true story....
Noviant Juan adalah seorang pria yang tertutup, dia seakan punya dunia sendiri tapi semua berubah karena kedatangan seorang gadis di hidupnya.
Meyda Shakira harus mu hidup bersama orang yang tak mengharapkan kehadirannya.
Naira putri Noviant adalah cahaya cinta keduanya.
akankah mereka bahagia?
atau Vian akan kembali pada cinta lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kasih sayang
saat mendengar azan magrib Akira memindahkan kepala Vian ke atas bantal, begitupun Aira yang juga masih terlelap.
Akira pun memilih sholat di kamar sambil menjaga keduanya tidur, selesai sholat Bu Ageng membawa makanan masuk ke kamar Akira.
"ibu ganggu?" kata Bu Ageng masuk kamar.
"tidak Bu," jawab Akira.
"bagaimana keadaan Vian, apa masih panas?" tanya Bu Ageng menaruh makanan nya.
"tidak Bu, Alhamdulillah panasnya sudah turun," jawab Akira.
"ya sudah ibu keluar dulu, oh ya ini makanan untuk Vian dan kamu, ingat kamu juga jaga kesehatan ya," kata Bu Ageng.
"iya Bu," jawab Akira.
Bu Ageng pun meninggalkan Akira, tak lama Vian terbangun dan melihat putrinya Aira.
"dek," panggil Vian lemah.
"iya mas, perlu sesuatu?" tanya Akira.
"haus, oh ya tadi aku denger suara ibu?" tanya Vian.
"iya ibu mengantarkan makan untuk mas, soalnya tadi kita gak ikut kumpul makan bakso sama yang lain," kata Akira.
"terima kasih," kata Vian memberikan gelas bekas air minumnya.
"kalau begitu mas makan dulu ya," kata Akira.
Akira pun kembali menyuapi Vian dengan telaten, Vian hanya bisa merasakan kasih sayang istrinya itu.
"bunda," kata Aira yang baru bangun dan mengucek matanya.
"di sini sayang, ada apa?" tanya Akira.
"Aila juga mau makan ya, disuapi sepelti ayah," kata Aira.
"oke, tapi tunggu ayah selesai dulu ya sayang, oke," kata Akira pada Aira.
"oke bunda, ayah kenapa sekalang manja sama bunda Aila," tanya Aira yang kini tidur di paha Vian.
"bunda kan istri ayah, jadi ayah boleh dong manja-manja sama bunda, jadi Aira gak boleh iri ya," kata Vian.
"oh begitu, oke ayah," jawab Aira.
Akira hanya tersenyum sekilas mendengar jawaban putrinya itu, apa lagi Aira yang terlihat begitu manja.
kini giliran Aira yang di suapi oleh Akira, bahkan gadis kecil itu terus bertanya sesuatu, sedang Vian sibuk dengan ponselnya.
"dek besok kita jalan-jalan yuk, mumpung hari Minggu," ajak Vian.
"boleh, kalau gak salah setiap Minggu ada car free day di jalan kota Jombang mas, kita kesana saja yuk," ajak Akira.
"boleh tuh, habis itu kita beli ponsel untukmu," kata Vian.
"memang kenapa dengan ponsel milikku mas? ini masih di gunakan," kata Akira menunjukkan ponselnya.
"dek, kita beli yang keluaran terbaru aja ya, biar bisa video call, lagi pula Aira suka main ponsel," kata Vian.
"ya terserah mas saja, aku mah ikut saja," jawab Akira.
"oh ya apa kamu bisa naik motor?" tanya Vian.
Akira hanya mengeleng, Vian tersenyum melihatnya, "kalau begitu habis kamu makan, kita latihan naik motor, mumpung jalan desa sini sepi," kata Vian antusias.
"tapi mas kan lagi sakit, nanti makin parah," kata Akira.
"aku sudah sehat kok, apalagi yang merawat istri sebaik kamu," kata Vian mengusap pipi Akira.
Akira langsung tertunduk malu,sedang Aira sibuk dengan ponsel milik ayahnya.
Akira pun membawa dua piring kotor itu ke belakang, sedang Vian sudah memaki jaket dan berkumpul dengan yang lain.
"Bima pinjem motor mu ya, nanti kalau mau pulang bisa bawa mobil mas yang Xenia," kata Vian.
"buat apa mas, emang mas Vian kenapa butuh motor?" binggung Bima.
"buat Akira belajar naik motor, masak iya kemana-mana harus pakai sepeda pancal kan Kasihan," jawab Vian.
"boleh sih, asal mobil bang Vian kami pakai semingguan gak papa kan, buat aku belajar juga," kata Vera.
"tentu lah, lagian kamu juga sudah bisa kan," jawab Vian.
"bisa sih, tapi adek Abang ini kemaren hampir nabrak pohon, untuk dia ngerem tepat waktu," jawab Bima.
sedang Vera hanya tertawa mengingat bagaimana paniknya Bima saat mobil Vian akan di tabrakkan ke pohon oleh Vera.
Vian pun menghampiri Akira yang sedang membuat sesuatu, "kamu buat apa dek?" tanya Vian.
"lagi buat bakso bakar, sambil makan," jawab Akira.
Vian langsung mematikan kompor dan membawa piring itu ke meja makan, "kalau makan itu duduk, jangan berdiri," kata Vian.
Akira pun mengikuti keinginan Vian, bahkan sekarang Akira pun makan sambil di temani Vian yang sedang meminum susu jahe hangat.
Akira pun selesai, dan melanjutkan membuat pentol bakar untuk semu orang, Vian membantu membawakan keluar.
Akira sudah siap dengan celana jin miliknya, Vian pun sudah menyiapkan sepeda motor milik Bima.
"bang hati-hati ya, itu sepeda motor kenangan kami loh, kalau rusak ganti ya," kata Vera saat Akira di dekat Vian.
"mas, aku takut," kata Akira.
"Vera diamlah, suami bukan orang miskin yang kesusahan, dia bisa membeli lima motor model beginian,"saut Vian yang berhasil membuat Vera kesal.
sedang Fandi tertawa mendengar jawaban Vian, pasalnya Bima memang tidak begitu suka membeli mobil.
meski Vian sering membujuknya, karena Bima tak ingin memanjakan anak dan istrinya, sedang Fandi sudah memiliki mobil meski tua tapi dia membelinya sendiri.
"naik dek," perintah Vian.
Akira pun nik di jok dan memegang setir, Vian menjelaskan setiap tombol dan juga gas.
Akira pun mengerti, kini Vian duduk di jok belakang sambil mendekat ke arah Akira.
"Pepet teros bang, jangan kasih kendor!" teriak Fandi.
"iri bilang bos," jawab Vian.
kini motor pun mulai berjalan, Vian masih membantu memegangi setir, saat merasa Akira sudah terbiasa.
Vian pun memundurkan sedikit tubuhnya dan membiarkan Akira mengendarai sendiri, Vian menjelaskan saat belok Akira harus menyalakan lampu sen.
begitupun saat akan menyebrang jalan, Akira hrus menoleh ke kanan dan ke kiri, Akira pun mengerti setiap yang di ajarkan oleh Vian dengan mudah.
bahkan setelah satu jam Akira sudah bisa mengendarai dengan baik, sambil membonceng Vian.
meskipun mereka berdua hanya mengunakan sepeda motor matic jenis Vario 125 lama, Akira awalnya takut karena berat.
tapi lama kelamaan, dia pun sudah mahir dan terbiasa, sedang Vian sekarang santai duduk di belakang.
"bagaimana dek, mudah kan," kata Vian.
"iya mas, meski awalnya setirnya berat tapi sekarang tidak," jawab Akira sambil tersenyum senang.
"sekarang kita ke jalan besar, sekalian mas pingin beli martabak telur di daerah Tambakberas, jadi kamu yang bonceng ya," kata Vian.
"tapi aku takut mas," panik Akira.
"tenang dek,as di belakang mu, anggap saja ini seperti mengendari sepeda milikmu, jadi santai dan ikuti lajur jalannya ya," kata Vian.
"baiklah mas," kata Akira.
akhirnya mereka pun keluar ke jalan besar, Vian masih memberikan arahan sesekali pada Akira.
saat melihat langganan martabak kesukaan nya, Vian pun meminta Akira untuk berhenti.
Vian tak menyangka mengajari Akira itu begitu mudah, tidak seperti kedua adik perempuan nya yang begitu sulit di ajari.
Kalau berkenan boleh mampir dan support karyaku yang berjudul Sungguh Mencintainya 🙏😉☺️
tegas mirip Romo Jalal
pernah suatu waktu anaknya nangis g mau diam.lsg dibawanya kerumah.alhamduliah begitu kami gendong si baby lsg tenang.
aku sarankan untuk mencari ustadz yg berpengalaman.krna anak ini ada yg jagain.jdi klo ada yg niat g baik dg mengirimi sesuatu, penjaganya marah. itu yg buat si anak rewel..
alhamdulillah..skrg si anak sdh balita.
semangat Thor..🤩🤩
cerita ini sesikit banyak mengingatkan tentang kampung halaman.
pohon rambutan kembar di depan pintu. dijaga macan loreng putih. begitu diceritakan banyak yg tak oercaya dan beranggapan hanya bualan.
giliran surup (menjelang magrib datang) ada balita yg membagikan jajanan beng-beng ke maung di dwpan beberapa ibu2 tetangga.
padahal mrka tak melitah apapun didepan balita itu.
begitu ditanya,si balita bilang..jajannya buat miong yg duduk baik.
nah loh.. kicep lsg para emak2 yg denger.auto bubar masuk rumah masing2..😁😁
apakabar akira selama ini vian..??
hempaskan susukk..😆😆😆
g ada yg nyangka klo jenasah blm mau pulang tanpa maaf dri orang tsb.
jagalahblisan dan perbuatan. krna kadang tanpa kita sadari kita menyakiti orang lain tanpq sengaja dan meninggalkan luka yg mendalam.