NovelToon NovelToon
Siksa Sang Psychopath

Siksa Sang Psychopath

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Badboy / Pembunuhan / Kriminal / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Romansa / Tamat
Popularitas:227.5k
Nilai: 4.6
Nama Author: wati

Carla, seorang gadis yang memiliki sosok kekasih yang mencintainya dengan abnormal. Rasa cinta yang dimiliki oleh kekasihnya untuk dirinya, seakan merantai hidupnya. Kekangan yang mengerikan menjeratnya pada sebuah lingkaran, tak berujung dan terus berputar. Hatinya milik laki - laki itu, jiwanya, raganya, termasuk nyawanya.

Dirinya akan bertahan, itu pasti. Karna hatinya telah terenggut begitu saja, dan masuk ke dalam hidup kelam lelaki itu. Namun jika jiwanya terus terkikis, maka satu hal yang akan ia lakukan.

Pergi.

"Aku nyerah, mari kita akhiri sampai disini Steve."

Percaya atau tidak, bibirnya sungguh kelu untuk mengatakan itu. Tubuhnya gemetar, karena cinta yang ia impikan selama ini ternyata semenyakitkan itu.

"Ahkk.." teriak Carla kala tangan kokoh itu menekan luka di dahinya sambil tersenyum smirk.

Carla tersenyum kecut.

"Mati atau tetap bersamaku?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Pagi itu, sebuah kendaraan roda empat melaju perlahan ditengah keramain kota London. Sebuah kota tua modern, yang sekarang lebih dikenal dengan nama Inggris. Hiruk pikuk keramaian melanda, aroma parfum yang semerbak menyatu menguar di udara. Mobil itu melaju perlahan, seolah hari adalah miliknya.

Pemilik iris mata hitam kelam itu terlihat fokus menatap kedepan sambil mengemudi. Meski tatapannya tak teralihkan sedikitpun, namun ia bisa merasakan jika gadis disampingnya ini tidak seperti biasanya.

"Kenapa kau diam saja?"

Carla menoleh sekilas, lalu kembali menatap jalanan melalui jendela mobil. "Apa yang harus kukatakan?" Balasnya tanpa menatap lawan bicaranya.

Steve menghela nafasnya gusar, entah kenapa sikap kekasihnya terasa begitu aneh. Dan yang paling membuatnya kesal adalah Carla yang berbicara tanpa menatapnya, seolah ia berbicara sendiri. "Carla.." Panggilnya lembut, sebisa mungkin ia tahan gejolak amarah yang membara dihatinya. Steve meraih tangan gadisnya, dan menggenggamnya lembut. Tidak ada penolakan, namun ucapan yang terlontar dari gadisnya terdengar begitu pahit.

Gadis itu terlihat bergeming, tangannya yang bebas terlihat mengepal kuat. Namun mata itu tak menunjukkan ekspresi apapun, netral seolah tidak terjadi apa - apa.

Tidak ada sahutan, hening. Steve mencengkram kuat stirnya. Lalu menatap tajam gadisnya yang tanpa ekspresi itu, seolah tidak ada guratan emosi apapun. Tangan yang menggenggam lembut, kini tak lagi.

Steve meremas kuat tangan Carla, sambil bergumam pelan, "Carla......" Bisiknya rendah, dengan tatapan tajamnya kedepan menghunus bak sebilah pedang.

Carla masih bergeming, tanpa menoleh sedikitpun ataupun membalas genggaman tangan itu. Hingga sedetik kemudian ia merasakan tangannya yang terhempas kasar, dan makian yang memekakkan telinga. Tinjuan yang berdengung keras masih tak membuatnya menoleh sedikitpun.

Laju mobil yang tadinya begitu pelan, kini melaju cepat membelah jalan raya yang begitu ramai. Steve memacu mobilnya cepat, sambil mencengkram erat stirnya. Amarah yang ia tahan sejak tadi, kini tak dapat dibendung lagi. Rasa cinta sebesar apapun, tak dapat memadamkan amarahnya saat ini. Apa yang terjadi? Hingga gadisnya sampai mengabaikannya seperti ini.

Hiruk pikuk dan antusias para siswa siswi Burlington School mulai terlihat. Dari kejauhan terlihat sebuah mobil yang melaju kencang membelah keramaian yang membuat semua orang menyingkir tanpa mengatakan sepatah katapun. Sampai parkiran Steve mematikan mesin mobilnya lalu langsung keluar dan membanting pintu kasar.

"Wow, apa sedang terjadi badai disini? Tapi sepertinya matahari bersinar cerah."

Keheningan yang semula terjadi, pecah begitu saja akibat kedatangan seseorang dengan suaranya yang terdengar menyindir. Seolah sudah tau apa yang sedang terjadi. Alden berjalan mendekati Steve dan dengan santainya ia beralih merangkul bahu lelaki itu.

Steve menoleh dan menatap Alden dengan malas sambil menepis kasar tangan lelaki itu yang berada di bahunya. "Urus saja urusanmu sendiri!" Desis Steve sambil menatap Alden tajam.

Alden tersenyum kikuk, sambil menggaruk tengkuknya. "Aku hanya menanyakan cuaca, kenapa kau begitu marah?" Tanyanya dengan cengiran diwajahnya.

Steve berdecih, dan berlalu pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Tidak ada gunanya juga ia mendengarkan omong kosong lelaki itu, yang malah semakin membuat mood nya bertambah buruk. Jika saja lelaki dengan senyum konyol itu bukan sepupu kekasihnya, maka pisaunya sudah pasti bertindak.

Suasana kembali normal, atmosfer udara pun kembali seperti semula. Hadirnya laki - laki itu benar - benar memberi dampak bagi suasana disekitarnya.

Sedangkan di dalam mobil Carla masih bergeming dengan wajahnya yang tidak menunjukkan emosi apapun. Setelah melihat Steve berlalu pergi, ia pun membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Namun belum satu langkah, ia sudah menghentikan langkahnya. Pandangannya mengabur, kepalanya berdenyut nyeri. Carla memejamkan matanya sejenak dan bersandar di mobil kemudian mengambil botol minum di  tasnya dan meminumnya perlahan.

Lelaki itu masih saja tertawa sambil memegangi perutnya, "Ada apa dengannya? Wajah marahnya lucu sekali..." Ujar Alden sambil tertawa terpingkal - pingkal. Suasana parkiran yang tadinya hening, kini menggema dengan tawa lelaki itu. Semua siswa siswi yang berada disana tak jua menatap Alden dengan pandangan aneh. Pasalnya, apa yang lelaki itu tertawakan?

Puas tertawa, Alden berdehm sejenak. Ia tau, bahwa semua orang yang berada di parkiran menatapnya dengan pandangan aneh. Lalu, apa pedulinya? Selagi itu membuatnya senang, taka ada yang bisa menghentikannya. Termasuk– Alden tersentak kemudian dengan cepat ia hendak menuju kelasnya. Hari ini adalah hari, paling indah dalam hidupnya. Penantian ini, sudah ia tunggu sejak lama. Dan sekarang adalah awal baru yang ia mulai dengan senang hati.

Dengan sumringah Alden berjalan hendak menuju kelasnya, namun ia kembali menghentikan langkahnya karna mendengar sesuatu yang jatuh dibelakangnya. Ia pun menoleh, dan membelalak kaget. "Vall–" Ucapannya terhenti begitupun langkahnya yang hendak menghampiri seorang gadis yang terjatuh. Alden tersenyum, kemudian berlalu pergi. "Sepertinya akan seru...."

***

"Hi miss miss, how was your morning?"

Sapaan disertai kerlingan nakal itu, berhasil menyita atensi semua siswa siswi yang berlalu di koridor dan menatap aneh seorang laki - laki yang bersandar di tiang sambil bersedekap dada. Rambut acak - acakan, kancing kemeja teratas yang terlepas, dan sepuntung nikotin yang terselip di sela jarinya. Meskipun begitu, tak sedikit dari kaum hawa yang terpekik sambil memperbaiki penampilannya masing - masing.

Melihat pekikan riang itu, membuat sudut bibir laki - laki itu tertarik. "Wow, amazing. Tadi matahari cerah, kenapa sekarang tiba - tiba mendung?" Ujarnya lagi sambil mengamati sang surya dengan intens.

"Mendung gimana, masih cerah gini." Sahut seorang gadis yang berambut beach bold dengan potongan sebahu. Matanya ikut menyipit, menatap sang surya yang kian terasa terik.

Galen tersenyum, kemudian menoleh dan menatap gadis berambut sebahu itu. "Iya, tapi sebagian cahayanya sudah berpindah padamu. Lihatlah senyummu yang lebih cerah dari matahari. Sampai ia pun enggan untuk menyapanya."

Gadis itu melotot tak percaya, akan apa yang terlontar oleh seorang badbooy dihadapannya itu. Ia kemudian menoleh kesamping dan tersipu malu sambil menyelipkan anak rambutnya. Tak terkecuali juga siswa siswi lain yang menyaksikan hal tersebut menatap dengan tatapan tak percaya.

"Wow gombalan indah, di pagi hari yang cerah. Sepertinya aku akan berguru padamu."

Galen menoleh kebelakang, menatap datar seorang laki - laki yang tiba - tiba saja datang dan apa katanya tadi, berguru?

"What? Sorry, but I don't accept students."

Alden tersenyum dan berjalan mendekat sambil memasukkan tangannya ke saku celananya. "Hah? Apa kau yakin, tidak mau menerima murid tampan dan baik sepertiku ini?"

Galen berdecak dan menatap malas laki - laki dihadapannya yang tengah bercermin sambil merapikan rambutnya. Ia kemudian menghisap sepuntung rokok yang masih berada di tangannya kemudian membuangnya asal. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Galen sambil memperhatikan Alden intens.

"Bercermin, apalagi? Kadar ketampananku bisa hilang nanti, meski nggk bakal hilang sih. Kan permanent, ya nggk?" Ujar Alden sambil menaikkan sebelah alisnya, yang semakin membuat Galen merasa  muak.

"Apa kau sudah gi–?

"Tunggu!" Sela Alden cepat sambil memberikan cerminnya begitu saja  pada Galen. Kemudian berlalu pergi dengan cepat.

Galen menatap cermin di tangannya kemudian menatap aneh Alden yang sudah berlalu jauh. Ia rasa lelaki itu sudah kehilangan kewarasannya. Ia mengidikkan bahunya acuh, lebih baik ia kembali pada gadis yang berhasil membuat sinar matahari mampu meredup. Galen menoleh kebelakang, sepi. Ternyata gadis itu telah pergi. Galen tertawa keras, kemudian berlalu pergi.

***

Carla mengambil botol minumnya, lalu meminumnya perlahan. Tenggorokannya terasa kering, bahkan untuk bicara pun rasanya begitu menyakitkan. Setelah selesai, ia kembali menyimpan airnya di dalam tas. Hari sudah siang, dan sepertinya kelas akan segera dimulai. Carla berusaha berjalan secepat mungkin, meski lututnya terasa lemas dan kepalanya yang terasa berdenyut nyeri.

Melihat seluruh siswa siswi yang segera meninggalkan parkiran membuat Carla semakin mempercepat langkahnya. Namun tiba - tiba saja kakinya tersandung yang membuatnya terjatuh. Carla berusaha berdiri sambil memegang lututnya yang terasa begitu nyeri. Ia tersenyum miris, jangan harap ada yang menolongnya disini. Bahkan menatapnya pun, ia rasa orang - orang enggan. Kata 'menyentuh berarti mati' sepertinya telah melekat di pikiran orang - orang.

"Hei apa yang terjadi padamu? Mari aku bantu."

Carla mendongak, menatap siapa gerangan yang hadir untuk menolongnya. Ia menatap uluran tangan dihadapannya dengan ragu, haruskah ia menerimanya?

...TBC...

...VOMENT...

1
Dina Nurazizah
plisss up lagiii
Ref Nita Pilii
Luar biasa
Dina Nurazizah
kenapa banyak teka teki 😭😭😭
Eci Rahmayati
Luar biasa
Denzo_sian_alfoenzo
stlh bc ni novel branda q langsung d penuhi dgn novel2 yg gk jls ngegantung smau 👊🤯
Denzo_sian_alfoenzo
stlh bc ni novel branda q langsung d penuhi dgn novel2 yg gk jls ngegantung smau 👊🤯
Denzo_sian_alfoenzo
kagak ada yg bnr, ni orng psyco mn smua novel nya kagak ada yg selesai asw 🤯
Denzo_sian_alfoenzo
q kira clara bkln bnuh diri trnyt tdk 😧
Denzo_sian_alfoenzo
knp klo psycopatnya bnyk jd b aja ni cerita 🤧pdhl aq dh berhrp banyak nih
Denzo_sian_alfoenzo
astaga 🤯
Denzo_sian_alfoenzo
hrs ya jdul novel ni bkn siksaan psyco tp dunia zombi
Denzo_sian_alfoenzo
jgn2 carla hanya bahan buat bls dendam
Denzo_sian_alfoenzo
aduhhhh ni pasti moyang nya kopat
Denzo_sian_alfoenzo
smpe sni aq msh ragu jgn smpe dh seru gni mlh happyend benci aq tuh 😣
Denzo_sian_alfoenzo
gk bs ber kata2 🥵🥵🥵🥵
Denzo_sian_alfoenzo
hubungan mreka bagian obat ,pait tp menyembuhkan 🤧
Denzo_sian_alfoenzo
psyco emng gk btuh dokter 🤣
Denzo_sian_alfoenzo
aq berharap kebucinan tdk segera dtg btw knp gk ada asal usul ato apa gtu cerita ini kek ujug2 dh smpe pertengahan awlnya gk ada
Denzo_sian_alfoenzo
aq suka apa aq termasuk psyco 🤧
Denzo_sian_alfoenzo
aq suka 👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!