Zia dan Zion, yang memiliki keterikatan sejak kecil, terpisah cukup lama lalu bertemu lagi saat salah satunya menjadi hantu. Bersama mereka menghadapi dan mengungkap peristiwa-peristiwa ganjil yang terjadi di sekitar mereka. Akankah akhirnya mereka bisa bersama menyelesaikan semua misteri yang mewarnai hidup mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Hubungan Masa Lalu
Zia masih tercenung di dalam taksi yang membawanya pulang. Malam itu ia pergi dari rumah Ardi Subrata tanpa permisi.
Zion yang duduk di samping Zia tampak berulang kali menghela nafas. Sementara Melan memilih duduk di atas taksi karena enggan mengganggu Zia dan Zion.
"Jiaaah baru dicium sekali sudah linglung."
Sindir Zion sinis.
Mendengarnya Zia jadi melirik kesal.
Bukan. Bukan itu yang sedang Zia pikirkan. Meskipun sesekali hal itu mengganggu denyut jantungnya, tapi pikirannya masih cukup sehat jika hanya digunakan untuk memikirkan hal-hal semacam itu.
Zia yang enggan dikira gila oleh supir taksi memilih menulis di hp nya.
"Aku ingat wajah wanita yang aku lihat di hotel."
Kata Zia lewat tulisan.
Zion menatap Zia seolah bertanya, wanita apa? Siapa?
"Hantu wanita yang memporak porandakan pesta Veronika."
Tulis Zia lagi.
Zion mengernyitkan kening.
Zia kemudian menatap nanar jalanan ibu kota lewat kaca taksi. Ia menunda membahasnya lagi.
Selang sepuluh menit sejak pembicaraan dengan Zion lewat tulisan itu berakhir, taksi akhirnya sampai di depan rumah Zia.
Zia membayar argo lalu turun dan langsung menuju rumahnya.
Dua hantu yang kini mengikuti Zia ke manapun Zia pergi melayang di belakangnya.
Tapi, begitu akan masuk, Melan terpental, ia tak bisa memasuki rumah Zia.
"Kamu kenapa ngga bisa masuk?"
tanya Zia pada Melan yang meringis sambil merangkak.
"Entahlah Zi, rumahmu ada yang jaga."
Kata Melan.
Zia menghela nafas.
"Aku di luar saja,"
Kata Melan akhirnya mengalah.
Zia akhirnya masuk ke dalam rumah, tak tega sebetulnya, tapi bagaimana lagi, memang rumah itu sudah dipagar mantra oleh Nenek.
"Ternyata benar, tak semua hantu bisa masuk."
Kata Zion.
Zia mengangguk.
"Itu sebabnya saat kamu bisa masuk ke rumah ini, aku benar-benar heran, jika tebakanku benar, itu pasti karena antara kamu aslinya belum mati, atau karena kamu pernah menjadi bagian dari keluarga kami."
Kata Zia.
"Keluarga?"
Zion tak mengerti.
Zia kemudian membuka pintu kamar Neneknya yang sudah sekian lama tak pernah ia buka.
Aroma lembab langsung tercium.
Zia menyalakan lampu, lalu masuk ke dalam.
"Aku yakin pernah melihatnya, aku ingat saat tadi Ziyan memperlihatkan aku foto kalian saat masih kecil."
Kata Zia.
Zion melayang di samping Zia.
Zia sibuk membongkar lemari Nenek, laci meja dan...
Zia melongok ke arah kolong tempat tidur.
Ada sebuah kotak kayu di sana.
Zia menariknya keluar. Lalu segera membukanya.
Kotak kayu itu berisi album-album foto jaman dulu.
Zia duduk di lantai. Ia telaten melihat satu demi satu.
Hingga akhirnya...
"Ketemu."
Kata Zia.
Zion cepat ikut melihat.
Di album foto itu tampak wanita dan laki-laki yang sama dengan foto milik Ziyan, mereka berfoto dengan kedua orangtua Zia.
"Aku tau mereka ada hubungan. Orangtua kalian dan orang tuaku."
Kata Zia.
Zion sejenak seolah mengingat sesuatu lagi, lalu...
"Wanita ini, apa dia Ibumu?"
Tanya Zion.
Zia mengangguk.
"Yah dia Ibuku."
Zion mengangguk mengerti.
"Dia juga ada dalam mimpiku. Itu berarti yang aku lihat bukan mimpi Zi, tapi kenangan, ingatan yang mulai kembali satu demi satu."
Kata Zion.
Zia mengangguk setuju.
"Ah yah, saat di taksi, bukankah kamu bilang ingat tentang wanita yang ada di hotel saat pesta Veronika?"
Tanya Zion mengingat obrolannya dengan Zia yang belum selesai.
Zia mengangguk, lalu...
"Siapa dia?"
Tanya Zion.
"Ibumu."
Jawab Zia sambil menatap Zion.
**-------**
Ziyan di kamarnya tampak gusar. Ada pesan singkat yang ia terima dari orang bertato ular, bahwa ia telah menemukan tempat tubuh Zion disembunyikan.
Ziyan menelfon laki-laki bertato ular itu, tapi sudah sepuluh kali panggilan tak juga diangkat.
Ini bukan kebiasaan Santo mengabaikan panggilan darinya.
Ah, apalagi sebuah panggilan, pesan singkat saja pasti langsung Santo balas.
Merasa ada yang tidak beres, Ziyan mengambil senjata apinya. Menyambar jaket lalu keluar dari kamar.
Ziyan melangkah terburu, namun begitu melewati kamar Zia yang pintunya terbuka, entah kenapa ia malah ingat rasa mencium gadis itu.
Sial !!
Maki Ziyan pada dirinya sendiri.
Ziyan menekan tombol lift. Ia terburu turun ke lantai bawah. Memilih mobil hitam, dan pergi meninggalkan rumah.
Sambil sibuk melacak keberadaan ponsel Santo, Ziyan membawa mobilnya melesat membelah jalanan ibu kota malam itu.
Titik terakhir hp Santo berada di sebuah gedung yang sudah lama mangkrak. Gedung yang sepertinya salah satu proyek PT. Angkasa Perdana yang bermasalah.
Ziyan keluar dari mobil.
Dua orang laki-laki bertubuh tegap tiba-tiba menyambutnya dengan membawa balok besar.
Ziyan dengan sigap memasang kuda-kuda. Ia tahu, ia masuk ke dalam perangkap sekarang. Tapi, siapa peduli, yang ia pikirkan adalah nasib Santo, laki-laki yatim piatu yang sama seperti dirinya itu sudah bagai saudaranya sendiri.
Hidup atau mati, ia harus bisa kutemukan. Begitu tekat Ziyan.
"Katakan dimana Santo?"
Tanya Ziyan pada kedua laki-laki yang kini semakin mendekatinya.
Kedua laki-laki itu menyeringai.
"Sibodoh dengan tato ular itu maksudmu?"
Ejek mereka.
"Tenang saja, sebentar lagi kalian akan bertemu di alam baka. Hahaha..."
Salah satu dari mereka memancing amarah Ziyan.
"Jahanaaam...!!"
Ziyan berteriak marah.
Dua laki-laki yang membawa balok itupun langsung menyerang Ziyan, untungnya dengan sigap Ziyan bisa melawan mereka.
Sebagai seorang yang cukup lama berkecimpung di dunia hitam, bergabung dengan banyak komplotan bandar narkoba, Ziyan jelas bukan orang yang mudah dikalahkan.
Hanya butuh waktu lima menit Ziyan membereskan kedua laki-laki itu.
Ziyan kemudian masuk ke dalam bangunan kosong, yang ternyata di dalamnya terdapat lebih banyak laki-laki berbadan besar.
"Ternyata nyalinya memang cukup besar. Habisi dia seperti perintah Bos besar. Ia sudah tidak dibutuhkan, saham keluarga Ardi Subrata sudah anjlok ketingkat paling rendah, dalam hitungan hari mereka akan bangkrut."
Kata seorang laki-laki sambil tertawa puas. Laki-laki itu, suara dan rupanya, Ziyan merasa tak asing.
Laki-laki itu, yang dalam keremangan cahaya terlihat mirip dengan laki-laki yang diperkenalkan sebagai calon cucu menantu Heri Sapta Wijaya.
"Bajingan !!"
Ziyan meraih senjata apinya yang ia selipkan di balik jaketnya, ia mencoba membidik laki-laki itu, tapi seseorang lebih dulu memukulnya beberapa kali dengan kayu balok dari belakang.
Ziyan roboh ke lantai.
Kepalanya mengeluarkan banyak darah.
Ziyan akan dikeroyok lagi, tapi tiba-tiba sebuah angin besar berhembus ke dalam bangunan itu, sesosok wanita wajahnya penuh dengan darah muncul dan menghancurkan semuanya.
Ziyan yang melihat semua itu, diantara posisi masih sadar dan tidak merasa mengenali wajah wanita itu...
"Ibu... Ibu..."
Ziyan memanggil Ibunya tanpa sadar.
**-------**
yang over penakut lah . yang ga suka adventure lah . dsni lagi ...anak kek zizi dibilang nakal n bikin darting . padahal itu biasa banget. bukan anak bandel sama sekali. just normal act of a child.
padahal cerita mayan ok. tapi krn karakter2ny dibuat lebay jadi sering skip pen cpt2 lanjut krn cm pen liat alur cerita .