NovelToon NovelToon
Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:56.4k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.

Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.

Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.

Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?

Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Satu

Hari itu, di antara doa dan tahlil, Hana tidak hanya kehilangan seorang mertua. Ia juga kehilangan sesuatu yang lebih sunyi: harga dirinya.

"Apa kamu belum juga hamil, Hana?" tanya Bu Meri mertuanya.

Saat ini di rumah mertua Hana sedang diadakan acara tahlilan seratus hari meninggal ayah mertuanya. Tetangga dan kerabat banyak yang berkumpul.

Hana menarik napas dalam. Selalu saja ini yang ditanyakan mertuanya. Dan yang membuat Hana terkadang merasa tak nyaman karena Bu Meri selalu bertanya di depan orang banyak.

"Ma, aku juga ingin memiliki anak. Aku sudah periksa ke dokter. Mereka bilang tak ada masalah denganku."

"Kalau tak ada masalah, kenapa sudah lima tahun pernikahan kamu belum hamil juga!" ucap Bu Meri dengan nada sinis.

"Aku juga tak tahu, Ma. Mas Farhan tak pernah mau periksa. Seharusnya dia melakukan itu agar kami tau letak masalahnya," jawab Hana lirih.

Wajah Bu Meri tampak berubah merah menahan amarah mendengar ucapan menantunya. Dia tak terima dengan ucapan Hana.

"Jadi kamu mau bilang anakku yang tak subur, gitu?" tanya Bu Meri dengan suara yang cukup keras.

Ibu-ibu tetangga yang sedang membantu Bu Meri menyiapkan masakan memandang ke arah mereka. Hal itu membuat Hana jadi serba salah.

"Farhan itu subur. Mama yakin itu. Tak perlu diperiksa," ucap Bu Meri penuh percaya diri.

Dapur mendadak terasa panas walau kompor sudah dimatikan. Suara sendok yang tadi beradu kini berhenti. Ibu-ibu yang sejak tadi mengupas bawang dan menata piring pura-pura sibuk, tetapi telinga mereka jelas mengarah ke satu titik, kepada Hana dan Bu Meri.

Apalagi sekarang ada Farhan yang baru datang. Sepertinya dari kantor langsung ke rumah mamanya. Begitu dia muncul, mama Meri langsung bersuara.

“Tolong ajari istrimu ini. Jangan bicara sembarangan!” seru Bu Meri dengan nada penuh tekanan.

Farhan menatap Hana tajam. “Apa lagi yang kamu lakukan?”

Hana menggeleng cepat. “Mas, aku–”

“Tak bisa kah kau sehari saja tak berdebat dengan Mama?” potong Farhan. Suaranya tidak berteriak, tapi cukup keras untuk membuat orang sekitar ikut menahan napas. “Hargai acara ini. Papa baru berpulang seratus hari. Mama masih berduka.”

Hana merasa dadanya sesak seperti ditekan batu. “Aku tidak berdebat, Mas.”

“Lalu, ini apa?” Farhan menunjuk ke arah ibunya. “Mama sampai emosi begini.”

Bu Meri mengusap dadanya dramatis. “Mama cuma tanya baik-baik. Tapi, jawaban istrimu itu menusuk. Menuduh kamu yang bermasalah.”

“Aku tidak menuduh, Ma!” Hana spontan membela diri. “Aku cuma bilang seharusnya bukan aku saja yang periksa–”

“Nah, kan!” Bu Meri memotong. “Kamu dengar sendiri'kan!”

Beberapa ibu tetangga saling pandang. Satu dua mulai menarik diri pelan, memberi ruang, tapi tetap menguping.

Farhan mendecak kesal. “Kamu mau bilang aku yang mandul?”

Hana menutup mata sebentar. Ia lelah kata-katanya dipelintir seperti ini.

“Mas, dengarkan dulu.”

“Jawab!” tegas Farhan.

“Aku cuma bilang pemeriksaan itu seharusnya dilakukan berdua. Itu standar medis,” ucap Hana, berusaha tetap tenang meski suaranya bergetar. “Bukan menyalahkan.”

Bu Meri tertawa pendek, terdengar sinis. “Sekarang bawa-bawa medis. Dari dulu perempuan kalau belum hamil ya salah perempuannya. Itu sudah hukum alam.”

Hana menatap mertuanya. Tak setuju dengan pendapat mama mertuanya itu. “Ma, zaman sudah berubah.”

“Jangan mengajari Mama!” bentak Bu Meri.

Farhan makin panas. “Apa kamu tak mengerti dengan situasi? Rumah penuh tamu. Kita adain doa untuk Papa. Tapi, kamu malah bikin ribut soal begituan.”

“Bukan aku yang memulainya, Mas,” ucap Hana pelan, nyaris berbisik.

“Mama juga tak memulai perdebatan. Mama hanya bertanya, sekali lagi mama hanya bertanya. Apa salah jika mama tanyakan itu. Usia mama makin tua, mama juga ingin menggendong cucu!” ujar Bu Meri.

“Dan aku hanya menjawab jujur, Ma.”

“Kejujuran tanpa adab itu kurang ajar namanya,” balas Bu Meri cepat.

Kalimat itu membuat pipi Hana memerah. Air matanya mulai menggenang, tetapi ia mencoba menahan. Ia tidak mau menangis di dapur mertuanya, di depan orang banyak.

Farhan melangkah lebih dekat. Nada suaranya menurun, tetapi penuh tekanan dan nada ancaman.

“Dengar, ya. Aku tidak suka kamu menyeret namaku untuk menutup kekuranganmu.”

Ucapan Farhan seperti menghantam dada Hana. Berarti suaminya juga menuduh kesalahan itu ada pada dirinya.

Hana menatap suaminya seolah tak percaya. “Jadi, ini semua salahku, Mas?”

“Faktanya kamu yang belum hamil.”

“Kehamilan itu bukan hanya kehendak kita, Mas! Tapi juga atas izin dari-Nya."

“Alasan lagi.”

Bu Meri mengangguk-angguk. “Mama sudah sabar empat tahun. Sudah diam. Sudah nunggu. Tapi hasilnya? Mama juga berhak bertanya.”

“Tapi, jangan di depan orang banyak, Ma,” kata Hana lirih.

“Ini rumah Mama. Mama bebas bicara.”

Farhan menghela napas kasar, lalu berkata dengan nada final, “Kalau begitu besok kita periksa.”

Hana masih terdiam. Dia tampak masih syok dengan perdebatan barusan. Walau ini bukan pertama baginya, tetap saja pertanyaan itu sangat menggangu baginya.

Bu Meri ikut kaget. “Periksa apa?”

“Periksa semua,” kata Farhan. “Biar jelas. Biar tidak ada tuduhan.”

Hana menatap suaminya itu, bukan lega tapi khawatir dengan cara Farhan mengucapkan hal tersebut. Sepertinya tak terima dengan ucapannya.

Farhan lalu menatap Hana lurus. “Kalau nanti setelah pemeriksaan ternyata aku yang bermasalah, apa pun yang kamu mau, aku turuti.”

Suasana jadi membeku. Mama Meri juga tampak sangat tegang.

“Tapi, kalau kamu yang bermasalah,” lanjut Farhan, “Kamu harus terima apa pun yang aku lakukan. Tanpa protes.”

Wajah Hana pucat. “Apa pun?” tanya Hana dengan suara pelan hampir tak terdengar.

“Iya. Apa pun.”

Bu Meri tidak menolak. Tidak juga menenangkan. Diamnya justru seperti bensin.

Ibu-ibu tetangga satu persatu mulai mundur. Ini sudah bukan cekcok kecil. Ini perang rumah tangga. Mereka sepertinya tak ingin ikut campur.

“Mas, pernikahan bukan taruhan,” ujar Hana dengan suara pelan.

“Kalau begitu jangan lempar tuduhan seenaknya,” balas Farhan.

“Aku tidak–”

“Sudah!” potong Farhan. “Aku tidak mau dengar lagi. Selesaikan acara ini. Tersenyumlah dan layani tamu. Jangan bikin drama.”

Farhan berbalik pergi. Meninggalkan Hana yang berdiri seperti terdakwa.

Bu Meri mendekat setengah langkah. Suaranya rendah, tetapi tajam.

“Kamu itu datang ke keluarga kami tanpa bawa apa-apa. Minimal beri keturunan. Jangan malah bawa perlawanan.”

Langkahnya kemudian pergi menyusul tamu. Tinggal Hana sendirian. Di dapur yang penuh orang, tetapi tak satu pun berpihak padanya.

Dari ruang tengah terdengar lantunan doa kembali dimulai. Suara ustaz menggema membaca tahlil. Orang-orang mengangkat tangan. Hana ikut mengangkat tangan, tetapi doanya bukan lagi tentang almarhum mertua. Melainkan tentang dirinya sendiri. Agar diberikan kesabaran dalam menghadapi suami dan mama mertuanya.

1
ken darsihk
Kasihan sekali kalian di teepuuu oleh menantu kesayangan Cika 😂😂😂
Naufal Affiq
sampai kapan pun chika anak yang kamu kandung bukan anak nya farhan,jadi berbahagialah untuk sementara waktu
Naufal Affiq
benar hana,anak yang kamu kandung itu anak arsaka
Oma Gavin
terbongkar nya apakah setelah anak chika lahir atau hana dan farhan ketemu di RS saat periksa kandungan chika dan hana biar farhan juga tau kalau hana tidak mandul
Patrick Khan
selamat jd nenek palsu ya 😂😂😂
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Teh Yen
selamat Chika dan smoga kamu masih bisa menyimpan kebohongan mu engg tau kalau nanti Farhan ketemu Hanna saat mengandung apa yg dia pikirkan nanti yah ? 🤔
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Nurhartiningsih
tunggulah... karma pasti akan datang
Lela Angraini
selamat buat chika atas kehamilnnya,,di tunggu bom atom meledak ya
Sugiharti Rusli
kira" mereka akan bertemu di rumah sakit atau di mana yah nanti, apalagi saat amprokan baik Hana dan Chika sama" hamil tapi bukan dari benih si Farhan,,,
Sugiharti Rusli
si mama Meri terlalu pede kalo Hana lha yang mandul dan tanpa dia tahu sekarangpun sedang mengandung,,,
Sugiharti Rusli
baik si Chika maupun mama Meri menyambut bahagia kehamilan si Chika, tanpa mereka berpikir kalo tuh bayi lahir dan wajahnya malah mirip si Alex gimana tuh,,,
Sugiharti Rusli
apalagi Arsaka sangat memperhatikan tumbuh kembang calon anaknya dan juga Hana, meski tidak ada deklarasi apa hubungan mereka sekarang yah,,,
Sugiharti Rusli
tapi percaya deh Hana kalo keputusan kamu tinggal di kediaman Arsaka meski belum jelas ke depannya, tapi itu akan berdampak ke janin dalam perut kamu,,,
Sugiharti Rusli
wah belum jelas statusnya saja Arsaka sudah mengklaim kalo masakan buatan Hana milik dirinya yah😄😄😄
Rahma Inayah
seapt rapat km nutupi bangkai pasti akan ke bau an juga bgtu pun dgn aib mu Chika suatu saat pada saat ank mu lahir mungkin GK mirip Farhan or km tp lbh ke ayah biologis nya Alex dan mkn kethaunnya PD saat ank mu sakit butuh donor darah tp TDK SM gol drahnya
Sugiharti Rusli
paling nanti tinggal dipikirkan dengan status pernikahan kamu sama si Farhan yang masih menggantung yah
Sugiharti Rusli
karena dengan kehamilan kamu sekarang yang pasti menimbulkan banyak pertanya an dan sak wasangka, tinggal jauh dari jangkauan orang" yang kamu kenal lebih baik,,,
Sugiharti Rusli
meski kamu masih bimhang dengan keputusan yang kamu buat Han, tapi itu lebih baik deh buat kamu,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!