Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 DUA ANAK DAN SATU "IBU"
"Buuu? Ibuuu? Bu!!"
"Ah!! Aduh!!" aku sangat terkejut mendengar suara Haruma.
Bahkan, aku baru sadar, ternyata aku malah sudah berdiri di depan jendela ruang tamu.
Ternyata, dari tadi aku berpikir dan merenung sambil memandang ke arah luar.
"Kenapa malah bengong, sih?" tanya Haruma, yang masih duduk di bangku ruang tamu, berdua dengan Harumi.
Aku pun membalikkan badan, menatap mereka berdua.
Entah...
Apa yang terjadi padaku.
Aku bingung untuk menjelaskan perasaanku sekarang.
Baru kali ini, aku mengalami kejadian seperti ini.
Aku tak pernah menyangka, bahkan tak pernah terpikirkan selama hidupku sebelumnya.
Bahwa, ada takdir tersembunyi dalam kepingan kisah hidupku, yang akan mempertemukan dua anak sedarah tapi berbeda ibu seperti mereka.
Ah...
Terasa...
Mengalir pelan air mataku, sambil menatap wajah Haruma dan Harumi...
🥹🥹🥹🥹🥹🥹
.....
.....
.....
.....
🕧🕧🕧🕧🕧🕧
LIMA BULAN PUN BERLALU...
LIMA BULAN SETELAH MOMEN SIANG ITU.
.....
.....
Aku jadi terbiasa memanggil anakku dengan nama Haruma.
Dan aku juga jadi terbiasa memanggil anak perempuan itu dengan nama Harumi.
Begitu juga dengan semua teman-teman mereka di sekolah. Memanggil mereka dengan Haruma-Harumi.
Pada akhirnya, aku pun bisa saling kenal dengan keluarga angkatnya Harumi, yang mengontrak di Gang Ansip. Agak jauh jaraknya.
Dan satu lagi, Bapakku juga pada awalnya merasa kaget dan tak percaya, saat melihat Harumi secara langsung. Karena anak itu hampir sangat mirip dengan cucu angkatnya, Haruma.
Tapi, pada akhirnya setelah Bapakku tahu cerita yang sesungguhnya, Bapak dengan kebijaksanaan dan kebaikan hatinya, malah menganggap Harumi juga adalah cucu angkatnya.
Dan, Alhamdulillahnya, dengan Kuasa-Nya, Haruma dan Harumi pun semakin dikenal oleh sebagian besar warga desaku ini.
Bahkan, jujur, Harumi setelah bertemu dengan Haruma hari itu, dia malah jauh lebih banyak menghabiskan waktu bermainnya bersama Haruma.
Bermain di rumahku, bermain di kontrakan Harumi, main dengan anak-anak desa seusianya juga.
Mereka berdua selama lima bulan ke belakang ini, terlihat benar-benar semakin erat hubungannya.
Aku pun merasakan, bahwa Haruma juga semakin bahagia menjalani hidup dan kehidupannya.
Hehehehe...
Beberapa kali, aku melihat Haruma kesulitan mengerjakan PR-PR dari sekolah karena keterbatasan matanya (buta). Dan Harumi sangat sabar, teliti, penuh kasih sayang membantu Haruma.
Dan, di banyak kesempatan, aku juga melihat Harumi sangat menjaga Haruma.
Entah dari ledekan teman seusianya, dari kejahilan teman mereka yang lain, dan sebagainya.
Dan, jujur juga, aku selama lima bulan ke belakang ini pun, merasa sedikit lebih ringan tugasku menjaga Haruma.
Aku jadi tak terlalu banyak khawatir pada Harumaku.
Karena aku tahu...
Kalau Harumi, saudara sedarah (tiri) Haruma selalu ada di dekatnya.
Dan jika aku boleh bercerita jujur juga, ada beberapa kali perasaan dalam hatiku untuk menjadikan Harumi sebagai anak angkatku juga.
Tapi, ketika aku diskusi dengan Bapakku, tentang keinginanku mengangkat Harumi sebagai anakku juga, Bapakku menasihati dengan sangat bijak.
Kata Bapakku, jika aku seperti itu, maka aku tak menghormati perjuangan orang tua angkatnya Harumi.
Kata Bapakku, aku tak boleh menjadi seorang ibu yang egois.
Bapakku tak suka jika sampai seperti itu diriku.
Dan, ada satu pesan dari Bapak...
"Nisa, walaupun Harumi itu bukan anak adopsi kamu yang legal secara administratif, kamu tetap harus menyayangi Harumi sama persis seperti kamu menyayangi Haruma..."
Dan ada satu lagi pesan Bapak padaku...
"Belajarlah untuk menyayangi mereka tanpa mengurangi atau melebihkan kasih sayangmu pada salah satunya saja. Karena seperti itulah almarhumah Ibumu waktu dulu masih hidup."
🥹🥹🥹🥹🥹