Ettan Naraya tak pernah menyangka, jika kepulangannya ke kampung halaman untuk menjenguk adik kembarnya, berubah menjadi pernikahan dadakan untuknya.
"Bu, ngga mungkin aku menikahi Fatmala, aku punya kekasih!" ujar Ettan geram.
"Ibu mohon Ra, demi menjaga nama baik keluarga kita Nara, Fatma ... hamil," lirih Mayang.
Bak petir menyambar, Ettan terkejut mendengar penuturan sang ibu. Ia tak menyangka jika adiknya yang terlihat alim dan pemalu itu berani menghamili seorang gadis, yang tak lain adalah keponakan dari orang kepercayaan keluarga mereka.
Ettan Naraya seorang lelaki berpendirian teguh harus terjebak dalam situasi rumit kisah asmara adiknya. Terlebih lagi dia harus mengusut misteri tentang kematian adik kembarnya.
Mampukah Ettan Naraya memegang teguh prinsipnya sebagai lelaki?
Dan mebongkar kasus kematian adiknya?
Ikuti lika liku kisah mereka, jangan lupa tinggalkan Fav, like dan komen ya untuk dukung saya, terima kasih.
Follow juga
Fb:Vi Redwhite
IG :@vi_redwhite
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Iblis
Sherly meletakan gelasnya dan menatap ke arahku serius.
"Tunggu! Ada yang aneh, tadi Abang bilang Mas Ettan ada dikampung, tapi kok tiba-tiba ngajak ke temuan? Kalian sengaja ya?" tuduhnya menunjuk wajahku dan Saka bergantian.
"Iya, sory lah." Saka menjawab sambil mengaduk minumannya.
"Aaaah ... jadi Bang Saka beneran emberkan? Nyesel aku percaya sama Abang!" gerutunya dan kembali memeluk tubuhku.
"Ish Dek malu! Liat apa noh pada ngeliatin!" gerutu Saka.
Terkadang memang seperti inilah aku dan Sherly jika berkencan. Tak memikirkan pandangan orang lain. Namun hanya sebatas ini, tidak lebih.
Saka mengedikkan kepalanya agar aku segera mengatakan tujuanku.
Kembali kuatur napas, teringat sebuah kado yang telah lama kusiapkan untuk menyambut kepulangannya.
Aku memilih memberikannya terlebih dahulu, dari pada memulai pembicaraan kami.
"Sayang ... selamat datang," ucapku sambil membuka kotak perhiasan yang berisi kalung.
Dia menutup mulutnya, dan air mata sudah tergenang di sana, tanda ia sangat bahagia.
Ini hadiah yang tak seberapa jika di bandingkan kekayaan orang tuanya. Sherly pasti mampu membeli yang lebih dari ini.
Namun Sherly selalu menerima dengan rasa syukur apa pun yang aku berikan. Tak pernah sekalipun ia menghina atau menolaknya.
"Makasih Mas," sambil memeluk leherku kembali.
"Aku pakein ya," tawarku.
Dia berbalik memunggungiku dan mengikat rambutnya agar aku mudah memakaikannya.
Sherly lantas berbalik dan seperti dugaanku, kalung itu sangat cocok di lehernya.
Dia menyentuh kalung itu dan binar bahagia semakin terpancar dari matanya.
Kebahagiaan yang sebentar lagi akan berubah menjadi kesedihan. Aku merasa seperti iblis laknat, memberikan kebahagiaan palsu padanya. Kuangkat ia setinggi langit, setelah itu kuhempaskan.
"Kheeemm," sela Saka yang sepertinya sudah sangat tidak sabar.
Aku menggenggam kedua tangannya, kutatap tangan kami yang saling mengait. Aku tak berani menatap matanya
"Maafin Mas Sher," ucapku.
Ku kumpulkan oksigen di dada untuk melanjutkan kata selanjutnya.
Akhirnya aku menengadahkan kepala dan menatap kedua matanya.
Kerutan terlihat jelas di sela kedua alisnya. Itu tanda dia bingung dengan keadaan sekarang.
"Mas ... udah menikah," ku hembuskan napas setelah mengucapkan kalimat itu.
Bukan rasa lega, melainkan karena aku menahan napas sedari tadi.
Sungguh di luar ekspektasi, Sherly malah tertawa sambil memukul lenganku.
Aku dan Saka menatap bingung gadis bergaun putih ini. Dalam benakku berpikir apa ada yang lucu dari ucapanku tadi?
"Mas ngga lucu ih bercandanya!"
"Sher!" ucap Saka.
"Apa?" lantas dia melihat bergantian raut wajah serius kami. Tak ada senyuman di wajah kami, seharusnya ia paham jika ini pasti pembicaraan serius.
Tak lama raut wajahnya berubah sendu dan terlihat jelas guratan kesedihan di sana.
"Mas ...," dia menelan salivanya. "Ini ngga mungkin kan Mas?" air mata sudah menetes, dia menggelengkan kepala. berusaha menolak kebenaran yang telah aku katakan.
"Mas!" pekiknya.
"Ettan harus nikahin pacar mendiang adiknya," sela Saka yang sudah mulai geram melihat kebisuanku.
"Pa-car adik?" ucap Sherly tak mengerti. Beruntungnya penjelasan Saka membuat air matanya berhenti.
Saka memang lebih mengerti Sherly di bandingkan denganku.
"Ngomong lu, dah gue bantu kan?!" cibirnya. Lelaki yang menjabat sebagai atasanku itu lantas menyandarkan punggungnya di kursi.
"Namanya Fatmala. Dia hamil anak Nathan—" ucapku terjeda saat Sherly membuka mulutnya hendak menyela. Namun aku letakan telapak tanganku, meminta dia untuk mendengarkan terlebih dahulu penjelasanku.
"Aku terpaksa menikahinya karena permintaan Ibu. Ibu ngga ingin nama baik mendiang Nathan dan cucunya kelak menjadi bahan gunjingan," lanjutku.
Kuceritakan semua kejadian hingga akhirnya aku harus menikahi Fatmala. Sherly hanya diam mendengarkan sambil menunduk.
Sherly menghela napas, dia diam dan mengalihkan pandangannya dariku.
"Sher?"
"Aku tau Mas ngga bohong. Mas takut aku ngga percayakan?"
Ucapannya membuatku terperangah. Bukan itu maksudku. Tapi ya aku juga butuh jawaban seperti itu.
Sherly diam, berkali-kali aku lihat dia membuang kasar napasnya.
"Boleh aku ketemu dia?" tanyanya yang sontak membuatku terperangah.
Pancaran matanya terlihat sekali jika dia sangat kecewa. Tak ada senyuman, entah untuk apa dia ingin bertemu Fatmala. Apa mungkin dia ingin melabraknya? Aku tak tahu.
"Dek?" tanya Saka mendahuluiku.
Dia menoleh kepada kakaknya. "Iya Bang?" lantas kembali menatapku.
"Dia tinggal sama Mas Ettan, atau tinggal di kampung?" tanyanya cukup tenang. Meski tak dapat di bohongi, tangannya terkepal kencang, mungkin dia menahan amarah.
"Saat ini dia ada di sini, soalnya dia mengalami mual muntah yang berlebih. Jika di kampung, ibu takut orang lain curiga," jelasku.
"Mas ngga keberatan kan aku ketemu dia?"
"Dek! Dia lagi sakit, ketemunya nanti aja bisa kan?" bujuk Saka.
Aku sedikit bernapas lega, meski tak menyukai Fatmala, aku tak ingin gadisku mengamuk padanya. Sebab bisa di katakan jika bukan sepenuhnya salah dia, aku juga bingung salah siapa.
Dia menunduk, air mata yang coba di tahannya luruh juga. Aku hendak memeluk tapi di tolak olehnya.
Sherly marah, itu isyarat tubuhnya untuk menolakku. "Ayo pulang Bang," ajaknya kepada Saka dan lantas bangkit berdiri.
Dia menyeka air matanya dan menatap mataku. "Aku ngga tau perasaanku saat ini Mas, jujur aku kecewa, marah dan ... merasa di khianati. Biarkan aku berpikir dulu, maaf," ucapnya lantas berlalu meninggalkanku.
Saka menepuk bahuku dan ikut berlalu menyusul adiknya. menyisakan aku duduk seorang diri.
.
.
.
Tbc.
itu lh q suka nya klw bc novel yg udh end ...
bisa bc terooosss smpe siapp