Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Jejak yang Tidak Pernah Mati
Hujan turun lagi malam itu.
Pelan.
Tapi cukup untuk membuat kota terasa seperti sedang menahan napas.
Di ruang kelas kosong SMA Wijaya.
Selene duduk sendirian.
Laptop terbuka.
Layar penuh kode, data, dan folder yang tidak seharusnya dia miliki.
Tangannya sedikit gemetar.
Bukan karena takut.
Tapi karena apa yang baru saja dia temukan.
“Ini bukan rumor…” bisiknya.
Di layar:
file terenkripsi.
namun sudah setengah terbuka.
Dan di dalamnya—
nama yang sama muncul berulang.
ANAYA CLARISSA
Selene menatap layar lama.
Lalu tertawa kecil.
“Jadi… aku benar.”
Ia membuka file berikutnya.
Dan itu membuat wajahnya berubah.
Foto.
Bukan Anya yang sekarang.
Tapi Anya yang lebih tua dari semua cerita sekolah.
Berdiri di ruangan gelap.
Di belakangnya—
simbol berlian hitam samar di dinding.
Selene membeku.
“…apa ini?”
Tangannya cepat membuka file lain.
Dan satu kalimat muncul:
“Black Diamond — Operational Core Lead: EL”
Selene terdiam.
“EL…?”
Di saat yang sama.
Di gedung Rafardhan Group.
Arsen berdiri di depan layar besar.
Baskoro di sampingnya.
“Temuan terbaru, Tuan,” kata Baskoro.
“Jejak aktivitas Cyber Onyx tidak hanya menghapus data Anya.”
Arsen menatap layar.
“Lanjutkan.”
Baskoro menarik napas.
“Mereka… juga melindungi satu jaringan bawah tanah.”
Arsen langsung mengerutkan mata.
“Apa hubungannya dengan Anya?”
Baskoro ragu.
“Semua jalur enkripsi mengarah ke satu node pusat.”
Ia menekan tombol.
Dan peta digital muncul.
Satu titik.
Berkedip.
BLACK DIAMOND NODE
Arsen diam.
Lama.
“Black Diamond…” gumamnya.
Baskoro melanjutkan pelan.
“Dan anehnya… node ini aktif setiap kali Nona Anya melakukan transaksi besar di pasar gelap.”
Ruangan langsung sunyi.
Arsen menatap layar tanpa berkedip.
“Jadi dia bukan hanya bagian dari permainan ini.”
Ia mengepalkan tangan.
“Dia pusatnya.”
Di sekolah.
Selene berdiri di depan cermin toilet.
Menatap dirinya sendiri.
“Black Diamond…”
bisiknya.
Ia membuka ponsel.
Menghubungi seseorang.
“Ini aku.”
Suara di seberang:
“Sudah menemukan sesuatu?”
Selene tersenyum tipis.
“Lebih dari itu.”
Ia menatap file di laptopnya.
“Dia bukan korban kebakaran.”
Diam sebentar.
“Dia pelakunya.”
Di sisi lain kota.
Anya duduk di dalam mobil.
Sendiri.
Tanpa Tulus di depan.
Hanya suara hujan di kaca.
Tulus di earpiece.
“Queen… ada pergerakan tidak stabil di sisi Selene.”
Anya menutup mata.
“Aku tahu.”
Tulus ragu.
“Dia sudah menemukan sebagian file lama.”
Anya tidak langsung menjawab.
Lalu pelan:
“Dia lebih cepat dari perkiraan.”
Tulus menelan napas.
“Apakah kita hentikan dia?”
Anya membuka mata.
Dan kali ini—
tidak ada ketenangan penuh.
“Tidak.”
Ia menatap jendela gelap.
“Kalau kita hentikan sekarang… Arsen akan mencurigai lebih dalam.”
Diam.
Tulus akhirnya bertanya:
“Kalau begitu, apa rencananya?”
Anya tersenyum kecil.
Tapi kali ini… dingin.
“Biarkan mereka mendekat.”
Di gedung Rafardhan.
Arsen berjalan sendirian.
Meninggalkan layar.
Baskoro memanggil pelan.
“Tuan?”
Arsen berhenti.
Tanpa menoleh.
“Cari semua koneksi Black Diamond.”
Ia menatap ke luar jendela.
“Dan semua hubungan mereka dengan Anya Clarissa.”
Baskoro ragu.
“Itu akan membuka banyak pintu berbahaya.”
Arsen menjawab datar:
“Aku sudah terlalu jauh untuk mundur.”
Di sekolah.
Selene menatap layar terakhir.
Dan menemukan satu file yang belum dibuka.
Namanya:
PROJECT ORIGIN: ANAYA
Tangannya berhenti.
Lalu perlahan…
klik.
Layar berubah putih.
Dan file mulai terbuka.
Di detik yang sama—
Anya di mobil membuka mata.
“Dia sudah membuka itu.”
Suasana langsung berubah.
Tulus panik.
“Queen, itu file yang kita kunci level tujuh!”
Anya berdiri.
“Matikan aksesnya.”
Tulus cepat mengetik.
“Sedang mencoba—”
Tiba-tiba layar di mobil berkedip.
Dan hanya satu kalimat muncul di layar Selene:
“Kamu tidak seharusnya melihat ini.”
Selene terdiam.
Lalu tersenyum.
“Sudah terlambat.”
Di luar hujan semakin deras.
Dan di tiga titik berbeda—
Arsen, Selene, dan Anya—
akhirnya menyentuh satu pintu yang sama.
Pintu yang tidak lagi bisa ditutup kembali.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏