NovelToon NovelToon
Bocah Kambil

Bocah Kambil

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Komedi
Popularitas:523.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Doris Gaverna

Bimo mengayuh sepedanya di tengah sinar jahat mentari. Entah melamunkan apa dia saat itu, ia tidak sadar sudah sampai di perempatan lampu merah dan tidak sempat mengerem sepedanya. Nahas, dia sangat terlambat. Ia menghantam seorang gadis yang berhenti di depannya.

Dimensi dalam diri mereka berhenti. Namun, lampu dengan cepat berubah hijau. Sejak kejadian itu, Bimo dihantui rasa penasaran karena perempuan itu sangat familiar baginya.

Hari ini, Adeth berangkat terlalu pagi. Kelas dan sekolahnya masih sepi. Tidak lama kemudian, muncul seorang lelaki dari balik pintu kelasnya untuk meminta bantuan. Adeth terkejut melihat lelaki itu.

Hai, terima kasih sudah mampir! Jangan lupa tekan tombol suka dan vote, ya, agar saya semangat untuk berkarya setiap harinya. Bagikan juga ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka, karena dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!

Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doris Gaverna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

026. Episode 26

Nita berdecak jengkel. Berkali-kali ponsel ia tempelkan pada telinga. Berkali-kali juga suara seorang perempuan terdengar dari sana.

“Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Silakan—”

Nita mengakhiri panggilan dengan kesal. Setengah jam sudah dirinya menanti di depan Tugu Monas sambil berpanas ria. Namun, teman-temannya belum juga menunjukkan batang hidungnya. Untuk yang terakhir kali, ia kembali memeriksa ponsel dan berharap penuh.

Nada sambung terdengar dari seberang. Nita merapatkan giginya, mendekatkan ponsel di dada, dan mengentakkan kakinya di trotoar seperti seekor banteng liar.

Kumohon, ayolah!

“Halo?” sapa seseorang dari seberang.

Akhirnya!

“Hoi, di mana kau sekarang? Jadi dendeng, nih, dari tadi nungguin kamu. Lama banget,” cerocos Nita tidak sabar.

“Uwow, kalem. Jam berapa sekarang?” tanya Latif dari ujung sana.

Nita mengangkat tangan kirinya dan melihat jam. Jarum panjang membentuk sudut siku-siku. Nita mengerutkan alisnya.

“Eh? Lho, kok ….”

“Nah, siapa yang salah?” tanya Latif santai.

“Aduh, maaf! Salah lihat jam.”

Latif tertawa dari seberang. “****. Makanya dilihat yang teliti dulu, jangan asal nyeramahin orang, paham kagak, Neng?”

Nita menyeringai. Tidak lama kemudian, Latif datang bersama dengan abang ojek online. Setelah memberikan beberapa lembar uang pada si abang, tukang ojek itu pun pergi.

Gadis bertubuh semampai itu berjalan mendekati sohibnya. Celana jins, kaos putih yang dimasukkan, cardigan hitam yang pas, dan sepatu kets putih menjadi pilihannya. Gadis itu terlihat segar dan ceria.

“Aloha!” serunya sambil menepuk pundak Nita. “Sudah, kan, marahnya?”

“Ampun, deh. Lain kali nggak bakal kejadian lagi.”

Dua gadis itu tertawa. Tidak lama kemudian, muncul Marcel dari dalam bus kota, dengan baju motif zebra dan celana jins putih. Ia lalu melambai dan berjalan ke arah dua orang temannya sebelum menhampiri mereka.

“Hei, nunggu lama, ya?” tanyanya basa-basi.

Latif tertawa.

“Nggak, tuh. Paling dia doang yang nunggu dari tadi. Siapa suruh setengah sembilan ke sini? Gosong, tuh, jadinya.”

Nita meninju lengan Latif dengan gemas disusul dengan tawa dari kedua orang temannya.

“Ih, Latif jahat! Yuk, ah. Keburu panas.”

Ketiga sahabat itu meninggalkan area trotoar dan segera menuju Monas sebelum tugu nasional itu padat oleh wisatawan. Tawa riang menghiasi setiap detik kebersamaan mereka. Jepretan foto menjadi pengabadi setiap momen mereka. Hingga tak sadar, matahari mulai merangkak naik menuju singgasananya, siang.

“Duh, capek juga, ya. Panas, lapar lagi,” keluh Nita sambil mengelap peluh yang berceceran di dahinya.

Latif tertawa tanpa mengalihkan pandangannya dari kamera. “Katanya tadi mau sekalian mampir di L’Appétit? Jadi nggak?”

“Eh, iya juga, ya. Ya udah kalau begitu, yuk. Keburu rame ntar.”

Marcel terkekeh sambil mengikuti langkah Nita. “Nih, anak, ya. Urusan makan numero uno!”

Mereka bertiga tertawa. Setelah beberapa menit berjalan di bawah sinar terik mentari, mereka tiba di resoran ala Prancis itu. Saat mereka masuk, aroma harum masakan menguar, menambah keributan perut mereka. Ketiga sahabat itu mengambil tempat duduk, lalu Nita mengacungkan tangannya untuk memanggil pelayan.

“Mas, mas! Sini!”

“Iya, Mbak. Silakan menunya,” ujar si pelayan ramah sambil menyodorkan buku menu yang langsung dikerumuni oleh ketiga sahabat yang lapar itu.

“Ah, satu citron presse dan satu créme brule,” ujar Latif kepada si pelayan.

“Blue ocean satu, macaron satu porsi, dan foie gras satu,” sahut Marcel.

“Hm … aku apa, ya?” tanya Nita pada diri sendiri. “Ini aja, deh. Fruity lemon squash satu dan croissant satu porsi.”

Si pelayan sibuk menulis pesanan mereka. Setelah selesai, ia lalu berkata, “Baik, silakan ditunggu pesanannya, ya Mbak.”

Pelayan itu pergi. Sembari menunggu, ketiga gadis itu asyik memeriksa hasil jepretan mereka sambil terkikik-kikik. Latif mengangkat kamera dan memberi sinyal pada kedua temannya. Nita dan Marcel pun segera mengambil pose. Setelah berpose, mereka kembali memeriksa foto mereka.

“Permisi, Mbak. Pesanannya,” ujar sebuah suara tiba-tiba.

Nita mengangkat kepala dan mengalihkan pandangan dari kamera. Dahinya berkerut. Butuh beberapa saat hingga otaknya baru bisa menyadari keadaan di depannya.

“Kak Bimo?” tanyanya setegah berteriak yang membuat Latif dan Marcel ikut mengangkat kepalanya.

“Eh, loh? Nita?” seru Bimo keheranan.

Mati aku. Kalau sampai kesebar aku kerja di sini kelar hidupku.

Bimo berkeringat dingin. Sambil meletakkan pesanan mereka ke meja, Bimo tidak berani bertatap mata dengan mereka.

“Kak Bimo kerja di sini? Eh, tapi bukannya sekolah melarang siswanya untuk kerja paruh waktu?” sambar Nita yang masih penasaran.

Bimo tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sementara pertanyaan demi pertanyaan terus meluncur dari mulut Nita. Bimo membuang napas kesal.

“Bacot, lo. Mau tahu urusan orang, kepo banget, sih?” jawab Bimo kasar. Ketiga sahabat itu terbelalak melihat perlakuan Bimo.

Setelah mengucapkan itu, Bimo segera pergi meninggalkan meja mereka dan penyesalan di hatinya. Ia tidak tahu mulutnya akan bisa sekasar ini. Tapi, mau tidak mau dia harus berbuat seperti itu untuk melindungi reputasi dan keluarganya.

Bimo memasuki dapur restoran dengan perasaan yang kacau. Dilepasnya topi dan apronnya lalu menggantungkannya pada gantungan baju di balik pintu. Ia berjalan ke arah manajer—yang sudah seperti kawannya sendiri—yang sedang mengawasi pekerjaan karyawan-karyawati restoran.

“Bro,” ujarnya sambil menepuk pundak sang manajer. “Aku ambil break duluan, ya. Nanti waktu anak-anak break, biar aku yang gantiin.”

“Yoih,” jawabnya sambil mengacungkan jempol.

Bimo tersenyum simpul. Kemudian, sebuah ide terlintas di pikirannya. Setelah menimbang baik dan buruknya, keputusannya tertambat untuk melaksanakannya. Ia berjalan keluar dapur restoran dan menuju kembali ke meja Nita. Ketiga sahabat itu saling berpandangan.

“Nit, ikut aku sebentar, yuk,” ujar Bimo sambil menggamit lengan Nita yang terbelalak kaget, lagi. Sontak, kedua temannya berusaha menahan Bimo.

“Eh, stop-stop. Barbar banget, sih, jadi cowok? Nggak ada lembut-lembutnya sama cewek,” protes Latif sambil berusaha melepaskan cengkraman Bimo pada lengan Nita. “Lepasin, woi! Ih, rese banget, sih.”

“Hei, kamu apa-apaan, sih? Kasar banget sama cewek. Lepasin! Atau kutusuk tangan kau pakai pisau,” ancam Marcel sambil menunjuk-nunjuk pisau yang teronggok di piring foie gras miliknya.

“Bisa nggak, sih, kalian berdua nggak ikut campur? Orang dianya juga nggak protes.” Bimo berusaha membela dirinya.

“Lepasin, ih! Siapa bilang aku nggak protes?” bantah Nita seraya berontak dari cengkraman otoriter Bimo. “Kalau memang ada perlu, bicara di sini.”

“Nggak, Nit. Nggak bisa. Ini urusan pribadi antara kita.”

Nita menghela napas dan memutar bola matanya. “Pakai acara rahasia-rahasiaan lagi. Sudah cepetan. Ngomong saja apa susahnya, sih?”

“Oke, oke. Ini yang kamu minta, kan? Sudah, nih, aku duduk,” ujar Bimo sambil mengempaskan pantatnya pada kursi kayu. “Sudah? Apa sekarang kita bisa bicara?”

Nita mengangguk sambil menaikkan alisnya.

“Begini. Sebelumnya aku minta maaf telah bersikap kasar pada kalian tadi. Kalian mau, kan, maafin aku?” tanya Bimo yang disambut anggukan dari ketiga gadis tersebut. “Oke, terimakasih. Berhubung kita nggak bisa bicara empat mata, jadi aku terpaksa ngomong sama kalian bertiga. Tapi aku mohon dengan sangat, kalian menyanggupi apa yang aku minta, ya?”

“Bisa,” jawab Latif enteng.

“Nggak masalah,” sahut Marcel sambil menyeruput blue oceannya dalam jumlah besar, seketika itu juga dirinya mengalami brain freeze. “Ah, sial.”

“Oke, Kak Bimo. Silakan lanjutkan,” ucap Nita karena mengikuti alur penceritaan Bimo dengan antusias.

“Kalian sudah tahu identitas asliku. Ugh, sial. Tapi nggak apa-apa, it’s okay. But …,” ujar Bimo sambil memberi penekanan pada akhir kalimat. “Jangan biarkan siapaun tahu mengenai hal ini. Jika kalian tanya ‘kenapa?’, maka itu bukan urusan kalian. Karena, jika sampai ada yang tahu … bisa gawat. Gosip cepat menyebar. Dan jika sekolah sampai tahu, maka aku akan dipanggil, dipecat, dan diberi sanksi.”

Ketiga gadis itu mengangguk-angguk paham. Bimo merasa sedikit lega karenanya.

“Tapi …,” ujar Latif tiba-tiba buka suara. “Kita mau ngabulin permohonanmu kalau kamu terima dan nyanggupin syarat kita.”

“Ya, terserahlah,” jawab Bimo cuek yang mendapat pelototan dari Latif.

“Terserah, terserah. Mau dibantuin, nggak?” bentak Latif sambil menggebrak meja yang menjadi sorotan seisi restoran.

“Iya, deh, iya. Apa syaratnya? Buruan, istirahatnya bentar lagi kelar, nih.”

“Apa, Cel, syaratnya?” tanya Latif sambil memandang Marcel licik dan menaikkan alis.

“Syaratnya …,” ujar Marcel penuh misteri. “Kamu harus jadi teman dekat Nita seperti dulu lagi. Kamu harus selalu ada buat dia, selalu dengerin setiap curhatan dia, dan selalu bantu meringankan setiap masalah dia. Gimana? Ringan, kan?”

Ringan jidatmu, batin Bimo kesal.

“Ashiap mantap!” seru Latif dan Marcel bersamaan.

“Ih, kalian ini apa-apaan, sih? Ngawur, ngawur, ngawur! Nggak ada persyaratan macam itu. Kalian ini—”

“Oke, aku terima,” jawab Bimo memotong perkataan Nita tanpa pikir panjang. “Apapun dan seberat apapun syarat kalian, akan kusanggupi. Tapi jika sampai perjanjian itu terlanggar atau dilanggar, aku tidak menjamin apa yang akan terjadi pada kalian selanjutnya.”

“Iya, iya!” jawab mereka bertiga jengkel yang membuat Bimo memutar bola matanya.

Bimo melihat ke arah jam tangannya.

“Istirahatku sudah habis. Makasih, lho, sudah membuat waktu istirahatku jadi sia-sia. Sekian, dan selamat siang,” ujar Bimo tajam sambil bangkit dan pergi meninggalkan mereka.

“Ih, rese banget, jadi cowok.” Latif memandang sinis siluet tubuh Bimo yang perlahan menghilang dari pandangan.

Ketiga sahabat itu berjalan keluar restoran beriringan. Nita mengenggam erat tali tas selempangnya. Sejak kejadian tadi, dirinya tidak berkata walau hanya sepatah kata pun, seakan-akan ia telah kehilangan kemampuan untuk berbicara.

“Eh,” celetuknya pada akhirnya. “Kalian ngapain, sih, pakai acara mak comblangan segala? Mau ditaruh mana mukaku setelah ini? Malu banget, tahu.”

“Dih. Sudah ditolong, nggak terimakasih,” sambar Latif lalu merangkul leher temannya tersebut. “Bukannya hal ini bagus? Kamu bisa, tuh, berusaha ngambil lagi hati Kak Bimo. Dan jika kamu berhasil, lumayan, kan? Kamu bisa pacaran sama dia plus nyingkirin anak baru itu. Eh, nggak baru, ding. Bonusnya, sekalian ngebungkam si kacamata konyol itu.”

Nita mengerutkan kening, berusaha mencerna kata-kata Latif. Sejurus kemudian, dirinya bergumam dengan diri sendiri.

“Iya juga, ya.”

“Nah, kan? Dibilangin juga apa.”

“Ah, Latif, Marcel! Kalian adalah sahabat terbaik yang pernah kutemui di muka bumi! Aku, sayaaaaang kalian!” teriak Nita sambil memeluk kedua sahabatnya yang jijik degan perilakunya.

“Heh, hus, hus! Nggak usah peluk-peluk. Nanti kaya sinetron,” ujar Marcel sambil menjauh dan mengibas-ibaskan tangannya seperti sedang mengusir seekor anak anjing.

“Intinya, terimakasih.” Nita berujar untuk yang terakhir kali.

Kak Bimo, tunggu aku di depan pintu hatimu. Ea.

___________________________________

Apa makanan Perancis kesukaan kalian?

Hai, terima kasih sudah mampir! Bagikan ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka. Karena, dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!

Find me on social media

IG: @dernatasw or @dahelart

FB: Derna Taswara

1
Cut SNY@"GranyCUT"
masin subuh
Cut SNY@"GranyCUT"
mama bagaimana sih.. anaknya cantik kok dibilang wajahnya buruk..
Cut SNY@"GranyCUT"
waduh cantik kok jorok sih ndok.. seminggu gak keramas mambune koyo bunga raflesia arloldi.. namanya keren ya, tapi istilah indonesianya bunga bangkai... 😆
Mukmini Salasiyanti
laaaaa...
waahhhh
ternyata..
ada saingan mu, Deth....
Mukmini Salasiyanti
Berdebar..
adrenalin naik..
sePi (sesak pipis) thor..
😄🤣🤣
Mukmini Salasiyanti
maaf thor..
bocah Kambil itu apa ya artinya??
Mukmini Salasiyanti
nyimak thor
salken
Rahma Husnul
dr tutur bahasanya, penulis punya pemikiran yg dewasa. meski yg di sajikan cerita anak SMA ... keren 👍👍👍
Rahma Husnul
suka dg pemilihan katanya. terus semangat berkarya ya 💪💪💪
Dawet_Legi
hai kak aku mampir, kapan" mampir baca karyaku juga ya..thanks🙏☺️
ruhaynizz
mampir nih thor
Zuai Azmi
satu vote buat athor 👍👌
r4tn4🌛
penasaran sama judulnya, trnyta ceritanya seru juga👍
harie insani putra
salam kenal ijin meninggalkan jejak di sini ya thooorrr
lembayungsenja88
masalahnya kau terlalu lemah dan dungu bimo
lembayungsenja88
lemah kau Bimo banci heang.
Anita Suwarti
Bocah kambil,, ank pramuka thor???
jd inget tempo dulu pas ikut pramuka,
azkia zain
kok enggak update, kayaknya kan Senin ma Kamis,
مي زين الش
sdh aq kasih vote dan like kakak... . sukses sll ya
im_ha
10 like untukmu ya Thor. mampir juga di karyaku DOAKU BERBEDA DENGAN DOAMU 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!