"Siapa kamu?" ucap Airin, melihat bayangan laki laki yang berjalan kearahnya.
Kepala Airin terasa sangat berat saat itu membuat nya tidak sadar kan diri, malam yang panjang itu pun ia lalui dengan seorang CEO yang cukup terkenal dikalangan bisnis.
Disinilah Airin memulai kehidupannya.
Bagaimana kisah selengkap nya,,, ikutin terus yaaa:):):):)
.
.
.
Instagram @linaa.pndk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maulina Nur Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 26 - Kejadian Yang Tak Terlupakan
"Auwwww" rintih kesakitan Tiara karena tangannya tergores pot bunga yang ada disana.
"Apa apaan ini!!!" bentak emosi Rey.
Tiba tiba saja Rey datang disaat Brayen mendorong tubuh Tiara, ia melihat Tiara seseorang yang ia tunggu dari dulu. Rey langsung saja membantu Tiara yang tersungkur.
"Reyy kenapa mereka jahat banget sama aku, aku hanya menanyakan keberadaan mu. Tapi mereka langsung mendorong ku" ucap Tiara menangis tersedu sedu.
"Apa yang kalian lakukan!! jangan mentang mentang mamah kalian dekat dengan om, kalian bisa seenaknya sama tamu om" bentak Rey, membuat Frisil semakin ketakutan.
Frisil pikir Rey ialah sosok ayah yang sangat pengertian, namun tiba tiba saja ia melihat sikap asli Om Rey. Brayen langsung menatap tajam ke arah Rey dan Tiara.
"Dia yang melakukan kekerasan dulu om" ucap Brayen dengan suara yang tinggi.
"Kalian ngaco!! Tiara wanita baik baik, dia gak pernah melakukan kekerasan apalagi terhadap anak" bentak Rey kembali.
"Hentikan suara nangismu!!!" bentak Rey kepada Frisil yang terus saja menangis ketakutan.
"Atas dasar apa om berani bentak Frisil, om bukan siapa siapa kita!!!" bentak Brayen melihat Frisil semakin ketakutan.
"Pergii kaliannn!!! Security bawa mereka" bentak Rey menarik tangan Frisil dengan kasar. Security menarik tangan Brayen dan Bryan dengan paksa.
Banyak karyawan yang ingin membantu mereka, namun apalah daya. Jika mereka membantu ia akan kehilangan pekerjaan nya.
"Lepaskan Frisil" teriak Brayen tidak sangat emosi melihat Frisil yang diperlakukan kasar oleh Rey, orang yang sudah Frisil anggap sebagai Ayah nya.
Setelah di lobby, Rey mendorong tubuh mungil Frisil. Bryan ingin sekali membantu Frisil namun kepalanya saat ini memang sangat sakit sekali.
"Pergi kalian, jangan sampai om lihat muka kalian lagi" bentak Rey.
Ingin sekali Brayen menghajar Rey, namun karena tubuhnya yang masih kecil pasti akan sangat mudah dikalahkan. Brayen langsung membopong tubuh Bryan dan merangkul Frisil yang masih menangis.
Sedangkan Di Butik.
"Kenapa sedari tadi aku cemas sekali" ucap Airin kepada kedua sahabatnya.
"Kamu mungkin hanya nerves karena bentar lagi kamu akan meeting sama klien yang cukup berpengaruh besar dalam bisnis kita Rin" ucap Feli menenangkan Airin.
"Kenapa aku terus kepikiran anak anak, tapi ga mungkin terjadi apa apa. Rey sangat menyayangi mereka, Rey pasti akan menjaga mereka dengan baik" batin Airin.
Disisi Lain.
Brayen membopong tubuh Bryan yang mulai lemah karena darah semakin banyak keluar, Brayen langsung menghentikan taxi dan menyuruh mengantarkan ke rumah sakit. Untung saja Brayen membawa sedikit uang saku untuk membayar taxi.
Setalah sampai dirumah sakit, Bryan dan Frisil langsung dibawa UGD untuk diperiksa. Frisil hanya luka luka ringan saja namun mungkin kondisi mentalnya yang diserang, hingga membuatnya terus menangis.
"Permisi dek, apa kamu bisa menghubungi salah satu keluarga mu untuk datang kesini?" ucap Perawat dengan lembut.
Brayen sangat bingung saat itu, ia tidak punya hp. Bahkan tidak tau nomer mamahnya, namun tiba tiba saja Brayen ingat dengan kartu nama Om Alfa yang tertera nomer telfon kantor.
"Ini sus" ucap Brayen memberikan kartu nama Alfa.
"Atas nama siapa kamu dek?" tanya perawat.
"Brayen sus" ucap Brayen.
"Baiklah, kami akan menghubungi keluarga mu" ucap Perawat memberikan kartu nama ke resepsionis.
Di Kantor RZ grub
"*Selamat siang tuan Hyper, ada telfon dari pihak rumah sakit untuk tuan Alfa. 3 anak anak salah satu bernama Brayen. Mereka hanya membawa kartu nama milik tuan Alfa" ucap Karyawan.
"Anak?? baiklah" ucap Hyper menutup telfonnya*.
Hyper langsung berlari menuju ke ruangan Alfa.
"Maaf tuan, ada pihak rumah sakit yang menyuruh tuan untuk datang kesana." ucap Hyper.
"Siapa yang sakit?" Tanya Alfa.
"Tiga anak, salah satu bernama Brayen" ucap Hyper.
"Apaa? Brayen?? Siap kan mobil" ucap Alfa langsung berlari menuju life.
Terlihat jelas kekhawatiran di raut wajah Alfa saat ini, Hyper segera menjalankan mobil mereka menuju rumah sakit dengan kecepatan laju.
Setelah sampai Alfa langsung berlari ke resepsionis untuk menanyakan keberadaan Brayen, dan langsung saja bergegas menuju ruang UGD. Di depan ruang UGD Alfa melihat Brayen yang mondar mandir penuh kekhawatiran di raut mukanya.
"Boy apa yang terjadi? siapa di dalam?" tanya Alfa langsung memeluk erat tubuh Brayen.
"Bryan dan Frisil anak bungsu" ucap Brayen lemas.
"Ini kenapa Boy?" ucap Alfa melihat luka gores di lutut dan siku Brayen.
"Tidak papa Om" ucap Brayen.
"Hyper ambilkan kotak obat" ucap Alfa kepada Hyper.
"Baik tuan." ucap Hyper.
Alfa langsung segera mengobati luka gores yang ada di tubuh Brayen. Setelah beberapa menit, dokter keluar dari ruang UGD.
"Keluarga pasien?" tanya Dokter.
"Iya dok, saya ayah nya" ucap Alfa tiba tiba, hal itu pun membuat Brayen melihat ke arah Alfa dengan tatapan sendu.
"Ikutlah denganku, pasien Bryan membutuhkan banyak darah karena benturan yang cukup keras" ucap Dokter membuat nya bingung.
"Bagaimana ini?? aku bukan lah ayah kandung Bryan, bagaimana aku bisa mendonor kan darahku padanya." batin Alfa.
"Maaf dok sebelumnya, saya bukan ayah kandungnya. Kalo boleh tau apa golongan darah Bryan?" tanya Alfa.
"O-Negatif." ucap Dokter.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Haii semuanya
Jangan lupa LIKE, COMENT, FOLLOW yaa
Instagram @linaa.pndk