NovelToon NovelToon
The File Of B

The File Of B

Status: tamat
Genre:Teen / Misteri / Pembunuhan / Detektif / Eksplorasi-detektif / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:447k
Nilai: 5
Nama Author: Robin.Y

VOLUME 1 : KUTUKAN DEVIAN (SUDAH TERBIT!)

Billie, gadis 17 tahun cucu dari seorang detektif terkenal, nekat menyamar menjadi murid laki-laki di sekolah asrama khusus pria. Dia mengemban misi untuk memecahkan kasus bunuh diri beruntun yang menggemparkan disana.

Desas-desus yang ada mengatakan bahwa semua kejadian ini adalah kutukan Devian, seorang murid yang pertama kali memulai percobaan bunuh diri. Dengan ditemani Ken, Detektif yang sedikit mesum, di sekolah barunya ini Billie menemukan banyak hal mencurigakan dan juga mendebarkan. Dari mulai teman sekamarnya yang bernama Ice; senior misterius yang dikenal sebagai Pangeran Es karena sikap dinginnya, Joshua; senior playboy yang blak-blakan mengaku gay dan jatuh cinta pada Billie di pandangan pertama, dan terakhir Godfrey; senior sok berkuasa yang disegani semua murid.

Satu hal yang harus Billie pecahkan, apakah semua korban memang benar-benar bunuh diri atau justru ini adalah sebuah kasus pembunuhan berantai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Robin.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

File 26 : Petunjuk Tersembunyi

Billie masih tercengang dan belum beranjak dari posisi duduknya semenjak menatap foto-foto yang Ken keluarkan dari kotak hitam. Melihatnya sekilas saja sudah membuat perasaan Billie tak nyaman, apalagi jika dia harus menonton adegan yang lebih detail dalam video yang tersimpan di flashdisk.

Berbagai adegan vulgar terjadi di sekolah ini dan terekam oleh kamera tersembunyi yang sengaja di pasang Bu guru Mila. Dari mulai aktivitas para siswa di toilet, kamar ganti hingga di kamar pribadi. Yang paling menarik kumpulan video ini didominasi oleh sosok Godfrey sebagai objeknya. Dari video ini Billie tahu ternyata Godfrey telah menyalahgunakan kekuasaannya sebagai ketua Senat dan komite Disiplin Sekolah. Dia sering membawa gadis ke kamar asramanya yang jelas-jelas melanggar peraturan sekolah. Maka tidak heran banyak sekali videonya yang tengah bercumbu dengan para gadis bahkan ada juga yang sedang masturbasi. Wajah Billie sontak memerah melihatnya, dia tak tahu harus bereaksi apa. Suasana mendadak canggung sebelum akhirnya Ken membuka suara.

"Kau lihat sendiri kan? Siapa sangka profesi mendiang Bu Mila selain menjadi pengajar profesional dia juga seorang stalker yang handal." Komentar Ken dengan senyum sinis. Dia mulai menyalakan rokok di mulutnya dan menghisapnya dalam sebelum mengepulkan asapnya ke udara. Ken memang bukan seorang perokok tapi dia pikir sedikit nikotin bisa menenangkan sarafnya.

"Bayangkan saja jika video ini tersebar dan muncul di internet, reputasi para siswa di Diamond High terutama Godfrey menjadi taruhannya. Jika Mila masih hidup, dia seharusnya mendekam di penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatan ini, namun sayangnya dia memilih mengakhiri hidupnya sebelum itu terjadi." Lanjut Ken lagi.

"Bu guru itu benar-benar terobsesi pada Godfrey..." Billie akhirnya bersuara walaupun dengan ekspresi masih tak percaya. Tanpa sadar ingatan Billie kembali pada malam naas saat dia disekap Godfrey.

"Ini bukan salahku! INI SEMUA KARENA SI BANGSAT LADYBOY ITU! APA KALIAN MENGERTI, HUH? DIA YANG MEMULAI SEMUA INI! DAN APA KALIAN TAHU TENTANG DEVIAN! DIA JUGA YANG-"

Saat itu tidak ada yang mempedulikan teriakan keputusasaan Godfrey, baik Ken ataupun Billie keduanya hanya fokus untuk mengamankan pemuda itu pada pihak yang berwajib. Sekarang Billie sedikitnya mengerti apa maksud kalimat Godfrey dan kebenciannya pada gurunya sendiri bu Mila, tapi bukan berarti dia bisa main hakim sendiri dengan mengorbankan nyawa orang lain. Hanya saja satu hal yang Billie masih belum mengerti kenapa Godfrey juga menyimpan kebencian pada Devian?

"Tunggu dulu, Kak Ken! Coba putar kembali video yang tadi!" Pinta Billie tiba-tiba.

"Kenapa? Kau masih belum puas menonton?!" Celoteh Ken dengan nada bercanda.

"YAAH KAK KEN! JANGAN BERPIKIRAN KOTOR!" Bentak Billie kesal sebelum melanjutkan kalinatnya.

"Coba Kakak ingat lagi, dari semua gadis yang Godfrey ajak ke kamarnya, ada satu orang yang dia usir dan terlibat pertengkaran!"

"Ooh... Maksudmu gadis berbaju merah ini?" Tanya Ken dengan ekspresi bingung.

"YA! BENAR! Coba kak Ken perhatikan baik-baik! Dari jakun di lehernya dan siluet tubuhnya, dia ini bukan seorang gadis, Kak! Dia ini Devian!" Cetus Billie dengan nada tinggi.

"Devian? Apa maksudmu dia itu..." Ken memandang Billie ragu dan kalimatnya segera dipotong Billie.

"YA! Dan coba kakak lihat di foto-foto ini! Ini kan Luke dan Noah!" Tunjuk Billie pada beberapa helai foto di meja. Yang satu terlihat foto pemuda bernama Luke sedang duduk bermesraan bersama dengan seorang gadis di lapangan basket, dan satunya lagi terlihat foto Noah yang tengah berpelukan dengan gadis yang sama di belakang klub teater sekolah. Gadis yang bersama Noah bahkan terlihat sadar kamera, dia menatap tajam ke arah kamera dan tersenyum kecil seolah sudah mengenal baik siapa kameramennya.

"Jangan bilang gadis cantik yang bersama mereka juga adalah... DEVIAN!" Tebak Ken sambil menatap Billie penuh tanya. Billie hanya menjawab dengan anggukan mantap.

"Dan seingatku Godfrey pernah mengatakan jika Devian juga memiliki hubungan terlarang dengan saudara tirinya Ice!"

"APA? ICE JUGA?! Si brengsek itu! Jangan bilang kalau motif utama kasus kematian dan pembunuhan ini hanya karena masalah kecemburuan dan cinta segitiga. Tidak bukan cinta segitiga lagi, bentuknya jadi lebih mirip trapesium! Hh... ada-ada saja!"

"Apapun itu motifnya... kita harus segera menemukan Ice dan juga Devian! Aku pikir mereka adalah kunci utama kasus ini!" Tegas Billie, membalas komentar Ken yang tampak masih tak percaya dengan semua informasi yang baru di dapatkan ini.

"Hmm... baiklah soal itu serahkan padaku!" Ujar Ken sembari meraih jas dan juga pistolnya sebelum berlalu.

"YAAAH KAK KEN! JANGAN TINGGALKAN AKU! BERESKAN DULU MEJA KANTORMU!" Teriakan Billie tak digubris Ken, pria itu dengan cepat sudah menghilang dari pandangannya meminggalkan Billie sendirian di kantornya yang acak-acakan seperti kapal pecah.

...----------------...

Beberapa hari kemudian di dalam sel tahanan

Ruangan yang sempit dan gelap karena penerangan dan ventilasi udara yang minim membuat dada Godfrey sesak. Bau sumpek dari tempat tidur yang lepek dan kutu kasur menambah ketidaknyamanan tempat ini. Godfrey tidak pernah menyangka dirinya yang terbiasa hidup layaknya seorang pangeran di rumah dan diperlakukan layaknya Dewa di sekolah akan berakhir menyedihkan seperti ini.

Sudah dua hari dia tidur di tempat ini tapi sang Ayah yang sedang berada di luar negeri tidak memberi kabar ataupun mengirim pengacara untuknya. Godfrey tahu saat ini Ayahnya pasti sangat marah dan kecewa, tapi sungguh keterlaluan jika dia sama sekali tak peduli padanya.

"Hey, kau! Bangun! Seseorang ingin menemuimu!" Teguran dari seorang sipir penjara membangunkan Godfrey dari tidurnya.

Godfrey serentak bangkit dari posisinya yang sejak tadi berbaring. Tanpa banyak bicara dua mengikuti arahan sipir untuk keluar dari selnya. Sepanjang jalan batinnya tak berhenti bertanya dan juga berharap jika Ayahnya atau pengacara keluarganya lah yang datang menemuinya. Namun harapannya itu sirna saat dia melihat penampakan sosok familiar yang menunggunya di dalam ruangan interogasi.

"Heh... Kau masih mau menemuiku setelah apa yang ku lakukan padamu? Hebat sekali, aku salut dengan keberanianmu..." Komentar Godfrey sinis.

"Aku sama sekali tidak takut padamu, Kak Godfrey" Jawab Billie datar.

Billie, gadis yang menjadi alasan dirinya tertangkap kini ada di hadapannya dengan pakaian seragam sekolah rapih dan kacamata.

"Tunggu dulu yang dipakainya itu kan seragam perempuan!" Mata Godfrey terbelalak menyadari betapa cantik dan manisnya gadis di hadapannya saat ini.

Beruntung mereka terpisah oleh jendela kaca sehingga Godfrey tidak bisa melihat betapa tangan Billie gemetar menahan emosi karena ingatan buruk yang menimpa dirinya beberapa waktu lalu. Dia sebenarnya tidak ingin menemui pemuda ini kembali, tapi pencarian Ice dan Devian yang tak membuahkan hasil terpaksa membawa langkahnya ke tempat ini. Di saat Ken masih berkeliaran di luar sana bersama anak buahnya, hati kecil Billie berharap bisa menggali informasi dari pemuda ini untuk mendapatkan petunjuk tentang keberadaan kakak beradik itu.

"Kau masih memanggilku Kakak? Ck ck... gadis yang sopan..." Godfrey berdecak kagum dan menggelengkan kepala. Kalimatnya itu mungkin terdengar sarkastik tapi saat ini Billie sedang malas berbasa-basi dan menanggapi. Senyuman pria ini sudah membuatnya muak, Billie memutuskan langsung bicara ke pokok masalah.

"Devian sudah menghilang dari rumah sakit... Ice juga menghilang dari kamar asramanya, apa kau tahu dimana mereka?"

"Eh? Kenapa kau tanyakan padaku?" Alis Godfrey terangkat, bingung.

"Ayah mereka Tuan Hunter seminggu yang lalu ditemukan meninggal dunia dengan lubang peluru di kepalanya. Polisi sampai saat ini belum memutuskan apakah dia bunuh diri atau dibunuh, tapi aku rasa kau tahu sesuatu!"

"Maksudmu apa? Apa hubungannya kematian pria itu denganku?" Godfrey mengedikkan bahunya acuh.

"Kau pikir dirimu pintar menyembunyikan bukti kejahatanmu tapi sebenarnya kau bodoh Godfrey! Kau sudah terjerat kasus yang jauh lebih rumit dari yang kau bayangkan."

"APA KAU BILANG?! AKU BODOH?!" Kalimat Billie sukses membuat Godfrey yang arogan itu tersinggung.

"YA BENAR! Kau bodoh! Kematian Bu guru Mila dan dua siswa lainnya bukanlah bunuh diri tapi pembunuhan. Benar kan? Dan kebencianmu hanya terhadap Bu Guru Mila saja tapi kenapa kau harus membiarkan dua pemuda lainnya dan bahkan Tuan Hunter, Ayahnya Ice terbunuh? Mereka tidak ada hubungannya dengan yang Mila lakukan padamu!" Cecar Billie.

"Membunuh? Haha! Ahaha! Lelucon apa itu?" Godfrey tertawa hambar.

"Aku bersumpah tidak pernah membunuh siapapun! Mereka lah yang melakukannya dengan tangan mereka sendiri... Lagipula aku terjebak di penjara ini tak bisa kemana-mana! Bagaimana aku bisa membunuh Tuan Hunter?!"

"Kasus ini memang tampak dibuat seolah bunuh diri. Tapi semua kematian mereka sedikitnya ada campur tanganmu! Kau yang menggerakkan siswa di sekolah untuk membully Devian, Luke, Noah dan juga Bu Guru Mila! Kau menyiksa mereka secara fisik dan juga psikologis baik di dunia nyata ataupun dunia maya. Persis seperti yang sudah kau lakukan padaku!"

Penuturan Billie yang panjang lebar dan kalimat tuduhannya membuat Godfrey terdiam. Matanya yang merah mulai berkaca-kaca dan dia menelan ludah kasar seolah menahan tangis.

"Tapi, karena itu juga aku curiga! Pengecut sepertimu hanya bisa memerintahkan orang atau pengikutmu saja untuk melakukan pekerjaan kotor! Tapi untuk sampai ke tahap memanipulasi pikiran agar mereka menyerah dan bunuh diri, apalagi sengaja memanipulasi barang bukti di tempat kejadian perkara. Kau dan anak buahmu terlalu bodoh untuk itu semua! Benar kan? Katakan siapa otak dibelakang semua ini?" Cecar Billie lagi.

"AHAHAHA... apa urusanmu? Kenapa kau menanyakan semua itu padaku?" Godfrey sekali lagi malah tertawa bahkan terpingkal-pingkal. Billie pikir pemuda ini sepertinya sudah kehilangan akal sehatnya.

"Ini urusanku karena aku ingin menyelesaikan kasus ini!" Bentak Billie. Sengaja memotong pembicaraan agar tawa menjengkelkan itu terhenti.

"Heh, menyelesaikan kasus? Gadis aneh... memangnya kau ini siapa?" Ledek Godfrey dengan pandangan remeh. Tapi Billie tidak terpancing dengan sikapnya itu, dia menjawab dengan tegas.

"Namaku Han Billie, Detektif."

"Detektif?" Godfrey terdiam, matanya mengerjap menatap Billie dari ujung rambut hingga kaki sebelum kembali tertawa.

"Kau Detektif? Hahaha lucu sekali. Aku tahu detektif terkenal bernama Han Bennedict tapi aku tidak pernah dengar Han... Billie"

"Ya, sebagai informasi saja Han Bennedict itu adalah nama kakekku!"

"APA?! Se-serius?! Kau tidak sedang bercanda kan?!" Mendengar pengakuan Billie yang memiliki hubungan keluarga dengan detektif legendaris kota ini membuat wajah Godfrey memucat dan ekspresinya berubah serius. Han Bennedict, nama itu pernah dikenal sebagai teror bagi para kriminal di kota ini. Hanya saja hampir sepuluh tahun lamanya dia menghilang secara misterius. Godfrey tak menyangka dirinya kini berhadapan langsung dengan cucu sang legenda.

TBC

1
Akari Yukiya
berarti Billie cewe nih?
Akari Yukiya
gimana itu di cek nya 😭
Dwi Nuryani
Luar biasa
blueface
ceritanya keren, plotnya seperti yang rumit dan berat tapi pembawaannya ringan, cocok untuk bacaan remaja. setiap bab selalu bikin penasaran, plot twistnya juga tidak mudah ditebak.
Clara Safitri
sara kali pembunuhnya?
Clara Safitri
uhh. penasaran kali siapa sebenarnya pembunuhannya..huuu sara?godfre???ntahlah
Clara Safitri
jangan2 si sara. sara mau balas dendam..mungkin mayat gadis 13 tahun itu adiknya..lanjut thor
Clara Safitri
ice kali yang membunuh atau angelena. ahhh lanjut thor seru
Clara Safitri
lanjut thor
Derza Sister
Bagaimana dengan kelanjutan Thor...
karyamu bagus sekali, sangat epic...
ku tunggu lanjutannya yahh
robin.y: makasih sudah mampir disini
total 1 replies
Nor Aida irliyanti
ceritanya bagus,penulisannya rapi,bagi yg suka cerita detektif, aku rekomen banget cerita ini
Nor Aida irliyanti: ada karya kamu yg lain kah??
total 2 replies
Nor Aida irliyanti
ceritanya baaaaguuuuus banget....kenapa aku baru Nemu cerita ini
robin.y: makasih udah mampir disini
total 1 replies
Diii
ternyata kakeknya yang berperan di eyes
Diii
yaaaaakkkkm kenapa ikut terjun
Diii
keren...selamat ya Thor....tetep semangat berkarya💪💪💪
Diii
hidup ice jadi penuh selidik dan hampa jadinya
Diii
eh mas es kenalan dong
Diii
keren abis deh....jempol top markotop
Diii
dia yang nyatain cinta...aku yg deg deg an
Diii
ternyata devian otak semuanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!