NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Suasana di dalam ruangan Divisi Pemasaran pagi ini rasanya lebih tegang daripada ruang tunggu operasi rumah sakit. Seluruh stafku berjalan sambil jinjit, seolah-olah lantai yang mereka injak terbuat dari kaca yang gampang pecah. Suara ketikan keyboard yang biasanya ramai terdengar bersahut-sahutan, kini berubah menjadi ketukan pelan yang super hati-hati.

Semua ini gara-gara akting pertengkaranku dengan Arkan di lobi kantor tadi pagi. Berita kalau "Pasangan Bos Besar Sedang Perang Dunia" sepertinya sudah menyebar lewat grup obrolan karyawan lebih cepat daripada kupon diskon makanan daring.

"Bu... Bu Naura," panggil Rini, sekretarisku. Dia berdiri di depan mejaku sambil memeluk sebuah map laporan dengan tangan gemetaran. Wajahnya pucat sekali, mirip orang yang belum sarapan tiga hari.

Aku sengaja memasang wajah ketus, melipat tangan di dada, lalu menatapnya tajam. Gengsiku sebagai manajer yang sedang "patah hati dan dikhianati" harus terlihat meyakinkan agar umpan kami dimakan oleh Dimas dan Valerie.

"Ada apa, Rini? Kalau cuma mau menggosipkan urusan pribadiku dengan Pak CEO yang kaku itu, lebih baik kamu keluar sekarang juga," ucapku dengan nada suara yang sengaja dibikin ketus dan dingin.

"E-eh, bukan begitu, Bu!" Rini langsung gelagapan, keringat dingin mulai sebesar biji jagung terlihat di pelipisnya. "Ini... ini ada dokumen anggaran promosi yang harus Ibu tanda tangani. Tadi pesan dari bagian keuangan, kalau dokumen ini tidak ditandatangani sekarang, proyek kita bulan depan bisa macet. Tapi... tapi kata orang keuangan, dokumen ini juga harus dapat persetujuan langsung dari Pak Arkan."

Rini menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan kalimatnya. "Mengingat... kondisi hubungan Ibu dan Pak Arkan yang sedang agak... membara, apakah Ibu mau saya saja yang mengantarkannya ke lantai atas? Saya takut Ibu nanti malah melempar vas bunga ke wajah Pak CEO."

Aku hampir saja menyemburkan tawa mendengar kepolosan Rini. Melempar vas bunga? Yang benar saja. Semalam saja pria kaku itu rela meringkuk di atas kursi kayu kecil demi mematuhi aturan jaga jarak dariku, sebelum akhirnya dia memelukku erat-erat karena aku ketakutan mendengar suara petir.

"Tidak perlu, Rini," balasku sambil menyambar pulpen dengan gerakan kasar yang dibuat-buat. "Biar aku sendiri yang mengantarkannya ke atas. Aku tidak takut dengan gertakan pria arogan itu. Biar dia tahu kalau aku tidak bisa diinjak-injak!"

"W-wah... Baik, Bu. Semoga Ibu selamat sampai kembali ke ruangan ini," bisik Rini dengan tatapan mata penuh rasa hormat sekaligus kasihan, seolah-olah aku adalah seorang pejuang yang siap maju ke medan perang tanpa senjata.

***

Begitu Rini keluar dari ruanganku dan menutup pintu rapat-rapat, aku langsung menyandarkan tubuhku ke kursi kerja dan mengembuskan napas panjang. Wajah ketusku langsung luntur, digantikan oleh senyuman geli. Baru saja aku mau membuka map laporan tersebut, ponselku yang terletak di atas meja tiba-tiba bergetar pelan.

Sebuah pesan singkat masuk dari nomor kontak berkode **"Pak Bos Galak"**.

*“Kenapa lama sekali? Aku sudah menyuruh Hadi memeriksa CCTV koridormu, dan kamu belum juga keluar dari ruangan. Apakah akting marahmu tadi pagi membuatmu ketiduran di meja kerja?”*

Aku memutar bola mata, lalu jemariku dengan cepat mengetik balasan dengan sisa-sisa gengsi yang kupunya.

*“Harap sabar ya, Pak CEO yang terhormat. Namanya juga istri yang sedang marah besar, mana ada ceritanya langsung buru-buru datang menemui suaminya? Aku sedang mempersiapkan mental untuk mencakar wajah tampanmu itu di depan karyawan lain.”*

Hanya butuh waktu tiga detik bagi Arkan untuk membalas pesanku.

*“Jangan berani-berani mencakar wajahku, Naura. Wajah ini adalah aset terbesar perusahaan yang membuat investor asing betah berlama-lama rapat denganku. Kalau kamu merusaknya, kamu harus membayar ganti rugi seumur hidup dengan cara menemaniku tidur setiap malam tanpa alasan jarak lima meter lagi.”*

Pipiku langsung terasa panas membaca balasannya. Pria tsundere ini benar-benar tidak pernah kehabisan kata-kata mesum yang dibungkus dengan bahasa kantoran. Aku baru saja mau membalas pesan itu ketika tiba-tiba terdengar suara kegaduhan yang cukup besar dari arah luar ruanganku.

"Pak Arkan! Mohon maaf, Pak, Bu Naura sedang sibuk di dalam!"

Suara panik Rini terdengar sangat jelas menembus dinding kaca ruanganku. Aku buru-buru memasukkan ponselku ke dalam saku rok, lalu berdiri dari kursi tepat saat pintu ruanganku dibuka dengan hentakan keras yang disengaja.

Arkan melangkah masuk dengan langkah tegap yang sangat angkuh. Jas abu-abu gelapnya terkancing rapi, wajahnya dipasang sekaku mungkin, dan matanya memancarkan aura menyeramkan yang siap memakan orang hidup-hidup. Di belakangnya, Hadi mengekor dengan wajah pasrah yang sudah menjadi ciri khasnya jika bosnya sedang kumat.

Dari balik dinding kaca, aku bisa melihat seluruh staf divisi pemasaran langsung berpura-pura sibuk menatap layar komputer masing-masing, padahal telinga mereka semua dipasang lebar-lebar untuk mencuri dengar. Bahkan, dari kejauhan, aku sempat melihat ujung kepala Dimas dan Valerie yang sedang berdiri di dekat dispenser koridor, memantau situasi dengan senyum puas tersembunyi.

"Manajer Naura!" bentak Arkan dengan suara baritonnya yang menggelegar, membuat vas bunga kecil di atas mejaku sampai sedikit bergetar. "Apa-apaan laporan anggaran promosi yang kamu kirim lewat surel tadi malam?! Kenapa angkanya tidak masuk akal begini?! Apakah begini cara kerja seorang lulusan terbaik?!"

Aku langsung mengambil posisi tegak, menatapnya dengan pandangan menantang yang tidak kalah galak. "Maaf, Pak CEO yang terhormat! Angka itu sudah dihitung berdasarkan riset pasar yang akurat! Kalau Bapak tidak bisa membaca tabel data dengan benar karena faktor usia yang mulai menua, jangan menyalahkan divisi saya!"

"Faktor usia?!" Arkan melangkah maju dua kali, memangkas jarak di antara kami hingga posisi kami sekarang hanya terpisahkan oleh meja kerja raksasaku. Matanya melotot tajam ke arahku. "Kamu berani menghina pimpinan tertinggimu di depan umum, Naura?!"

"Kenapa tidak?!" balasku sambil menggebrak meja dengan telapak tanganku, menghasilkan suara *BRAK* yang cukup keras hingga membuat Rini yang mengintip dari luar langsung menutup matanya ketakutan. "Kalau pimpinannya bersikap kekanakan dan suka membawa urusan pribadi ke dalam pekerjaan, untuk apa saya puji-puji?!"

Di luar ruangan, Dimas dan Valerie sepertinya sudah hampir melompat kegirangan karena mengira pernikahan kami benar-benar sudah berada di ambang kehancuran total.

Tepat saat aku menggebrak meja dan berteriak galak, tangan kanan Arkan yang berada di bawah pengawasan dinding kaca—tersembunyi dari pandangan orang-orang di luar—perlahan merayap masuk ke dalam laci mejaku yang sedikit terbuka. Dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati, jemari besarnya menyelipkan sebuah permen karet rasa stroberi kesukaanku dan selembar kertas kecil ke dalam genggaman tanganku.

Bukan hanya itu, saat dia mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melanjutkan "bentakannya", mata elangnya yang menyeramkan itu mendadak berkedip genit ke arahku, lengkap dengan sebuah senyuman super manis yang sengaja disembunyikan di balik rahang tegasnya yang memunggungi dinding kaca luar.

"Perbaiki laporan ini dalam waktu dua jam!" teriak Arkan lagi, suaranya terdengar penuh amarah yang dibuat-buat. "Kalau tidak selesai, jangan harap kamu bisa pulang ke rumah malam ini!"

"Silakan saja, Pak Arkan!" balasku, menahan sekuat tenaga agar suaraku tidak pecah karena menahan tawa melihat wajah *tsundere*-nya yang sangat menggemaskan dari jarak dekat. "Saya lebih baik tidur di kantor daripada harus melihat wajah menyebalkanmu itu di rumah!"

Arkan berbalik dengan gerakan dramatis, mengibaskan jasnya, lalu melangkah keluar dari ruanganku sambil membanting pintu dengan keras. Hadi buru-buru menyusul di belakangnya dengan langkah seribu.

Begitu suasana kembali tenang dan orang-orang di luar mengira aku sedang menangis bombay di dalam ruangan, aku buru-buru membuka remasan kertas kecil yang diberikan Arkan tadi di bawah meja.

*“Pantry lantai darurat sebelah kanan, dua menit dari sekarang. Jangan terlambat atau aku akan kembali ke ruanganmu untuk berteriak bahwa aku merindukanmu di depan seluruh anak buahmu.”*

Pria gila! Aku menggelengkan kepala, namun senyum di bibirku tidak bisa lagi disembunyikan. Aku mengambil map laporan anggaran yang tadi dibawa Rini sebagai alasan, lalu berjalan keluar ruangan dengan wajah yang sengaja dibuat layu dan sedih.

"Bu Naura... Ibu tidak apa-apa?" bisik Rini dengan mata berkaca-kaca saat aku melewati mejanya.

"Aku tidak apa-apa, Rini. Aku mau ke toilet sebentar untuk mencari udara segar," jawabku dengan suara yang dilemas-lemaskan.

Aku berjalan melewati koridor, mengabaikan tatapan mata Valerie yang tampak sangat puas dan sombong di dekat meja logistik. Begitu sampai di ujung lorong yang sepi, aku langsung berbelok cepat masuk ke dalam pintu besi tebal berwarna merah bertuliskan "Tangga Darurat".

Suasana di dalam tangga darurat itu sangat sepi dan sedikit remang-remang. Begitu pintu besi menutup otomatis di belakangku, sebuah tangan kekar tiba-tiba muncul dari balik bayangan tembok, mencengkeram pergelangan tanganku dengan lembut, dan menarik tubuhku masuk ke dalam dekapannya yang hangat.

*Klik.* Pintu akses darurat dikunci dari dalam oleh pemilik tangan itu.

"Arkan!" pekikku pelan saat hidungku langsung menabrak dada bidangnya yang dilapisi kain kemeja mahal.

Arkan tidak menjawab. Dia justru semakin mengeratkan kedua lengannya di pinggangku, menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leherku sambil mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat lega. Seluruh aura menyeramkan dan keangkuhan bos besarnya tadi langsung lenyap seketika, digantikan oleh mode pria bucin yang sedang kehausan kasih sayang.

"Suaraku sampai agak serak gara-gara harus berpura-pura membentakmu tadi," keluh Arkan dengan nada suara yang terdengar sangat manja—sebuah pemandangan yang kalau sampai dilihat oleh Dimas, mungkin akan membuat sepupunya itu pingsan di tempat. "Dan kamu, tega sekali mengatai wajah tampanku ini mulai menua karena faktor usia. Apakah kamu tidak tahu kalau ketampananku ini adalah alasan utama kenapa kamu mau memeluk leherku semalam?"

Aku tertawa kecil, membalas pelukannya dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya. "Lagian kamu ngapain pakai acara sidak dadakan segala sih? Bikin heboh se-kantor tahu! Rini sampai mengira aku mau melempar vas bunga ke wajahmu."

Arkan mendongak, menatap wajahku dari jarak dekat dengan pandangan mata yang sangat dalam dan hangat. "Aku terpaksa melakukannya, Naura. Gengsiku bisa menahan diri untuk tidak menemuimu selama beberapa jam, tapi hatiku tidak bisa diajak bekerja sama. Aku tidak tahan melihat Dimas dan Valerie tersenyum puas di bawah sana, mengira mereka berhasil membuat istriku sedih."

Pria kaku ini benar-benar tahu bagaimana cara membuat jantungku berdisko tanpa henti. Di balik benteng harga dirinya yang setinggi langit, perlindungannya padaku selalu terasa begitu nyata dan manis.

"Jadi," aku mencondongkan tubuhku sedikit, menatapnya dengan senyum menggoda yang biasa kugunakan untuk meruntuhkan pertahanan *tsundere*-nya. "Semua drama teriakan tadi murni karena Pak CEO kita yang terhormat ini sedang rindu berat pada manajernya?"

Arkan terdiam sejenak. Wajahnya mulai memerah samar di bagian pipi—sebuah tanda kalau gengsi besarnya sedang mencoba melakukan perlawanan terakhir. Dia memalingkan wajahnya sedikit ke arah anak tangga, lalu berdehem kaku berkali-kali.

"Ini... ini adalah bagian dari strategi pengamanan psikologis karyawan," dalih Arkan dengan nada ketus yang sangat dipaksakan. "Sebagai pimpinan tertinggi, aku harus memastikan kondisi mental rekan kerja proyekku tetap stabil. Tidak ada hubungannya dengan masalah rindu atau perasaan sentimental lainnya, Naura."

"Oh, jadi tidak rindu ya?" aku berpura-pura hendak melepaskan pelukanku dan melangkah mundur. "Kalau begitu, aku mau kembali ke ruangan saja untuk melanjutkan diet vanilaku—"

"Jangan bergerak!" seru Arkan cepat, langsung mengunci kembali tubuhku ke dalam pelukannya dengan kekuatan penuh, tidak membiarkanku menjauh satu senti pun.

Mata elangnya menatap bibirku dengan intensitas yang mendadak meningkat drastis, membuat napasku tertahan seketika di tenggorokan. "Aku belum memberikan izin bagimu untuk membubarkan rapat internal kita siang ini, Manajer Naura."

Sebelum aku sempat mengeluarkan argumen gengsiku yang biasa, Arkan sudah menundukkan kepalanya, membungkam bibirku dengan sebuah ciuman yang mendalam, hangat, dan sangat manis di balik pintu darurat yang sunyi itu. Tanganku dengan otomatis meremas bahu kokohnya, membalas setiap lumatan lembutnya dengan perasaan yang sama besarnya, melupakan sejenak tentang kelicikan orang-orang yang tidak suka dengan kebahagiaan ini.

1
Kristina Sambas
alur cerita lucu, menarik, tapi aneh kenapa yg baca nya dikit yaa
pokonya terus semangat author
Eunoia Fashion: Terimakasih ya 🥰🙏
total 1 replies
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!