Almahyra seorang anak korban tsunami yang diadopsi oleh seorang dokter lajang bernama Kenzo Takeshi Sato.
Mereka sama-sama memendam perasaan.
Pernikahan Kenzo dengan wanita lain yang bernama Mona tidak bahagia.
Setelah berpura-pura lumpuh dia baru sadar bahwa Almahyra lah yang pantas menjadi istrinya.
Kenzo dan Almahyra diam - diam menikah.
Apakah Mona rela di madu?
Apa yang akan terjadi setelah dia tahu di madu?
Selamat membaca...
Aku tunggu support Anda semua agar aku lebih semangat untuk berkarya.
Love u All.. 😘😘😘
Terimakasih.. 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ria aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYESALAN VEA
"Pa. Sepertinya ponsel kamu bunyi, deh," ucap Mila menghentikan kegiatannya menyulam.
"Masa sih, Ma. Tolong ambilin dong." Takeshi masih fokus dengan laptopnya.
"Baik, Pa." Mila meletakkan alat sulamnya lalu beranjak untuk mengambil ponsel Takeshi di kamar.
Ponsel Takeshi sudah berhenti berdering saat Mila sampai di kamar. Ponsel itu tetap dia ambil dan dia bawa ke ruang keluarga. Siapa tahu itu telepon penting.
"Udah mati, Pa," ucap Mila sesampainya di ruang keluarga.
"Ya, udah. Taruh saja di meja. Kalau penting pasti telepon lagi." Takeshi kembali fokus bekerja. Sedikit lagi dia selesai. Rasanya penasaran juga dengan siapa orang yang meneleponnya barusan.
Mila melanjutkan menyulam sapu tangan yang tadi dia kerjakan. Sesekali dia melirik ke arah suaminya yang sedang serius menatap laptop. Dia sangat fokus dalam bekerja sampai-sampai kopi yang dia buat pun belum di sentuhnya.
"Huft, selesai juga akhirnya!" Takeshi merentangkan tangannya. Menggeliat dan merenggang otot-ototnya.
"Papa mau dibikinin kopi yang baru?" tanya Mila menawarkan diri.
"Teh herbal saja Ma. Perutku agak kurang nyaman hari ini."
"Pantes kopinya nggak di minum." Mila membawa kopi dingin itu ke belakang.
Takeshi mengambil ponselnya dan melihat panggilan tidak terjawab. Nomor baru. Dari kepala nomer kelihatan bukan nomor domestik.
Panggilannya ternyata bukan cuma sekali. Kelihatannya sangat penting. Takeshi menekan nomor itu untuk melakukan panggilan balasan.
"Hallo!" suara pria terdengar di seberang.
"Hallo! Dengan siapa saya bicara?" tanya Takeshi sopan.
"Apakah benar ini nomor Takeshi?" tanya pria di seberang.
"Benar. Anda siapa?" Takeshi mencoba mengingat-ingat siapa pemilik suara itu. Sepertinya tidak asing di telinganya. Tapi di telepon banyak juga suara orang yang mirip.
"Takeshi! Ini aku Richard. Apa kamu masih ingat padaku?" tanya Richard.
"Ya, ampun. Ternyata kamu. Mana mungkin aku lupa. Aku dengar kamu sedang di Indonesia."
"Benar. Tapi sekarang aku sedang di Malaysia untuk perjalanan bisnis. Mungkin nanti malam sampai di Indo."
"Baiklah. Jika kamu senggang mari bertemu."
"Tentu saja. Em, bolehkah aku minta tolong padamu," ucap Richard sedikit merasa tidak enak.
"Katakan saja. Kalau aku bisa pasti aku tolong," jawab Takeshi mantap.
"Vea sedang berada di rumah sakitmu. Saat ini dia masih di rawat di ruang ICU. Bisakah kamu ke sana sekarang untuk menemaninya. Aku sangat khawatir. Tolong temani sampai aku datang saja," ucap Richard memohon.
"Apa? Vea sakit? Baiklah-baiklah. Aku akan segera ke sana." Takeshi terlihat panik. Separah apa sakitnya Vea sampai dia berada di ruang ICU.
Takeshi berjalan ke dapur untuk menyusul Mila yang sedang merebus air untuk membuat teh herbal.
"Ma, aku minum jus aja di kulkas. Kita harus segera ke rumah sakit sekarang." Takeshi membuka kulkas dan mengambil sebotol jus dingin.
"Ke rumah sakit? Sekarang?" Mila mematikan kompor dan berjalan menghampiri Takeshi.
"Iya. Tadi tuh ternyata Richard yang telepon. Vea sedang di rawat di ICU rumah sakit kita. Dan Richard masih di Malaysia."
Mendengar kata ICU, Mila terlihat panik. Dia pikir Vea mengalami kecelakaan dan sedang koma.
"Ayo, Pa. Kita segera ke sana. Kasian Vea sendirian." Mila menarik tangan Takeshi ke kamar untuk besiap.
Mereka berangkat setelah berganti baju dan membawa barang-barang yang penting untuk di bawa.
...
Kondisi Vea mulai membaik. Penanganan di rumah sakit Kenzo memang yang terbaik di kota itu. Pelayanannya juga sangat memuaskan. Membuat rumah sakit ini berkembang pesat.
Meskipun rumah sakit swasta, tetapi hampir semua kalangan bisa berobat ke sana. Kenzo mengatur managemen sedemikian rupa agar bisa membantu orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Jiwa sosial dan dedikasi Kenzo yang tinggi membuatnya sangat disegani dan dihormati oleh rekan sejawatnya.
Tubuh Vea mulai terasa lebih baik. Dia mencoba untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang rumah sakit. Vea melepas sendiri selang oksigen di hidungnya.
Mila melihat sekilas di detik-detik terakhir apa yang dilakukan Vea.
"Vea!" Mila berjalan cepat menghampiri Vea.
Vea mengingat-ingat siapa wanita yang memanggil masuk ke ruangannya itu. Dia sedikit pangling karena Mila memakai baju steril dan penutup kepala.
"Vea! Aku tante Mila, mamanya Ken. Kamu ingat?" tanya Mila setelah dekat di hadapan Vea.
Tak lama Takeshi juga menyusul masuk.
"Tante! Hiks... aku kangen sama tante!" Vea melompat memeluk Mila.
"Tante juga kangen sama kamu, Sayang. Hei, jangan menangis! Kamu sakit apa Sayang?" Mila merasa lega melihat keadaan Vea tidak seperti yang dia bayangkan.
Mila mengusap rambut pirang Vea dengan lembut. Vea masih sesenggukan menangis dalam pelukan Mila. Airmata Mila pun ikut menetes.
"Om!" Vea melepas pelukannya dan berganti memeluk Takeshi.
"Bagaimana keadaanmu Sayang?" tanya Takeshi setelah melepas pelukannya.
"Vea... Vea... sudah merasa baikan, Om. Rumah sakit Om memang yang terbaik. Kalau papa setuju, Vea ingin berobat di sini saja," celoteh Vea sambil menghapus sisa-sisa air matanya.
Vea memang tidak ingin di pandang lemah oleh orang lain. Dia akan tetap bersikap layaknya orang yang sehat meskipun dia sedang kesakitan. Begitupun hari ini. Vea tidak menunjukkan rasa pusing yang dia rasakan di hadapan Takeshi dan Mila.
"Nanti malam papa dan mamamu sudah pulang. Kamu bisa membicarakannya nanti. Aku akan meminta Ken untuk memberi pelayanan terbaik selama di rawat di sini." Takeshi tersenyum lembut pada Vea.
"Jadi Ken juga kerja di rumah sakit ini, Om?" tanya Vea antusias.
"Tentu saja. Om dan tante kan sekarang menetap di Jepang. Jadi rumah sakit ini Ken yang pegang. Dia juga punya klinik di beberapa daerah," imbuh Mila.
"Apa sekarang Ken ada di sini Tante?" tanya Vea berharap bisa bertemu Ken lagi.
"Ken sudah pulang. Dia kebagian jadwal pagi untuk hari ini," jelas Takeshi.
"Jadwal? Em, Ken pemilik rumah sakit ini. Kog pakai jadwal sih? Kenapa nggak di sini aja terus?" tanya Vea sedikit kecewa.
"Hmm. Dokter kan juga manusia Sayang. Dia juga butuh istirahat dan berkumpul bersama orang yang dia sayangi," ucap Mila lembut.
"Jadi Ken sekarang seorang dokter? Wah, keren!" Vea tersenyum senang. Tapi tiba-tiba senyumnya memudar mengingat Ken bukan siapa-siapanya lagi. Dia juga terlihat tidak menyukainya. Mungkin dia masih marah mengingat Vea yang memutuskan dan meninggalkannya.
"Hehehe... Dia pasti senang melihat kamu pulang." Mila tertawa.
Vea mencoba tersenyum meskipun hatinya merasakan kegetiran. Andai dia tidak sakit. Andai dia tidak pergi meninggalkan Ken. Mungkin saat ini dia sudah bahagia bersama Ken.
Terserah Ken mau seorang dokter. Seorang playboy. Atau apalah. Vea tidak peduli.
Sekarang yang tersisa hanyalah penyesalan. Ingin rasanya dia menjadi wanita yang sedikit egois. Wanita yang bersikap berani merebut kembali apa yang pernah dia miliki.
"Kog, melamun? Kamu ngantuk ya?" tanya Mila lembut.
"Eh, iya tante. Aku bosan saja di sini. Aku ingin segera dipindahkan ke ruang perawatan." Vea mencari alasan untuk menutupi kesedihannya.
"Coba Om bicara dulu sama dokter yang menangani kamu. Ma, aku tinggal dulu, ya?" pamit Takeshi.
Mila mengangguk.
Vea semakin menyesal melihat kebaikan hati Mila dan Takeshi. Kenapa dia dulu begitu bodoh sekali. Dia terburu-buru mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan Ken. Jika Takeshi dan Mila menjadi mertuanya, tentu saja mereka akan mencarikan pengobatan terbaik untuknya.
****
Bersambung...
semoga saja anak q sikapnya gk lemah spt dr. Kenzo karena anak q namanya juga kenzo