NovelToon NovelToon
Cinta Tak Terungkap

Cinta Tak Terungkap

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:333.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: an-nashihah

Namaku Hilya Nafisah. Lahir dari keluarga sederhana dipelosok desa. Mendapat jodoh diperantauan dengan orang kaya raya. Hidup berkecukupan, semua yang ku inginkan terpenuhi.

Namun hidup tidak selalu melulu tentang uang. Aku mendapat suami yang kaya harta namun miskin hati. Selalu cuek dan dingin serta selalu mengabaikan ku. Akankah aku kuat untuk terus bertahan? Memilih cinta atau harta?

dimanakah aku akan menemukan kunci bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon an-nashihah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemakaman

"Maaf. " Hanya kata itu yang diucapkan dokter, tak ada penjelasan lain. "Ikhlaskan kepergian nya, semoga dilapangkan kuburnya, dan diterima semua kebaikannya. Kakek mu orang baik." Lanjut pak dokter menghibur mas Faris yang masih diam mematung, dengan mata merahnya.

Semua yang menjenguk kakek menangis sesenggukan, banyak yang kehilangan sosok dermawan dan rendah hati seperti kakek.

"Gimana, zah? Jasadnya mau dimandikan dirumah atau rumah sakit?" Hamzah yang ditanya, karna mas Faris selaku cucu aslinya masih diam dengan pemikirannya, tak bisa diajak berdiskusi, hanya mematung menatap nanar jasad kakek yang terbaring.

"Aku pasrahkan ke rumah sakit aja. Aku akan menghubungi yang lainnya dulu." Jawab Hamzah. Aku masih menagis mencoba ikhlas, karna paling tidak sekarang kakek sudah tidak merasakan sakit lagi.

Ku lihat wajah damainya yang seakan sedang tidur dan bermimpi indah, tertanda dengan senyum yang tersungging halus dibibirnya. Kakek orang yang baik, pasti juga akan mendapatkan tempat terbaik. Hanya itu yang bisa mengurangi kesedihanku, yakin kalo kakek akan mendapatkan tempat terbaik. Kami akan selalu berdoa untuk kebaikannya.

"Trus pemakammannya akan dilangsungkan atau menunggu anak-anak yang lain datang?" Tanya dokter lagi memastikan, karna hari semakin sore, langit sudah mulai nampak berubah warna, menandakan siang kan berlalu. Sedangkan yang kehilangan masih enggan beranjak dari sisi kakek.

" Segera siapkan aja, kalo kekejar langsung dimakamkan, tapi kalo kemalaman besok aja! Kita tak perlu menunggu yang jauh sampai, yang penting dikasih kabar." Perintah Hamzah lagi.

Aku tahu, dua dari anak angkat kakek sedang menempuh pendidikan diluar negeri. Tapi katanya libur Idul Fitri akan pulang menjenguk kakek saat dikabarkan kakek sedang sakit kemaren, tapi tak tahu pasti kapan jadi pulangnya.

Kini beberapa orang perawat datang, menutup raga kakek dan membawanya keluar ruangan, untuk diurus pemandian dan sebagainya. Aku masih duduk melantai tak berniat beranjak. Sebenarnya aku tahu semua akan terjadi, yang bernyawa pasti akan mati, itu sudah ketentuan sang illahi. Tapi sungguh ketika kehilangan rasa sakit dan sedih itu pasti ada, tak mudah untuk menanamkan ikhlas melepas orang yang kita sayang. Memang aku bukan cucu kandungnya, tapi kakek selalu mampu membuatku merasa dihargai dan disayang serta dipedulikan, mungkin begitulah sikap kakek kesemua orang yang diangkat menjadi anaknya.

Kini beberapa orang sudah pulang. Mas Faris dan aku juga sudah dituntun untuk pulang,biarkan Hamzah yang mengurus semuanya. Kami menunggu dirumah saja, lemas semua badan rasanya, dan bentar lagi juga waktunya berbuka puasa.

Aku sudah sampai rumah, sudah banyak orang berdatangan untuk takziah. Beberapa mobil juga sudah terparkir rapi, menandakan anak-anak angkat kakek sudah pada datang, dan juga para kerabat. Sebenarnya kakek sudah tak punya kerabat kandung, hanya teman-teman yang sudah menganggap saudara. Sedangkan saudara dari bunda rencana juga akan datang tapi masih diperjalanan.

Beberapa ibu-ibu menyambut mas Faris dan aku dengan pelukan.

"Yang sabar, jangan putus kirim doa.Doa anak Sholeh selalu bisa menolongnya ."

"Kakek Mario orang yang baik dan dermawan, pasti dapat tempat yang lapang."

"Dia orang yang Sholeh dan selalu membantu sesama, pasti akan mendapat balasan yang baik juga."

Beberapa kata-kata yang terdengar di telingaku, banyak orang menangis dan yakin kalo kakek orang yang baik. Aku tak terlalu hapal nama dan wajah mereka, sebagian tetangga sekitar dan mungkin beberapa kawan kakek. Ramai sekali orang berdatangan untuk takziah.

Tepat setelah adzan isya terdengar suara raungan sirine, menandakan jasad kakek sudah sampai. Aku tak ikut menyambut, rasanya kakiku masih terlalu lemah untuk diajak berdiri. Bahkan nafsu makan ku hilang, hanya minum teh hangat satu gelas pun tak habis, dan sampai kini belum makan nasi.

Ku lihat mas Faris sudah ikut sibuk mempersiapkan semua, mengaji disamping jenazah kakek yang sudah terbungkus kain kafan.

Banyak yang bergadang untuk mengaji , aku masih duduk menunduk dengan para ibu-ibu.

Bagaimana nasibku kedepannya? Apakah aku boleh berharap semua kan baik-baik saja? Apakah aku masih tetap kekeuh untuk bertahan atau memilih pulang? Otakku masih tak mampu berpikir dengan baik.

***

Kini kakek sudah dimakamkan, dan setiap malam selalu banyak orang berdatangan untuk berdoa bersama untuk kakek. Selalu ramai tamu yang ikut mendoakan kakek, bahkan ruang tamu penuh hingga menambah tenda didepan rumah untuk menggelar doa bersama. Karna masih bulan ramadhan berdoa dilakukan setelah sholat tarawih.

Sekarang sudah malam ketujuh, masih banyak yang berdatangan. Kakek yang seorang pendatang, tak ada adat pemakaman khusus. Pemakaman dilakukan seperti orang Islam pada umumnya.

Selama seminggu pula mas Faris menetap disini, beberapa temannya ikut datang mengunjungi, hanya Joni yang tak datang karna disibukkan dengan pekerjaan, menghandle semua urusan pekerjaan selama mas Faris tak datang.

Esok harinya setelah subuh aku sendiri jalan-jalan disekitar perkebunan, menikmati udara segar dan pemandangan yang menyejukkan mata. Sebentar lagi idul Fitri, tiga hari lagi. Para penghuni rumah sudah mulai menyiapkan makanan ringan untuk menyambut idul Fitri.

Semua anak asuh kakek semua sudah datang. Semua berjumlah dua puluh, yang tiga sudah berkeluarga dan memiliki anak-anak kecil, dan yang sekolah keluar negeri juga sudah datang. Ramai sekali setiap hari, aku sudah paham dan hapal nama mereka semua.

"Assalamualaikum." Ucapku saat sudah kembali kerumah lagi,sudah puas berkeliling, dan yang pasti matahari sudah mulai naik dan membuat cuaca panas.

"Waalaikum salam." Jawab kompak yang sedang berkumpul. Ada acara apa ni kok kumpul semua diruang tamu? Namun semua diam menatapku, kemudian saling berpandangan.

"Non Hilya masih disini?" Tanya Hamzah yang dari dulu selalu panggil nona, padahal beberapa yang lain sudah panggil nama atau mbk.

"Emang harusnya dimana?" Tanyaku balik, aneh dengan semua tatapan nya.

"Nggk ikut Faris pulang?" Tanya yang lain. Apa mereka berkumpul karna setelah melepas kepergian mas Faris?

" Iya tadi mas Faris buru-buru ada masalah di pabrik katanya, besok sudah mulai libur jadi harus selesai hari ini katanya." Jelas yang lain.

Kini aku yang terbengong, terdiam tak mampu bergerak. Belum sembuh sedihku karna kehilangan kakek, kini tambah ditinggal suami pulang. Kecewa, hanya itu yang kurada saat ini.

Apakah aku benar-benar tak diharapkan? Sampai pulang tak menungguku datang? meskipun hanya sekedar berpamitan.

Aku lari kedalam kamar, kamar yang satu minggu ini aku tempati bersama mas Faris. Aku pikir semua kan lebih baik, ternyata sama saja. Ku ambil hp yang sedang diisi baterai. Ku buka, ada satu panggilan dari mas Faris, namun tak ada pesan apapun disana.

Badanku luruh terduduk dilantai, ku panggil ulang nomer mas Faris , namun tak ada jawaban, hingga ku ulang berkali-kali tetap tak ada jawaban. Hatiku semakin kecewa ingin rasanya ku pulang kerumah orang tua, sebentar lagi hari raya bukan?

Tapi tidak. Aku harus meminta penjelasan, pulang menemui mas Faris untuk meminta penjelasan kenapa meninggalkanku, segenting apa urusannya? Sebesar apa masalahnya? Tak boleh kabur.

1
Whatea Sala
Sepertinya lebih takut sama suami dari pada ke tuhan😁
Whatea Sala
Senang banget bertahan dan tersiksa,yang pasti sudah tau ujungnya semua buang2 waktu dan akan sia sia,jangan jadi orang bodoh dengan terus bertahan,cobalah sayangi dan hargai diri sendiri.
Wiwin Winarti
waw keren orang Bengkulu Rafflesia Arnoldi, bagus ceritanya, saya suka
Randa kencana
ceritanya sangat menarik
DearPE
Baper aku thor
DearPE
Udah gak tau mau ngomong apa yang pasti aku sukaaaa bangettt kak author baru sampai sini aja aku udah dibuat kehabisan kata-kata bacanya saking bagusnya
Wasiatik Atik
kasihan hilya
Afni Marlina
asyiik ceritanya semangat Thor
Elisa Damayanti
tamate mosok nggantung....
Agoes Feri SH
bonus chap donk thor
Nurhayati Yesha
ya Allah..sedih bget baca nya.dari SE kian purnama bru ada yg komen
Elisa Damayanti
y Allah kasihan nya si Aidan.... semoga cepat sembuh tuh ummi sm abinya..
Elisa Damayanti
g rampung2 cobaan ne hilya....
Agoes Feri SH
up donk
Agoes Feri SH
lagi othor
Agoes Feri SH
othor up donk
Elisa Damayanti
bang za payah nih....
Agoes Feri SH
othor up donk
Agoes Feri SH
lanjut thor
Agoes Feri SH
lanjut othor sayang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!