WARNING...!! SIAPKAN KOMENTAR TERPEDAS KALIAN YA😁
Novel ini di angkat dari kisah nyata mungkin pada awalnya si pihak perempuan bisa di bilang bodoh, kalau penasaran yuk lanjut baca kalau gak skip aja ya😁
"Tidak, bukan aku yang memulai. Kau yang lebih dulu mengkhianati ku. Lalu kenapa sekarang kau merasa paling tersakiti?" Winda menatap wajah suaminya dengan sesak di dadanya.
"Maafkan aku, aku khilaf. Tapi, kenapa kau malah berselingkuh dari ku?"
Lelaki yang tidak memiliki perasaan ini dengan entengnya melontarkan pertanyaan yang membuat Winda tertawa geli.
Bukan kesalahan Winda berselingkuh, sejak mereka menjalin hubungan di saat kuliah, Tama lah yang sudah mengkhianatinya terlebih dahulu.
Memaafkan berulang kali, begitu seterusnya hingga mereka menikah. Hati Winda benar-benar patah, wanita ini membalas pengkhianat suaminya. Mempertahankan rumah tangga demi nama baik masing-masing dari keluarga mereka. Linda dan Tama, hidup dalam kemunafikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Tama menarik tangan istrinya tapi dengan cepat Winda menepis tangan suaminya. Seakan tidak ada pertanyaan lain yang di tanyakan Tama, hampir setiap hari pria ini bertanya kemana Winda pergi.
"Jangan membuat ku semakin muak mas. Jika kau tidak menceraikan ku, maka aku akan bertindak seperti ini terus," ucap Winda dengan geram.
"Kau sama sekali tidak menghargai aku sebagai suami mu Win. Kau pergi dan pulang sesuka hati mu, kau anggap apa aku ini hah?"
Winda tertawa, renyah tapi mengejek.
"Hooh,...entah kenapa aku bisa berjodoh dengan lelaki egois seperti mu ini hah?" ujar Winda, "kau minta di hargai, tapi apa pernah kau dan keluarga mu menghargai aku terutama mamah mu!"
"Namanya juga orang tua Win, jangan di ambil hati apa yang di ucapkan dan di lakukan mamah," kata Tama dengan entengnya.
Prankk.....
Hati Winda yang panas langsung membanting vas bunga yang berada di meja riasnya.
"Bodoh....!" umpat Winda emosi, "gampang sekali kau mengucapkan kata-kata sampah itu pada ku. Asal kau tahu saja, mamah mu itu benalu dalam hidup ku!"
Plaaak,....
Tanpa sengaja tangan Tama ringan melayang di wajah istrinya.
"Win, maafkan aku!" ucap Tama menyesal.
Winda hanya tersenyum sinis, merasakan perih di wajahnya.
"Ini lah salah satu alasan ku kenapa aku lebih suka mencari pria lain selain diri mu," ucap Winda sangat mengejutkan Tama.
"Kau menduakan aku lagi kah?" sentak Tama.
"Kalau iya kenapa?" tanya Winda seolah menantang.
"Aku bisa mendapatkan apa yang bisa membuat ku bahagia di luar rumah. Kau itu kekanakan Tama, segala yang ada pada mu masih di kontrol oleh orang tua mu. Aku sangat muak, kau dan keluarga mu hanya menekan ku dengan balas budi yang kalian berikan. Aku muak!"
"Win, aku minta akhiri segara apa pun yang kau lakukan di luar. Aku tidak mau ada orang ketiga dalam rumah tangga kita."
"Kau yang mengajarkan bagaimana caranya memasukan orang ketiga dalam rumah ini. Jika kau mau, kau bisa menggugat cerai diri ku besok!"
Sekali lagi Winda menantang, membuat Tama yang bodoh terdiam.
"Oh, satu lagi. Kau bisa mengadu pada mamah dan papah mu jika aku berselingkuh di belakang mu. Aku yakin jika mereka pasti akan menyuruh mu menceraikan ku segera dan kau bisa bebas menikah dengan perempuan pilihan mamah mu itu."
Brak,....
Winda yang masih emosi menendang meja kemudian keluar dari dalam kamar. Langkah Winda terhenti saat melihat bi Marni di depan kamar.
"Mbak, yang sabar!" lirih bi Marni.
Winda hanya menarik nafas dalam, beban rumah tangga ini sungguh berat ia jalani.
Singkat cerita, dua hari kemudian Tama mengajak Winda pergi makan malam di rumah orang tuanya. Winda sudah menolak beberapa kali, tapi Tama tetap menyakinkan Winda untuk pergi dengan alasan sang papah ingin melihat kedua cucunya.
Winda mengumpat dalam hatinya, wanita ini sudah bisa menebak apa yang akan terjadi di rumah mertua yang penuh drama ini. Ternyata ada Nadia di sana, sedangkan papah Tama tidak ada karena sedang pergi ke luar kota untuk mengurus bisnis. Diana dengan sengaja mengundang Nadia agar Winda merasa cemburu.
"Winda, kamu pindah di samping Cindy. Biarkan Nadia duduk di samping Tama," titah Diana sangat mengejutkan Tama dan Cindy tapi tidak bagi Winda.
"Kenapa kau harus pindah?" tanya Winda dengan santai, "Tama suami ku, wajar jika aku duduk di samping suami ku. Lah dia siapa? wanita tidak bermuka!" ucap Winda ketus.
"Jaga bicara mu Winda!" bentak Diana tidak suka, "Nadia tamu ku dan aku tuan rumah. Jadi, aku berhak mengatur apa pun di rumah ini termasuk diri mu!"
Pyar.....
Cindy membanting sendok dan garpu. Telinganya panas mendengar ucapan mamahnya sendiri.
"Mah, mamah benar-benar-benar keterlaluan. Dan kau,...!" Cindy menunjuk wajah Nadia, "kak Winda benar, kau adalah wanita tak bermuka!"
"Cindy, yang sopan!" bentak Diana.
"Untuk apa bersikap sopan?" ujar Winda bersuara, "anda adalah ibu sekaligus mertua tergagal yang pernah ada."
"Win,...!" Tama menarik tangan istrinya.
"Apa, mau bilang jangan ambil hati dengan ucapan mamah mu lagi?" tanya Winda pada suaminya, "apa mata mu buta hah?" sentak Winda, "mamah mu ini sakit jiwa!"
Shiiit,.....
Winda langsung mengajak kedua anaknya pergi dari rumah mertuanya. Bergegas Tama menyusul istri dan anak-anaknya.
"Mas Tama mau kemana?" tanya Nadia sembari menarik tangan Tama.
Tama menghempaskan tangan Nadia.
"Pergi dari rumah ini, jangan ganggu rumah tangga ku!" ucap Tama kemudian pergi.
"Tante,....!" suara Nadia terdengar manja, membuat Cindy muak mendengarnya.
Byur,....
Cindy yang geram tiba-tiba saja menyiramkan segelas air ke wajah Nadia.
"Pergi kau, kau hanya perusak. Benalu dan perempuan kotor. Jangan masuk ke dalam rumah ku lagi...!"
Cindy berteriak.
"Cindy, apa yang kau lakukan hah?" Diana masih membela Nadia.
"Pergi atau ku lempar dengan sambal ini," ancam Cindy.
Nadia yang ketakutan langsung berlari menuju pintu keluar. Diana mengejar Nadia, mencoba membujuk wanita itu.
Sedangkan Winda, ia memilih pulang ke rumah orang tuanya. Winda hanya ingin tidur nyenyak malam ini. Untung saja Anwar tidak ada di rumah, papah Winda itu ikut pergi bersama Herman untuk mengurus bisnis.
"Win, kita pulang saja." Ajak Tama.
"Kalau kau ingin pulang sana pulang, jangan ajak aku dan anak-anak ku!"
"Mamah mu sudah sangat keterlaluan Tama. Rumah tangga kalian sudah tidak pantas lagi untuk di pertahankan!" ucap Weni yang geram saat mendengar cerita dari anaknya.
"Aku juga gak tahu kalau mamah mengajak perempuan itu mah."
"Jangan banyak alasan, tidak ada habisnya kau menyakiti anakku. Wajar saja jika anak ku mencari kebahagiaan di luar sana!"
Tama yang bodoh hanya bisa diam, tentu saja ini sangat membuat Winda kesal.
Malam berganti pagi, Tama mencari istrinya yang ternyata sudah pergi sejak pagi sekali saat Tama belum bangun.
"Winda kemana lagi mah?" tanya Tama pada mertuanya.
"Tidak tahu!" jawab Weni dengan ketusnya.
Huft,....
Hanya bisa menarik nafas panjang, Tama tidak ingin membuat suasana hati mertuanya semakin kacau pagi ini.
Jarum jam terus berputar, Tama tidak bisa menghubungi nomor Winda sampai siang. Saat Tama ingin pergi mencari istrinya, mobil Winda memasuki halaman.
"Win, dari mana saja kau?" tanya Tama seperti orang bodoh.
"Tanda tangani ini maka kita akan bebas!" ucap Winda sambil menyodorkan satu buah amplop berlogo pengadilan agama.
Mata Tama terbelalak, pria ini tidak ingin membuka surat tersebut dan langsung merobeknya.
"Sudah ku bilang, sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan mu!" ucap Tama marah.
"Kalau begitu biarkan aku bersenang-senang dengan kebahagiaan ku!" sahut Winda berlalu masuk kedalam rumah dengan santainya.
Tama terduduk lemas, ini sudah kesekian kalinya Winda menggugat dirinya. Hati Tama mulai berdebar, pria ini tidak ingin kehilangan Winda dan anak-anaknya.
hajar terus win 🤣🤣🤣
niat hati baca novel untuk melepas penat , eh yang ada malah bertambah bahkan max level lagi