NovelToon NovelToon
Trauma

Trauma

Status: tamat
Genre:Teen / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: Pyrus

Sebuah cerita yang mengisahkan tentang seorang remaja yang kehilangan orang - orang yang disayanginya. Tidak ada unsur adegan dewasa.

Seorang pemudi yang trauma akan kehilangan orang tua dan orang yang dicintainya karena sebuah tragedi kecelakaan.

Nisa yang dulunya ceria sekarang menjadi dingin semenjak kecelakaan yang terjadi padanya. Sebagai penyebab kedua orang tuanya meninggal.

Berkat kehadiran temannya, Lana dan ketiga pemuda yang bersabat yaitu Aldi, Deni dan Faiz. Nisa mencoba untuk kembali ceria seperti dulu dan kehidupannya menjadi berwarna kembali.

Namun sebuah kecelakaan merenggut kembali seseorang yang Nisa cintai. Dunia Nisa seakan hancur kembali setelah pulih. Pelangi telah kehilangan satu warnanya. Membuat hari hari Nisa yang hangat kembali hampa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pyrus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sekarat

“Lo ada hubungan apa sama Nisa?” Erg tiba-tiba datang ke kamar Aldi. Membuat Aldi sedikit kaget. Hal itu adalah pertama kalinya Ergi membuka obrolan dengan Aldi. Walaupun pertanyaannya to the point bahkan langsung menanyakan perihal Nisa. Aldi sudah bersyukur, mungkin ini dapat menjadi awal hubungan yang hangat dengan adek tirinya itu.

“Belum, tapi gue suka sama dia,” Jawab Aldi sembari meninggalkankan bolpen dan alat tulis yang sebelumnya dia pegang, menghampiri Ergi yang ada di sisi pintu kamarya. “Kenapa?”

“Gak.. hati-hati.” Ucap Ergi singkat lalu berbalik badan melangkah ke kamarnya.

Aldi mendengus melihat punggung Ergi yang semakin jauh dari dirinya dan melanjutkan belajarnya. Padahal dia berharap bisa ngobrol lebih bersama Ergi, memperbaiki hubungannya. Namun Ergi masih acuh, membuat Aldi harus bersabar lagi, berharap suatu saat Ergi tidak bersikap dingin seperti itu.

Mamah Faiz kaget melihat anaknya yang pulang malam-malam dengan kondisi yang memprihatinkan. Wajah gantengnya berubah seperti zombi yang ada di film film, wajah yang awalnya putih bersih sekarang menjadi merah biru lebam.”Ya ampun Faiz, kamu habis perang dimana sih kok sampe gini” mama Faiz memegang wajah anaknya itu, mengelus-elus bagian biru di samping plester luka yang tadi dipasangkan Deni.

“Ahh.. Sakit mah, jangan dipegang yang itu.” Faiz meringis memundurkan wajahnya. “Udah diobatin kok mah, besok juga sembuh. Mamah gausah khawatir ya hehehe.”

“Beneran gak apa apa ini?” Mamah Faiz masih ngeri melihat wajah anaknya.

“Nggapapa mah, Faiz ke kamar dulu ya mah mau tidur, ngantuk.” Faiz meninggalkan mamahnya, memegangi perut yang rasanya masih sedikit sakit dan lekas tidur masih dengan seragam yang dipakainya.

***

“Ahh sial emang si Ergi, gara-gara dia perut gue jadi gini” keluh Faiz meringis menahan sakitnya saat digunakan untuk bangun dari tidurnya, padahal sudah diobati Deni, tapi sakitnya belum hilang sampai hari ini.

“Bisa-bisa gue telat ini” Faiz melihat jam beker di samping kasurnya yang menunjukkan pukul 06.55. berarti lima menit lagi sudah masuk. Dengan kondisi Faiz seperti ini mana mungkin dia bisa bersiap-siap dan melajukan motornya dengan cepat seperti biasanya. Ditambah suara mamahnya yang terdengar melengking di telinganya, menyuruhnya untuk segera berangkat sekolah.

Lebih lima belas menit, Faiz baru keluar kamar dan buru-buru sebisanya. “Mah Faiz langsung ya, udah telat banget nih” Faiz mencium punggung tangan mamahnya.

Gerbang sekolah sudah tutup, Faiz menitipkan motornya di toko dekat sekolahnya. Melangkah ke belakang sekolah. Biasanya siswa yang telat akan masuk lewat lapangan belakang, jalan satu-satunya karena gerbang belakang sedang rusak.

Pundak Faiz dicengkeram seseorang saat akan sampai di gerbang belakang. “Lo ngikutin gue?” tanyanya setelah menoleh ke belakang.

Tangan Faiz ditarik secara paksa menuju tengah lapangan kemudian dilepaskan begitu saja.

“Gue tanya sekali lagi. Lo ada hubungan apa sama Nisa?” tanya Ergi dengan nada sangar.

“Lo apaan sih Gi. Kenapa lo tiba-tiba nanya gitu, kemarin juga.”

“Dasar pecundang, bisa-bisanya ngembat cewek sahabatnya sendiri.” Geram Ergi.

“Gue bisa jelasin Gi. Lo salah sangka sama gue.”

Ergi mendekatkan diri ke Faiz, melayangkan satu pukulan “Terus kenapa lo selalu sama Nisa?”

“Itu kebetulan aja. Gue akan jelasin….” Faiz tak membalas pukulan Ergi.

Ergi lagi-lagi memukul Faiz sebelum menyelesaikan omongannya, kali ini pukulannya mendarat ke perut Faiz. Padahal perutnya rasanya masih perih akibat tendangannya kemarin, sekarang ditambah lagi dengan satu pukulan. Membuat Faiz memegangi dengan erat perutnya itu menahan sakit yang dideritanya.

“Kenapa lo ikut campur urusan gue sama Aldi? Bukannya hubungan lo sama Aldi masih belum baik?” Faiz sekarang menjadi geram karena kelakuan Ergi. Rasanya percuma ngomong baik-baik dengan Ergi, sia-sia.

Ergi menepis pukulan Ergi yang akan mengenai wajahnya dan sekarang gilirannya yang memukul Ergi. Ergi menjadi semakin bengis terhadap Faiz. Beberapa kali pukulannya telak mengenai Faiz yang sekarang sudah tumbang mengenai rumput lapangan yang sudah berwarna kuning lebat, entah sudah berapa bulan rumput ini tidak dipotong oleh tukang kebun sekolah.

Ergi menunduk memegang kerah Faiz “Lo inget baik-baik. Gue gaakan biarin lo buat Aldi sakit hati.” Lalu meninggalkan Faiz yang hampir sekarat.

“Lo salah sangka. Gue gaakan pernah rebut Nisa dari Aldi. Lo harus percaya itu” Ucap faiz sebelum Ergi semakin jauh darinya dan Ergi hanya melihatnya dengan tajam.

Rasanya Faiz tak bisa lagi menahan rasa sakitnya, sekarang dia merasakan sakit lima kali lipat di bagian perutnya dibanding yang ia rasakan tadi setelah bangun tidur. Dia menghubungi Deni, berharap akan menjapat jawaban di jam pelajaran. Berkali-kali dia melakukan panggilan, tapi nihil, Deni tak mengangkatnya. Hingga akhirnya Faiz mulai tak sadarkan diri.

Deni mengecek ponselnya saat jam istirahat. Kaget melihat Faiz yang melakukan panggilan berkali-kali dan mengirimkannya pesan “Lapangan belakang. Ngapain Faiz ngajak ke lapangan belakang, pake telpon berkali-kali lagi.

Dari jauh, Deni tak melihat siapa-siapa di lapangan. Tanpa berpikir lagi, dia berjalan mendekat dan mendapati Faiz yang sudah “Iz bangun. Lo habis berantem sama siapa?” tanya Deni panik, mencoba membangunkan Faiz.

Faiz bangun “Ergi,” kalimat terakhirnya sebelum kembali tak sadarkan diri.

Deni membawa Faiz ke rumah sakit dan langsung mengabari Mamah Faiz setelah sampai.

“Faiz kenapa Den?” tanya Mamah Faiz setelah sampai.

“Saya juga nggatau tante, tiba-tiba Faiz sudah seperti itu waktu saya sampai” Deni mengepalkan tangannya, “sekarang Faiz lagi diperiksa dokten tan. Kita tunggu saja dulu, semoga Faiz baik-baik saja.”

Hati Faiz robek sehingga terjadi pendaharan di dalamnya. “Mah… Faiz haus.”

Mamah Faiz segera mengambilkan minum untuk anaknya yang baru siuman setelah dua jam tak sadarkan diri. “Perut kamu sakit ya nak?” tanyanya dengan menahan air mata.

Faiz mengangguk, karena memang perut bagian kirinya terasa sakit sekali.

“Sorry gue baru nemuin lo saat istirahat Iz. Gue nggatau.” Lagi-lagi Deni mengepalkan tangannya.

“Nggapapa Den, gue yang makasih. Lo udah bawa gue dan kabarin mamah” jawab Faiz lemah.

Deni memberitahu Aldi tentang keadaan Faiz yang sekarang di rumah sakit. Dia langsung menyusul saat pulang sekolah.

“Den.. Faiz kenapa?” tanya Aldi saat mendapati Deni duduk di depan kamar Faiz.

“Ergi. Ini ulah adek tiri lo, Ergi. Gara-gara dia…” Deni menjeda kalimatnya, tak sanggup mengatakan kondisi Faiz sekarang “gara-gara dia hati Faiz robek dan ada pendarahan di dalamnya. Mungkin Faiz akan menjalani operasi di waktu dekat ini” selesainya dengan mengusap air mata yang mengalir begitu saja di pipinya.

“Apa?” Aldi hampir tak percaya dengan apa yang dikatakan Deni mengingat sudah lama mereka tak berurusan dengan Angga dan gengnya.

“Kemarin Ergi udah bikin babak belur, gue kira itu sudah cukup. Tapi ternyata tidak.” Deni menyenderkan tubuhnya di dinding rumah sakit.

Aldi mengepalkan tangan dan memukul dinding tak bersalah. Dia mengingat lagi Ergi yang menemuinya di kamar tadi malam. Harapannya untuk akur dengan adek tirinya seakan retak melihat sahabatnya terbaring di kasur rumah sakit karena ulah adek tirinya.

Bergegas pulang setelah melihat Faiz serta berpamitan dengan Mamah Faiz dan Deni. Aldi akan membuat Ergi bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya.

“Ergi mana mah?” tanya Aldi dengan nada dingin, tak seperti biasanya.

“Sepertinya di kamar, baru saja dia pulang” jawab mamahnya.

Aldi memperbesar langkahnya menuju Ergi “Ergi buka!” menggedor pintu kamar Ergi dengan kasar.

Tanpa basa-basi Aldi memukul Ergi beberapa kali sebelum Ergi menghindar ataupun melawan setelah pintu dibuka. Mendorong Ergi, membentur lemari kayu besar sehingga menimbulkan suara yang keras. Membuat mamahnya kaget dan berlari menemui mereka.

“Gara-gara lo sekarang Faiz sekarat di rumah sakit!” marah Aldi.

Mamah Aldi menutup mulutnya tak percaya, kaget dengan apa yang dikatan Aldi pada Ergi.

“Lo tahu, organ hatinya robek dan harus diperasi!

Lo emang ngga akan berubah, lo akan tetap bengis sama seperti temen-temen lo” nada suara Aldi semakin tinggi.

“Mamah…” teriak Ergi yang melihat mamahnya kesulitan bernapas. Membuat Aldi yang tak tahu akan kehadiran mamahnya melepaskan kaos Ergi yang dipegangnya erat kemudian menoleh.

Ergi lari mengambil alat pernapasan mamahnya.

“Apa benar yang dikatakan Aldi?” tanya Mamah Ergi saat napasnya sudah terasa kembali lancar. “Jawab mamah! Mamah ngga pernah ngajarin kamu untuk berbuat kasar seperti itu.” Tangisnya sekarang pecah.

“Maafin Ergi mah, Ergi nggatau kalau bisa sampe kayak gini” jawab Ergi dengan menundukkan pandangannya, tak kuat membuat mamahnya kecewa separah ini.

Ergi dan Aldi kembali berseteru setelah mamah mereka pergi, tak kuat mendengar kelakuan anak kandungnya.

“Lo bilang tadi apa? Nggatau kalau sampe gini?, Faiz salah apa sama lo. Jawab gue Gi!.”

“Faiz rebut Nisa dari lo. Gue nggamau lo sakit hati.”

“Sejak kapan lo sekarang peduli sama gue? bukannya lo nganggep gue musuh. Terus kenapa sekarang nggamau lihat gue sakit hati?”

“Karena gue malu sama lo. Lo udah baik sama gue, nerima gue jadi keluarga lo. Sedangkan gue.. gue belum bisa balas itu.”

“Bukan dengan cara kayak gini Gi. Lo udah besar, harusnya bisa mikir baik engganya. Lo udah buat sahabat gue sekarat sekarang!. Asal lo tahu, Faiz udah tahu kalau gue suka sama Nisa. Gue udah ngomongin itu langsung sama dia.” Aldi mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Maafin gue Al.”

“Harusnya lo minta maaf sama Faiz, bukan sama gue.” Aldi meninggalkan Ergi yang bersimpuh di hadapannya.

1
mama yogi
Nisa nya terlalu di buat lembek
ANAA K
Boomlike mendarat mulus ka😉👍🏾
ANAA K
Keren
ANAA K
The best👍🏾
ANAA K
Wah keren👍🏾
ANAA K
Semangat selalu👍🏾
ANAA K
Aku mendukungmu kak👍🏾
ANAA K
Semangat yah kak
ANAA K
Boomlike hadir thor👋🏾 jangan lupa mampir yah😉🙏🏿 mari kita saling mendukung👍🏾😉
ANAA K
Semangat yah🙏🏿
ANAA K
Lanjut thor👍🏾 ceritanya keren😉👍🏾
ANAA K
Semangat yah thor😉👍🏾
ANAA K
Semangat thor. Aku mendukungmu thor😉👍🏾
Fania kurnia Dewi
mampir thor
Santai Dyah
lnjut thor salam kenal dari Kabut cinta
Rini Haryati
teimakasih
Rini Haryati
bagus
Ummi Islah
sad bangettt thor😢😢😢😢
TickleStar
Ceritanya menarik, nih! Boleh kali thor dilanjut?
Daisy Louise
Ceritanya bagus, kok, thor. Jangan lupa perhatiin tanda baca ya, hehe.. Fighting fighting kakak author‾
Pyrus: Terima kasih 😉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!