NovelToon NovelToon
Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa pedesaan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.

Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.

Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?

“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AVB 27

Langit perlahan menggelap di bawah kepungan awan kelam saat Anne baru saja masuk ke dalam rumah. Beralasan ada pekerjaan di kantor, Maria cepat-cepat mengajak gadis itu pulang, demi menghindari pertanyaan-pertanyaan sarkas yang Anne lontarkan.

Sepeninggal Maria, Anne memanggil dua orang kepercayaannya ke ruangan pribadinya. Sambil bertopang kaki, kretek terselip di jari, gadis berparas ayu itu mendengarkan laporan dari Broto.

“Pak de ndak yakin, Nduk, tapi sepertinya mereka sedang menyiapkan serangan lagi malam ini,” lapor si jagabaya yang sudah seminggu terakhir mengawasi Kasman an juga Marni.

“Siapa saja penduduk yang menjadi jongos mereka?” tanya Anne.

Broto menyulut satu batang kretek, menghisap dalam sebelum menjawab pertanyaan sang ndoro kecilnya. “Sejauh ini masih Rusli yang tertangkap tangan, Nduk. Tapi sepertinya beberapa petani tua juga terlibat di dalamnya. Mereka semua diarahkan oleh kusir dokar itu.”

Anne mengangguk samar, kretek telah habis dihisap, ditekankan pada asbak aluminium bercorak merah bata. “Malam nanti aku akan berkeliling, aku ingin tau bagaimana cara kerja mereka, manatau bisa menangkap basah satu diantaranya.”

“Kang Dasim temani, Nduk. Wedus berok kae terlalu berbahaya, Kang Dasim takut terjadi apa-apa sama sampeyan,” sahut Dasim.

“Ndak perlu. Jika terlalu banyak orang, akan susah menyelinap di semak-semaknya.” Anne menatap sekilas wajah pias Dasim, lalu kembali menatap lurus lantai marmer.

“Tapi, Nduk. Seng kamu hadapi ini bukan sejenis manusia biasa. Kasman itu licik dan cerdik, bisa jadi malah kowe yang masuk perangkapnya,” imbuh Dasim, jelas mengenal luar dalam siapa Kasman.

“Dasim benar, Nduk. Pak de pun tak kan membiarkanmu berkeliling sendiri. Paling tidak satu di antara kami harus mendampingimu,” timpal Broto.

“Kalian tenang saja, aku bisa menjaga diri. Apa guna aku belajar bela diri, jika menghadapi bangkotan tua saja masih mengandalkan bantuan kalian. Kita sudah memasuki masa genting, tak hanya ulah tangan jahat yang perlu kita waspadai, tapi juga serangan alam liar. Daripada kita berkelompok, akan jauh lebih baik jika kita membagi tugas,” balas Anne, tatapannya menyapu dua orang kepercayaannya.

“Malam ini aku akan ke area perbatasan Joglo Punjer, dekat gubuk mereka. Padi-padi yang berada di wilayah itu kemungkinan yang akan jadi sasaran awal. Pakde sisir bagian utara dekat Lembah Gunung, Kang Dasim bawa beberapa petani yang masih berpihak dengan kita untuk menyusuri yang ada di wilayah Lembah bukit,” titah Anne.

Ia kemudian beranjak dari duduknya, menatap datar pada dedaunan yang bergoyang pelan.

“Orang-orang itu sudah terlalu lama dibiarkan. Di pasar pun kabar tentang ibu masih terus bergulir. Penjual sayur itu dan …,” Anne menggantung ucapannya, rahangnya mengeras, tangan mengepal di sisi tubuh. “Perempuan ular itu terus menebar bisa beracunnya. Bodohnya banyak orang yang percaya, bahkan mereka yang seharusnya tau cerita sebenarnya, turut menggunjing, tak jarang sengaja menambahi agar semakin panjang bahan gunjingannya.”

Sorot mata bengis itu berpindah pada dua orang turut menegakkan punggung, sambil kembali melangkah ke kursi jati berbantal beludru, Anne kembali melanjutkan pembicaraan.

“Aku penasaran, bahan apa yang mereka campurkan ke pupuk dan pestisida sampai membuat padi-padi menguning sebagian langsung mati. Sekaligus ingin memastikan keterlibatan Maria di dalamnya.”

“Kalau di lihat dari gejala awal, ada campuran obat gulma, Nduk, tapi pakde ndak yakin apa yang mereka pakai hingga efeknya begitu cepat pada padi-padi kita,” sambung Broto.

“Opo mungkin ….”

“Mungkin karena mereka memakai komposisinya tak seimbang,” sahut suara berat pria berwajah pucat.

Sambil meneteng Tape recorder/cassette recorder dan beberapa bendel kertas bermap biru tua, Hans nyelonong masuk ke dalam ruang pribadi Anne. Tanpa menyapa sang sahabat, pemuda keturunan Eropa itu langsung duduk di tepat kosong sebelah Dasim, sambil meletakkan bahan bawaannya ke atas meja.

“Apa yang kau bawa kali, Hans?” sambut Anne dengan alis mengerut dan tatapan menyelidik.

“Kau sudah buta, Nona Van Beek? Jelas-jelas aku membawa tape dan map,” jawab Hans, tangan panjangnya mengetuk pelan pucuk kepala Anne.

“Hans Williams!”

“Ini rekaman bukti pembicaraan orang-orang itu, Anne. Aku sudah mengumpulkannya beberapa bulan ini, menghabiskan lebih dari lima gulung pita cassete hanya untuk merekam rencana busuk mereka, juga ongkos untuk pulang pergi meneliti pupuk dan pestisida ke ibu kota. Nanti akan aku total semua dan kau …,” ia menunjuk hidung sang sahabat, netra biru mudanya menatap lekat manik tajam gadis menatap nyalang ke arahnya. “Kau harus menggantinya dua kali lipat.”

Ia kemudian terkekeh pelan, sorot matanya melunak, menyapu wajah heran Dasim dan Broto. “Kita itu sudah berada di zaman modern, Pakde. Tak cukup hanya mengawasi dan menangkap basah, perlu ada bukti kongkrit juga.”

Penuh kemenangan Hans William memencet tombol putar pada tape recorder, sayup-sayup mulai terdengar suara Kasman dan Marni, tak lama setelahnya terdengar suara Maria memberi perintah sambil memberi petunjuk dosis yang harus mereka gunakan dalam percampuran dengan pupuk dan pestisida.

“Jadi Maria benar-benar terlibat dengan mereka?!” geram Anne, tangannya mengepal hingga buku jari-jarinya memutih.

“Jangan terburu-buru emosi dulu, Nona Van Beek. Kau harus mendengarkan rekaman yang ini.” Hans mengganti cassete pada tape, kembali memencet tombol putar. Kali ini wajahnya ikut mengeras, gigi bergemeletuk menahan panas di dada.

Rekaman tape recorder sedang memutar suara Argono yang begitu berambisi ingin merampas kehormatan Anne, membuat takluk gadis itu dan berbalik menggantungkan hidup padanya.

Tawa sumbang terbit dari bibir Anne, satu tangan meraih kretek di atas meja, menyulutnya lalu menghisapnya dalam.

“Dasar bocah dungu, gagah badan tapi kerdil otak rupanya,” gumamnya, terselip kilat licik di sorot matanya.

“Hitam dekil seperti itu kau sebut gagah? Kau benar-benar sudah harus memakai kacamata, Anne,” sungut Hans, tak sengaja mendengar ucapan sang sahabat.

Broto dan Dasim saling melempar pandang, lalu kembali fokus pada pembicaraan saat Anne meraih satu bendel map dan mulai membaca isinya, tak memperdulikan rengekan Hans Williams.

Anne membaca dengan saksama kertas bercetak tinta biru seperti yang di bawa Hans waktu itu, dahinya mengernyit samar saat membaca satu bahan kimia yang tak ia kenal. Baru hendak melempar tanya, Hans lebih dulu menyambar.

“Itu bahan kimia terbaru, di percaya mampu membasmi gulma dengan sekali semprot saja. Sepertinya si kumis pagar betis itu sengaja menambahkan dosis dalam penggunaannya. Itu yang menyebabkan padimu langsung loyo seperti—”

“Jangan bercanda, Hans!” sergah Anne, paham kemana arah ucapan sang sahabat selanjutnya.

“Aku mau bilang seperti terong yang masuk ke dalam minyak panas, Anne. Kau berpikir apa?” tampiknya dengan senyum nakal yang sampai ke mata.

Anne melirik sinis sesaat, lalu berpindah pada dua orang ikut memasang wajah cerah. “Pakde cari botol bekas mereka pakai, untuk—”

“Aduhh … aduh … Nona Van Beek. Otak mu sudah benar-benar tak bisa berfungsi rupanya.” Hans beranjak dari duduknya, berdiri di belakang kursi Anne, telapak lebarnya mengusak kasar pucuk kepala gadis itu.

“Aku sudah meneliti semua itu sampai ke ibu kota, itu artinya aku sudah mendapatkan botol dan barang bukti lainnya, gadis bodoh!” geramnya, tangan terus mengusak rambut hingga empunya meradang.

“Berhenti, Hans. Kepala ku semakin pusing kau buat!” protes Anne.

“Suruh siapa kau begitu lambat berpikir,” balas Hans, ia melangkah perlahan, mengambil senapan panjang tergantung di dinding. “Pakde dan Kang Dasim kerjakan yang di perintahkan Anne tadi, aku yang akan mengawasi bocah nekat ini. Bisa-bisa dia tak jadi menangkap para pengkhianat itu jika sudah bertemu si mulut lebah hitam dekil berotak dungu.”

Broto dan Dasim mengangguk bersamaan, baru hendak berdiri, suara Wulan lebih dulu memanggil dari balik pintu.

“Nduk ….”

Bersambung

Hai pemirsa ... Apa kabar? Semoga semua dalam keadaan baik-baik saja. Mohon maaf kemarin saya bolos, ada satu lain hal yang tak bisa saya abaikan. Insyaallah selanjutnya akan lebih aktif lagi up nya. Kasih semangat saya lewat like, komen dan bintang lima, ya ....

Matur nuwun ....

Salam hangat, Anna 🌾

1
Muhammad Arifin
embo komen OPO
❤️❤️❤️❤️❤️
Anna: Kakak hadir saja author sudah senang, terima kasih, kakak. 🫶
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
sabarr yaa hanss
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
Anna: "Kapan?" tanya Hans.
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Mbak Wulan
ada info apa
Anna: Sotonya sudah mateng.
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
pantesan tak tengok blm ada up
nayla tsaqif
Visualnya gk ada kah,, thorr,,?? 🤭
Anna: Sedang di persiapkan, untuk Anne sama yang ada di cover. 🙏
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
Kuhadiahi secangkir kopi unt pakde broto dkk biar kuat melek mengawasi cecunguk yg mau menebar pesrisida disawah
Anna: Di sampaikan matur nembah nuwun dari Pakde Broto and the gengsssss 🫶
total 1 replies
rama Rasyidin
sehat sehat Ndoro
Anna: Sendiko dawuh, Gusti. 🙏
total 1 replies
Lylia Yuu
udah bangkotan bjirrrr masih aja 😭
Anna: Nafsu bagai kuda 🫢
total 1 replies
𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
argono anake sopo jane
saudara tiri anne duduu ?
𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully: iyyuuhh , gimna itu sii kecebong meluncurr 🤣🤣🤣
total 2 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
walahhhh , .....
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
Anna: Pucek kalo kata anak sekarang. 🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
itu ulahmu sendiri man, manukk di umbar sembarangan..
Anna: Di umbar banget nggak tuh 🤣
total 1 replies
Muhammad Arifin
kok gak kapok Kasman iku 😒😒
Anna: kapok lombok kalo kata orang Jawa 🤣
total 1 replies
Lylia Yuu
anak e amina 😭😭
Aisyah Suyuti
good
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
teman tapi menusuk di belakang
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
Anna: real bangetttt, ntar suatu saat tk masukin ke sebuah judul naskah 😆
total 3 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cangkem mu Maria
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅: 🤭 jiian
total 2 replies
Muhammad Arifin
kangenmu ngapusi 😒😒😒
Anna: hanya di bibir saja 🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
hansss ohh hanss
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
Anna: Apapun cara akan ditempuh demi sang jelita ... eyaaaaa 🤣
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
siapa yg dendam ke maria
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria
Anna: Tebak. 🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
itu pasti pakdhe broto
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!