Marvel Lawrence pria berusia 28 tahun yang tidak pernah serius akan cinta. Ia lebih suka menjalin hubungan singkat dengan banyak wanita. Memiliki sahabat mantan casanova yang sekarang sudah bertobat tidak menjadikan itu motivasi untuk Marvel mengikuti jejaknya.
Karen Ramsey perempuan cantik berusia 25 tahun yang berprofesi sebagai model. Yatim piatu sejak kecil dan hanya hidup berdua dengan omnya yang suka berjudi. Sangat terobsesi dengan seorang casanova kaya namun harus kandas karena tidak ada balasan cinta dari casanova tersebut.
Lalu bagaimana jika mereka dipertemukan di sebuah pernikahan karena accident? Kuyy dibaca siapa tahu suka.
SEKUEL DARI TRIPLET DAN CEO
Peringatan🗣️🗣️🗣️
Cerita ini adalah murni hasil karangan imajinasi author dan seluruhnya adalah fiktif belaka. Semoga pembaca tidak larut dalam cerita sehingga tidak membawanya ke dalam dunia nyata. Cerita ini hanya untuk hiburan dan tidak lebih. Author ucapkan terima kasih karena sudah mampir 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamond ice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Melebihi batas waktu
Hubungan baik mereka terus berlanjut hingga waktu jatuh tempo tiba, mereka tidak mengindahkan hal tersebut. Pernah Karen menanyakan tentang perjanjian mereka dan Marvel yang menghindar tidak ingin membahasnya.
Marvel berkata untuk tetap terus fokus menjalani hubungan rumah tangga mereka yang sedang membaik. Pikir Marvel, mungkin kondisi rumah tangga mereka yang berada di ujung tanduk masih bisa diselamatkan.
Seperti malam ini dan malam sebelum-sebelumnya, Marvel dan Karen tidur berpelukan usai melakukan aktivitas panas mereka. Mereka akan berbincang-bincang terlebih dahulu sebelum melanjutkan istirahat mereka menuju alam mimpi.
'' Apa kamu lelah?'' tanya Marvel sembari mengelus surai hitam nan panjang milik Karen.
'' Banget, kamu seperti kesetanan. Apa kamu tidak lelah? Padahal hari ini kamu bekerja dan besok kamu masih harus pergi bekerja lagi,'' balas Karen sembari merapatkan tubuhnya untuk memeluk Marvel.
Marvel terkekeh mendengar gerutuan Karen. Ia tersenyum bangga, banyak para temannya yang menjuluki ia sebagai maniak perempuan terutama dalam hal memuaskan dan dipuaskan.
'' Marvel ini sudah melebihi batas waktu perjanjian kita, apa kamu tidak berniat untuk menceraikan aku?'' tanya Karen.
'' Sudah aku bilang kemarin-kemarin untuk tidak membahas masalah ini. Aku belum mengajukan berkas perceraian jadi kamu masih tetap istriku,'' ucap Marvel berbohong. Padahal kemarin berkas yang ia ajukan sudah keluar kemudian ia sembunyikan di tempat aman yang jelas tidak boleh diketahui oleh Karen.
'' Mengapa kamu terus bertanya? Apa sekarang kamu berniat meninggalkan aku?'' selidik Marvel.
'' Kalau itu terjadi bagaimana?''
'' Tidak akan aku biarkan. Calendula masih kecil, apa kamu tega membiarkan ia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah? Bukankah tujuan kamu mau menikah dengan ku hanya demi Calendula? Lalu bagaimana nanti dengan om kamu yang sudah sangat terlihat bahagia melihat kebersamaan keluarga kita?'' jawab Marvel.
'' Aku tidak tahu bagaimana nanti kecewanya Om Damino kalau melihat kita bercerai? Terlebih dia yang mempersatukan kita di dalam pernikahan ini,'' lanjut Marvel dengan tersenyum licik.
'' Jadi kita harus melakukan sandiwara ini sampai kapan? Apa aku harus menunggu sampai kamu bosan lalu mencampakkan aku?''
Marvel tersentak mendengar ucapan Karen. Ia bahkan tidak berpikiran hingga sejauh itu. Marvel kembali merapatkan pelukannya ketika Karen mulai menjauhkan tubuhnya.
'' Jangan berbicara seperti itu lagi. Sekarang ini kamu istri ku, tidak sopan jika harus berkata seperti itu,''
Karen menggumamkan kata maaf. Perempuan itu kembali mengeratkan pelukannya seolah dada bidang milik Marvel adalah tempat ternyaman nya saat ini.
'' Lebih baik sekarang kita tidur. Aku tahu kamu sekarang ketagihan dengan bibir ku, jadi aku akan mencium mu supaya kamu cepat tidur,'' ucap Marvel seraya mencium kening Karen.
Karen mencubit perut Marvel pelan. Bagaimana bisa Marvel beramsusi seperti itu.
...****************...
Rutinitas pekerjaan Marvel semakin hari semakin sibuk. Ada banyak pekerjaan yang harus ia tangani. Seperti saat ini ia sedang berkutat dengan komputernya.
Tak lama ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan Marvel. Ternyata yang datang adalah Diandra sekretaris Marco. Wanita itu berjalan sembari membawa sebuah berkas yang berada di tangannya.
'' Selamat siang Pak Marvel, saya ingin membawakan berkas dari Pak Marco kepada anda,'' ucap Diandra sopan kepada Marvel.
'' Sudah berapa kali aku bilang Diandra. Jangan menggunakan bahasa formal jika hanya ada kita berdua seperti sekarang,'' balas Marvel kini mengalihkan tatapannya dari komputer.
'' Aku hanya menjaga sikap ku. Siapa tahu kamu sudah berubah pikiran tentang aku. Akhir-akhir ini kamu seperti menjaga jarak, sangat berbeda dengan waktu pertama kali kita berkenalan. Kenapa? Apa kamu ketahuan berselingkuh oleh istri atau kekasih mu?'' ucap Diandra.
'' Mengapa kamu berbicara seperti itu?'' tanya Marvel dengan mengernyitkan dahi.
'' Kemarilah,'' ucap Marvel seraya menarik Diandra untuk duduk di pangkuannya.
Diandra menurut tak lama ia sudah duduk di pangkuan laki-laki tampan seperti Marvel. Diandra berucap takut bila ketahuan oleh karyawan lain namun tangan Marvel malah mempererat tubuh Diandra untuk tetap duduk di pangkuannya. Diandra duduk dengan posisi membelakangi Marvel dengan kedua tangan Marvel yang mempererat pelukannya dari belakang.
'' Selama mengenal kamu, aku belum tahu status kamu apa. Kamu masih single atau udah punya seseorang aku belum tahu,'' ucap Diandra.
'' Apa status itu perlu? Aku nyaman sama kamu, apa itu belum cukup?'' jawab Marvel.
Marvel tidak mengijinkan Diandra untuk pergi dari pangkuannya. Laki-laki bahkan mempererat pelukannya untuk tetap memeluk Diandra.
'' Aku perempuan Marvel. Mana mau perempuan digantung kan perasaannya?''
Deg.. seketika pikiran Marvel melayang memikirkan Karen. Beberapa hari ini ia sangat nyaman dengan perempuan itu. Marvel bahkan menunda perceraian mereka karena tidak ingin kehilangan Karen. Tetapi disini Marvel belum memberikan alasan kuat mengapa ia melakukan semua itu.
'' Kita jalani aja hubungan kita kayak biasanya. Kalau kamu marah karena aku jarang menghubungi kamu, bagaimana kalau habis pulang kerja nanti kita jalan?'' tawar Marvel dan Diandra mengangguk.
Selepas mereka mengobrol sebentar dengan posisi yang sangat dekat, Diandra berpamitan untuk melanjutkan kerjanya. Marvel melepaskan Diandra dari pangkuannya. Tetapi sebelum ia benar-benar membiarkan Diandra pergi, Marvel mencium bibir Diandra singkat. Diandra tersenyum manis akan sikap Marvel yang selalu membuatnya terbang.
Setelah Diandra pergi Marvel kemudian melanjutkan kerjanya. Belum ada beberapa menit Marvel mengerjakan pekerjaannya tiba-tiba ponsel miliknya berdering. Tertera nama Karen sebagai pelaku si penelepon. Dengan segera Marvel mengangkat telepon tersebut.
'' Halo,'' sapa Karen di seberang sana.
'' Halo, iya kenapa?'' balas Marvel.
'' Apa kamu sibuk hari ini? Rencananya aku mau nitip kamu buat beliin Calendula bubur bayi, apa kamu bisa?" tanya Karen.
" Karen yang bener aja!! Aku laki-laki mana bisa beli begituan," tolak Marvel.
" Kamu bisa meminta bantuan sama petugas swalayan Marvel," balas Karen.
" Tidak bisa kamu pergi sendiri saja! Sudah ya aku harus bekerja lagi. Oh ya nanti aku pulangnya agak malam," ucap Marvel setelah itu menutup teleponnya.
Laki-laki itu kembali berkutat dengan komputer dan berkas miliknya. Sementara Karen yang berada di apartemen hanya bisa menghela nafas. Alasan mengapa ia meminta bantuan kepada Marvel karena di luar sedang hujan deras. Karen tidak mungkin mengajak Calendula untuk pergi ke luar disaat kondisi cuaca lagi buruk. Menunggu hujan reda takutnya kemalaman dan Calendula yang berakhir tidak makan.
Sudah beberapa hari ini cuaca sedang tidak baik. Baik hujan ringan maupun hujan deras selalu mengguyur kota tersebut. Seperti hari ini jika Karen tidak keluar sekarang, ia tidak akan mendapatkan makanan Calendula jika harus menunggu hujan reda yang tidak tahu pasti sampai kapan.
" Ramalan cuaca bilang kalau semakin sore hujan semakin lebat. Sebaiknya aku pergi sekarang daripada Calendula tidak makan," gumam Karen bersiap-siap untuk keluar.
Karen pergi meninggalkan apartemen dengan Calendula yang ia titipkan kepada tetangga sebelah apartemen. Untung saja wanita paruh baya yang menjadi tetangga Karen sudah cukup akrab dengan Calendula jadi Karen bisa lebih tenang untuk meninggalkan putrinya.
Sembari menerobos hujan yang mulai sedikit reda, Karen berjalan menyusuri jalanan yang terlihat sepi. Kendaraan yang berlalu lalang sangat jarang. Hal ini membuat Karen kesulitan untuk mencari kendaraan umum. Alhasil Karen harus berjalan kaki untuk menjangkau lokasi supermarket yang lumayan jauh.
pola pikir egois itu adalah melaknat dan sangat kasar pada pelakor tapi begitu memuja2 dan sangat lembut pada pelakor
dan pemikiran egois kayak gini mereka bawa dalam novel dan mereka bangga
miris