Kiran, seorang gadis cantik yang sederhana.
Dia tak menyangka bila pernikahannya dengan kekasih pilihannya tak berjalan baik-baik saja.
Begitu banyak lika liku yang harus dia hadapi setelah dirinya menikah dengan Dayat Saputra sang suami juga cinta pertamanya.
Ibu mertuanya yang kejam juga tak hentinya berusaha memisahkan mereka!
Akankah Kiran dapat bertahan dan mempertahankan keluarga kecilnya?
Atau akankah Kiran menyerah?
Penasaran?
Baca selengkapnya kisah mereka disini.....
.
.
Semoga kalian suka😁
Ini cerita pertama author, maaf kalo bahasa dan tanda baca masih kurang, masih proses belajar.
Mohon dukungannya yaa, jangan lupa tinggalin jejak bila kalian suka cerita ini.
Sebelumnya author berterima kasih untuk kalian yang bersedia membaca cerita ini😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellennola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pov Nurma 3
Sebelumya tante bercerita bahwa dia memang tak setuju mas Dayat menikah dengan wanita itu, dan ingin mereka berpisah, tapi selalu saja gagal, entah siapa nama istrinya aku lupa.
Tante tak menyukai wanita itu karna dianggap tak selevel dengannya.
Malah justru Tante memberiku dukungan untuk merebut mas Dayat dari istrinya.
Tante berkata bahwa aku tak perlu khawatir, karna dia akan membantuku untuk bisa kembali bersatu dengan putranya.
Aku seolah tersihir dengan kata-kata Tante, akhirnya mengikuti rencananya.
Rencana pertama kami pun dimulai.
Pertama-tama dengan sengaja tante menelepon mas Dayat, menyuruh mereka untuk segera pulang.
Tentu agar istrinya merasa kesal karna momen terbaik dalam hidupnya diganggu oleh Ibu mertuanya.
Sepertinya rencana tante berhasil, dari nada suara mas Dayat juga kentara bahwa istrinya langsung cemberut saat tau disuruh pulang cepat.
Rencana kedua adalah aku yang tiba-tiba menghubungi mas Dayat, tentu aku juga ingin tau bagaimana perasaannya padaku, apakah masih ada atau telah benar-benar hilang.
Apalagi sudah delapan tahun lamanya aku tak bertemu dengannya dan tak pernah tau bagaimana kabarnya.
Juga agar istrinya lebih mudah masuk perangkap kami.
Lagi-lagi sepertinya aku dan tante berhasil.
Dari chat kami, dapat kusimpalkan bahwa mas Dayat memang masih belum bisa move on dariku.
Bahkan saat aku memintanya bernostalgia mengenai masalalu, mas Dayat masih mengingatnya dengan baik.
Dia terus membalas pesanku.
Membuatku bahagia.
Disela chat kami, aku katakan semua yang terjadi padaku, juga penyesalanku dulu, kenapa lebih memilih mas Tio daripada dia.
Kukatakan bahwa semua yang kulakukan bukanlah inginku, melainkan karna aku terpaksa dan dipaksa orangtuaku.
Kukatakan juga bahwa aku kini telah bercerai dari suamiku.
Aku tak bahagia dengan pernikahan ku, aku juga belum dikaruniai momongan.
Kukatakan segala hal yang terjadi padaku, meski aku tak sepenuhnya jujur padanya.
Tentu saja alasan pokok kenapa aku sampai bercerai dari mas Tio.
Aku tak mungkin kan bila harus berkata bahwa dirinya yang jadi penyebab utama keretakan rumah tanggaku?
Tak mungkin kukatakan bahwa aku benar-benar tergila-gila padanya dan separuh hati melayani mas Tio dulu.
Tentu aku tak mau merendahkan diriku sendiri pada mas Dayat.
Sesekali aku tertawa melihat balasan chat dari mas Dayat.
Dia benar-benar seperti mas Dayat yang dulu, sama sekali tak berubah.
Aku lalu memberanikan diriku untuk meminta waktunya agar kami bisa saling bertemu.
Hening, tak ada jawaban dari mas Dayat.
Apa dia menolakku?
Atau dia sudah tertidur?
Aah sudahlah, biar ku telpon langsung saja mas Dayat besok siang, aku tak peduli soal istrinya.
Siangnya aku benar-benar menghubungi mas Dayat, berdering.
Tak berapa lama terdengar suara wanita.
Jantungku berpacu, matilah, istrinya yang mengangkat ponselnya.
Dari suaranya terdengar akrab, seperti seseorang yang kukenal, tapi aku merasa tak yakin.
Pasti hanya mirip saja.
Dari situ aku baru tau nama istrinya, Kiran, nama yang cantik.
Entah seperti apa wajahnya.
Aku jadi penasaran dengan sosok istri mas Dayat tersebut.
Dia berkata bahwa mas Dayat tengah tidur siang, pantas saja dia tak membalas chat terakhirku.
Aku hanya ber 'oh' ria.
Istrinya juga bertanya apa keperluanku pada suaminya, kukatakan bahwa biar besok saja aku menghubungi mas Dayat kembali.
Ada nada cemburu dari suaranya.
Aku senang pasti setelah ini dia akan bertengkar dengan mas Dayat.
Akhirnya ku akhiri panggilanku kala itu.
Tak lama berselang, mas Dayat membalas pesanku rupanya dia bersedia bertemu denganku dimall tempatnya bekerja.
Dan menyuruhku untuk berganti nomer setelah ini, karna mas Dayat khawatir istrinya curiga.
Aku mengiyakan dan dia juga langsung menarik pesan terakhirnya kembali.
Tak lama, rupanya dia benar-benar memblokir kontakku.
Pastilah karna ketauan Kiran, istrinya itu.
Setelah mas Dayat usai berbulan madu dengan istrinya, kami benar-benar bertemu ditempatnya bekerja.
Tentu dengan diam-diam.
Dia membawaku ketaman tempat terakhir kali kami bersama.
Seharian kami menghabiskan waktu bersama, bernostalgia, mengenang masalalu.
Dia bahkan tega berbohong pada istrinya bahwa dia diharuskan lembur kerja, padahal dia tengah bersamaku.
Mas Dayat juga bercerita bahwa istrinya marah saat tau aku adalah mantan kekasihnya.
Dan memintanya untuk menjauhiku, dia hanya mengiyakan tapi tak dilakukan, buktinya kami bertemu.
Aku jadi kasian pada istrinya, apa yang dia rasakan bila tau suaminya bertemu wanita lain diam-diam dibelakangnya.
Aku tau aku jahat, tapi aku tak punya pilihan.
Aku benar-benar ingin bersanding dengan mas Dayat, apalagi dukungan dari tante Siti semakin membuatku bertekad untuk menyingkirkan istrinya dari hidup mas Dayat.
Aku jadi yakin bila harus memilih antara aku dan dia, pasti aku yakin dia akan lebih memilihku.
Diam-diam kami jadi sering bertemu dimall, mesti tak setiap hari.
Lalu suatu hari mas Dayat bercerita dengan begitu bahagia bahwa istrinya kini tengah mengandung.
Aku merasa iri, harusnya akulah yang mestinya mengandung anak mas Dayat, bukan wanita itu.
Aku berpura-pura ikut bahagia dan memberinya selamat. Padahal yang kurasa, hatiku semakin panas terbakar.
Aku semakin ingin memisahkan mereka berdua.
Aku sungguh tak rela mas Dayat memiliki buah hati dari wanita lain, meski itu istri sahnya sekalipun.
Pokoknya aku tak rela.
Bahkan aku berdoa dengan jahatnya agar terjadi sesuatu pada janin yang dikandung istrinya.
Rupanya doaku benar terkabul, tak lama mas Dayat kembali memberi kabar bahwa istrinya keguguran.
Aku bahagia mendengarnya.
***
Aku tengah berada dirumah mamah kala itu, tiba-tiba malam hari ada yang mengetuk pintu kami keras sekali.
Kami terkejut, kulihat jam didinding sudah lebih dari jam sepuluh malam.
"Siapa yang bertamu malam-malam begini?",
sungguh tak punya aturan pikirku.
Mamah langsung membuka pintu, aku ikut mengekor dibelakang karna penasaran.
Rupanya itu tante Siti, dia menangis sesenggukan, entah apa yang sudah terjadi padanya.
Kami persilahkan tante untuk masuk kedalam.
Mamah langsung bertanya apa yang sebenarnya terjadi padanya kenapa malam-malam begini bertamu apalagi sembari menangis.
Kuambilkan tante minum untuk menenangkannya.
"Tante kenapa, Tan?"
"Apa yang udah terjadi sama Tante?"
"Tante baik-baik aja?", tanyaku.
Hiks, hiks, tangis tante malah semakin menjadi.
"Aa, aku, ka kabur da dari rumah mba mbayu", ujar tante terbata karna masih menangis sesenggukan.
"Kabur, kenapa jeng?"
"Ada masalah apa sampai kabur segala"
"Apa ini ada hubungannya dengan menantu jeng Siti lagi?",
ujar mamah menebak-nebak.
Untung Ayah dan adikku sudah pada tertidur jadi tak ada yang mendengar percakapan kami.
Tante mengangguk kuat, lalu mengepalkan tangannya erat, tangisnya berhenti begitu saja, lalu memulai ceritanya dengan suara yang keras :
"Aku marah mbayu, benar-benar marah pada menantu sialan itu"
"Dia benar-benar pembawa sial, tadinya aku mau menghentikan rencana yang kubuat dengan nak Nurma setelah dia mengandung, dan melanjutkan kembali rencana begitu dia telah melahirkan cucuku, tapi gara-gara dia yang tak hati-hati aku jadi harus kehilangan calon cucuku, aku sungguh benci dia"
"Bagaimanapun anak yang dikandungnya merupakan cucuku juga, tentu aku akan tetap menyayanginya. Meski aku tak menyukai ibunya"
"Tapi memang dasar dia pembawa sial, menjaga calon anaknya saja tak becus, aku yakin dia sengaja ingin kehilangan anaknya. Kalo ngga sengaja mana mungkin gara-gara kucing lompat aja pake acara lompat segala, hhiihhh",
tante terlihat amat geram.
"Aku kesal mbayu, benar-benar kesal dibuatnya"
"Aku tak akan biarkan dia betah dirumah, liat saja nanti"
"Dendamku makin membara, akan kupisahkan putraku dengan wanita miskin itu"
"Mari nak Nurma kita lanjutkan rencana kita lagi"
"Aku sungguh ingin Dayat pisah dengan wanita miskin itu! Udah kere, munafik lagi! Dia selalu mencari muka didepan Bapak, makanya Bapak selalu membelanya"
"Apa mbayu dan nak Nurma tau? Gara-gara menantu pembawa sial itu Bapak bahkan sampe menalak aku tadi, hiks hiks hiks",
kata tante kembali menangis.
"Ya Alloh Tan, sampai segitunya Om membela menantu tante, sampai tega menalak istri sendiri, padahal tante sudah lama kan menikah dengan Om? Sabar yah Tan",
aku mencoba mengompori tante agar tante makin membenci menantunya.
"Iya jeng, itu benar-benar keterlaluan loh, masa jeng sampai ditalak begitu sama suami sendiri! Itu sudah kebangeten jeng, diluar batas",
mamah mengedipkan sebelah matanya padaku ikut mengompori.
"Tante kabur begini, menantu tante kesenengan dong, Nurma yakin pasti dia kini tertawa penuh kemenangan disana"
"Masa tuan rumah terusir dari rumahnya sendiri Tan?",
ucapku makin memanasi.
"Mbayu dan Nurma benar, harusnya aku justru malah tak kabur yah, nanti pasti Kiran sialan itu berpikir aku payah!"
"Enak saja dia adem ayem disana sama Bapak dan Putraku, tak bisa kubiarkan.
"Ya sudah aku tak pulang lagi saja sekarang biar dia tak bisa seenaknya dirumahku, enak saja! Bila harus pergi, tentu dia yang harus pergi dari rumah bukan aku!",
ujar tante sangat berapi-rapi.
Tante hendak beranjak tapi kutahan.
"Eh eh, tante mau kemana? ini udah malem tan!"
"Nurma punya rencana, tante duduklah lagi",
pintaku
Tante kembali duduk. Lalu menatapku dengan serius.
"Begini tan, tante kan juga sudah kadung (terlanjur) kabur dari rumah, jadi biar saja menantu tante bersenang-senang dulu disana, biarkan menantu tante menikmati harinya dulu, anggap saja pemanasan, baru setelah itu kita lancarkan rencana kita selanjutnya, jadi rencana nurma begini, bla bla bla......",
Ku jelas kan semua rencana yang kupunya.
Tante mengangguk setuju sembari menunjukkan senyum mengerikan.
Aku ikut menyeringai kecil, dalam hati aku berdo'a :
'semoga rencanaku berhasil lagi kali ini.'
"Ya sudah kalau begitu hari ini tante menginap saja dulu disini, bolehkan mah?",
tanyaku pada mamah.
Mamah mengangguk setuju, tentu mamah tak akan membiarkan tamunya pulang begitu larut, apalagi tamunya adalah tante Siti, calon besannya.
Ya, hanya mamah yang kuberi tau rencanaku dan tante, sedang ayahku tidak, karna pasti ayahku tak akan mendukungku dalam hal tak baik begini. Pastilah akan melarangku merebut suami orang.
Meski tau aku putrinya begitu menyukai anak tante Siti.
Karna memang ayahku lebih lembut padaku juga lebih sering memberi nasehat baik padaku daripada mamah yang terus-terusan menuntut sesuatu padaku.
"Oke, sekarang tante istirahat dulu disini, baru mulai besok Tante tinggal bersama Nurma saja, toh Nur juga tinggal sendirian dirumah, tante mau kan?"
"Tapi ingat yah, rencana kita bertiga jangan sampai bocor, oke?",
kataku mengingatkan mamah dan tante.
Keduanya mengangguk patuh.
"Ya sudah hari ini jeng tidur saja dulu bareng nurma, besok jeng ikut nurma tinggal bersamanya",
ucap mamah mempersilahkan tante menginap.
Tante mengangguk girang.
Esok harinya, kubawa tante kerumahku.
Tante terpesona dengan rumah yang kumiliki.
"Rumah kamu besar sekali Nur, lebih besar dari rumah Om dan Tante, kamu hebat bisa punya rumah sebesar ini, mana bagus lagi"
"Tante emang ngga salah pilih calon mantu, benar-benar kamu wanita pekerja keras ngga kaya menantu tante yang sialan itu",
ujar tante sembari mengagumi seisi dalam rumahku.
Aku hanya tersenyum.
Selama menginap dirumahku, tante kumasakkan makanan yang lezat, kuperlihatkan toko kue yang kupunya, juga sesekali kubawa tante berlibur bersama.
Tante terlihat amat bahagia selama tinggal bersamaku.
Dia tak hentinya memujiku bahwa aku benar-benar menantu idaman baginya.
Tentu aku bahagia mendengarnya.
Pastilah langkahku akan lebih lancar untuk bisa bersanding dengan mas Dayat bila tante turut campur tangan menyatukan kami, jadi aku tak perlu begitu susah memisahkan pria pujaanku dengan istrinya.
***
Hampir sebulan sudah tante tinggal bersamaku.
Mungkin dia tak enak tinggal menumpang lama-lama padaku, jadi dia memintaku mengantarnya pulang kembali kerumah.
Dia berkata pasti mas Dayat akan senang bila melihatku.
Tanpa tante tau aku sudah sering bertemu putranya dengan diam-diam.
Tante juga berkata bahwa putranya kini semakin tampan saja.
Ya, ku akui mas Dayat memang sudah banyak berubah.
Hampir delapan tahun tak bertemu dia terlihat makin tinggi, makin tampan, juga memiliki bentuk tubuh yang bagus.
Aku benar-benar terpesona saat melihat dia kembali dipertemuan kami waktu itu.
Aku semakin iri pada istrinya, begitu beruntungnya dia dapat menikah dengan mas Dayat, sudah tampan, baik, kerjaan bagus, gagah pula.
Akhirnya kuantar tante pulang kerumahnya.
Kupakai pakaian yang lebih sopan.
Aku harus menjaga image ku sebagai wanita baik-baik.
Aku begitu resah karna pasti istrinya ada dirumah.
Tapi aku coba bersikap biasa saja, aku masuk kedalam sembari menunduk, pura-pura malu tak enak hati.
Lalu terdengar suara memanggilku :
"Loh Suci? Kok kamu bisa datang bersama Ibu?"
Deg, aku kaget, jantungku berdegup amat cepat, aku seperti mengenal suaranya.
Kudongakkan kepalaku memastikan.
"Ran?",
ucapku dalam hati, batinku seketika berkecamuk.
"Apa jangan-jangan istri mas Dayat adalah 'Ran'?",
batinku.
Rupanya tebakanku benar.
Aku benar-benar tak menyangka kalo Ran adalah istri mas Dayat.
Aku sungguh terkejut dengan kenyataan ini.
Mengapa dunia bisa begitu sempit.
Wanita yang ingin kupisahkan dari suaminya rupanya teman baikku sendiri.
Aku tak berpikir Kiran adalah Ran.
Karna aku sendiri tak tau kepanjangannya, kupikir namanya Rani atau Rania, yang kutau dia selalu di panggil Ran saat kami masih bekerja dulu.
Saat dia menikahpun aku datang dihari pertama, pun hanya sebentar karna sibuk mengurusi toko rotiku yang sedang ramai.
Jadi aku tak tau sama sekali rupa calon suaminya.
Aku juga tak begitu memperhatikan siapa nama asli Ran.
Memang kubaca diundangan pernikahannya dulu dia menikah dengan 'Dayat Saputra'.
Tapi kupikir Dayat yang dimaksud pastilah bukan pria yang selama ini kucinta, meski namanya persis dengan mantanku.
Aku tak berpikir sejauh itu, kupikir pastilah hanya kebetulan saja, juga pastinya nama begitu juga banyak yang punya diluar sana bukan?
Pikiranku jadi melayang jauh seketika saat tau Kiran rupanya Ran, sahabatku selama ini.
Aku jadi ingat awal perkenalan kami dulu.
Ran adalah sosok gadis baik-baik, dia memegang teguh ajaran agamanya, dia rajin berpuasa dan juga tak pernah meninggalkan sholat, dia ramah, cantik, tutur katanya halus, badannya tinggi semampai seperti seorang model, dia sungguh terlihat begitu sholehah.
Calon istri idaman.
Meski saat kutanya dia berkata sama sekali belum pernah berpacaran bahkan jatuh cinta.
Tapi aku yakin banyak pria diluar sana yang ingin meminang gadis seperti dirinya.
Untuk akrab dengannya juga tak sulit, karna dia gadis yang supel dan juga baik hati.
Dia selalu menolong temannya bila dalam kesulitan.
Aku sungguh salut padanya.
Orangtua ku juga semua begitu menyukainya, apalagi ayahku, dia begitu bersyukur aku punya teman seperti Ran.
Kata ayah memang harus mencari banyak-banyak teman sepertinya agar aku tak terjerumus pada hal-hal yang tak baik.
Dia juga terlihat sederhana dan selalu apa adanya.
Dia teman yang baik.
Apa saja yang kualami, selalu kuceritakan padanya.
Aku juga pernah bercerita mengenai kekasih yang amat kucintai meski tak pernah kusebutkan namanya dan dia juga tak pernah melihatnya.
Ran adalah tempatku mengeluarkan keluh kesah.
Karna Ran juga aku jadi dekat dengan mbak Eri bosku dulu, setelah kami lama berteman.
Aku juga selalu menjaga komunikasiku dengan Ran bahkan setelah aku tak lagi menjadi rekan kerjanya.
Karna memang dia sosok teman yang baik, aku tak mau kehilangan teman sepertinya.
Kami tak lagi berhubungan hanya setelah aku menikah dengan mas Tio.
Aku jadi gugup, mulai merasa bersalah, pikiran ku jadi kacau balau.
Aku jadi ragu akan melanjutkan rencanaku atau mundur saja.
Aku gamang.
Tapi aku tetap ingin mas Dayat bersatu denganku.
"Apa yang harus kulakukan?",
pikirku dengan pikiran teramat kacau.
Akankah aku tega merebut dan memisahkan sahabatku sendiri dengan suaminya? Sosok pria yang begitu kucinta selama ini?
Apa aku bisa bersikap egois hanya untuk meraih kebahagiaanku, dan menghancur hati sahabatku sendiri?
"Aahh, pusiingg...............",
teriakku menggila sembari menghancurkan barang-barang yang berada didekatku.
Aku frustasii...
.
.
.
.
.
Hai hai, jangan lupa tekan tombol favorit yaa bila kalian suka cerita author.🙏
Jangan lupa tekan like dan vote bila kalian suka part ini😸
Dukungan kalian amat berarti buat author ,biar author lebih semangat Up part selanjutnya.😻
Atas dukungannya author ucapin banyak terima kasih.😇
Tinggalkan jejak kalian okee...😀😀😀😀
#ngayalngarep
ini cerita.a bagus bgt tpi ndk d lanjutin sayanggg