Farhan, divonis mandul. Agar bisa mempertahankan Marla, Farhan rela membayar adik tirinya Agustin untuk menikahi Marla selagi Marla dan Farhan bercerai sementara.
Sesuai perjanjian Agustin harus menghamili Marla, setelah mengandung dan melahirkan Marla akan dikembalikan ke Farhan.
Awalnya, Agustin setuju karna bayaran. Tapi lambat-laun berangsur berubah pikiran. Agustin malah berubah haluan, dan ingin menjaga keluarga kecilnya. Anaknya dan Marla istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saran Rio
Rio terkejut, tentu saja.
Kalau itu masalahnya, tentu gawat.
“Kenapa?”
Agustin mendengus samar, mulutnya menciptakan kekehan.
“Yang melengkapi hidupku yang serba kekurangan, bukan uang, atau apapun. Hanya Mbak Marla, jika ada dia, hidupku yang serba ‘bolong’ ini seakan dilengkapi.”
“Hanya itu,” Agustin menatap Rio yang masih tergugu di tempat, “Masalahnya. Sebenarnya aku tidak perduli dengan Kak Farhan atau seterluka apa dia, tapi yang menjadi masalahnya, bagaimana aku mempertahankan Mbak Marla? Menahannya? Dan bisa memperdayanya? Padahal ketika dia positif hamil, saat itu juga awal mula Mbak Marla harus dipisahkan dariku.”
“Kalau begitu, jangan sentuh dia.”
Rio membalas tegas.
“Aku sudah menyentuhnya.” Agustin dengan berat memberitahu jumlahnya, “Dua kali.”
“Kalau begitu jangan untuk ketigakalinya.”
“Marla bisa curiga, ‘kan? Okelah, kalau kamu bilang begitu sebelum kami ngapa-ngapain. Tapi setelah dua kali terbiasa, Marla sudah terburu-buru untuk lepas dariku. Hamil, dan segera dikembalikan ke Farhan.” Kepalan tangan Agustin memutih, mengeratkan kelima jari antara satu sama lain yang tergeletak di atas pahanya.
“Kamu butuh bantuanku?” Rio menawarkan diri.
“Jika kamu bisa bantu memberikan solusi, kenapa tidak?”
Rio bangkit berdiri, lalu mengemasi tas kerjanya. “Baiklah, ikut ke rumahku.”
“Hah?”
Agustin menyahut tidak paham.
“Ayo, ikut.”
Agustin keburu mengemasi barang-barangnya, mematikan komputer dan mengikuti langkah Rio. Sebagian karyawan memang diizinkan pulang lebih awal bagi yang sudah mengerjakan pekerjaan mereka, takkan ada yang tahu Agustin dan Rio sudah pergi sebelum separuh pekerjaan mereka tuntas yang memang bisa dilanjutkan di rumah.
Sesampainya di rumah Rio, Agustin mengikuti gerak-gerik Rio yang masuk ke dalam rumah tanpa salam, melepasi sepatu dan menyerobot masuk.
“Istrimu tidak ada di rumah?”
Agustin menengahi kegiatan Rio yang tengah menanggalkan kemeja.
“Tidak, lagi pulang kampung.”
Rio menyampirkan jas dan kemejanya ke satu lengan lalu menghempaskannya ke dalam bak baju kotor. Setelah Agustin mengikuti geraknya yang melepasi kemeja, Rio mengambil sebuah kotak di dalam lemari, dan meletakkannya ke pangkuan. “Sudah pernah kuberitahukan? Kalau aku dan istriku ingin berdua dulu selama sepuluh tahun?” Rio geli saat mengatakannya, Agustin mengangguk mengiakan dengan seulas senyum tipis. Rio memang kurang mengharapkan anak, yang Rio khayalkan sebelum menikah dengan istrinya adalah berdua selamanya dengan sang istri, mati menua dan menyayangi satusama lain.
Karena istrinya kurang setuju. Memiliki momongan mereka tunda selama 10 tahun. Barang kali setelah menua, Rio yang kebapakan berubah pikiran dan ingin menimang anak.
“Karena sebagai suami-istri nggak mungkin nggak berhubungan badan, tentu dibutuhkannya alat kontrasepsi.” Rio membuka kotaknya, memperlihatkan beberapa barang-barang yang dia pergunakan bersama istrinya selama dua tahun menikah. Rio mengacungkan satu benda, “Kondom.”
Wajah Agustin cemberut. “Kalau aku pake, tentunya Marla tahu. Nanti dia nanya-nanya.”
“Iya juga, ya.” Rio mengeluarkan barang baru, “Obat KB.”
“Astaga, Rio.” Agustin gemas, “Marla yang harus meminumnya, kalau kusuruh malah jadi gawat ‘kan.”
Kini Rio nyaris kehabisan ide, “Kalau begitu, ‘azl.”
“Apaan?”
Agustin yang polos tidak tahu menahu.
Rio menggaruk kepala, “Yaitu ….” gerak-geriknya mulai memperagakan dengan tangan yang terjunjung-junjung. “Mengeluarkan itu di luar.” Tak perlu panjang lebar, sedikit penjelasan itu saja Agustin langsung paham.
“Waktu aku cabut, Mbak Marla pasti tahulah. Astaga, saranmu nggak ada yang bermutu.”
Agustin nyaris bangkit hendak pergi.
Rio langsung menahan langkahnya, “Baiklah. Saran terakhir, KB cair.”
“KB cair?” Agustin berbalik dan mengernyitkan dahi dengan heran.
“Pil KB-nya diluluhkan dan campur sedikit air. Lalu, masukkan ke minuman dan makanan Marla sebelum kalian berhubungan. Insyaallah ngefek, kok.”
Agustin diam dan mulai mempertimbangkan. Jika dilamati, tidak terdengar buruk.
“Baiklah,” gerak tubuh Agustin yang lemas terlihat seakan pasrah. “Akan kucoba.”
kali ini bersemangat lagi...tank you thoor🙏
penasaran dgn lanjutannya😭😭
plis deh jdi ikut sakit hati...