Zira Aqilla gadis yang berusia 23 tahun. Apakah sudah mencapai kesuksesan untuk seorang Zira. Tinggal di Ibu Kota tanpa didampingi orangtuanya harus mencoba peruntungannya bekerja sana-sani membuka usaha kecil-kecilan, demi mewujudkan impiannya menjadi wanita karir.
Hidupnya berubah ketika di ujung mencapai kesuksesan mungkin final dari kerja kerasnya selama ini. Tetapi Zira harus menelan pil pahit, memiliki sahabat yang dekat dan membagi kasih sayang belum tentu mengantarkannya ketitik sukses, malah menjerumuskanya kedalam masalah yang besar, demi menutupi sebuah kesalahan yang mengantarkan Zira ketitik kehancuran.
Bertemu dengan CEO perusahaan terbesar di Asia, Addrian Admaja Wijaya, pria yang memiliki ketampanan di atas rata-rata berkulit putih, tinggi ideal, wajah yang begitu arogan dan berkarismatik bersikap dingin, Bertemu dengan Zira karena sebuah kesalahan.
Bagaimana, Zira harus menghadapi masalah yang timbul tanpa di ketahui sebabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 28 KEKERASAN
Zira pun sampai keruangan Robert, Zira memasuki ruangan itu. Ruangan itu begitu gelap, Zira meraba-raba saklar lampu di ding-ding dekat pintu tapi tak menemukanya.
"ni, sakral lampu letaknya di mana sih." Zira pun tidak menemukan sakral lampu dan memutuskan untuk tidak mencarinya, Zira menghidupkan flass ponselnya, menuju meja Robert untuk mencari buku yang di maksud Robert.
Zira melihat buku-buku di meja Robert, ada banyak buku, Zira bingung yang mana yang di inginkan Dosenya yang menyebalkan itu, dia lupa bertanya.
" Yang, mana ya bukunya, kenapa tadi gak ditanya, lagian Pak Robert sudah tau malam pake nyuru-nyuru seharusnya dia itu bisa mengkondisikan waktu, jangan seenaknya jadi Dosen." Ocehnya memilih-milih buku, seperti tidak iklhas, ya memang Zira tidak iklhas melakukanya karena yang dipikiranya cuman ingin pulang.
Zira masih tetap berusaha berpikir yang mana yang akan dibawanya sambil mengomel menyalahkan Dosenya. Ketika Zira membalikkan tubuhnya, Zira kaget di depannya sudah ada Robert. Entah berapa lama Robert berada dibelakangnya.
" Ahhh....Pak, bikin kaget aja." Teriak Zira kaget.
" Ni, Dosen sejak kapan ya di sini, jangan-jangan dia dengar gue ngomongin dia." Batin Zira
" Kamu, sudah menemukanya." Tanya Robert
" Saya bingung Pak yang mana, bapak cari sendiri aja kali ya." Tekus Zira dengan masa bodo dia merasa begitu lelah dan ingin cepat pulang, tetapi Robert malah mendekatinya dan menghimpit tubuh Zira kemeja.
" Tunggu dulu Zira temani saya mencarinya." Ucap Robert seakan matanya mencari-cari buku, tetapi membiarkan Zira terkunci di depanya, Zira susah bergerak, karena hempitan Robert dan meja yang dibelakang Zira.
Zira merasa tidak nyaman dengan jarak yang begitu dekat dengan Dosenya itu, belum lagi Robert menghelus punggung tangan Zira, yang berada di atas meja berusaha menahan tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Dosenya.
" Maaf, Pak, saya harus pergi." Zira menepis kasar tangan Robert.
" Kamu, mau kemana, sebaiknya kita berdua di sini menghabiskan malam." Bicara kurang ajar Robert membuat Zira mulai panik, belum lagi dia cuman ada ber2 di ruangan itu, dan kampus juga begitu sunyi.
" Pak, tolong geser pak saya harus pulang, saya lelah Pak." Zira berusaha bergeser dari hempitan tubuh besar Robert
" Saya, akan membuat lelah kamu menjadi kenikmatan." Ucap Robert membelai wajah Zira.
" Pak, tolong geser." Zira mendorong dada bidang Robert sehingga membuat jarak.
" Zira, sebentar saja, saya tau kamu juga menginginkan ini, ayolah." Robert menghelus bahu Zira dengan sentuhan kurang ajar, membuat Zira hilang kendali melayangkan tanganya kepipi Robert.
Plakk
" Bapak, jangan kurang ajar ya sama saya." Ucap Zira dengan geram.
" Beraninya, kamu menampar saya." Plakk
Robert menampar pipi Zira dengan keras, Zira kaget mulai ketakutan tidak menyangka, Dosenya menamparnya, Zira memegang pipinya yang sudah merah sebagian rambutnya menutup pipinya.
" Kamu, pikir kamu siapa ha, jangan jual mahal kamu." Robert dengan kurang ajar memasukkan tanganya ke bawah dress Zira dan menghelus pahanya, Zira benar-benar takut dengan kelakuan Dosennya itu. Zira mendorong tubuh besar Robert agar dia bisa lari kegilaan Dosenya yang sudah kerasukan.
Robert menarik rambut Zira dengan kasar. Sehingga membuat kepala Zira mendonga keatas.
" Mau, kemana, kamu sebaiknya kita menghabiskan malam bersama." Bisik Robert di telinga Zira, membuat Zira semakin jijik
" Lepasin, saya gak Sudi bersama laki-laki mesum seperti anda." Umpat Zira memegang rambutnya menahan rasa sakit karena jambakan Robert.
" Ternyata kamu lebih suka di kasarin. Ha." Robert menarik kasar rambut Zira dan menghempaskan tubuh Zira dan membentur meja, Zira memegang perutnya, karena memang terkena meja.
Zira yang sudah terduduk di lantai merasa ketakutan, Robert mendekatinya menjambak rambutnya kembali, hasrat Robert begitu besar ketika melihat leher jenjang Zira dia ingin melahapnya langsung, Zira yang berusaha memberontak dengan memukul-mukul dada Robert, Robert begitu kesusahan mencium leher Zira, karena Zira berusaha menghindarinya.
Zira berhasil menendang Robert, dan Zira berdiri berusaha melarikan diri, Robert berhasil kembali menarik blazer Zira dan lepas dari tubuh Zira, Zira yang berusaha melarikan diri pun ditarik kakinya oleh Robert.
Zira pun kembali terjatuh, dan berusaha bergerak dengan mengesot agar terhindar dari Robert. Tetapi Robert semakin menarik kakinya sehingga membuat wanita itu malah bergeser kedekat Robert
Robert kembali menjambak rambut Zira, bahkan dengan kejam menghempaskan kening Zira kelantai, Zira yang telungkuppun di lantai, berusaha memegang tangan Robert agar menghentikannya.
" Saya, mohon pak hentikan, sakit pak." Zira menangis kesakitan atas benturan di keningnya.
tubuh Zira di balikkan Robert Zira terlentang di lantai, dengan kening yang sudah berdarah, bahkan dengan tubuhnya Zira yang seperti itu menaikkan semakin menaikkan hasrat Robert.
Karena blejer yang dipakainya menutupi dadanya entah sudah kemana, belum lagi tangan dressnya yang sudah melorot. Zira sungguh menyedihkan bahkan tubuhnya mulai lemas, Robert berdiri menatapi pemandangan indah di bawahnya, yang sudah tidak berdaya, Robert membuka kancing kemejanya, rasanya dia ingin menikmati tubuh indah Zira yang menahan sakit dibawah sana.
Robert tidak ingin kehilangan Kesempatan yang didapatnya, karena tidak mungkin ada yang menolong Zira melihat kondisi kampus yang sudah tidak ada orang, sekarang Robert sudah tidak memakai baju, dia membuka ikat pinggangnya, mengamati Zira yang lemas, sekali tarik mungkin dress Zira akan terlepas dari tubuhnya.
" Pak, saya mohon jangan lakukan itu." Zira kembali berusaha untuk bangkit agar bisa lepas dari Robert, dengan cara mengesot menuju pintu karena tidak sanggup untuk berdiri.
Robert tersenyum melihat Zira yang mengesot tak berdaya ingin melarikan diri."
" Kamu, selalu jual mahal, saya tau sebenarnya kamu menginginkannya kan, tapi sepertinya kamu lebih suka jika bermain dengan kasar.
Passsss Robert memukul Zira dengan tali pinggangnya, Zira kembali kesakitan kesakitan memegang punggungnya yang terasa panas, Robert terus memukul Zira seperti mencambuknya, berkali-kali Zira terus menyeretkan tubuhnya,
Perbuatan kejam Robert membuat tubuh Zira semakin sakit, kulit putih mulusnya sudah merah, banyak bekas ikat pinggang diseluruh tubuhnya. Zira pun yang sudah terlentang di lantai meringgis kesakitan.
Zira sudah tak berdaya menggeliat di lantai, Robert dengan kejam menyiksanya, hasrat Robert semakin tidak tertahan saat melihat Zira menggeliat kesakitan dan pipi mulusnya yang bercucuran air mata.
Setelah puas mencambuk Zira, Robert melempar ikat pinggangnya kesembarang tempat, lalu Robert pun jongkok di hadapan Zira, yang sudah tidak berdaya di lantai Robert menyobek paksa bawah dress Zira dengan kasar sehingga paha mulusnya terekspos nyata, Robert meneguk salavinanya sudah tidak sabar menyetubuhi Zira.
" Saya, mohon Pak, jangan lakukan itu." Lirih Zira memohon agar Dosenya mengampuninya.
" Seharusnya, kamu jangan menolak kamu tenang saja rasa sakit kamu akan hilang dengan sentuhan saya." Robert meraba paha mulus Zira, dengan tenaga yang dimiliki Zira, Zira menepis tangan Robert.
" Kamu, masih menolak juga." Robert semakin tertantang, dia meraih wajah Zira dan mencengkram pipi Zira.
" Kamu, hanya tinggal menikmati apa susahnya." Robert menarik paksa tangan dress Zira sehingga melorot sedikit. Robert semakin tergila- gila dan ingin melahap Zira langsung. Zira hanya bisa menangis tersedu- sedu memohon ampunan.
" Pak, tolong jangan Pak, hiks...hiks..Tolong, Pak hikss, hisk Tolong Pak." Zira terus memberontak. Memukul-mukul dada Robert, Robert tidak peduli, dia berusaha ingin mencium leher Zira dengan paksa, Robert kesusahan meraih tujuannya, Zira yang benar- benar sudah tidak berdaya pasrah.
Brukkkk.
Satu pukulan keras melayang di wajah Robert sampai Robert melanting lumayan jauh.
" Kurang, ajar, Beraninya, lo nyentuh dia." Entah dari mana Addrian tau keberadaan Zira, yang penting dia datang di waktu yang tepat Addrian dengan digebu-gebu emosi menghajar Robert yang sama sekali tidak punya tenaga untuk melawan Addrian.
Zira menoleh kesampingnya melihat Addrian menghajar habis-habisan Dosenya itu. Zira berusaha untuk bangkit.
" Addrian hentikan, dia bisa mati." Zira dengan tubuh lemas berdiri menarik tangan Addrian berusaha menghentikan Addrian yang sudah sudah babak belur.