NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Hutan Terlarang dan Beast Inti Api

Hutan Terlarang di malam hari adalah dunia yang sama sekali berbeda dari siang hari. Pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi seolah-olah menutupi langit, membuat kegelapan menjadi absolut. Suara-serangga malam bergema seperti orkestra kematian, dan udara terasa berat, dipenuhi oleh Qi liar yang tidak teratur dan berbahaya bagi kultivator tingkat rendah.

Lin Fan berlari tanpa henti selama satu jam pertama, menjauh sejauh mungkin dari tembok kota. Ia tidak berani menyalakan api atau menggunakan sumber cahaya apa pun, mengandalkan penglihatan malam yang telah ia asah melalui meditasi dan Manik Giok.

Tubuhnya protes. Luka-lukanya belum sembuh total, dan kelelahan mental akibat berhadapan langsung dengan Elder Mo menggerogoti fokusnya. Namun, ia tahu dia tidak bisa berhenti. Elder Mo mungkin tidak mengejarnya langsung malam ini, tetapi mata-matanya pasti tersebar di seluruh wilayah sekitar.

Akhirnya, Lin Fan menemukan sebuah gua kecil di bawah akar pohon raksasa yang tumbang. Gua itu dangkal, tapi cukup untuk berlindung dari angin dan pandangan langsung. Ia masuk, menutup pintu masuk dengan semak-semak, dan akhirnya membiarkan dirinya rileks sejenak.

"Aku butuh kekuatan," gumamnya sambil bersandar pada dinding tanah. "Level 6 tidak cukup. Untuk bertahan di hutan ini, dan untuk menghadapi musuh-musuh di masa depan, aku harus mencapai Level 7. Atau lebih baik lagi, menembus ke Tahap Fondasi."

Tapi melompat ke Tahap Fondasi terlalu berisiko tanpa fondasi yang sempurna dan bahan pendukung yang memadai. Jadi, target terdekatnya adalah memadatkan Level 6 hingga puncak, lalu menerobos ke Level 7.

Ia membuka tas penyimpanannya. Hasil curian dari gudang obat dan warisan Sekte Es Langit masih ada. Tapi ia membutuhkan sesuatu yang lebih kuat, sesuatu yang bisa memberikan lonjakan energi besar dalam waktu singkat.

Manik Giok berdenyut lembut, menunjuk ke arah timur laut, lebih dalam ke dalam hutan. Arah yang sama dengan sebelumnya, namun kali ini sensasinya lebih mendesak. Ada sumber energi murni di sana. Energi elemen Api.

"Api?" Lin Fan mengerutkan kening. "Di hutan yang lembap dan dingin ini?"

Rasa ingin tahunya mengalahkan kehati-hatiannya. Jika Manik Giok menunjukkannya, itu berarti energi tersebut cocok atau bermanfaat baginya. Mungkin inti beast? Atau tanaman api langka?

Lin Fan memutuskan untuk bergerak saat fajar menyingsing. Malam ini terlalu berbahaya untuk bereksplorasi jauh. Ia menghabiskan sisa malam dengan bermeditasi, menggunakan Sutra Nafas Embun Beku untuk memulihkan Qi-nya dan mendinginkan luka-luka internalnya. Teknik ini terbukti sangat efektif; rasa sakitnya berkurang drastis, dan pikirannya menjadi jernih seperti air danau yang tenang.

Saat matahari mulai menerobos kabut pagi, Lin Fan keluar dari persembunyiannya. Ia memakan beberapa buah beri liar yang ia yakini tidak beracun (berkat pengetahuan alkimia dasarnya), lalu bergerak ke arah timur laut.

Perjalanan semakin sulit. Medan berubah menjadi rawa-rawa beracun dan semak berduri. Lin Fan harus menggunakan Teknik Napas Besi untuk melindungi kulitnya dari duri-duri tajam dan racun ringan yang melayang di udara.

Setelah tiga jam berjalan, ia mencapai sebuah lembah kecil yang tersembunyi di antara dua bukit batu. Di tengah lembah itu, terdapat sebuah kolam lumpur panas yang mengepul. Uap belerang memenuhi udara.

Dan di tengah kolam itu, tumbuh sebuah tanaman aneh. Batangnya berwarna merah menyala, daunnya seperti lidah api, dan di puncaknya, terdapat sebuah buah berbentuk bola api kecil yang berdenyut-denyut.

Buah Api Jantung Naga.

Lin Fan menahan napasnya. Ini adalah tanaman grade menengah yang langka. Buahnya mengandung energi api murni yang sangat padat. Bagi pengguna elemen api, ini adalah harta karun. Bagi orang lain, memakannya mentah-mentah bisa membakar meridian mereka menjadi abu.

Tapi Lin Fan punya Manik Giok.

Namun, sebelum ia bisa mendekat, suara raungan keras mengguncang lembah.

Dari balik bebatuan di sisi lain kolam, muncul seekor beast besar. Itu adalah Kadal Api Bersisik Emas, beast tingkat menengah awal, setara dengan kultivator Level 7. Tubuhnya sepanjang empat meter, ditutupi sisik emas yang keras seperti baja, dan mulutnya menyemburkan asap panas.

Beast itu menjaga buah api tersebut. Matanya yang menatap Lin Fan dengan permusuhan murni.

Lin Fan menghitung peluangnya. Kadal Api itu lebih kuat darinya secara fisik dan memiliki keunggulan elemen. Serangan es Lin Fan akan kurang efektif karena lingkungan sekitarnya sudah panas, dan beast itu sendiri tahan api.

"Tidak bisa bertarung frontal," batin Lin Fan. "Aku harus mengakalinya."

Ia mengamati sekeliling. Kolam lumpur panas. Uap belerang. Dan posisi Kadal Api yang berdiri di tepi kolam, menghalangi jalan ke buah.

Lin Fan tersenyum tipis. Ide gila terbentuk di kepalanya.

Ia mengambil sebuah batu besar dari tanah, lalu melemparkannya ke arah tebing di seberang kolam, jauh dari Kadal Api.

Crash!

Kadal Api itu menoleh, terpancing oleh suara. Insting territorialnya membuatnya ingin memeriksa sumber gangguan.

Saat beast itu mengalihkan perhatian, Lin Fan tidak menyerang beast itu. Dia menyerang lingkungannya.

Dengan cepat, ia mengumpulkan Qi-nya dan menggunakan Tinju Embun Beku untuk membekukan sebagian tanah di tepi kolam, tepat di bawah kaki Kadal Api yang sedang bergerak. Tanah yang basah dan panas tiba-tiba membeku dan menjadi licin.

Kadal Api, yang tidak mengharapkan perubahan suhu mendadak, terpeleset. Kakinya yang berat kehilangan traksi, dan tubuhnya yang besar terguling ke dalam kolam lumpur panas.

Splash!

Lumpur panas menyembur ke mana-mana. Kadal Api itu meraung marah, mencoba bangkit, tapi lumpur kental itu menjebak kakinya. Selain itu, uap belerang dari lumpur yang teraduk-aduk menjadi lebih pekat, mengganggu pernapasan beast itu.

Ini kesempatannya!

Lin Fan tidak membuang waktu. Ia melesat maju, bukan menuju beast, tapi menuju tanaman Buah Api Jantung Naga. Dengan gerakan cepat, ia mencabut tanaman itu beserta akarnya, memasukkannya ke dalam wadah kedap udara dari tasnya, lalu berbalik lari.

Kadal Api itu berhasil melepaskan diri dari lumpur, wajahnya penuh kemarahan. Ia membuka mulutnya, menyiapkan semburan api mematikan.

"Tahan!" teriak Lin Fan, sambil melemparkan Pil Asap Peledak terakhirnya ke arah beast.

BOOM!

Asap putih tebal dan bau menyengat memenuhi lembah. Kadal Api batuk-batuk, matanya perih, dan serangannya meleset, membakar pepohonan di sekitarnya.

Lin Fan sudah jauh, berlari sekuat tenaga meninggalkan lembah itu. Ia tidak berhenti sampai ia merasa aman, setidaknya lima kilometer jauhnya.

Di tempat persembunyian baru, sebuah goa kering di atas tebing, Lin Fan akhirnya bisa bernapas lega. Ia mengeluarkan Buah Api Jantung Naga dari wadahnya. Buah itu masih hangat, berdenyut dengan energi hidup.

"Ini dia," bisiknya. "Dengan Manik Giok, aku bisa memurnikan energi api ini dan menggunakannya untuk menembus Level 7."

Ia duduk bersila, menempatkan buah itu di hadapannya. Ia tidak memakannya langsung. Sebaliknya, ia mulai menghancurkan buah itu perlahan, melepaskan energinya sedikit demi sedikit, dan menariknya ke dalam Manik Giok untuk dimurnikan.

Prosesnya intens. Energi api yang murni dan kasar berusaha membakar meridiannya, tapi Manik Giok bekerja seperti filter ajaib, mengubah api yang merusak menjadi esensi Qi yang hangat dan stabil.

Satu jam. Dua jam. Tiga jam.

Keringat mengucur deras dari tubuh Lin Fan, menguap seketika karena panas internalnya. Wajahnya memerah, urat-uratnya menonjol. Rasa sakitnya luar biasa, seperti setiap sel dalam tubuhnya sedang dibakar dan dibangun kembali.

Tiba-tiba, di dalam Dantian-nya, terdengar suara retakan halus.

Ting!

Penghalang Level 6 runtuh.

Energi yang terkumpul mengalir deras, mengisi Dantian-nya yang kini lebih luas dan padat. Lin Fan merasa kekuatannya meningkat drastis. Indra pendengarannya menjadi lebih tajam, penglihatannya lebih jelas, dan kontrol Qi-nya lebih presisi.

Dia sekarang Tahap Qi Level 7.

Lin Fan membuka matanya. Cahaya biru dan putih berputar di pupilnya sebelum menghilang. Ia mengepalkan tinjunya, merasakan kekuatan baru yang mengalir di dalamnya.

"Dengan Level 7, aku bisa menghadapi Kadal Api itu secara setara. Bahkan, aku mungkin bisa mengalahkannya jika menggunakan strategi yang tepat."

Tapi dia tidak punya waktu untuk merayakan. Perutnya keroncongan, dan persediaannya menipis. Dia perlu berburu beast untuk daging dan bahan-bahan lain. Dan dia perlu mencari tempat yang lebih permanen untuk berlatih Sutra Nafas Embun Beku hingga mahir.

Lin Fan berdiri, memandang ke dalam kegelapan hutan yang tak berujung. Dia bukan lagi korban yang lari. Dia adalah pemburu yang baru saja menajamkan cakar-cakarnya.

"Hutan Terlarang," katanya pelan. "Jadilah guru pertamaku."

Tiba-tiba, telinganya menangkap suara sayap yang cepat di atas kepala. Seekor elang besar melintas, membawa sesuatu di cakarnya. Bukan mangsa, tapi... sebuah gulungan kertas?

Lin Fan menyipitkan mata. Itu tidak mungkin. Burung tidak membawa surat. Kecuali... itu adalah merpati pos yang tersesat? Atau pesan dari seseorang?

Elang itu menukik turun, menjatuhkan gulungan kecil itu tepat di depan kaki Lin Fan, lalu terbang pergi.

Lin Fan mengangkat gulungan itu. Kertasnya halus, mahal. Dan ada segel lilin merah di atasnya. Segel dengan gambar naga emas.

Segel Clan Zhao.

Lin Fan membukanya dengan hati-hati. Isinya singkat, ditulis dengan tinta darah:

"Kami tahu kau ada di Hutan Terlarang. Kami tidak sendirian. 'M' juga mencari mu. Lari lebih cepat, atau mati. - Teman yang tidak dikenal"

Lin Fan membeku. Siapa pengirim ini? Mengapa mereka membantunya? Dan siapa sebenarnya 'M' yang disebutkan lagi?

Apakah ini jebakan? Atau peringatan tulus?

Lin Fan meremas kertas itu, matanya menyipit. Permainan kucing dan tikus ternyata melibatkan lebih banyak pemain daripada yang ia kira.

1
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
✅️
Daryus Effendi
masih lai bosan baca nya jarna mulai bab ini mulai bertele tele.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!