Lucky Wayland, awalnya hanya exorcist biasa yang bekerja sebagai pemburu dan pengusir hantu. Ia yang merupakan seorang exorcist handal tiba-tiba harus dipertemukan dengan dua iblis penggoda yang membuat kekacauan di tempatnya tinggal. Lucky dengan ditemani kedua rekannya, yaitu Jane dan Peter, berusaha untuk mengirim kembali iblis tersebut ke tempat yang seharusnya.
Namun, hal itu membuat Lucky secara tidak sengaja mengingat potongan ingatan kehidupannya yang sebelumnya. Potongan ingatan sebelum ia terlahir kembali sebagai seorang exorcist.
Disinilah rasa penasaran mulai hadir, ketika tanya dalam dirinya muncul mengenai siapa orangtua dan bagaimana ia bisa hidup sebagai seorang exorcist. Lucky akhirnya berusaha untuk mencari tahu semua masa lalunya dengan dibantu oleh Jane dan Peter.
Lalu…
Akankah usaha mereka membuahkan hasil? Apakah Lucky bisa kembali mengingat semuanya? Dan bisakah Lucky mengirim dua iblis tersebut kembali ke tempat yang seharusnya?
Temukan jawabannya di "Exorcimus: Lux In Tenebris."
Story by: Bintang Hamal
Illustration by: Pinterest
🚫Warning🚫
Hanya cerita fiktif belaka! Semua kejadian, tokoh, dan tempat hanya karangan semata.
Follow author on Instagram @hamalbinbin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Hamal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 | Pertemuan Rei dengan gadis pemarah
...****************...
"Tuan!" Suara itu mengusik tidur nyenyak Rei. "Tuan," ucap pria itu sekali lagi seraya mencolek pipi Rei dengan telunjuknya, Rei mengerjap kemudian perlahan matanya terbuka. Ketika Rei membuka mata, pandangannya kabur akibat cahaya yang begitu menyilaukan, tangannya terangkat mencoba meminimalisir cahaya itu pada penglihatan nya. Lalu Rei menyadari sesuatu, seorang pria tampan dengan rambut albino itu tengah memandangi dirinya dengan raut wajah senang, senyuman hangat itu terpancar dari wajahnya.
"Ahh, aku dimana?" Rei bangkit dan duduk di tempatnya saat ini terbaring. Pandangannya mengedar ke sekeliling dan ia mendapati pemandangan yang asing baginya, walaupun asing tetapi hati kecilnya merasa bahwa dirinya pernah kesana sebelum ingatannya itu hilang.
"A-aku dimana?" Gumamnya sekali lagi. Lelaki berambut albino itu tersenyum, kemudian berdiri dari tempat duduknya saat ini.
"Pasti tuan lupa, ini adalah dunia khusus yang tuan buat untuk bisa bertemu dengan William dan Elvina."
"Huh? Apa? Dunia yang ku buat?" Rei mengulangi ucapan itu.
"Iya, ini adalah dunia yang tuan buat. Selamat datang kembali tuan, di dreams world," tutur pria itu seraya mendongakkan kepalanya. Angin berhembus menerpa wajah tampannya.
"Siapa kau sebenarnya?" Tanya Rei memberanikan diri. Pria itu menoleh ke arah Rei.
"Sudah ku katakan, aku ini adalah bagian dari diri tuan dan kita tidak bisa di pisahkan! Aku akan selalu ada disana. Kemanapun tuan pergi aku akan selalu ikut, selamanya aku disini untuk tuan dan tuan disini untukku. Dan dimana pun tuan berada, aku akan selalu tahu itu dimana. Dan ketika tuan memanggil namaku, aku akan selalu bisa mendengar nya," ucap lelaki itu. Kalimat yang ia ucapkan seakan pernah Rei dengar, tetapi lagi-lagi ia tidak dapat mengingatnya.
"Kenapa aku seakan pernah mendengar kata-kata itu? Tapi, dimana?" Rei membatin.
"Ah ya. Siapa namamu?" Tanya Rei, lelaki itu hanya tersenyum tak menjawab. Kedua manik matanya kemudian menatap ke arah langit biru yang begitu indah, membentang luas di hadapannya.
"Jika saatnya tiba, tuan akan mengetahui nya!" Gumamnya.
...****************...
Perlahan Rei melangkah keluar dari dalam mobil yang ia tumpangi itu, seragam putih telah terpasang rapi lengkap dengan perlengkapan sekolah lainnya.
Kini ia berdiri, tepat di depan gerbang yang kini di penuhi oleh siswa-siswi yang tengah berjalan masuk ke dalam area sekolah. Begitu dirinya keluar, orang-orang di sekitar spontan menoleh ke arah Rei dan sesekali berbisik. Rei tak menghiraukan mereka, karena ia tahu apa yang mereka bicarakan itu hanyalah sebuah ekspresi keterkejutan mereka karena Rei yang tiba-tiba kembali ke sekolah setelah sekian lama menghilang tanpa kabar.
"Ayo lewat sini," ucap lelaki yang baru saja keluar dari dalam mobil, lelaki itu memakai jas yang begitu rapi. Dia adalah orang suruhan yang di tunjuk oleh orang tua Rei untuk mengantarkan Rei ke sekolah dan menjelaskan semuanya pada Rei dan guru-guru yang ada di sekolah. Rei berjalan mengikuti lelaki itu menuju ruang guru, ada yang harus mereka lakukan berlebih dahulu sebelum masuk.
Rei terus berjalan, kedua matanya sejak tadi tak lepas dari sekeliling menyapukan pandangannya pada bangunan sekolah yang begitu indah, megah, tetapi memiliki aura yang cukup aneh. Dan Rei dapat merasakan nya, seakan ada energi negatif yang terpancar dari dalam sekolah itu tetapi tidak ada orang yang tahu dan tidak ada yang menyadari hal itu.
BRUKKK
Seorang gadis secara tiba-tiba menabraknya dari arah belakang. Gadis itu hampir saja terjatuh tetapi dengan cepat Rei menangkap tubuh gadis itu membuatnya terjatuh tepat di pelukan Rei.
Gadis itu terdiam, mata mereka saling bertatapan satu sama lain. Rei menatap manik mata indah gadis itu, tatapan mata itu tidak asing baginya. Seakan-akan ia pernah melihat mata yang sama yang di miliki gadis itu tetapi entah dimana.
"Lu—" tiba-tiba gadis itu melongo menatap kejadian di hadapannya, sahabat nya tengah bermesraan dengan laki-laki yang di tabrak olehnya.
"Lepaskan!" Ujar gadis itu seraya mendorong tubuh Rei. Rei lantas membantunya berdiri.
"Jadi, kau kembali? Ku pikir kau tidak akan pernah kembali!" Ujar gadis itu ketus pada Rei. Rei menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Maksudmu?" Ucap Rei bingung.
"Lucia!" Panggil gadis berambut panjang bergelombang itu, gadis di hadapan Rei menoleh ke arahnya mendapati sahabatnya itu berjalan menghampiri nya.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya gadis itu pada Lucia.
"Tidak! Tidak usah khawatir!" Ujarnya.
Rei lantas berlalu meninggalkan mereka berdua, ia berjalan mengikuti pria tadi, yang telah berjalan cukup jauh darinya.
"Tunggu, bukankah itu Rei?"
"Iya! Dia kembali!" Ujar Lucia seraya menatap punggung laki-laki itu.
"Wah sepertinya kau tidak akan murung lagi!" Ucap gadis itu menggoda Lucia.
"Apa maksudmu! Selama ini aku tidak pernah murung. Lagi pula kenapa aku harus murung?" Ujar Lucia ketus.
"Jangan seperti itu, aku tahu kau suka padanya. Hanya saja gengsi mu terlalu tinggi untuk mengakui perasaan mu padanya!" Ujar gadis itu.
"Dengar ya Gloria! Aku dan dia itu rival! Kami bersaing, dan tidak pernah saling menyukai! Ingat itu!"
"Ahh, aku sebal padamu. Kau tidak pernah peka terhadap perasaan mu sendiri!!! Cobalah untuk peka terhadap perasaan mu sendiri. Jangan terus menerus membohongi perasaanmu jika kau mencintainya!"
"Gloria!!! Kau ingin ku pukul?!"
"Coba saja jika kau bisa!" Kata Gloria seraya berlari dengan cepat menjauh dari Lucia.
"Jangan lari kau!!!" Pekik Lucia seraya berlari mengejar Gloria sahabat nya, mereka lantas bermain kejar-kejaran sebelum bel masuk berbunyi.
...****************...
Disisi lain Rei baru saja selesai mengunjungi ruang guru, dan bel masuk sejak tadi sudah berbunyi, semua orang yang berada di luar kini sudah kembali ke kelas masing-masing dan bersiap untuk mengikuti pelajaran yang akan segera di mulai. Begitu selesai dari ruang guru, Rei berpisah dengan pria yang tadi membantunya. Kini dirinya melangkah dengan di temani seorang guru menuju ruang kelasnya.
Rei berjalan mengikuti nya dari arah belakang, jantungnya berdegup kencang dan napasnya tak beraturan. Beberapa kali Rei mencoba mengatur napasnya, Rei benar-benar merasa gugup. Karena untuk pertama kali dalam hidup nya, ia bisa menginjak kan kaki nya di sekolah dan bersiap untuk mengikuti pelajaran nya di hari pertama.
Sepanjang jalan, mata Rei tak lepas dari sekeliling sekolah. Semua bangunan itu lagi-lagi terasa familier tetapi lagi-lagi ia tidak pernah bisa mengingat dimana ia pernah melihat nya. Matanya kemudian terpusat pada satu titik, tepat di seberang lapangan itu Rei dapat merasakan sebuah aura aneh yang muncul, tetapi Rei tak tahu itu aura dari apa.
"Rei ayo masuk," ujar Bu Clara guru yang mengantarkan nya hingga ke kelas, wanita membuyarkan perhatian Rei dari seberang lapangan.
"Baik Bu!" Ujar Rei seraya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Begitu Rei melangkahkan kaki memasuki ruang kelasnya teman-teman sekelasnya bersorak kegirangan mengetahui teman mereka telah kembali setelah menghilang sangat lama tanpa kabar yang jelas.
...****************...
oh, ya. mampir di novelku, judulnya "Stay Stand". Walau tak sempurna sih, tapi aku bilang itu novel terbaikku.
Ijin promosi, yuk ke NATHANIEL X KLARA
Jgn lupa klik like, komen, vote dan follow yaa
Makasihh 🙏🏻😊
Bagi yang berkenan, Yuk singgah ke MHK "Mutant Holder Katana."