"Jangan pernah Lo ikut campur dalam urusan gue!!" Alifa Zea Amanda~
"saya akan ikut campur. karena apa yang kamu lakukan itu salah!" ghibram Naufal Rizal~
Alifa, seorang mafia terjebak dalam pesantren demi memenuhi janjinya untuk nenek. ia selama disana tak tinggal diam. beberapa kali ia mencoba kabur, namun ada seorang Guz yang selalu menggagalkan rencananya.
seperti apa kisah lanjutan nya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alcanbery, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. chapter dua puluh tujuh
Jangan lupa vote, vote, dan vote.
Komen, like dan bintang...
Jangan lupa taruh di daftar bacaan, agar kalian tidak ketinggalan dengan cerita berikut nya.
Follow IG bunny @quensha_sha
______________________
Happy reading...
•
•
•
"Aghhh..." Desah kesakitan Alifa.
Gus Rizal dan Fafa mendekati kerah Alifa. Mereka berdua dikejutkan dengan noda merah menembus seragam Alifa.
"Alifa, perut kamu kenapa berdarah?" Tanya Fafa cemas. Fafa menaruh saputangan nya di perut Alifa yang terluka.
"Tolong bantu saya membawa Manda ke UKS." Pintah Gus Rizal.
"Ja... Jangan..." Tolak Alifa menahan rasa sakit.
"Jangan keras kepala. Lihatlah darah kamu terus mengalir. Itu berbahaya!" Ujar Gus Rizal memberi nasehat.
***
Mall...
Kelly dan Kelvin berbelanja untuk kebutuhan petunangan sekaligus pernikahan. Mereka berdua sudah sepakat untuk mengadakan pertunangan sekaligus pernikahan dalam hari yang sama.
Kelvin memijat keningnya sendiri melihat Kelly tak henti-hentinya berjalan. Sudah beberapa jam mereka keliling di mall, tapi Kelly nampak tak lelah sedikitpun.
"Sayang, istirahat dulu yah." Pintah Kelvin kelelahan.
Kelly mengangguk kepalanya. "Yuk, kita istirahat saja dilestoran."
***
Lestoran...
Kelvin tersenyum memandangi kearah Kelly yang sangat lahap memakan spaghetti. Kelvin mengambil sapu tangan dari sakunya. Ia mengelap sudut bibir Kelly yang ada bekas spaghetti.
"Makasih." Ujar Kelly salah tingkah akibat ulah Kelvin. Kelly berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Sayang, apa ada lagi yang ingin kamu beli?" Tanya Kelvin.
"Tidak ada kok. Semuanya sudah siap. Tinggal kita memanggil Alifa pulang, bagikan semua undangan dan setelah itu aku sama Alifa berniat mau pergi ke suatu tempat." Jawab Kelly.
"Suatu tempat??? Emangnya mau kemana?" Tanya Kelvin.
"Ada deh." Kekeh Kelly melihat raut wajah kesal Kelvin.
Kelvin mencubit hidung Kelly.
"Awwws... Sakit tahu." Kelly mengelus hidung nya sendiri.
"Tuh lihat merah kan hidung ku?" Kelly menyodorkan bibirnya.
Cup...
Kelvin mencium hidung Kelly. Sontak Kelly membulatkan matanya sempurna. Tubuhnya mematung akibat ulah Kelvin.
"Udah nggak merah lagi kan?" Goda Kelvin.
"Ihhhh... Kamu apa-apain sih. Malu tahu dilihat orang. Disini kan banyak orang." Rengek Kelly memukul dada bidang Kelvin.
"Aduh... Jangan pukul aku terus dong." Ujar Kelvin menarik Kelly dalam dekapan pelukan nya.
"Habisnya kamu nakal sih."
"Nakal sama calon istri apa ngak boleh?" Bisik Kelvin ditelinga Kelly.
Blushhh...
"Ap---apaain sih. Jangan gini Kelvin. Malu aku dilihat orang. Lepasin aku!"
"Ngak akan. Tolong biarkan aku memeluk mu."
Kelly parah. Ia memilih diam, tak menjawab ucapan Kelvin. Kelly membalas pelukan Kelvin. Ia memeluk erat tangan kekar Kelvin.
***
KR2A company:
Pesona tampan Kevin disiang hari membuat semua karyawan wanita Kevin terpesona. Banyak kaum hawa di perusahaan Kevin tebar pesona untuk mendapatkan perhatian dari Kevin. Namun, sayangnya Kevin selalu mengacuhkan mereka. Kevin lebih memilih bersikap dingin daripada harus berurusan sama cewek. Bagi Kevin, cewek itu seperti pakaian. Tak terkecuali Alifa. Kevin menganggap Alifa sebagai adik kandungnya sendiri. Apapun keinginan Alifa pasti akan Kevin turuti.
Banyak sekali kaum hawa patah hati akibat Kevin selalu menghiraukan keberadaan mereka. Namun, itu tak membuat hati mereka patah. Mereka terus-menerus berusahalah agar bisa mendapatkan hati Kevin.
Ruangan kevin:
Kevin mengambil bingkai foto di atas nakas. Foto itu terpampang wajah Alifa dan Sasa sewaktu masih sekolah SMP dulu.
Kevin meraba bingkai foto itu. "Sudah lama kita tidak bertemu Sasa."
"Pasti Alifa sangat senang bisa melihat lo lagi."
"Gue ngak sabar untuk bertemu dengan Lo lagi."
Kevin menaruh kembali bingkai foto itu diatas nakas.
***
Pesantren:
UKS...
Sasa, zhara dan diva menunggu Alifa sadarkan diri. Mereka bertiga sangat panik saat Gus Rizal memberi kabar bahwa Alifa terluka. Mereka bertiga cepat-cepat ke UKS untuk melihat kondisi Alifa.
Raut wajah Alifa sangat tenang saat tidur. Sasa memegang tangan Alifa.
"Alifa, aku mohon cepatlah sadar..." Ujar Sasa menitihkan satu air mata ditangan Alifa.
Sasa terkejut saat merasakan ada merasakan ada pergerakan dari tangan Alifa. Sasa cepat-cepat menghapus air matanya.
"Alifa..."
"Mbak, ada apa?" Tanya zhara.
"Alifa sudah sadar. Tadi aku melihat tangannya bergerak. Sungguh, aku tidak bohong." Ujar Sasa senang.
"Benarkah?" Diva mendekati kearah Alifa.
Perlahan-lahan Alifa membuka kelopak matanya. Ia berusaha mengumpulkan semua nyawa kesadaran nya kembali. Alifa melihat kesekeliling, nampak tak asing buatnya. Alifa memegang perutnya yang masih sangat sakit.
"Mbak, istirahat dulu." Pintah diva.
"Gue dimana?" Tanya Alifa.
"Kamu ada di UKS." Jawab zhara.
"Ha?! UKS?" Alifa memijat kepalanya sendiri.
"Iya mbak. Tadi mbak pingsan. Untung Gus Rizal dan Fafa cepat-cepat membawa mbak kesini." Ujar diva.
"Apa masih sakit Al?" Tanya Sasa diangguki kepala oleh Alifa.
"Mbak istirahat dulu. Jangan banyak gerak-gerak biar jahitan mbak ngak terbuka. Kalo begitu, kami permisi mbak." Ujar diva diangguki kepala oleh Alifa.
***
"Bagaimana? Apa Manda udah sadarkan diri?" Tanya Gus Rizal sedari tadi diam-diam menyimak pembicaraan mereka bertiga.
Sasa menganggukkan kepalanya.
"Makasih bang. Kalo bukan karena Abang mungkin kondisi Alifa sangat buruk." Ujar Sasa.
Gus Rizal menjawabnya dengan senyuman.
"Bang kalo boleh tahu kenapa Alifa bisa terkena luka tusukan?" Tanya Sasa.
"Saya juga ngak tahu."
'apa Manda sengaja melukai diri nya sendiri.' batin Gus Rizal.
"Hmm, ini sangat aneh." Gumam Sasa.
Diva sedari tadi menyimak, merasakan ada hal tidak beres pada Alifa.
'apa ada yang sengaja melukai mbak Alifa?' batin diva.
'kalo memang iya, siapa pelaku? Dan kenapa ia tega melakukan hal buruk pada mbak Alifa?' batinnya lagi.
Huek... Huek... Huek...
Terdengar suara orang muntah dari dalam. Sasa, diva, zhara dan Gus Rizal cepat-cepat masuk kedalam UKS.
Didalam kamar mandi, Alifa memuntahkan semua cairan diperutnya. Banyak sekali darah keluar dari mulut Alifa.
Tok... Tok... Tok...
"Alifa... Apa kamu didalam sana?" Ujar Gus Rizal menggedor pintu.
"Iya..." Jawab Alifa lemah.
"Alifa, kamu baik-baik saja kan didalam?" Tanya Sasa.
Hening...
Tidak ada jawaban dari Alifa. Gus Rizal berniat mau mendobrak pintu, namun terhenti saat melihat pintu terbuka.
Mereka ber-4 dikejutkan dengan raut wajah Alifa sangat pucat.
"Mbak, kita kerumah sakit yah." Ujar diva khawatir.
"Rumah sakit tidak akan bisa menolong gue." Gumam Alifa.
"Apa maksud mu, Manda?" Tanya Gus Rizal.
Alifa menggelengkan kepalanya.
'mereka tidak boleh tahu gue terkena racun akibat ulah Siska dkk.' batin Alifa.
'ada yang tidak beres.' batin Gus Rizal.
"Jangan keras kepala Al. Ayo kita kerumah sakit." Ujar Sasa.
"Tidak. Tolong panggilkan bang rangrang saja." Ujar nada lemah Alifa.
Ke-4nya sama-sama...