NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Anak Genius
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: DafToon

Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎

Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.

Dulu dipuji, kini dihina.

Dulu didekati, kini dijauhi.

Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Badai Tiba

Satu hari berlalu dengan cepat.

Ketika matahari terbenam di ufuk barat dan cahaya oranye keemasan terakhirnya melukis permukaan Laut Selatan dengan warna yang perlahan memudar menjadi ungu tua, kediaman Keluarga Xiao menyaksikan sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam sejarah panjang keluarga ini.

Sebuah rombongan keluar dari gerbang samping kediaman.

Xiao Ye, Xiao Shao, Xiao Tian, Xiao Xiyun, dan seluruh anggota dari dua garis keturunan yang selama bertahun-tahun hidup di bawah atap yang sama dengan keluarga inti Keluarga Xiao, kini berjalan keluar dengan membawa apa yang bisa mereka bawa dalam satu hari.

Tidak ada kata perpisahan yang diucapkan.

Tidak ada yang menangis di sisi yang pergi maupun di sisi yang tinggal.

Hanya langkah kaki yang menjauh dan gerbang yang ditutup kembali setelah rombongan terakhir melewatinya.

Xiao Tian berhenti sejenak tepat sebelum melewati gerbang, berbalik menatap ke arah kediaman yang ia tinggalkan dengan ekspresi yang menyimpan terlalu banyak hal untuk bisa dibaca hanya dari satu tatapan.

Lalu ia berbalik dan berjalan.

Tidak ada yang melihatnya berhenti kecuali satu orang yang berdiri di atas atap paviliun samping dengan jubah putih yang berkibar diterpa angin sore.

Xiao Ba menatap punggung Xiao Tian yang menjauh tanpa ekspresi yang menghakimi.

Hanya mengamati.

Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah yang lebih jauh, ke arah jalan utama yang menghubungkan kota ini dengan wilayah-wilayah di sebelah utara, ke arah dari mana kabar tentang pasukan Kerajaan Ying datang.

Masih dua hari.

Kemungkinan tiga.

Cukup untuk mempersiapkan apa yang perlu dipersiapkan.

Malam itu, setelah seluruh kediaman menjadi lebih sunyi dari biasanya, Xiao Ba mengumpulkan orang-orang yang akan tinggal.

Di ruang kerja yang menghadap ke Teluk Beira, ia duduk berhadapan dengan Xiao Sun, Penatua Pertama Xiao Xuanzhu, Penatua Ketiga Xiao Shu, Penatua Keempat Xiao Lao, dan Lu Ming.

Enam orang.

Lebih sedikit dari yang diharapkan.

Namun kualitas lebih penting dari kuantitas dalam situasi seperti ini.

"Kakek dan anggota keluarga yang tidak bisa bertarung akan pergi ke rumah kerabat Keluarga Fu di luar kota besok pagi," kata Xiao Ba langsung tanpa pembukaan yang panjang.

Xiao Sun membuka mulutnya untuk menyangkal.

"Kakek sudah berjanji untuk mempercayaiku," ucap Xiao Ba sebelum sang kakek sempat berbicara.

Xiao Sun menutup mulutnya.

"Penatua Pertama Xiao Xuanzhu," Xiao Ba melanjutkan, berpaling ke arah penatua yang paling tua dan paling kuat di antara mereka, "kamu akan menemani Kakek dan memastikan keselamatan mereka."

Xiao Xuanzhu yang selama ini dikenal sebagai orang yang tidak banyak bicara hanya mengangguk singkat.

"Paman Lu," Xiao Ba menatap Lu Ming yang selama ini berdiri di belakang semua orang dengan kesetiaannya yang tidak pernah goyah, "kamu juga pergi bersama Kakek."

"Tuan Muda," suara Lu Ming mengandung sesuatu yang tidak biasa untuk orang yang terbiasa menyembunyikan emosinya, "izinkan saya tetap di sini."

"Tidak." Xiao Ba menatap Lu Ming dengan cara yang tidak memberikan ruang untuk negosiasi. "Kakek membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya di sisinya. Tidak ada yang lebih bisa dipercaya darimu untuk tugas itu."

Lu Ming terdiam selama beberapa detik.

Lalu mengangguk.

"Penatua Ketiga dan Keempat," Xiao Ba kembali ke dua penatua yang menatapnya dengan ekspresi yang sudah cukup terbaca, "kalian tinggal di sini bersamaku. Kita akan menghadapi yang datang bersama."

Xiao Shu dan Xiao Lao saling pandang sejenak, lalu mengangguk bersamaan.

Xiao Sun yang mendengarkan semua itu dari awal hingga akhir akhirnya bersuara.

"Shan'er, apa rencanamu?"

Xiao Ba menatap sang kakek.

"Rencana yang sederhana, Kakek. Biarkan mereka datang. Biarkan mereka masuk. Dan tunjukkan kepada Kerajaan Ying bahwa Keluarga Xiao bukan sesuatu yang bisa dihapuskan hanya dengan mengirimkan pasukan."

"Kamu bertiga melawan dua ratus prajurit dan beberapa kultivator Prajurit Surgawi?" tanya Xiao Lao dengan nada yang tidak menyangkal kemungkinan itu, namun ingin mendengar jawabannya.

"Bukan melawan," jawab Xiao Ba. "Menunjukkan."

Perbedaan antara dua kata itu kecil di permukaan, namun sangat besar di dalam.

Pertemuan itu berakhir tidak lama setelah itu.

Xiao Sun berdiri, berjalan ke arah Xiao Ba yang juga baru saja berdiri, berhenti di depan cucunya.

Ia menatap Xiao Ba dari atas ke bawah dengan cara seorang kakek yang sedang menyimpan setiap detail dari penampilan seseorang yang mungkin tidak akan ia lihat lagi dalam waktu yang lama.

Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan sejak Xiao Ba masih sangat kecil.

Ia meletakkan tangannya di pundak cucunya.

"Kakek bangga padamu," ucapnya pelan.

Xiao Ba tidak menjawab dengan kata-kata.

Namun matanya mengandung sesuatu yang sudah cukup.

Dini hari, jauh sebelum fajar menyingsing, Xiao Sun dan rombongan kecil yang menyertainya meninggalkan kediaman melalui jalur tersembunyi yang hanya diketahui oleh anggota keluarga inti.

Xiao Ba berdiri di ambang pintu tersembunyi itu, menatap punggung sang kakek yang berjalan menjauh diiringi oleh Xiao Xuanzhu dan Lu Ming.

Setelah mereka menghilang di kegelapan, ia menutup pintu itu.

Lalu berbalik menghadap kediaman yang kini sebagian besar sudah dikosongkan.

Hanya ia, Xiao Shu, dan Xiao Lao.

Dan sebuah kediaman besar yang mendadak terasa jauh lebih lapang dari yang biasanya.

Pagi hari berikutnya berlalu dengan tenang yang tidak alami.

Xiao Ba menghabiskan paginya dengan duduk di teras kediaman yang menghadap ke Teluk Beira, membiarkan indra spiritualnya yang kini berada di level Prajurit Surgawi Tingkat 2 Menengah menyapu kawasan sekitar kota dengan jangkauan yang sudah jauh melampaui kemampuan siapa pun yang mungkin akan datang untuk mengawasi kediaman ini.

Ia mendeteksi beberapa aura yang sudah mulai bergerak di pinggiran kota sejak pagi.

Pengintai.

Kerajaan Ying sudah mengirimkan pengintai sebelum pasukan utama tiba, memastikan kondisi target sebelum bergerak.

"Mereka lebih cepat dari perkiraan," gumam Xiao Shu yang duduk di sebelahnya, juga sudah merasakan aura-aura itu dengan indra spiritualnya yang lebih terbatas.

"Mereka ingin menyelesaikan ini sebelum ada yang bisa membocorkan informasi ke luar," jawab Xiao Ba.

Ia tidak khawatir dengan pengintai itu.

Biarlah mereka mengintai.

Yang perlu dikhawatirkan adalah apa yang akan mereka laporkan kepada komandan pasukan mereka, dan apakah laporan itu akan membuat komandan itu mempertimbangkan kembali misi yang sudah direncanakan.

Kemungkinan kecil.

Namun selalu ada.

Menjelang sore hari kedua sejak rombongan Xiao Sun pergi, indra spiritualnya menangkap sesuatu yang berbeda dari aura-aura pengintai yang sudah ia pantau sejak pagi.

Sesuatu yang lebih besar sedang mendekati kota.

Jauh lebih besar.

"Mereka datang," ucapnya pelan.

Xiao Shu dan Xiao Lao yang tadinya masing-masing sibuk dengan urusan sendiri langsung berdiri.

"Sekarang?" tanya Xiao Lao.

"Satu jam lagi. Mungkin kurang."

Xiao Ba berdiri dari tempat duduknya, meregangkan tubuhnya sekali, lalu meletakkan tangan di gagang pedang yang tergantung di pinggangnya.

Pedang yang baru ia dapatkan dari perbendaharaan kota.

Pedang yang belum pernah ia keluarkan dari sarungnya sejak ia menerimanya.

Malam itu, langit di atas Kota Beira berwarna merah gelap yang tidak biasa ketika pasukan Kerajaan Ying akhirnya memasuki kota melalui gerbang utara.

Dua ratus dua puluh prajurit berjalan dalam formasi yang rapi dan efisien, diiringi oleh lima orang kultivator bertunggang kuda di barisan terdepan yang auranya tidak perlu diidentifikasi untuk diketahui levelnya.

Prajurit Surgawi, semuanya.

Yang terdepan, seorang pria berusia sekitar tiga ratus tahun dengan armor berwarna hitam pekat dan tanda pangkat yang menunjukkan posisinya sebagai komandan rombongan, membawa serta ekspresi seseorang yang sudah melakukan misi seperti ini cukup banyak kali untuk tidak lagi merasa perlunya terlibat secara emosional.

Misi. Eksekusi. Selesai.

Begitulah cara kerja orang seperti dia.

Rombongan itu bergerak melalui jalanan kota yang sudah dibersihkan dari penduduk yang dengan naluri kolektif entah bagaimana tahu bahwa malam ini bukanlah malam yang baik untuk berada di luar.

Toko-toko tutup. Rumah-rumah mengunci pintu. Jalanan yang biasanya masih ramai bahkan di malam hari kini sunyi seperti kota yang sudah lama ditinggalkan.

Hanya satu tempat yang tidak terlihat seperti sedang mempersiapkan diri untuk disapu.

Kediaman Keluarga Xiao di atas Bukit Karang, yang lampunya masih menyala di beberapa tempat dan gerbangnya tidak dikunci.

Komandan rombongan mengerutkan kening tipis melihat itu.

Ia sudah bersiap menghadapi pintu yang terkunci, berlapis segel spiritual, dengan seluruh penghuni yang bersembunyi di dalam. Itulah yang biasanya ia hadapi ketika mendatangi keluarga yang sudah mengetahui kedatangannya.

Namun kediaman ini terlihat seperti sedang menunggu.

Ia mengangkat tangan, memberi sinyal kepada rombongannya untuk berhenti di depan gerbang kediaman.

Gerbang itu terbuka dari dalam.

Dan sesosok pemuda berambut hitam panjang dengan jubah putih bersih berdiri di tengah gerbang itu, menatap ke arah dua ratus dua puluh prajurit dan lima kultivator Prajurit Surgawi yang berdiri di hadapannya tanpa ekspresi yang menunjukkan bahwa ia melihat ketidakseimbangan apa pun dalam situasi itu.

Komandan itu menatap pemuda itu selama beberapa detik.

"Ini kediaman Keluarga Xiao?" tanyanya, meski ia sudah tahu jawabannya.

"Ya," jawab Xiao Ba.

"Di mana Patriark Xiao Sun?"

"Tidak di sini."

Komandan itu mengerutkan kening sedikit lebih dalam dari sebelumnya. "Kamu siapa?"

"Xiao Ba. Tuan Muda Keluarga Xiao."

Sebuah nama yang komandan itu kenali dari briefing yang diterimanya sebelum berangkat.

Anak yang akar spiritualnya sudah dihapus. Anak yang dantiannya sudah hancur. Anak yang menurut semua laporan intelijen yang ia terima seharusnya tidak lebih dari seorang pemuda cacat tanpa kemampuan apa pun.

Namun pemuda yang berdiri di depannya sekarang tidak terlihat seperti apa pun yang ada dalam deskripsi laporan itu.

"Kami memiliki perintah resmi dari istana Kerajaan Ying," ucap komandan itu, mengeluarkan gulungan segel resmi yang mengandung aura kerajaan yang cukup untuk membuat sebagian besar orang langsung tunduk.

"Aku tahu," jawab Xiao Ba. "Isinya juga."

Komandan itu diam sejenak.

"Kalau kamu tahu, kamu tahu bahwa tidak ada pilihan yang menguntungkan bagimu malam ini."

Xiao Ba menatap komandan itu dengan cara yang sama tenangnya sejak ia membuka gerbang tadi.

"Ada satu pilihan yang selalu tersedia," ucapnya. "Pilihan yang tidak selalu dipertimbangkan oleh orang-orang seperti kamu."

"Pilihan apa itu?"

"Kembali ke istana dan melaporkan bahwa misi ini tidak bisa diselesaikan dengan cara yang direncanakan."

Komandan itu memandangi pemuda di depannya selama beberapa detik.

Lalu ia tersenyum, senyum yang tidak mengandung kehangatan.

"Anak muda, kami dua ratus dua puluh orang. Kamu sendirian."

"Tidak sepenuhnya sendirian," koreksi Xiao Ba. "Ada dua orang lagi di dalam. Namun benar bahwa jumlah kami jauh lebih sedikit dari kalian."

"Dan kamu masih berdiri di sana seolah itu bukan masalah."

"Karena memang bukan," jawab Xiao Ba sederhana.

Komandan itu melirik ke kiri dan kanannya, memberi sinyal kepada lima kultivator yang menyertainya untuk maju ke depan dan memproses situasi ini.

Lima aura Prajurit Surgawi memancar keluar secara bersamaan, menciptakan tekanan yang terasa seperti langit yang tiba-tiba turun beberapa meter, menekan ke segala arah.

Di dalam kediaman, Xiao Shu dan Xiao Lao yang berdiri agak di belakang Xiao Ba merasakan tekanan itu menghantam tubuh mereka.

Namun pemuda yang berdiri di gerbang paling depan tidak bergerak.

Tidak satu milimeter pun.

Ia hanya berdiri.

Dan dari tubuh yang terlihat begitu kecil di depan rombongan besar itu, perlahan, sangat perlahan, sesuatu mulai memancar.

Bukan aura yang meledak keluar seperti yang biasanya dilakukan kultivator untuk menunjukkan kekuatan.

Melainkan sesuatu yang lebih halus dari itu.

Sesuatu yang turun bukan dari atas, melainkan naik dari dalam, dari tempat yang sangat dalam, dari lapisan yang lebih mendasar daripada sekadar alam kultivasi atau kekuatan fisik.

Beberapa prajurit di barisan terdepan tanpa sadar mundur setengah langkah.

Kuda-kuda yang ditunggangi lima kultivator itu mulai gelisah, kaki-kaki mereka menginjak-injak tanah secara tidak beraturan seolah naluri hewani mereka mendeteksi sesuatu yang tidak bisa diproses oleh akal mereka.

Salah satu dari lima kultivator itu, yang duduk paling dekat dengan gerbang, merasakan sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Aura yang keluar dari pemuda itu bukan aura Prajurit Surgawi biasa.

Bahkan bukan aura dari alam yang ada di peta kultivasi yang ia ketahui.

Ini adalah sesuatu yang berbeda dari semua yang pernah ia rasakan selama ratusan tahun hidupnya.

Sesuatu yang terasa seperti milik dunia yang berbeda dari dunia tempat mereka semua berpijak saat ini.

Komandan itu tidak mundur.

Namun untuk pertama kalinya dalam misi ini, sesuatu di dalam dirinya yang sudah lama tidak bersuara mulai berbisik.

"Siapa kamu sebenarnya?" tanyanya, suaranya tidak lagi mengandung kepercayaan diri yang tadi terasa absolut.

Xiao Ba tidak menjawab pertanyaan itu.

Yang ia lakukan justru hal yang paling tidak diantisipasi oleh siapa pun yang hadir di sana.

Ia meletakkan tangannya di gagang pedang di pinggangnya.

Bukan mencabutnya.

Hanya meletakkan tangannya di sana.

Dan dari sentuhan itu, dari koneksi antara telapak tangannya dan gagang pedang yang mengandung warisan ribuan tahun, sesuatu yang sudah tidur di dalam pedang itu mulai terbangun.

Cahaya biru gelap yang sangat tipis mulai memancar dari sarung pedang, naik ke atas seperti asap yang bercahaya, bergerak mengikuti pola-pola gelombang yang terukir di permukaan sarung itu.

Bukan serangan.

Bukan demonstrasi kekuatan yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti.

Hanya sebuah pedang yang akhirnya bertemu kembali dengan tangan yang seharusnya memegangnya, setelah ribuan tahun berpindah-pindah hingga akhirnya berakhir di sini.

Namun efeknya terhadap semua yang menyaksikan itu jauh melampaui demonstrasi kekuatan mana pun yang bisa dirancang dengan sengaja.

Komandan itu menatap cahaya biru gelap yang memancar dari pedang itu dengan ekspresi yang untuk pertama kalinya sejak ia tiba malam ini benar-benar tidak bisa ia kendalikan.

Ia mengenali cahaya itu.

Bukan dari pengalamannya sendiri.

Melainkan dari catatan-catatan kuno yang ia baca ketika masih muda, catatan-catatan yang dianggap lebih dekat ke dongeng daripada sejarah oleh sebagian besar orang, namun yang selalu membuatnya merasa ada kebenaran yang tersimpan di balik semua itu.

Catatan tentang sebuah senjata dari dunia yang lebih tinggi.

Senjata yang tidak seharusnya ada di dunia bawah ini.

Ia melirik ke kiri dan kanannya.

Empat kultivator yang menyertainya semuanya sudah menunjukkan ekspresi yang sama, campuran antara pengakuan dan ketidakmampuan untuk sepenuhnya memproses apa yang sedang mereka lihat.

Komandan itu menutup matanya selama satu detik.

Lalu membuka kembali.

Ia mengangkat tangannya.

Bukan untuk menyerang.

Melainkan untuk memberi sinyal kepada seluruh rombongannya untuk berhenti.

"Mundur," ucapnya pelan, cukup untuk didengar oleh orang-orang di sekitarnya.

Salah satu prajurit di belakangnya terkejut. "Komandan?"

"Mundur," ulangnya, kali ini sedikit lebih keras. "Kita kembali ke kemah. Laporan dikirimkan ke istana terlebih dahulu sebelum langkah selanjutnya diambil."

Ada keributan kecil di antara barisan prajurit yang tidak sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi.

Namun komandan itu sudah cukup lama memimpin untuk mengetahui kapan sebuah situasi sudah melampaui apa yang bisa ia tangani dengan wewenang yang diberikan kepadanya.

Ini adalah salah satu momen itu.

Rombongan pasukan Kerajaan Ying mulai bergerak mundur, perlahan pada awalnya, lalu dengan kecepatan yang semakin meningkat seiring mereka menjauhi gerbang kediaman Keluarga Xiao.

Xiao Ba berdiri di gerbang itu, menatap rombongan yang menjauh, tangannya masih di gagang pedang.

Cahaya biru gelap dari sarung pedang itu perlahan mereda kembali ke keheningan.

Xiao Shu yang berdiri di belakangnya mengembuskan napas yang sudah ia tahan cukup lama.

"Mereka pergi," ucap Xiao Lao dengan nada yang masih tidak sepenuhnya percaya.

"Untuk sementara," kata Xiao Ba, melepaskan tangannya dari gagang pedang. "Mereka akan melaporkan ini ke istana. Keputusan selanjutnya ada di tangan seseorang yang lebih tinggi dari komandan lapangan itu."

Ia berbalik dari gerbang, berjalan kembali ke dalam kediaman.

"Kita punya waktu," ucapnya sambil berjalan, "tapi tidak banyak. Manfaatkan dengan baik."

Di langit di atas Kota Beira, bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu di balik awan malam yang perlahan tertiup oleh angin laut.

1
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
☕️☕️
Jojo Shua
😍
Jojo Shua
☕️
Dafa Faiha Roshiq: kasih tip dikit dikit dong
total 1 replies
Jojo Shua
😍
syarif ibrahim
akankah waktu berpihak kepada xiao Ba..... 🤔🤔🤔💪
Dafa Faiha Roshiq: pasti berpihak kan gw authornya
total 1 replies
Jojo Shua
😄😄✅️
Jojo Shua
😍
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
😍
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
☕️
Jojo Shua
😍
Dafa Faiha Roshiq: kasih penilaian nya dong
total 1 replies
sibaweh abduh
nice thor
Dafa Faiha Roshiq: Terima kasih bossku
total 1 replies
Jerry K-el
bagus ceritanya mengalir,tdk bertele-tele.
pertahankan👌
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Dafa Faiha Roshiq: done yahhh
total 1 replies
Dafa Faiha Roshiq
teman aku butuh penilaian mu
Dafa Faiha Roshiq
Gimana masih ada yang kurang tidak bro
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!