Ali bin Abbas adalah seorang Pangeran dari sebuah Kerajaan di Benua Arab. Dengan bimbingan Sang Guru dia bertekad untuk mempersatukan semua Kerajaan yang ada di daratan Benua Gurun tersebut.
Seiring berjalannya waktu, terlepas dari usianya yang masih sangat muda, dia sudah menapaki puncak tertinggi kependekaran.
Akan tetapi dalam waktu yang singkat itu pula ternyata sudah banyak bermunculan aliran-aliran Sesat yang didalangi para pendekar tingkat tinggi.
Bersama Sembilan Muridnya mencoba mengumpulkan Lima Kitab tanpa tanding yang di percaya mampu membuat pemiliknya akan menjadi Penguasa nomer Satu di Dunia.
Akankah perjalanannya mampu mengubah perdamaian seperti yang diinginkannya? Ikuti terus ceritanya hanya di novel Pendekar Bintang Sembilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el kurdi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Dari Kematian
Ali bingung harus memulai pembicaraan dari mana, tapi dia harus melakukan nya "assalamualaikum..." ucap Ali pada makhluk di hadapan nya.
makhluk itu terkejut melihat sosok Ali dan orang di samping nya. "kenapa kau ada disini? "dia berpikir sejenak, wajahnya langsung pucat pasi, "apa aku juga sudah mati?... ah, ini tidak mungkin." kata makhluk itu sulit untuk dirinya memahami keadaan seperti ini.
Ali juga ikutan bingung, dia menoleh pada Malaikat di sampingnya, "kalian belum meninggal, sekarang kalian berada di alam lain " ucap Malaikat tersebut.
"bagaimana bisa terjadi, aku melihatnya sendiri dia meregang nyawa, bahkan manusia di dekat nya sudah melakukan kewajiban merawat jenazah nya. " kata jin tersebut.
"atas izin Allah dia akan kembali kedunia dan atas izin Allah juga dia mulai sekarang mendapatkan hak sepenuhnya atas dirimu " Malaikat itu menjelaskan.
Ali dan qorin nya sama sama terkejut, mereka tidak pernah menyangka akan di takdirkan seperti ini, "baiklah, siapa namamu? "tanya Ali
sebenarnya qorin itu masih enggan berbicara, tapi entah kenapa dia tetap menjawab pertanyaan itu. "namaku sama seperti namamu. " jawab qorin tersebut.
"mulai sekarang namamu adalah Abdullah" kata Ali
"baiklah, tapi aku adalah qorin, dan tugas ku untuk menggoyahkan iman mu" kata jin itu.
"bagaimana bisa tubuhmu kurus kering seperti ini." tanya Ali sambil memandang tubuh makhluk di depannya.
"aku tidak bisa ikut makan bersamamu, karena kau selalu membaca basmalah setiap mengawali sesuatu, bahkan tanpa sepengetahuanmu, aku selalu gagal menggoda dan membujuk mu kedalaman kemaksiatan" ucap jin itu sambil tertunduk lesu.
"bersyahadat lah, dan kembali kepada jalan Allah." kata Ali mengajak jin itu memeluk agama islam.
"tugasku adalah mengajakmu untuk melakukan maksiat, bukan mengikutimu dalam kebaikan." jawab jin tersebut.
"Allah berfirman, ....dan tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk menyembah kepadaKu... jika kau merasa dari golongan jin, maka kau harus menghamba hanya kepada Allah " kata Ali menjelaskan.
"tapi aku takut pada atasan ku, aku pasti tidak akan selamat jika melawannya." kata jin itu ketakutan.
"bertawakkal kepada Allah, dan serahkan segala urusan mu hanya kepadaNya, maka hanya disisiNya sebaik baik tempat kembali." ucap Ali meyakinkan.
"apa kau mau melindungi aku,dan menuntunku, menapaki jalan baru yang akan aku tempuh? " tanya jin itu penuh harap.
"aku akan melindungi dirimu semampu yang aku bisa." jawab Ali mantap.
"baiklah, kalian berdua yang akan menjadi saksi atas keislaman ku, aku bersaksi bahwa tidak ada yang patut disembah kecuali Allah yang maha Kuasa atas segala MakhlukNya, dan Muhammad adalah Nabi dan utusanNya dan tiada Nabi setelahnya " ucap qorin yang telah diganti namanya menjadi Abdullah itu.
Ali menitikkan air mata sambil mengumandangkan takbir berulang kali bersama Malaikat " berpegang teguhlah pada tali Allah, maka Allah akan mencukupi segala kebutuhan mu" pesan Ali singkat.
"baiklah ini saatnya anda kembali, dan anda akan mendapati diri anda sesuatu yang baru" kata Malaikat pada Ali.
"apa saya bisa menemuinya di dunia nanti?" tanya Ali kepada Malaikat sambil sambil memberikan isyarat pada jin itu.
"anda akan tetap bisa melihat memanggil memerintah nya selama di dunia" jawab Malaikat sambil tersenyum.
setelah itu Ali merasa tubuh nya begitu ringan, pandangan nya perlahan meredup dan gelap, beberapa saat kemudian telinga nya mendengar suara suara lantunan ayat ayat suci Al qur'an dan kalimat toyyibah, beberapa suara isak tangis, tubuhnya terasa sesak seperti sedang diikat.
setelah beberapa saat dia membuka mata dan melihat ke sekeliling nya, betapa terkejut nya dia, sekarang dia sedang terbaring dan hanya memakai kain pembungkus mayat, sedang di kerumuni banyak orang dengan raut wajah berduka.
Syaikh Abu Hamzah yang pertama kali melihat Ali membuka mata, dia sangat terkejut dan tanpa sadar dia mengungkapkan istighfar berulang ulang sambil menjerit, lalu beberapa orang yang lain juga melihat nya, ada yang lari, karena takut, dan ada yang mundur.
tak selang beberapa lama, tempat yang awalnya penuh sesak dengan kerumunan orang, sekarang sudah kosong, hanya menyisakan beberapa orang saja, salah satu nya adalah Syaikh Abu Hamzah.
Ali mencoba bangkit dan duduk, dan Syaikh Abu Hamzah sudah menguasai dirinya lagi, "guru, apa yang sedang terjadi pada saya? " tanya Ali kebingungan.
Syaikh Abu Hamzah mendekati nya "apa kamu hidup kembali?" tanya Sang guru memastikan kebenaran nya.
Ali memejamkan mata kepala nya terasa sakit, terlalu banyak kejadian kejadian aneh hari ini, "berapa lama saya mati guru? " tanya Ali mencoba mencerna kejadian sesungguhnya.
lalu Syaikh Abu Hamzah menceritakan awal mula saat Ali mencoba mengobati Khanza, lalu saat Ali tubuh nya langsung menggigil, dan kejang dan setelah itu dia sudah tidak bernafas lagi, semua orang mengira diri nya sudah mati, dokter juga sudah memeriksa nya, dia juga sudah menyuruh seorang murid senior untuk mengabarkan kematian Ali pada istana, mungkin besok lusa, rombongan kerajaan akan sampai.
Ali tidak menyalahkan pihak perguruan, yang telah bergerak cepat, dan mengabarkan kematian nya pada kerajaan, mungkin itu yang terbaik menurut sang guru.
"guru saya mohon izin untuk shalat dahulu, kalau tidak salah waktunya sudah hampir habis" Ali baru ingat dia sudah kehilangan shalat Dzuhur dan akan segera berakhir waktu Ashar, dia tidak ingin kehilangan lagi, dia akan segera menunaikan nya.
setelah makan malam Ali berencana akan menemui Khanza untuk melihat keadaan nya, tapi sebelum dia keluar menemui nya, Syaikh Amr dan cucunya sudah menunggu nya di ruang tamu bersama Aisyah Shafia dan para murid yang lain.
"assalamualaikum pangeran" ucap panglima, sesaat setelah Ali masuk ke ruang tamu.
"wa'alaikum salam panglima, terima kasih sudah datang menjenguk." jawab Ali sambil memeluk kakek tua tersebut.
"bagaimana keadaan anda sekarang? " tanya beliau sambil duduk.
"alhamdulillah jauh lebih baik, seperti yang anda lihat, cucu anda bagaimana keadaan nya sekarang?" jawab Ali sambil balik bertanya. pandangan nya beralih pada gadis bermanik mata biru di samping kakek itu.
"saya berhutang nyawa kepala pangeran, berkat pengorbanan pangeran, cucu saya sekarang jauh lebih baik dari pada sebelum nya." kata kakek itu dengan raut wajah berbinar binar.
"panglima sudah salah paham, saya memang berniat membantu cucu anda, tapi saya tidak pernah menduga akibatnya akan seperti tadi pagi, dan tak ada hutang diantara kita." kata Ali meluruskan kejadian itu.
"bagaimanapun kami tetap ingin membalas budi kepada pangeran" kata kakek itu setengah memaksa.
"jika tidak keberatan saya ingin mengangkat cucu anda sebagai murid saya, bagaimana panglima?"tanya Ali sambil menoleh kepada murid murid nya.
"saya merasa sangat terhormat pangeran," jawab Syaikh Amr "bagaimana cucuku? " tanya kakek itu sambil memegang pundak cucunya.
"terima kasih pangeran, saya siap berbakti semampu saya." jawab gadis itu sambil menundukkan kepala.
~1037kata.