tidak-" Diba tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kamu tahukan uang 100 juta bukan uang yang kecil? Saya bersedia membantu kamu asal kamu menikah dengan saya" ucap Noah dengan enteng nya.
"Ha maksud bapak?" Tanya Diba tak percaya.
penasaran! yuk baca bab 1- akhir😅👍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candrania272, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 28
HAPPY READING!
JANGAN LUPA LIKE,KOMEN, FAVORIT DAN VOTE!
DGN MELAKUKAN HAL TERSEBUT AUTHOR JUGA AKAN SEMANGAT UPNYA...
DAN INI CERITA FIKSI YG TIDAK NYATA YA GUYS!
OKE CUKUP BASA BASINYA YUK CUSS KITA READING!
...💨👀💨👀👀💨...
Noah mengerjapkan Matanya merasakan suhu panas bersentuhan dengan kulitnya. Ia melihat jendela yang ada didekatnya, ternyata hari sudah menjelang siang yang terlihat dari pancaran sinar matahari yang menembus gorden putih. Dilihatnya perempuan yang ada di sampingnya itu sedang tertidur lelap dengan tangan Noah yang memeluknya semalaman. Ia tersenyum kecil saat melihat beberapa karya nya yang menghiasi kulit putih perempuan itu, akhirnya setelah sekian lama ia menikah dengan Diba, kemarin bisa mendapatkan seutuhnya walaupun dengan cara ketidak sengajaan ataupun juga bisa disebut dengan kecelakaan. Tapi ia kembali mengingat kejadian dimana ia bisa berakhir seperti ini, yaitu karena Cecilia, Di satu sisi ia marah karena Cecilia menjebaknya tapi di sisi lain karena jebakan Cecilia itulah ia jadi bisa memiliki Diba seutuhnya walaupun dengan keterpaksaan Diba.
Huh! Karena pikiran nya barusan Noah jadi melupakan alasan ia terjaga tadi. Yah! Tubuh wanita yang ada disampingnya ia bersuhu tinggi. Ia menyentuh dahi Diba untuk memastikan apa benar Diba sedang demam, dan ternyata benar. Saat ini Diba sedang demam, ia jadi sedikit merasa bersalah karena dirinya lah Diba jadi demam seperti ini. Apa mungkin ini efek dari yang ia lakukan semalam.
Noah menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka berdua yang masih tidak tertutupi sehelai benang pun. Saat menyibak selimut itu, ia mendapati sprai putih yang mereka tempati terdapat bercak darah kering yang jelas itu berasal dari tubuh bagian bawah Diba. Tanpa berpikir lama ia segera memungut pakaian nya dan pakaian Nea yang tercecer di lantai dan menempatkan ya di keranjang baju kotor, lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah keluar dari kamar mandi Noah segera berganti baju. Lalu kembali lagi keranjang dengan membawa baju Diba yang ada di tangan nya.
Sebelum memakaikan baju pada tubuh Diba, terlebih dahulu Noah melepaskan sprei yang terpasang di kasur itu dan menggantinya dengan yang baru. Ini sungguh adalah hal yang seumur hidup tak pernah Noah lakukan. Tapi hari ini itu ia lakukan. Setelah semua beres, lalu ia dengan telaten memakaikan baju pada tubuh Diba yang tidak tertutupi sehelai benang pun.
"****!"
Noah mengumpat saat ia memakaikan baju pada Diba. Melihat betapa indahnya tubuh perempuan yang ada di hadapan nya itu, membuatnya ingin mengulangi lagi hal yang kemarin ia lakukan. Tapi tidak, ia tidak akan setega itu dengan nya. Bagaimana pun juga kemarin ia sudah mengulangi kegiatan itu berkali-kali hingga membuat nya sakit seperti ini.
Noah mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu nomor didalam sana. Yaitu Liam, selain ia adalah sahabatnya ia juga dokter pribadi Noah.
"Hallo"
"Ada angin apa lo tiba-tiba telpon gue".
"Cepat datang mansion ku!"
"Tunggu-tunggu ada apa? Lo sakit?"
"Bukan"
"Lalu?"
"Istri saya sedang sakit"
"Maksud nya kakak ipar?"
"Sekali lagi kamu panggil dia kakak ipar. Saya bikin mulut kamu tidak bisa bicara!"
"Cepat kemari!" Titah Noah sebelum mengakhiri panggilan itu.
Setelah menunggu hampir satu jam akhirnya Liam pun datang dengan bi Rani yang mengantarnya ke kamar Noah.
"Kemana saja kau? Lama sekali!"
"Yaelah. Gue ini dokter, dan kebetulan hari ini banyak pasien. Dan lagi pula ini jakarta, macet man" ujar Liam dengan santai seraya menepuk punggung Noah.
"Cepat periksa dia!" Titah Noah seraya menunjuk Diba yang terbaring di kasur.
"Hm okey" lalu melangkahkan kakinya mendekat kearah ranjang yang di tempati Diba.
liam mengeluarkan stetoskop nya. Saat hendak membuka satu kancing baju Diba paling atas guna memeriksa nya. Noah malah menahan tangan nya, dan menatap tajam ke arahnya.
"Jangan kurang ajar kau!" Noah dengan menahan tangan Liam yang hendak membuka kancing Diba.
"Aku hanya ingin memeriksanya. Bukan memperkosanya, lagi pula disini ada kau dan bibi, masak ia aku memperkosanya"
"Oh jadi jika tidak ada kami berdua kau akan melakuka nya?"
"Tent-" hampir saja ia salah bicara dan buru-buru meralatat nya "tentu saja tidak dia kan istri mu bro" ralat Liam sambil terkekeh untuk memecahkan suasana yang mencekam ini.
"Jangan buka bajunya. Periksa saja dari luar Kan bisa"
"Tapi sensasi nya kurang dapat bro' jawab Liam dari dalam hati nya sambil terkekeh.
"Oke-okeh" akhirnya liam menurut apa yang dikatakan Noah.
Liam memeriksa detak jantung Diba dan juga suhu tubuhnya.
?"Dia hanya demam biasa. Hanya perlu di kompres dan diberi obat penurun panas, pasti sudah sembuh" ujar Liam.
"Em tapi sepertinya ia juga perlu obat pereda nyeri deh" sindir Liam. Ia mengatakan itu karena tak sengaja melihat kiss mark yang ada di leher Diba. Karena itu ia jadi tahu penyebab Diba bisa sakit seperti ini.
"Apa maksud mu?" Tanya Noah yang merasa tersindir karena perkataan Liam.
"Eh maksud ku. Mungkin kakak ipar mengalami nyeri di beberapa bagian tubuhnya, jadi perlu obat pereda nyeri juga".
"Tidak perlu. Jika sudah selesai cepat pergi dari sini" usir Noah kepada Liam.
Liam hanya bisa menghembuskan napasnya jengah karena tingkah sahabatnya ini. Untung sahabat! Kalau tidak sudah Liam buang mungkin.
Sebelum Liam keluar dari kamar itu. Tiba-tiba muncul dua orang di pintu kamar tersebut yang kebetulan tidak ditutup. Dua orang tersebut adalah Beatrix dan William.
Mereka semua menoleh saat menyadari kehadiran dua orang tersebut.
"Kalian ngapain kesini?" Tanya Noah kepada William yang tiba-tiba datang. Padahal ia tak menghubungi William.
"Saya tadi mendapatkan kabar dari Liam bahwa istri anda sakit. Jadi saya buru-buru kesini" jelas William. "Sedangkan dia" William sambil menatap jengah kepada Beatrix.
"Dia tadi menguping pembicaraan saya dan Liam di telpon. Dan memaksa ikut kesini".
"Enak aja saya nggak nguping ya. Cuman nggak sengaja denger aja" ucap Beatrix yang tak terima.
"Sama saja!" Desis William.
"Hei dia siapa?" Tanya Liam yang penasaran dengan gadis yang ada di samping William.
"Dia kekasihmu rik? Ck..ck..ck aku tak menyangka kamu diam-diam memiliki kekasih".
"Bukan!" ucap William dan Beatrix bersamaan.
"Wow sepertinya kalian berjodoh" ucap Liam takjup.
"Kalau kalian mau berdebat jangan disini. Keluar! Kalian bisa mengganggu nya istirahat" usir Noah.
Mereka pun keluar menyisakan Noah dan Diba sendiri dikamar itu.
Bibi datang membawa bubur dan alat untuk mengompres pesanan Noah.
"Ini tuan bubur dan kompres nya"
"Taro disitu aja bi"
Setelah itu bibi pun pamit untuk meninggalkan mereka berdua.
Noah mengatakan handuk basah di kening Diba. Dan tak ia sangka Diba terbangun, padahaldari tadi ada huruk piyuk orang di kamarnya ia tidak bangun.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Noah kepada Diba yang baru membuka matanya. Sebenarnya dari tadi Diba mendengar semua keributan yang terjadi, namun karena ia merasa pusing dan mengantuk, ia jadi enggan membuka matanya.
"Hm iya" yang pertama kali yang Diba lihat adalah baju nya. Seingatnya kemarin ia tertidur tanpa mengenakan apapun. Tapi sekarang ia sudah dibalut dengan baju dan yang tak kalah menarik pandangan nya yaitu seprei yang sudah berganti warna.
Noah menyadari semua pertanyaan yang berputar di kepala Diba.
"Saya yang memakaikan mu baju dan saya juga yang mengganti sprei" mendengar itu Diba melotot kaget. la jadi ingat apa yang mereka lakukan kemarin, oh tidak! Itu membuat pipi nya bersemu merah sekarang.
Diba hendak bangun dari posisi tidurnya.
"Aww" ia merasakan mentari di bagian bawahnya.
"Ada apa?" Tanya Noah kawatir.
Diba diam saja, ia bingung harus menjawab apa. Masa ia harus terang-terang mengatakan "itu" nya sakit. kan memalukan!
"Jangan bergerak dulu. Kamu sedang demam tadi Liam sudah memeriksa mu dan memberikan obat penurun panas. Sekarang..kamu istirahat saja".
Diba merasakan keanehan. Benarkah ini Noah pria yang sama yang ia nikahi beberapa bulan lalu? Kenapa sikapnya berubah seperti ini?.
Diba kembali berbaring, dan Noah membenarkan posisi handuk basah yang sedikit bergeser dari posisinya.
Diba kembali menatap aneh kepada Noah. Ini seperti bukan Noah, apa dia sedang kemasukan jin baik? Kenapa sikapnya lebut seperti ini?.
"Kenapa kamu menatap saya seperti itu?" Tanya Noah menyadari Diba yang mantapnya sedari tadi.
"Em enggak. Bapak nggak ke kantor?"
" Noah, Diba!" peringat Noah. Yah! Sejak tadi malam Noah tak mau dipanggil 'pak'.
"Em pak. Eh no, em eh. Aduh saya nggak enak panggil nama aja, jadi aneh gitu" ucap Diba frustasi.
"Terserah kamu mau panggil saya apa! Yang penting jangan panggil saya pak lagi. Saya ini suami kamu, bukan bapak kamu. Apa kata orang mendengar kamu memanggil saya seperti itu".
Diba menatap Noah tak percaya. Benarkah itu berasal dari mulut Noah? Sejak kapan Noah mendengarkan apa kata orang? Dan sejak kapan orang tahu mereka suami istri. Bukan kan hanya orang terdekat saja yang tahu dan orang terdekat itu juga mengetahui dasar pernikahan mereka. Jadi mereka akan memakluminya jika Diba masih memanggil Noah dengan sebutan pak. Sebenarnya kemarin saat mereka melakukan itu Diba sempat mendengar Noah menggunakan kata-kata cinta untuknya. Tapi Diba menganggap nya hnya angin lalu saja dan tidak mengingat-mengingatnya.
"Sekarang kamu makan dulu. Setelah itu minum obat" Noah sambil mengambil mangkuk yang berisi bubur.
Noah duduk di tepi ranjang. Dan mengambil satu usapan lalu ia arah kan ke mulut Diba.
"Saya bisa makan sendiri pak- eh. Aduh saya lupa muluk manggilnya, gimana kalau saya panggil 'mas' aja?" Tawar Diba.
"Memangnya saya tukang bakso kamu panggil mas".
"Trus apa dong. Lagian ibu saya kalau panggil bapak saya dulu juga gitu" saat selesai mengatakan itu, Diba jadi teringat akan orang tuanya. Bapaknya yang meninggal, ibunya yang di kampung dan adik-adiknya. Entah bagaimana keadaan mereka sekarang.
Noah melihat wajah Diba yang berubah menjadi murung.
"Terserah kamu deh mau panggil saya apa. Yang penting bukan 'pak".
"Yaudah deal ya saya panggil mas" ucap Diba menyalami tangan Ryszard sebagai tanda persetujuan mereka.
"Ya. Sekarang kamu makan dulu" ujar Noah seraya menyodorkan sesendok bubur.
"Aku bisa makan sendiri" ucap Diba sambil menduduki kan tubuhnya menyadar pada sandaran kasur dan melepaskan kompres yang ada di jidat nya.
"Nggak perlu pakek di kompres segala. Nanti juga sembuh sendiri" ujar Diba sambil meletakkan kompres itu pada ember yang ada di nakas.
"Yaudah tapi makan ya" Noah kembali menyodorkan sesendok bubur ke mulut Diba.
Sebelum Nya menolak Noah dengan lebih dulu berucap. "Tidak ada penolakan".
Karena keputusan sudah ditetapkan. Diba mau tak mau harus membuka mulutnya dan melahap bubur itu.
"Sekarang minum obat" Noah menyodorkan air dan obat ke tangan Diba.
Diba menerima obat itu dan meminumnya dengan patuh.
"Tidurlah, jangan bergerak dari sini. Saya mau keluar sebentar".
♡˃͈ દ ˂͈
SAMPAI SINI JA DULU!
JANGAN LUPA LIKE, KOMENT, VOTE, DAN FAVORIT👍
JANGAN LUPA FOLLOW @CANDRANIA272_
👀💨👀💨👀💨
NOAH ADITAMA
WILLIAM DANUARTA
LIAM BENJAMIN
MARIO
ADIBA KHANZA ADIRA
CECILIA BELVINA
BEATRIX
ε✿♡♡
...TBC...
Semangat berkarya kak💪💪
penasaran nih 😊
semangat ya thorr💪
semoga sehat selalu thorr