Kehidupan sebelumnya mereka sudah membuatku dan orang-orang yang aku sayangi menderita dan mendapatkan akhir yang mengerikan, jangan harap kalian bisa bebas. Dendam ini akan aku balaskan ribuan kali lipat hingga titik darah penghabisan. Ingin kabur dariku? Mimpi saja sana! Akankah dendam ini terbalaskan? Ataukah dendam yang menghancurkanku?
Genre : Romansa Istana, Fantasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Slow Plot, Misteri, Action, Magic, Sword, Romantis, Pemeran Utama Tangguh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penunggu Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan Pesta
"Ternyata kau datang ya, Charlotte. Lihatlah wajah kesalmu itu,"
Aku tersenyum penuh kemenangan. "Ini belum apa-apa, akan kubalas semuanya ribuan kali lipat lebih menyakitkan dari yang kau berikan."
Tamu undangan mulai berdatangan menghampiri kami berdua.
"Selamat ulang tahun putri,"
"Keberkahan akan selalu menyertai putri,"
"Panjang umur untuk putri,"
"Semoga hubungan putri dan Pangeran akan langgeng selamanya,"
"Hahaha, lucu sekali. Kau ingin aku bersamanya selamanya? Mimpi saja,"
"Terima kasih semuanya karena sudah datang ke pesta saya yang sederhana ini," kataku sambil memberi hormat dengan elegan dan anggun.
Untuk beberapa detik mereka semua tampak terkejut, namun mereka segera mengatur ekspresi.
Tidak ada hentinya mereka mencoba untuk dekat denganku dan menjilat demi keuntungan semata, sekarang aku mengerti di pergaulan kelas atas tidak ada teman yang benar-benar akan menjadi teman. Semuanya hanyalah tipuan untuk melampaui orang lain dan memegang kekuasaan tertinggi,meskipun ada beberapa orang yang tidak peduli dengan kekuasaan ataupun harta.
Tetapi mau bagaimanapun jika aku berhasil menjadikan mereka mendukungku itu pasti akan sangat menguntungkan, secara aku adalah calon putri Mahkota yang akan menjadi pendamping si br*****k ini. Meskipun aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, dan juga keluargaku pemimpin faksi kaisar dan keluarga terhormat yang setara dengan keluarga kaisar. Hitung-hitung menambah pengaruh saja.
"Salam saya kepada Yang Mulia Putra Mahkota Artemis Ivander The Theoden dan Yang Mulia Putri Lareinya Fransisco," suara imut yang menggemaskan membuat semua perhatian tertuju ke arahnya.
"Ternyata kau mendekat juga, Charlotte."
"Siapa dia?"
"Apa dia bangsawan baru?"
"Kau lupa?"
"Dia adalah putri dari Duke Lavandula. Pemimpin faksi bangsawan, yang sekarang menjadi menteri keuangan."
Diskusi para bangsawan yang menilai penampilan Charlotte semakin lama semakin terdengar kencang.
"Tidak perlu sungkan, bangunlah!" ujarku sembari mendekat ke Charlotte dan membantunya bangun.
"Terima kasih putri,"
"Oh ya perkenalkan aku Reinya," kataku dengan senyuman cerah dan wajah yang sedikit memerah malu-malu.
"Mari kita ciptakan citra sebagai putri baik hati, dan tidak sombong,"
"Kau Charlotte 'kan?" tanyaku dengan ragu-ragu.
"Putri mengenalku?" kata dia tanya balik.
"Tentu saja, aku sudah mendengar banyak sekali rumor. Banyak yang mengatakan putri tunggal Duke Lavandula sangat sangatlah cantik bagai malaikat dan hatinya pun sama," celoteh ku dengan bersemangat.
Celotehan ku berhenti sejenak.
"Putri kami permisi dulu, karena sepertinya putri membutuhkan waktu dengan teman baru putri." ujar salah satu bangsawan.
Wajahku memerah. "Teman?" gumamku.
"Tentu saja, bukankah Putri dan Nona Charlotte berteman?" Salah seorang bangsawan nampak sedikit curiga.
"Kena kau,"
Aku memainkan jari telunjukku dan menundukkan kepala dengan wajah yang bertambah merah.
"Tentu saja aku sangat ingin berteman dengan Nona Charlotte, aku bahkan tidak percaya jika Nona Charlotte hendak datang ke pesta ku ini." gumamku.
"Tapi," Aku melirik sedikit ke arah Charlotte yang sudah diam mematung.
"Sebuah kehormatan bagi kami jika Nona ingin menjadi teman putri-ku satu-satunya, aku yakin Charlotte juga merasa seperti itu." kata Duke Lavandula yang tiba-tiba datang dan langsung menyambung tanpa permisi.
Charlotte menganggukkan kepalanya dengan cepat dan beralih meraih tanganku.
"Aku sangat sangat mau berteman dengan putri," ujar Charlotte sambil menggenggam tanganku penuh harap.
Aku mendongakkan kepala. Mimik wajahnya sangat meyakinkan, aku hampir saja tertipu. Tapi, meski hanya beberapa saat terlihat jelas di wajahnya ada senyum sinis yang sering ia pakai dahulu.
"Akting naturalmu semakin bagus ya. Aku hampir saja tertipu,"
Tanpa menunggu aba-aba aku langsung berhamburan memeluk Charlotte.
"Terima kasih Charlotte sudah mau menjadi temanku," kataku di sela-sela pelukan kami.
"Seperti yang diduga dari keturunan Count Willow,"
"Putri memiliki sifat yang sama seperti ibunya, Grand Duchess Sylla Fransisco yang tidak pernah memilih-milih teman."
Ada sebuah alasan kenapa mereka berpikir seperti itu, hampir tidak ada seorang bangsawan muda atau yang lainnya yang berinisiatif memeluk seseorang, terlebih orang itu Charlotte Lavandula.
Walaupun Charlotte sekarang seorang bangsawan dengan status setara dengan keluargaku, tapi di Kekaisaran Pureblood Theoden ini. Darah lebih kental daripada air, kalian mengerti bukan apa maksudnya? Maksudnya adalah meskipun dia bangsawan dengan status terhormat sekarang, itu tidak menutup fakta bahwa ia pernah menjadi kalangan bawah.
Bahkan jika itu keluarga kerajaan jika tidak memiliki darah yang sama maka dia bukanlah keluarga kerajaan. Pilihannya hanya dua, mati di tiang gantungan atau dibuang untuk selamanya dan mati mengenaskan sendirian.
Setelah kejadian itu aku berinisiatif mencari cara untuk keluar dari sini, karena keluarga Duke Lavandula harus pergi karena katanya ada urusan mendadak.
Tapi, aku belum bertemu dengan keluargaku. Jadinya aku pergi mencari mereka.
Namun...
"Sepertinya mereka sedang sibuk sekarang,"
Dengan berat hati dan langkah yang gontai aku pergi menjauh, karena aku juga mereka seperti itu. Meskipun bukan semuanya salahku.
Pikiranku yang entah kemana hampir saja membuatku menabrak seorang pelayan yang sedang membawa wine.
"Reinya awas!" pekik seseorang namun karena ributnya ruangan ini membuatku tidak mendengarnya.
...Prang...
Suara gelas dan baki yang terjatuh menarik perhatian seluruh tamu undangan dan juga menghentikan lagu.
Aku masih diam membisu, kejadian macam apakah ini?
"Ma, maafkan saya Putri Pa Pangeran." kata pelayan itu sembari bersujud beberapa kali.
"Jadi tadi aku hampir saja terkena wine itu?"
Saking bingungnya aku bahkan tidak sadar siapa yang telah menyelamatkanku dan kami yang menjadi pusat perhatian.
"Reinya!"
Suara Ibu berhasil menyadarkanku.
"Kau baik-baik saja sayang? Apakah ada yang terluka? Katakan pada Ibu!"
Lagi-lagi dialog seperti ini, bisakah Ibu tidak memainkan dialog dengan pertanyaan beruntun ini lagi.
"Terima kasih Pangeran telah menyelamatkan putri hamba," kata Ayah yang baru saja datang bersama yang lainnya.
"Tidak apa, ini kewajibanku." jawab Artemis.
"Tunggu! Tunggu! Yang menyelamatkanku adalah si breng*ek ini?"
"Permisi Grand Duchess,"
"Apalagi yang akan dilakukannya?"
"Wine ini terlihat sangat janggal, tapi aku tidak bisa menemukan apa yang salah." batin Artemis.
"Pengawal! Bawa dia kepenjara, bersihkan tumpahan wine ini dan ambil sedikit sampel nya!" perintah Artemis.
"Tunggu!"
"Bahaya putri, disini ada pecahan beling." cegah Artemis.
"Beling?"
Aku beralih ke meja dessert dan mengambil sebuah penjepit.
"Sayang, sebaiknya biar para pelayan yang membersihkannya."
Aku tidak menghiraukan bujukan Ibu dan masih tetap mengambil sesuatu.
"Apa kau ingin meracuni seseorang?" tanyaku di sela-sela menyelidiki.
"Ha, hamba tidak Yang Mulia." jawabnya cepat. Tubuhnya gemetar hebat dan ia seperti sedang sangat ketakutan.
"Melihat reaksi mu sepertinya asumsiku benar," Aku tersenyum sembari kembali berdiri.
supaya ga aneh pas dibaca
Dia kan ga lagi ngebatin