NovelToon NovelToon
Lembayung Senja

Lembayung Senja

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:223.6k
Nilai: 5
Nama Author: Raga Senja

Cinta bisa menembus ruang dan waktu.Mungkin ungkapan itulah yang tepat untuk menggambarkan perasaan Nawang wulan.Gadis cantik yang jatuh cinta pada makhluk dari alam yang berbeda,yang konon merupakan putra dari penguasa samudra.

Akan kah kisah cinta Wulan berakhir bahagia,atau justru penuh luka karna dimensi yang berbeda..?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raga Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 28

Damar turun dari mobilnya dengan perasaan kecewa, ia lalu melangkah gontai memasuki rumah mewahnya. Seusai bertemu Wulan tadi, Damar memutuskan untuk pulang ke rumah. Perasaannya tidak karu-karuan saat ini. Ia masih tidak percaya kalau Wulan telah menolaknya, dan yang membuatnya lebih kecewa lagi, Wulan ternyata sudah punya kekasih.

Di dalam rumah, Damar di sambut oleh ibunya yang terkejut melihatnya pulang lebih awal dari biasanya.

"Hei, kau sudah pulang nak, tidak biasanya kau pulang secepat ini, ada apa? apa kau sakit ?" Khawatir melihat raut wajah kuyu putranya.

Damar menggeleng. " Tidak, Bu. Aku baik baik saja, aku hanya sedikit lelah, aku ingin ber istirahat di rumah." Menjawab sambil terus melangkah.

"Apa kau sudah makan siang? kalau belum makanlah dulu."

"Sudah Bu," jawabnya singkat lalu mulai menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Ada apa dengannya? bathin Ibu yang heran melihat tingkah Damar yang lain dari biasanya.

Sampai di kamar Damar langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Matanya terpejam sejenak lalu terbuka lagi. Penolakan Wulan tadi terus saja terngiang di telinganya. Dadanya terasa sesak, orang yang sangat di sayanginya ternyata telah memberikan hatinya untuk orang lain.

Damar lalu bangun dari tidurnya, mengambil bantal lalu melemparkannya secara asal. Dia benar benar kesal dan kecewa.

"Apa yang harus kulakukan Wulan, menerima keputusanmu dan menjauh darimu? tapi aku sangat mencintaimu, mana mungkin aku bisa melakukan itu." Damar bergumam sendiri.

"Kenapa harus dia yang kau cintai, kenapa bukan aku? Akkh !" jerit Damar sambil mengacak acak rambutnya frustasi.

Damar lalu mengambil ponsel di saku jasnya, ia ingin menghubungi sekretarisnya. Sebenarnya sejak tadi ponselnya terus berbunyi, tapi ia mengabaikan semua panggilan. Pikirannya sedang kacau saat ini membuatnya tak ingin menerima telefon dari siapapun.

"Batalkan semua meeting hari ini, " ucapnya tanpa basa basi setelah terhubung dengan penerima telefon.

"Tidak ada, aku hanya sedang tidak enak badan saja," jawab Damar saat sekretarisnya bertanya 'kanapa'

"Oh ya satu lagi, tolong cari tahu tentang kekasih Wulan, kau tahu Wulan kan?"

"Iya, Wulan di bagian resepsionis, dia punya kekasih bernama Bayu. Suruh seseorang untuk mencari tahu tentang Bayu."

"Ya sudah," ucap Damar lagi lalu kemudian memutuskan panggilan telfonnya.

Damar kembali merebahkan badannya, matanya menerawang menatap langit langit kamar, tiba tiba ia merasa seperti melihat wajah Wulan yang sedang tersenyum tercetak di langit langit kamar.

"Aku akan memperjuangkan mu, Wulan. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Toh kalian belum menikah kan? jadi aku masih punya kesempatan. Akan ku rebut kau dari Bayu," gumam Damar sambil mengepalkan tangannya seolah menemukan kembali semangat untuk mendapatkan Wulan.

**

Sementara itu di tempat lain, Wulan dan Bayu masih terlihat bersama, setelah dari kafe sebenarnya Wulan ingin langsung pulang ke rumah bibinya, tapi Bayu mencegahnya. Pria itu tahu suasana hati Wulan sedang tidak baik, karenanya dia bermaksud menghibur Wulan dengan mengajaknya ke tempat yang indah.

"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Wulan setelah Bayu menurunkan nya di atas puncak bukit. Bukit yang sama yang pernah di datanginya bersama Bayu beberapa waktu yang lalu.

"Aku hanya ingin menghiburmu, aku tidak mau kau terus bersedih dan merasa bersalah kepada Damar," jawab Bayu sambil menuntun Wulan ke sebuah pohon.

"Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke pantai, tapi karena pantai masih belum bisa di kunjungi, maka aku membawamu ke sini," sambung Bayu lagi.

Keduanya lalu duduk di bawah pohon tepat di tepi bukit.

"Bayu, kenapa duduk di sini, aku takut, kalau terjatuh bagaimana?" tanya Wulan was-was karena memang tempat mereka duduk saat ini tepat berada di atas hamparan laut. jika mereka terjatuh, laut pasti akan langsung menelannya.

"Tenang saja, kau tidak akan terjatuh, kalaupun kau terjatuh kan ada aku. Aku akan langsung menangkap mu," ucap Bayu santai.

"Waktu itu kita kesini pada malam hari, jadi kau tidak bisa melihat dengan jelas pemandangan dari atas bukit, kalau sekarang kau bisa melihat semuanya kan?" tanya Bayu sambil menatap Wulan.

"Hmm." Wulan mengangguk.

"Waktu itu sudah cukup indah, tapi kali ini lebih indah karena memang aku bisa melihat semuanya dengan jelas." Wulan mengedarkan pandangannya ke sekitar bukit, hamparan laut biru di bawahnya terlihat begitu indah.

Wulan tersenyum menikmati pemandangan indah itu. Namun sesaat kemudian senyumnya menghilang saat dari kejauhan ia melihat kondisi sekitar pantai yang porak poranda. Ia menoleh kepada Bayu.

"Kau belum menjawab pertanyaan ku tadi pagi," ucap Wulan karena tiba tiba teringat sesuatu.

"Pertanyaan, yang mana?" Bayu mengernyitkan keningnya.

"Apa kau yang menyebabkan bencana yang terjadi tadi malam?"

Bayu menunduk tanpa menjawab, namun Wulan sudah bisa menebak jawabannya.

"Jadi benar kau yang melakukannya?" Wulan mengulang kembali pertanyaannya.

"Maaf Wulan, aku kesal sekali tadi malam, aku tidak mungkin melampiaskannya pada Damar, jadi aku melampiaskannya pada laut. Aku tidak menyangka akan ada korban," jelas Bayu masih tetap menunduk.

"Apa kau tahu apa yang kau lakukan? secara tidak langsung kau sudah membunuh mereka." Nada bicara Wulan mulai meninggi. Tentu saja, karena ulah Bayu, orang lain harus menanggung akibatnya, bahkan harus sampai kehilangan nyawa.

"Apa kau tahu bagaimana perasaan keluarga yang di tinggalkan oleh mereka?" Wulan menatap lekat ke arah Bayu yang masih tertunduk, tak mampu menjawab.

Wulan yang merasa mulai tersulut emosi berusaha beranjak, ingin menjauh dari Bayu, tapi Bayu dengan sigap memegang tangannya.

"Wulan, tolong maafkan aku, tolong jangan marah padaku, aku mohon ... "

Wulan tidak mengindahkan ucapan Bayu, ia justru melepaskan tangannya yang sedang di pegang Bayu.

"Antarkan aku pulang !" ketus Wulan lalu mulai melangkah.

"Tidak," jawab Bayu cepat.

"Aku tidak akan mengantarmu pulang kalau kau masih marah padaku." Ancam Bayu, sebenarnya ia hanya ingin menggertak Wulan supaya dia tidak marah lagi, namun itu justru membuat Wulan menjadi semakin marah.

"Baiklah kalau begitu, aku akan pulang sendiri !" Wulan benar benar meninggalkan Bayu, ia berjalan menuruni bukit.

Bayu yang tidak menyangka Wulan akan benar benar nekat pun berusaha mengejar.

"Wulan, ayolah jangan seperti itu, aku kan sudah minta maaf." Bayu berusaha membujuk.

"Maaf mu tidak akan bisa membuat mereka hidup kembali," sahut Wulan sambil terus melangkah.

"Tapi semuanya sudah terjadi Wulan, mau bagaimana lagi?"

Wulan tidak mendengarkan ocehan Bayu, dia terus saja berjalan. Gadis itu sudah terlanjur marah pada Bayu.

"Wulaan, sudahlah, jangan di teruskan lagi. Dibawah banyak binatang buas sayang," Bayu mencoba menakut nakuti, sebenarnya bukan menakut nakuti karena memang bukit ini merupakan tempat tinggal atau rumah bagi aneka jenis hewan.

Wulan menghentikan langkahnya mendengar ucapan Bayu. Sebenarnya dia sendiri takut kalau harus berjalan menuruni bukit terjal yang di penuhi tumbuhan dan hewan ini, tadi dia hanya mencoba menggertak Bayu agar mengantarnya pulang.

Wulan tahu betul dia tidak akan mungkin sanggup pulang dengan berjalan kaki menuruni bukit. Tidak akan mudah untuk sampai ke bawah sana, apalagi medan yang harus ia lalui sangatlah ekstrim.

Wulan menoleh menghadap Bayu.

"Kau bahkan lebih menyeramkan dari binatang buas !" Ketus Wulan lagi lalu kembali melangkah, namun baru beberapa langkah Wulan di kejutkan oleh beberapa ekor kera berukuran cukup besar yang sedang bergelantungan di pohon sambil berteriak teriak cukup kencang dengan bahasa mereka, dan bersamaan dengan suara teriakan mereka, burung-burung pun ikut beterbangan.

Wulan yang terkejut sekaligus takut pun segera menghentikan langkahnya. Ia refleks memutar badannya dan berlari menyongsong Bayu yang berada beberapa meter di belakangnya.

"Aaakkh ! Bayu ada kera aku takut !" teriak Wulan sambil berlari memeluk Bayu.

Bayu pun segera mendekap Wulan, ia berusaha menenangkan Wulan yang ketakutan.

"Bukankah sudah kubilang tadi, di bawah banyak binatang buas," kata Bayu lembut seraya mengusap rambut Wulan.

" Itu baru kera, belum ular, beruang, harimau dan masih banyak lagi," sambung Bayu lagi. Kalau tadi dia berusaha menenangkan kali ini dia kembali menakut nakuti Wulan supaya gadis itu tidak melanjutkan niat bodohnya untuk menuruni bukit.

"Sudah tidak apa apa, kan ada aku," melihat Wulan yang masih ketakutan Bayu pun kembali menenangkan.

Wulan melepaskan pelukannya dari Bayu.

"Tapi kenapa mereka berteriak teriak begitu? mengerikan sekali." tanya Wulan setelah merasa cukup tenang.

"Mereka takut padaku, Wulan. Kalau tadi ada serigala, pasti kau akan mendengar lolongan mereka juga," Bayu mencoba menjelaskan.

"Mereka tahu siapa kau Bayu?" tanya Wulan penasaran.

Bayu mengangguk. " Di banding manusia, hewan biasanya lebih bisa mengetahui keberadaan makhluk-makhluk seperti aku."

Wulan manggut-manggut mulai mengerti.

"Apa kau masih ingin pulang?" tanya Bayu hati hati, takut Wulan tersinggung lagi.

"Hmm." Wulan mengangguk.

"Aku ingin istirahat, pikiranku kacau sekali hari ini." Sikap Wulan mulai melunak, bicaranya pun tidak ketus lagi.

"Baiklah, tapi apa kau tidak ingin melihat matahari tenggelam dari atas bukit? kau belum pernah melihatnya kan?"

Wulan menggeleng. "Belum ... pasti sangat indah sekali."

"Pasti, kau mau melihatnya," tawar Bayu lagi.

Wulan mengangguk lagi, senyumnya mulai terlihat mengembang.

"Ayo." Bayu menggandeng tangan Wulan.

"Kasihan binatang binatang itu kalau terus melihatku."

Mereka kembali ke tempat semula. Kebawah pohon tepat di puncak bukit. dimana tidak ada binatang buas ataupun pohon pohon besar di sana, yang ada hanya hamparan sabana dan beberapa pohon yang tidak terlalu besar.

"Duduklah," ucap Bayu saat tiba di tempat semula. Wulan menuruti ucapan Bayu, ia mendudukkan badannya di samping Bayu.

"Kalau kau lelah tidurlah, aku akan membangunkan mu saat matahari terbenam, lagi pula masih lumayan lama."

"Tidak." Wulan menggeleng.

"Aku memang lelah, tapi aku tidak ingin tidur, pemandangan di sini sangat indah, sayang kalau di lewatkan."

"Baiklah kalau begitu, kita akan menikmati pemandangan dari atas bukit sampai matahari terbenam." Bayu menyibakkan rambut yang menutupi wajah Wulan karena tertiup angin.

"Kau sudah tidak marah lagi kan ?" memandang Wulan dengan tatapan sangat teduh.

"Tidak, tapi kau harus janji tidak akan membahayakan nyawa orang lain lagi," pinta Wulan memberikan syarat.

" Tidak akan, selama orang itu tidak mengganggu ataupun menyentuhmu, maka aku juga tidak akan menyakiti mereka," jawab Bayu dengan cukup tegas.

"Aku sangat mencintaimu Wulan, kau tahu itu kan? Aku tidak akan mengampuni siapapun yang berani menyakitimu."

"Iya aku tahu." Wulan mengacak rambut Bayu, membuat si empunya rambut tersenyum senang.

"Kalau kau sendiri yang menyakitiku bagaimana? kau bahkan baru saja menyakitiku, yah walaupun tidak secara langsung." Wulan mengerucutkan mulutnya, sedikit kesal mengingat kejadian tadi.

Bayu tersenyum melihat ekspresi manyun Wulan, gemas sekali melihat Wulan dengan wajah seperti itu.

"Aku kan sudah minta maaf sayang, aku akan berusaha untuk tidak melakukannya lagi." Bayu mengangkat jari telunjuk dan tengahnya, membuat Wulan menatap heran sekaligus geli.

"Dari mana kau tahu tentang kode ini." Wulan meniru Bayu mengangkat jari telunjuk dan tengahnya.

"Aku pernah melihat orang orang melakukannya, pada saat berjanji mereka akan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, seperti ini." lagi lagi Bayu kembali mengangkat kedua jarinya membuat Wulan tidak bisa menahan tawanya.

"Haha ... ya betul betul, kau jeli juga rupanya." puji Wulan.

"Lalu panggilan 'sayang', apa kau juga sering mendengar orang orang menyebutnya?" tanya Wulan lagi.

"Hmm." Angguk Bayu.

"Saat di pantai aku sering mendengar orang orang memanggil pasangannya dengan sebutan sayang, makanya terkadang aku memanggilmu begitu. Kau kan pasanganku, kekasihku."

"Ya benar, panggilan sayang itu memang untuk orang yang kita cintai, tapi kau jangan memanggil sayang pada orang lain selain aku ya?"

"Tidak akan !" Bayu menjawab cepat.

"Karena hanya kau yang aku cintai, tegasnya lagi.

"Terima kasih ... sayaang," sahut Wulan lembut membuat Batu tertegun karena ini untuk pertama kalinya Wulan menyebutnya begitu. Dan kali ini pun Bayu tidak bisa menahan diri untuk memeluk gadisnya itu. Dia mendekapnya erat, merasa sangat bahagia.

"Sekarang tugasku selanjutnya adalah memberitahu pada bibi tentang hubungan kita," ucap Wulan dalam pelukan Bayu.

"Ya betul." Bayu membenarkan ucapan Wulan.

"Kapan kau akan mengatakannya?"

"Mungkin besok pagi, aku akan memberanikan diri untuk mengatakannya. Semoga bibi bisa menerima."

"Semoga Damar dan bibi bisa menerima hubungan kita." Bayu menambahkan.

"Hmm, semoga." Wulan mengangguk sambil tersenyum menatap Bayu. Mereka menunggu datangnya senja dengan terus bercerita sembari menikmati semilir angin dan keindahan alam sekitar dari atas puncak bukit.

Bayu selalu saja mampu mengembalikan senyum Wulan dan membuat Wulan bahagia. Gadis itu bahkan sudah bisa melupakan tentang perasaan sedih dan ibanya kepada Damar.

Cinta Bayu yang luar biasa kuat dan hebat telah membuat Wulan benar benar terpikat. Wulan juga selalu berusaha menutup mata untuk semua perbedaan yang jelas jelas terpampang nyata. Baginya yang terpenting adalah dia nyaman dan bahagia bersama Bayu, itu saja.

Semoga apa yang kau semogakan terkabulkan Wulan !

**

Matahari mulai merangkak menuju ke peraduan, senja telah menjelang, apa yang di tunggu tunggu oleh Wulan mulai terlihat. Pancaran jingga yang memancar menyinari semesta begitu indah.

Wulan beranjak dari duduknya agar lebih bisa menyaksikan keindahan di sekelilingnya. Bayu pun ikut berdiri di belakang Wulan, lalu merangkul Wulan dari belakang. Keduanya tersenyum bahagia menikmati senja yang mempesona.

Bersambung..

1
Edelweiss🍀
sahabat begitu susah nyarinya, aku aja cuma punya satu susah senang dibagi bersama mski sma2 udh bkeluarga ada anak jga
Edelweiss🍀
sahabat begitu susah nyarinya, aku aja cuma punya satu susah senang dibagi bersama mski sma2 udh bkeluarga ada anak jga
Edelweiss🍀
wulannya sungguh cantik jelita, dari manusia smpai dunia lain kepincut sma dia😃
Edelweiss🍀
Bikin penasaran, agak horor nih krna cowo ya dari dunia lain.😂
Raga Senja: Biar gk penasaran, lanjut trs bacanya sampe akhir yaa, jangan lupa baca sequel nya jg😀
total 1 replies
then_must_nanang
kang Damar pancen oye...
Edelweiss🍀
Aku yg gak pernah ke pantai, selain jaraknya jauh jd dlu selalu dilarang oleh alm.bapakku. kalau dulu di sekolah ada acara ke pantai pasti aku gak dibolehin ikut
Edelweiss🍀
untuk bab pertama di karya pertama penulisan sdh cukup rapi, ceritanya jg menarik. lanjut baca pelan2🤭
Ig : Author_fanie.liem: Hai kak perkenalkan saya poicpan dan Gc Bcm, kita di gc akan belajar bersama kaka mentor senior jg kita kemarin sudah mengadakan event tertentu dan mendapatkan reward.


Saya Mau mengajak kaka untuk bergabung bersama kami

caranya hanya wajib follow akun saya pemilik Gc Bcm ya, maka otomatis akan mendapatkan undangan.

Terima Kasih.
total 1 replies
Desi Ragiel Nst
saat aku baca ini.. bulan depan puasa thor 😁 2024
Raga Senja: wah iya, sbentar lagi puasa😊ikuti trs kisahnya sampai akhir ya, karena ada sequel nya jg, seru banget deh pokoknya😊
total 1 replies
Ranny
jangan sampai kau perkosa Wulan damar hanya karena ingin memiliki nya berarti cintamu tak benar² tulus
Ranny
ikhlaskan saja Damar suatu saat kau pasti akan menemukan kebahagiaan mu
Ranny
damar cari masalah nih ceritanya
Ranny
Bayu terlalu posesif terhadap Wulan
Ranny
buat Anjani jadian dengan Damar aja thor
Ranny
Damar tak usah cari bukti lah wong sejak awal Wulan sdh tau siapa sebenarnya Bayu
Ranny
itu gertakan sambel ibu mu Bayu supaya kau segera pulang
Ranny
Anjani sdh tau kalau Bayu tak menyukainya tapi kok tetap maksa ya 🙄
Ranny
waduh kok aq deh deg kan ya menunggu kelanjutan ceritanya 😱🤭
Raga Senja: Trimakasih utk semua dukungannya kk😊ikuti trs kisahnya sampai akhir ya, dan jngan lupa baca sequel nya jg😀
total 1 replies
Ranny
demi cinta apapun bisa di halalkan 🙄
Ranny
Wulan seharusnya bisa lebih tegas lagi
Ranny
namanya juga cinta buta asalkan jangan sambil raba² ya 🤭😱
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!