"Kenalkan dia pacarku!"
Tasya menghadiri pesta pernikahan temannya, dia tidak tau jika kedatangannya kepesta tersebut hanya untuk di permalukan oleh sang mempelai wanita yang tak lain orang yang mengundangnya.
Saat pesta itu berlangsung, tiba-tiba ada seorang pria tak di kenal menarik tangannya, pria kaya yang tampan membawanya kehadapan pasangan pengantin baru.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia di Perkenalkan sebagai pasangan pria tidak di kenal tadi.
Bagaimana kelanjutannya? silahkan baca yah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon israningsa 08., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulainya!
Tasya masih tercengang, "Ada apa dengannya?" ia heran memandangi punggung Rendi yang semakin menjauh dari pandangannya.
Tasya berdecak mengalihkan padangan mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas lalu membawanya ke kamar.
Di sisi lain Rendi merana memikirkan sikapnya pada Tasya tadi, "Apa sikapku tadi keterlaluan? Ahh tidak mungkin! Dia tidak mungkin marah hanya karena ucapanku kan?"
Rendi mondar-mandir di samping ranjangnya, ia bergumam bertanya-tanya apakah Tasya marah atau tidak.
"Tunggu! Kenapa aku peduli soal ini? Bukankah itu lebih baik agar Tasya tidak terlalu dekat denganku? Ahh sudahlah... Aku harus bekerja sekarang!" Rendi berusaha untuk tidak memikirkannya lagi.
Dia bergegas untuk berangkat menuju kantornya, memasukkan beberapa berkas yang ia butuhkan kedalam tas, memandangi dirinya di balik pantulan cermin guna memastikan tak ada kesalahan yang melekat pada tubuhnya.
"Sempurna!" Rendi merenggangkan tangannya setelah mengusap kening yang tampak menawan, memuji dirinya yang terlihat begitu perfect.
"Kenapa kau terlihat sangat tampan Rendi? Ohh cermin kau adalah benda paling beruntung karena bisa melihat ketampananku setiap hari!"
Lagi-lagi Rendi seperti orang aneh yang bicara dengan dirinya sendiri di depan cermin.
Setelah puas memuji dirinya, Rendi keluar dari kamar, menoleh ke arah kamar Leon namun di sana tampak begitu sunyi.
Sungguh malas bagi Rendi untuk pergi menemui kakaknya walau hanya untuk berpamitan.
Sudah bisa di pastikan jika dia pergi maka hanya ada kecanggungan antara mereka.
Rendi memilih untuk pergi saja, dia berjalan menuju pintu utama tanpa sarapan terlebih dahulu.
Clek....
Saat langkah Rendi tepat melewati pintu kamar Tasya, perempuan itu kebetulan keluar dari kamarnya.
Rendi berhenti ketika Tasya menatapnya, pandangan itu bertemu beberapa saat hingga Tasya mulai tersadar saat rauk wajah Rendi yang begitu datar.
"Kamu mau kemana sepagi ini?" tanyanya mengernyit.
"Bekerja!" Rendi menjawabnya datar
"Ohh kebetulan aku juga harus pergi bekerja sekarang! Kalau begitu tunggu, aku ambil tasku! Aku numpang yah... Di mobil kamu!" tukas Tasya namun Rendi tak menjawabnya.
Tasya masuk kedalam kamar untuk mengambil tas, buru-buru dia memasukkan ponselnya, lalu keluar.
"Ehh Rendi...." betapa kagetnya Tasya saat Rendi sudah tidak ada di depan kamarnya, ia celingak-celinguk menatap seisi rumah.
"Kemana dia?" Tasya terus bertanya-tanya.
"Rend! Kau dimana? Ayo kita pergi sekarang!" Teriaknya menggema di memenuhi ruangan tapi sosok Rendi belum juga muncul.
Brum... Brum....
Tiba-tiba terdengar suara mobil meninggalkan rumah, "Apa itu Rendi!" Tasya segera berlari menuju pintu utama.
Ternyata itu memang mobil orang yang ia cari, "Rendi, tunggu aku!" Tasya berteriak sekeras-kerasnya tetapi pemilik mobil tersebut tampak tidak perduli padahal dia melihat Tasya berlari lewat pantulan cermin spionnya.
Rendi melaju dengan sangat cepat, sementara Tasya dengan nafas memburu berdiri di depan pagar guna mengatur nafasnya.
"Kenapa dia tidak menungguku? Apa dia sangat buru-buru sampai pergi begitu saja?"
Dia hanya bisa menerka-nerka, lagian Rendi tadi tidak pernah menyetujui ucapan Tasya.
***
Dalam perjalanan Rendi memukul-mukul setir mobilnya, Lagi-lagi dia merasa pusing karena Tasya.
Niatnya ingin menjaga jarak, tapi rasanya itu sangat sulit untuk di lakukan, "Kenapa aku tidak menunggunya saja? Apa sebaiknya aku kembali dan menjemputnya? Ahh Tidak-tidak!" gumamnya berfikir keras.
Jujur, dalam hatinya yang paling dalam dia ingin sekali memutar arah, namun sayang tangan dan bibir itu tidak sejalan dengan keinginan hatinya.
Rendi terus melaju hingga sampai di gedung perkantorannya, terlihat dia memasuki area parkiran, "Selamat pagi pak!" sapa seorang tukang parkir dengan sopan pada Rendi.
Ia hanya tersenyum singkat sebagai balasan, kemudian berjalan menuju Lobby.
Rendi adalah seorang CEO yang terkenal dingin di perusahaan setiap kali ada karyawan yang menyapa dia tidak menyahut malah menggerakkan sedikit kepalanya sebagai balasan dengan mimik wajah yang datar.
Karyawan wanita selain yang berkepentingan di larang berada sangat dekat dari ruang CEOnya, Rendi begitu sangat kompeten dan suka kebersihan di kantornya tapi kenyataan berbanding terbalik ketika di kamarnya.
Dengan kaki jenjang itu, dia sampai di ruang Kerjanya, Rendi meletakkan tas dengan kasar, duduk menyilang kaki sambil menggaruk dahinya.
"Doni! Kemari kau!" Rendi memanggil dari telfon seluler yang terhubung langsung keruang sekretarisnya hanya dengan sekali menekannya.
Clek....
"Ada apa bos?" dalam hitungan detik Doni muncul dari balik pintu, dan benar saja dia berlari begitu cepat sebab dia sangat tau dari suara Rendi, pasti bosnya sedang kesal akan sesuatu.
Doni bersikap setenang mungkin, berjalan menuju bosnya, "Apa ada rapat hari ini?" tanyanya dari ekor mata.
"Tidak ada bos, tapi hari ini ada 2 Client yang ingin bertemu dengan bos untuk membahas kerja sama!" jawab Doni.
Rendi memijit-mijit pelipisnya yang terasa berdenyut, "Batalkan semuanya, aku sedang tidak mood bertemu seseorang!" Titah Rendi terdengar malas.
"Tapi bos! jika bos tidak menemui mereka kita akan rugi besar! Ehh kira-kira 2 milyar boss!" Doni membujuk mengatakan nilai nominalnya.
"Aku tidak perduli soal uang, kalau aku bilang tidak mood dan tidak ingin menemui orang maka lakukan itu!" tegas Rendi yang kini menyenderkan dagu di telapak tangannya.
Doni mulai kewelahan membujuknya, ia mulai memikirkan siasat, "Ehh begini bos! Bayangkan Bagaimana jadinya jika suatu saat uang bos itu habis!"
"Tidak mungkin habis!" balasnya datar.
"Bayangkan dulu bosku!"
"Aku tidak mau membayangkannya! sudahlah... Kau keluar saja, kau malah semakin membuatku pusing!" Rendi mengerutkan alisnya kesal mengusir Doni.
"Keterlaluan!" batin Doni. "Lebih baik bos fikirkan lagi yah.... "
"Aku bilang keluar!!" Rendi mengangkat sebuah dokumen mengambil ancang-ancang untuk melempar doni.
"Aww... Jangan di lempar bos... Sakit! Saya akan keluar oke... !" serunya.
Doni berbalik sambil berfikir, "Siapa yang berani kali ini merusak mood bosku? Berani sekali dia, dia yang berbuat aku yang jadi korban hiks!" Doni berjalan meratapi nasibnya sebagai asisten.
di awal mh sikap lu jutek bnget sumpah ehh skrg cereewett minta ampun🤣🤣🤣
kn ktanya lg pda jd TKI ga pulg2
orng tua Rendi trllu egois
Rama belum kenal betul sifat dan kelakuan Nadya
Leon aneh.....