Adira nur faiza seorang wanita yang berusaha tegar dan sabar dalam menghadapi cobaan hidupnya.
Kehidupan rumah tangganya hancur karena orang ketiga. saat ia akan memulai hubungan dengan orang lain kembali ia dikhianati. dibalik itu ia bersyukur karena merasakan kasih sayang seorang kakak.
Akankah ada seseorang yang benar- benar setia padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 28
"Dira yang kemarin liburan sama pak boss itu mantannya ya? kok kamu diam aja?" tanya Mira saat mereka sedang menikmati makan siang.
"Iya Dir, emang kamu nggak cemburu?" tanya Nita teman Dira lainnya.
"Andri udah cerita kok dia ke malang sama Lusi dan putrinya Amel," jawab Dira beeusaha tenang padahal hatinya sedang gelisah.
"Tapi kamu harus tetap waspada, bagaimanapun mereka pernah ada rasa, apalagi mereka ada anak, makin erat ikatannya," ucap Nita membuat Dira semakin tak tenang, apalagi sejak semalam Andri tidak menghubunginya, pesannya pun yak dibalas.
****
Karena perasaannya tak tenang Dira memutuskan izin pulang cepat, pukul 5 ia pulang menuju rumah Andri, ia penasaran kenapa sampai saat ini andri tak menghubunginya.
Tok tok tok
"Assalamualaikum," ucap Dira.
"Waalaikumsalam," jawab Zahra adik Andri, Dira tersenyum,
" Masuk kak, aku panggilin mama dulu," ucap Zahra.
Zahra masuk kedalam memanggil mamanya, Dira duduk diruang tamu, tiba- tiba ia ingin buang air kecil membuatnya masuk kedalam, Dira memang sudah beberapa kali berkunjung kerumah Andri jadi tidak heran ia tau seluk beluk rumah ini, sementara didapur Zahra berdebat dengan mamanya.
"Ma, didepan ada mbak Dira, gimana dong? pasti mbak Dira nyariin mas Andri? pasti mas Andri nggak cerita kalau menginap disana?" ucap Zahra.
"Terus mama harus ngomong gimana? kakakmu juga nggak bales pesan mama," ucap Nanik mama Andri.
"Mama aja yang ngomong sama mbak Dira, aku takut menyakiti mbak Dira," ucap Zahra.
"Iya ayo kedepan, ini kamu bawa tehnya," ucap Nanik.
Tanpa mereka sadari ternyata Dira mendengar obrolan mereka, ia kembali keruang tamu sebelum mereka menyadarinya.
"Dira," ucap mama Andri dengan tersenyum.
"Tante," Dira berdiri dan mencium punggung tangan mama Andri.
Mereka mengobrol tanpa ada bahasan tentang Andri, Dira tak ingin calon mertuanya itu tak nyaman akhirnya ia memutuskan tak menanyakannya, nanti biar Andri yang menjelaskannya pikir Dira, hingga masuk waktu maghrib Dira ingin pulang tapi mama Andri tak mengizinkannya sempat terjadi perdebatan dan Dira akhirnya mengalah ia sholat berjamaah dirumah Andri, mama Andri juga mengajak Dira makan malam bersama, Dira pun mengiyakan,
"Masakan tante emang nggak pernah beubah tetap lezat," ucap Dira sambil mengacungkan jempolnya.
"Kamu bisa saja, masakan kamu juga tak kalah enak, tante suka banget tuh ayam kecap buatan kamu emmm... lezaaatt tante ngebayanginnya aja udah ngiler," ucap Nanik dengan tertawa.
"Om lebih suka pepes buatan kamu," ucap Irfan ayah Andri, ia sudah pulang kerja 30 menit yang lalu.
Keluarga Andri memang sangat menyayangi Dira, selain sudah mengenal dari dulu, Dira anak yang sopan dan sangat menghormati orang baik tua maupun muda, hubungannya dengan keluarga Andri juga sudah sangat dekat, ia juga sering memasak bersama mama Andri.
Saat mereka menikmati makan malam yang hampir habis, seseorang datang membuat mereka terdiam, hingga suasana menjadi kaku dan canggung.
"Assalamualaikum," ucap Andri.
"Waalaikum salam," jawab mereka serentak, Dira menoleh dengan tersenyum mencoba terlihat baik- baik saja.
Deg
Melihat senyum Dira membuat rasa bersalah Andri semakin besar.
"Wah pada ngumpul nih, kamu dari restorant kesini Dir kok masih pakek baju kerja," tanya Andri pada Dira mencoba untuk tenang padahal hatinya kini sedang gelisah.
"Iya," jawab singkat Dira sambil tersenyum manis.
Tak ada lagi yang berbicara hanya terdengar suara sendok beradu dengan piring, setelah nasi dipiring Dira habis ia berpamitan pulang.
"Tante, om, Andri, Zahra aku pamit ya? udah malam Nara pasti udah nungguin," ucap Dira dengan tersenyum.
"Aku anterin ya Dir?" tawar Andri.
"Nggak usah aku bawa motor kok, aku pulang dulu," ucap Dira cepat, ia ingin segera pergi, ia beranjak dari kursi, ia mencium punggung tangan mama dan papa Andri, lalu cipika cipiki dengan Zahra selanjutnya ia bersalaman dengan Andri.
"Assalamualaikum," ucap Dira meninggalkan rumah itu.
"Waalaikumsalam," jawan mereka serempak.
Setelah kepulangan Dira, mereka sibuk dengan kegiatan masing- masing, tak ada yang bertanya pada Andri tentang acaranya di malang, Zahra dan mamanya membersihkan sisa makan malam sedangkan ayah memilih masuk kamar, Andri pun tak ada niat untuk menceritakannya..
****
"Bagaimana Lusi apa kamu sudah bisa menarik hatinya lagi?" tanya Roni.
"Pah, kita ketemu aja baru 2 hari gimana aku bisa menarik hatinya? apalagi sekarang dihatinya sudah ada wanita lain," kesal Lusi.
"Kamu harus berusaha lebih keras lagi," tegas Roni.
"Ini juga aku lagi usaha pa!" ucap Lusi.
"Hari jumat suruh Amel telphone papanya, suruh dia kesini atau kau ajak jalan- jalan atau apalah terserah padamu, yang penting jangan biarkan Andri ada waktu untuk wanita itu saat weekend," ucap Roni.
"Iya pa," ucap Lusi.
.
.
.
.
*Jangan lupa tinggalkan jejak
Like, vote, komen
tekan favorit juga
Terima kasih.
Love you*
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu