NovelToon NovelToon
The Ragen: Escape From Zombie Apocalypse

The Ragen: Escape From Zombie Apocalypse

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Duniamasadepan / Zombie / Mutan / Tamat
Popularitas:165.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aria Monteza

(Dalam mode edit)
Tahun 3035. Dunia yang dulunya damai kini berubah menjadi neraka. Virus mematikan, yang mereka sebut Ragen, mengoyak peradaban, mengubah manusia menjadi makhluk buas yang haus darah. Mereka bukan sekadar zombie, bukan sekadar mayat hidup. Mereka adalah Ragen, mimpi buruk terburuk umat manusia. Di tengah kekacauan, sekelompok pemuda berjuang untuk bertahan hidup, mencari perlindungan terakhir. Setiap langkah adalah pertaruhan, setiap pertemuan bisa menjadi akhir. Kehilangan adalah harga yang harus mereka bayar, luka dan duka menjadi teman setia. Mampukah mereka selamat dari kiamat ini? Akankah mereka menemukan harapan di tengah kegelapan? Perjalanan mereka baru saja dimulai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aria Monteza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27. A STORY

Beberapa dokter dibantu team medis lainnya terlihat sedang sibuk meracik obat-obatan dan menyiapkan peralatan operasi. Berita dikirimnya pasukan untuk menaklukkan pusat pembangkit energi telah sampai di telinga mereka tadi pagi, maka dari itu mereka menyiapkan segala sesuatu untuk menangani pasukan yang terluka nantinya. Di antara dokter-dokter itu terlihat Matthew yang ikut membantu.

Para dokter di sana sangat senang dengan kehadiran Matthew karena

Matthew sangat cekatan menangani pasien belum lagi dengan keajaiban yang diberikannya. Setiap pasien yang ditanganinya lebih cepat pulih, sehingga hal itu meringankan kerja paramedis di sana.

Salah satu dokter yang menyukai Matthew adalah dokter Aron. Dokter Aron memang sangat senang dengan kedatangan Matthew mengingat umur mereka hampir sama, sehingga membuat dokter Aron merasa memiliki teman seumuran karena dokter yang lain rata-rata lebih tua darinya. Dalam waktu sekejap kedua orang tersebut telah cukup akrab.

Sejak pagi Matthew tampak muram tidak seperti biasanya. Ia memang sedang memikirkan kekasihnya yang sejak pagi menghilang. Saat dia kekamarnya, Selena telah pergi entah kemana kecemasannya semakin menjadi saat sarapan ia tidak juga melihatnya, bahkan teman-temannya yang lain juga tidak melihatnya. Dokter Aron yang sejak tadi memperhatikan Matthew tampak heran kawannya itu terlihat muram.

“Kau terlihat muram sekali hari ini?” Tanya Aron yang berdiri tak jauh dari Matthew.

“Aku sedang memikirkan kekasihku,” jawab Matthew tidak melepas pandangannya dari pekerjaannya.

“Ada apa dengannya?” Aron tidak terkejut mendengar jawaban Matthew pasalnya mereka telah bertukar cerita banyak sejauh ini.

“Sejak pagi aku tidak melihatnya. Aku mencemaskannya,” kata Matthew.

“Tenang, dia tidak mungkin pergi meninggalkanmu,” hibur Aron sambil tersenyum.

Matthew hanya tersenyum kecut mendengarnya. Selena memang tidak akan meninggalkannya, tapi mungkin saja gadis itu sedang membahayakan nyawanya lagi tanpa sepengetahuan Matthew. Rasa cemasnya bertambah tadi begitu mendengar ada pasukan yang dikirim keluar camp. Ia berharap Selena tidak terlibat didalamnya.

Melihat pekerjaannya telah selesai, Matthew beranjak dari tempatnya. “Aku akan keluar sebentar,” beritahu Matthew pada Aron.

“Baiklah, tapi cepat ke sini lagi saat mereka telah kembali,” perintah Aron.

Matthew mengangguk sebelum pergi meninggalkan ruang medis. Hatinya terus saja gelisah memikirkan Selena. Ia kembali menyusuri isi camp demi mencari kekasihnya. Kembali ke kamar Selena yang masih kosong, berkeliling ke tempat lain dan tidak menemukannya di mana pun berada. Matthew yang sudah putus asa melangkahkan kakinya ketempat mobil Selena terparkir berharap dia bisa menemukannya di sana. Namun harapannya kembali pupus saat mobil itu terlihat kosong. Dengan frustrasi Matthew menendang ban mobil tersebut untuk meredakan rasa kesal dan gelisahnya.

***

Rombongan pasukan yang dikirim ke pusat pembangkit energi memasuki camp saat waktu menunjukkan tengah hari. Army yang tidak terluka segera membubarkan diri, termasuk team pembersih sedangkan yang luka ringan maupun berat langsung dirawat di ruang medis. Selena keluar dari mobil barakuda dengan mengaktifkan baju zirahnya agar tidak dikenali Leo dan Ignis yang datang hampir bersamaan.

Setelah mendapatkan tempat sepi barulah dia kembali menonaktifkannya. Dengan mengendap-endap menghindari temannya, Selena berjalan menuju kamarnya. Badannya sangat lelah dan butuh guyuran air untuk menghilangkan rasa penatnya itu. Dengan cepat Selena mencapai kamarnya tanpa seorang pun dari temannya yang melihat kedatangannya.

“Selena, kau dari mana?” tiba-tiba seorang pria bertanya pada Selena saat ia hendak memutar knop pintu kamarnya. Selena yang mendengarnya terlonjak kaget, ia membalikkan badannya ke arah orang itu yang berdiri memandanginya heran.

“Eh…hai,” sapa Selena tergagap. “Aku dari luar,” jawabnya dengan wajah pias.

“Luar mana?” Tanya Leo yang tadi hendak keluar kamarnya lagi saat melihat Selena datang.

“Well. Sepertinya wakil pimpinan tadi berubah pikiran jadi dia menyuruhku untuk ikut berkeliling membantu Army yang bertugas di luar, selagi yang lainnya dikirim ke tempat lain sebagai ganti kejadian kemarin malam,” jelas Selena berbohong.

“Oh…maafkan aku karena sudah menyusahkan kau lagi,” kata Leo menyesal.

“Tidak, itu bukan masalah. Aku juga bosan di camp terus kok,” ujar Selena sambil tersenyum. “Sebaiknya aku masuk dulu untuk membersihkan diri,” pamit Selena, berusaha menghindar dari Leo secepatnya.

“Ya baiklah,” angguk Leo.

Selena dengan cepat masuk ke kamar dan bernapas lega Leo tidak terlihat mencurigai alasannya, seandainya tadi Ignis yang bertemu dengannya pasti dia tidak akan lolos dengan mudah. Pria itu mempunyai indera yang tajam sehingga sulit dikelabuhi. Selena melangkahkan kakinya ke kamar mandi setelah meletakkan senjatanya di almari. Dengan senang ia membasuhi tubuhnya dengan air dingin.

Setelah merasa segar, Selena baru merebahkan diri di kasur untuk melepas lelah. Pikirannya melayang memikirkan Matthew, pria itu pasti bakal marah karena dia menghilang hampir seharian. Dia mesti memikirkan alas an yang baik dan meminta maaf padanya nanti.

***

Ruang medis terlihat dipenuhi kesibukan. Para Army yang menaklukkan gedung pusat energi berada di sana semua karena mengalami cidera yang harus segera ditangani. Lima di antaranya bahkan mengalami luka berat seperti patah tulang dan gegar otak ringan karena benturan keras atau terjatuh dari tempat tinggi. Bahkan Balthier yang memimpin pasukan pun harus rela mengerang kesakitan saat luka di dahinya dan lengannya menerima beberapa jahitan. Matthew yang melihat Balthier di antara para pasiennya menghampirinya dengan wajah masam.

“Kau tahu di mana Selena?” Tanya Matthew tajam.

“Mana aku tahu,” jawab Balthier sambil mengerang merasakan dahinya berdenyut sehabis di jahit.

“Aku pikir kau akan membawanya juga,” kata Matthew masam, dibantunya suster yang sedang mengobati Balthier.

Balthier hanya diam tidak menggubrisnya. Ia membiarkan Matthew mengobati luka yang ada di lengannya, selagi dia mencoba mencari alasan di mana Selena berada sekarang ini.

“Dia di luar, lihatlah.” Balthier mengedikkan kepalanya menunjuk luar ruang medis, ia melihat Selena tengah berbicara dengan seorang Army yang telah selesai mendapat perawatan.

Matthew yang mendengar perkataan Balthier mengikuti arah yang ditunjukkan, melihat Selena berada di luar hatinya langsung bahagia. Ia meninggalkan Balthier begitu saja dan berlari menghampiri Selena.

“Dari mana saja kau?” Tanya Matthew cemas dipeluknya Selena dengan manja.

“Aku hanya jalan-jalan keluar,” jawab Selena berusaha meredakan kecemasan Matthew dengan senyum manisnya.

“Keluar kemana? Kenapa tidak memberitahuku?” kata Matthew merajuk.

“Aku menggantikan Army yang bertugas keluar camp dan tadi juga mendadak, jadi aku tidak sempat memberitahumu,” jelas Selena.

“Aku mencemaskanmu.”

“Maafkan aku,” kata Selena terlihat menyesal.

Matthew mengusap rambut Selena pelan, setidaknya ia melihat kekasihnya di sini dalam keadaan baik-baik saja. “Aku akan kembali ke dalam.” Matthew memberitahu.

“Iya, sembuhkan mereka.”

“Pasti.” Matthew menganggukan kepala. “Jangan menungguku makan malam, pasienku banyak sekali hari ini.”

“Baiklah,” jawab Selena melepas kepergian Matthew.

Setelah Matthew pergi, Selena menghampiri Balthier yang telah selesai diobati. Pria itu terlihat sangat berantakan dan langkahnya juga terlihat gontai.

“Kau terlihat buruk sekali,” ejek Selena sambil terkekeh.

Balthier yang mendengarnya hanya bisa merengut. Cuma Selena satu-satunya orang yang tidak terluka sedikitpun dalam pertempuran tadi pagi. Bahkan lecet sekecil apa pun tidak terlihat.

“Aku heran, kenapa kau bisa keluar dari sana tanpa luka sedikit pun?” Tanya Balthier masam.

“Karena aku pernah terluka parah akibat para anjing itu dan sekarang aku akan mengambil jarak pada mereka,” terang Selena.

“Oh ya? Separah apa?” Tanya Balthier penasaran.

“Hingga aku hampir menyentuh dunia kematian,” jawab Selena sambil menyingkap lengan bajunya.

Balthier yang melihat luka panjang di bahu Selena hanya bisa tercengang. Ia tidak menyangka apa yang dikatakan Selena tadi pagi adalah serius. “Bagaimana bisa?” Tanya Balthier, hatinya mencelus melihat luka Selena.

“Panjang ceritanya, tapi aku beruntung bertemu seorang malaikat yang membawaku kembali hidup.” Selena tersenyum memperhatikan Matthew yang kembali disibukkan dengan beberapa pasien yang harus segera ditangani.

Balthier ikut memperhatikan kemana arah pandangan Selena, dalam hatinya masih berkecamuk banyak pertanyaan. Dia masih menganggap Matthew adalah seorang musuh besar yang harus disingkirkan dari kehidupan Selena, namun mendengar pernyataan Selena membuatnya bingung.

Dibantu Selena yang memapahnya, Balthier kembali kekamarnya. Meski mereka sering ribut hanya karena hal sepele, tapi tetap saja hubungan mereka sangat dekat. Selena bahkan tidak keberatan harus memapah Balthier sampai kamarnya yang terbilang cukup jauh dari ruang medis. Sepanjang perjalanan ke kamar, Balthier tidak bisa berhenti memikirkan Matthew.  Pria itu masih misteri, kasusnya pernah sampai ketangan Assassins. Namun berkat kelihaiannya ia bisa lolos dari cengkeraman Assassins bahkan kasusnya dinyatakan ditutup tanpa ada tindak lanjut lagi. Dalam sejarah Assassins baru kasus Matthew yang dinyatakan gagal dan dilepaskan tanpa ada eksekusi. Dan sampai saat ini Balthier masih terus mencurigainya, ia mencemaskan Selena yang bisa menjadi sasaran empuk jika pria itu memang berniat buruk padanya.

“Selena, berhati-hatilah. Aku mohon,” pinta Balthier sesampainya mereka di kamarnya. Ditatap sahabatnya itu penuh kecemasan.

“Tenanglah, aku akan melakukannya,” balas Selena. Dia kemudian pergi meninggalkan Balthier di kamarnya.

Balthier hanya bisa menatap kepergian temannya itu dengan gamang. Ia tidak bisa melarang hubungan Selena sekarang, tidak sebelum ia punya cukup bukti kuat untuk membuktikan Matthew adalah seorang musuh.

***

Hari telah sore, di dalam camp masih terlihat orang-orang yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Para Army masih melakukan patroli rutin di sekeliling camp, beberapa survivor yang masih muda baru saja selesai mengikuti pelatihan untuk bergabung dipasukan Army. Sedangkan yang masih anak-anak mereka terlihat bermain-main dipelataran camp. Para orang tua tak jauh beda dengan yang lain, mereka masih sibuk membantu pekerjaan dalam camp. Praktis didalam camp tersebut tidak ada yang tidak memiliki pekerjaan.

Selena melangkahkan kakinya menuju tempat mobilnya terparkir. Orang-orang yang bekerja dibengkel menyapanya saat dia melewati mereka dan berbasa-basi sebentar dengan mereka sebelum Selena memasuki mobilnya. Ia masih mencoba memperbaiki mobil itu meski IT memang bukan bidangnya. Setelah merasa buntu, Selena memilih untuk melepas lelah didalam mobilnya setidaknya dia masih bisa mendengarkan lagu didalam mobilnya. Selena menyandarkan tubuhnya dan menutup matanya, mencoba merasakan kedamaian yang merasuk dalam hatinya. Ia kembali mengingat kenangannya bersama Sam dulu, bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama bercanda dan bertengkar atau sekedar meributkan hal-hal sepele seperti siapa yang akan mengemudikan mobil itu.

Dihelanya napas panjang, Selena menyadari akhir-akhir ini ia semakin melupakan Sam dalam hidupnya. Ia disibukkan dengan para Ragen dan juga seringnya ia memikirkan Matthew membuatnya melupakan Sam bahkan ia tidak lagi terganggu mimpi buruk itu sekarang. Lantunan lembut lagu yang terdengar di dalam mobil membuat mata Selena semakin berat dan akhirnya ia pun tertidur.

Ketukan pelan di jendela mobilnya, membuat Selena yang tertidur perlahan-lahan membuka matanya. Didapatinya Leo tengah tersenyum di luar mobil kemudian membuka pintunya dan masuk di samping Selena.

“Apa kau akan melewatkan makan malam?” Tanya Leo sambil tersenyum melihat Selena yang terlihat cantik saat baru bangun tidur.

Selena mengamati sekelilingnya yang sekarang telah gelap. “Aku ketiduran lagi sepertinya,” kata Selena sambil terkekeh.

“Kau lelap sekali tadi,” balas Leo.

“Benarkah?” Tanya Selena tak percaya.

Leo mengangguk mengiyakan, diamat-amatinya mobil Selena dengan terkagum-kagum. “Mobilmu bagus sekali,” puji Leo.

“Aku rasa, kau punya mobil yang jauh lebih bagus dari ini, Leo,” sahut Selena.

“Tidak, aku tidak punya mobil sekarang karena mobilku satu-satunya telah dihancurkan Austin,” jawab Leo, ia ingat hari kecelakaan yang membuatnya pada akhirnya bisa bertemu Selena.

“Tidak mungkin kau hanya memiliki satu mobil, kau seorang pengusaha kan?” selidik Selena.

“Aku berkata jujur.”

“Oh ya, apa kau tidak memamerkan sederetan mobilmu untuk pergi ke club?” Tanya Selena. “Did you?” lanjutnya, ia tahu betul gaya hidup pengusaha tak jauh dengan datang ke club dengan berganti-ganti mobil. Gaya hidup yang mewah menurutnya, meski jika mau ia juga bisa melakukannya.

“Aku hanya butuh satu mobil untuk melakukannya,” jawab Leo jujur. “Apa kau juga suka pergi ke club?” tanyanya balik.

“Ya untuk sesaat beberapa tahun lalu. Aku ke sana untuk melupakan sesuatu,” aku Selena.

“Dan apakah berhasil?”

“Tidak,” jawab Selena pendek. Justru baru sekarang dia bisa melupakannya perlahan-lahan karena kedatangan Matthew dalam hidupnya.

“Jadi apa yang membuatmu berhenti datang ke club?” Tanya Leo penasaran.

“Aku pernah sangat mabuk hingga tidak bisa mengontrol diriku di dalam club dan Arvent datang menyeretku keluar dari club. Tidak hanya itu, dia sangat murka melihatku, hingga membawaku ketengah hutan dan wala… di sanalah aku diasingkan hingga beberapa bulan berikutnya,” cerita Selena.

“Kau diasingkan di hutan?”

“Iya, dia memang selalu kejam padaku jadi aku dipaksa tinggal dirumah persembunyiannya di hutan, hingga aku kapok datang ke club lagi,” terang Selena sambil tertawa.

Leo tersenyum menanggapinya. Entah kejutan apalagi yang akan dia dapat dari Selena tapi sejauh ini dia sangat menyukainya. Mereka berdua bercerita hingga langit benar-benar gelap, barulah Leo mengajak masuk ke kantin untuk makan malam. Didalam kantin mereka hanya menemui Tony dan Ignis sedangkan ketiga temannya yang lain belum muncul. Selena juga tidak menunggu Matthew karena pria itu memiliki pekerjaan yang banyak dan mungkin melewatkan makan malam. Ia pun menikmati makan malam bersama Leo, Ignis dan Tony. Mereka terlihat bercengkerama menceritakan pengalaman hari pertamanya memulai pekerjaan barunya. Ignis terlihat antusias menceritakan pengalamannya ketika di pusat pembangkit energi tadi pagi, ia juga mengatakan betapa penasarannya dengan tangan kanan Mr. Bhorton yang memakai baju zirah tadi pagi.

Selena lebih memilih asyik dengan makanannya karena tidak tertarik dengan cerita Ignis terutama orang yang berbaju zirah. Ia justru tengah sibuk mengaduk-aduk supnya, ada perasaan aneh saat dia memakannya. Dikerutkannya keningnya ketika menyuapnya kedalam mulut. Sup yang dimakannya terasa ada yang salah, diliriknya Leo yang juga memakan supnya tetapi pria itu tampak biasa saja.

“Leo, apa supmu tidak terasa aneh?” Tanya Selena menyikut tangan Leo.

Leo langsung menoleh pada Selena dengan tatapan heran, “tidak, kenapa?”

“Aku merasa sangat aneh dengan supku,” jawab Selena.

Leo yang penasaran dengan rasa sup Selena ikut mengicipinya, ia mengerutkan keningnya karena tidak ada yang salah dengan sup milik Selena.

“Ini enak,” komentar Leo.

“Benarkah?” Tanya Selena, diaduk-aduknya supnya sekali lagi dan mengangkat sendoknya saat menemukan sepotong daging kecil. “Apa ini?” Tanyanya sambil mengamati daging itu.

“Itu udang,” jawab Leo.

Mendengar jawaban Leo seketika wajah Selena menjadi pucat pasi. Segera ia meraih tisu di atas meja untuk menutup mulutnya. “Aku ke toilet dulu,” katanya langsung menghambur pergi meninggalkan meja.

Leo dan kedua temannya yang lain hanya bisa menatapnya dengan bingung. Selena pergi sangat cepat hingga Leo tidak bisa menanyakan lebih jauh. Sesaat setelah Selena pergi, Matthew datang bergabung dengan mereka. Ia terlihat cukup lelah tapi ia menyempatkan diri ke kantin agar bisa bertemu Selena, namun orang yang ingin ditemuinya tidak terlihat.

“Di mana Selena?” Tanya Matthew pada Leo.

“Tadi dia ke toilet setelah mengeluh soal supnya,” jawab Leo menunjukkan makanan di depan Matthew.

Matthew menatap sisa makanan yang ada di depannya, ia menyendok supnya dan mencoba memakannya.

“Tidak ada yang salah dengan supnya,” komentar Matthew.

Leo juga tahu itu, baru dia mau bicara Sania yang telah datang menyela pembicaraannya dengan Matthew.

“Hei Matthew, kau di sini?” Tanya Sania terkejut.

“Iya, kenapa memang?” Tanya Matthew bingung.

“Selena baru saja masuk ruang medis karena sesak napas,” terang Sania.

Mendengar penjelasan Sania, Matthew langsung beranjak meninggalkan mereka

dan berlari menuju ruang medis.

“Huh ya ampun, dia cepat sekali,” komentar Sania melihat Matthew yang melesat pergi.

“Ada apa dengan Selena?” Tanya Leo khawatir.

“Alergi udang,” jawab Sania yang ikut bergabung dengan mereka.

Sekalipun saat ini Leo juga ingin melihat kondisi Selena, tetapi mengingat Matthew yang lebih dulu pergi ia mengurungkan niatnya. Ditatapnya sisa makanan Selena, pantas dia tadi mengeluh dengan supnya yang terasa aneh.

--- TBC ---

1
Nuraishah❤💚
👍🏻
blueby
Itu tiap paragrafnya kenapa gitu., susah dibacanya.
Aria Monteza: nggak tau kak, soalnya dulu masih rapi
nggak mencar² kayak gitu paragrafnya
total 1 replies
Kaka Raffiana
keren bet ceritanya... maaf bru baca thor😅

season 2nya kak lanjutin
Kaka Raffiana
cloud adalah matthew yg dicuci otaknya
Kaka Raffiana
cool amat si leo ya!!! diliat dri foto visualnya
Kaka Raffiana
lebih suka sikap leo yg terlihat cool dan lebih santai...
Kaka Raffiana
keren sih respon Leo pas berantem ama si matthew.
Yurnita Yurnita
Thor nama visual nya
Aria Monteza: visual yg mana ya?
total 1 replies
Ahza Ahsanul
gue sukaaaaaaaaaaaaaa..
moon
he eh sepi
Z3R0 :)
yosh novel zombie lagi lanjut
RyanZxD
Lanjutt
Desi BA
hampir sama kayak zombie ya
moon
mattahew kah
moon
tegang tp seru
moon
waw pengendalian yang bagus mat
moon
jangan bilang klw selena dan sam yang bantai orang tua leo🤔🤔🤔🤔
Esriyana Noviani
kapan publish novel ke duanya thor.....
NauraNazifaNauzan
gantung ini...
NauraNazifaNauzan
k 3x q baca novel ini... tp blm juga ada part 2 nya... sayang sekali pdahal cerita nya kereeeen....
Aria Monteza: lagi ngumpulin mood nulis 😂😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!