Tidak update harian!!
Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.
Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.
Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.
mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.
Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
"Kau mau berhenti bekerja di sini?" tanya Diandra ketika Zalina datang ke kafenya.
Saat ini keduanya sedang duduk di sudut ruangan, membicarakan tentang Zalina yang hendak berhenti bekerja dan membayar semua hutangnya pada Diandra.
"Ya." jawab Zalina. "Kaiden memberikan sebuah posisi untukku. jadi, aku tidak bisa lagi bekerja di sini."
"Oh, ya. Kau akan bekerja di mana?" tanyanya penasaran.
Zalina menceritakan semuanya pada Diandra.
"Ah, jadi pabrik itu akan kembali berjalan. Ayahmu pasti senang sekali ya."
"Ya. Ayah sangat senang karena akhirnya pabrik itu bisa kembali beroperasi. Tapi..." Zalina menjeda kalimatnya sejenak. Wajahnya terlihat ragu.
"Ada apa?"
"Tidak. Aku hanya takut tidak bisa menjalankan tugasku dengan baik."
Diandra seketika paham dengan keraguan yang dirasakan oleh sahabatnya itu.
"Kau bahkan belum mencobanya, tapi kau sudah takut gagal duluan." ucap Diandra mencoba menyalurkan kekuatan padanya. "Ayolah. Kau kan sangat pintar dan cepat belajar. Aku yakin kau pasti mampu menjalaninya."
Diandra tampak menyemangatinya. Dan hal itu membuat Zalina merasa sedikit tenang.
"Terima kasih Di. Kau selalu ada di saat aku bahkan tidak punya apa-apa lagi." ucap Zalina tulus.
"Tidak perlu berterima kasih. Itu gunanya teman 'kan?"
Zalina tersenyum mendengar perkataannya itu. Diandra memang sahabatnya yang paling tulus. Ia bahkan tidak pernah meninggalkannya, bahkan disaat dirinya rapuh.
Di saat mereka sedang asyik mengobrol, salah seorang pegawai mendatangi meja mereka.
"Maaf, Kak."
"Kenapa?"
"Begini, sepeda motor pengantaran kita tiba-tiba saja mogok. Jadi, Johan terpaksa membawanya ke bengkel." jelasnya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Apa ada pesanan yang harus di antar?" tanya Diandra, seolah mengerti maksudnya.
"Iya, Kak."
"Tapi, mobilku juga sedang di servis." sahut Diandra, tampak berpikir.
"Pakai mobilku saja. Sekalian jalan-jalan. Aku juga sedang tidak ada kerjaan." usul Zalina memberikan sebuah penawaran padanya.
"Oh, kau sekarang sudah punya mobil baru."
Zalina tampak tersenyum lebar ke arahnya. "Kaiden menghadiahkan sebuah mobil untukku." Ia tampak menunduk malu.
"Suamimu benar-benar manis." sahut Diandra tulus, turut bahagia mendengarnya.
Tanpa berlama-lama, mereka segera pergi untuk mengantarkan pesanan yang jumlahnya lumayan banyak.
🥀🥀🥀
Set lokasi pemotretan tampak sibuk siang itu. Para kru tampak lalu-lalang mempersiapkan segala kebutuhan. Beberapa orang tampak sibuk menata kamera dan pencahayaan, sementara tim wardrobe memastikan pakaian yang akan dikenakan oleh Niel sudah tertata rapi.
Tak lama kemudian, lokasi pemotretan berpindah ke sebuah taman kota yang cukup luas. Pepohonan rindang, hamparan rumput hijau dan jalan setapak yang dikelilingi bunga warna-warni menjadi latar sempurna untuk sesi pemotretan kali ini.
Niel berdiri di dekat sebuah kursi taman. Pria tampan itu mengenakan pakaian yang telah dipersiapkan oleh tim stylist. Wajahnya tampak tenang, meski sesekali ia tampak menoleh ke arah para kru yang masih sibuk menyiapkan set lokasi.
"Lima menit lagi kita mulai, Niel!" seru sang fotografer.
Niel hanya mengangguk pelan.
Beberapa kru mulai mengambil posisi. Asisten fotografer memeriksa kembali properti, sementara penata rias merapikan rambut Niel untuk terakhir kalinya.
Beberapa penjaga yang di sewa oleh Kaiden, berjaga di sekitarnya. Tidak mencolok, tapi mata mereka tampak waspada menatap ke sekeliling taman.
Dari kejauhan, sepasang mata tampak mengawasi. Di balik pohon besar yang letaknya cukup jauh dari set lokasi, seorang pria berdiri diam. Wajahnya tertutup masker hitam. Topi yang dikenakannya ditarik rendah, sementara sepasang kacamata hitam menutupi matanya dengan sempurna.
Tatapan matanya tidak pernah lepas menatap Niel sejak tadi. Pria itu memakai jaket lusuh yang warnanya sudah tampak memudar. Ia tampak berhati-hati agar tidak menarik perhatian. Sesekali ia tampak mengintip dari balik pohon, memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang menyadari kehadirannya di sana.
Tangannya mengepal perlahan.
"Niel..." gumamnya pelan dari balik masker.
Nadanya begitu lirih, nyaris tidak terdengar.
Di tengah suasana pemotretan yang ramai, Niel tiba-tiba terdiam. Entah kenapa buluk kuduknya tiba-tiba meremang. Perasaannya mendadak jadi tidak nyaman, seolah ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya.
Niel menoleh ke sekeliling taman. Matanya menyapu satu per satu sudut lokasi. Namun, tidak ada apa-apa. Hanya ada pepohonan yang bergoyang perlahan diterpa angin siang itu.
Tenanglah, Niel. Ada banyak penjaga di sini. Dia tidak akan berani untuk muncul.
Pria itu tampak menenangkan dirinya sendiri dengan kata-katanya.
"Ada apa, Niel?" tanya Jhoni, asistennya, dengan nada khawatir.
Niel menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa." sahutnya mencobanya terlihat tenang.
Meskipun begitu, rasa gelisah di dalam hatinya belum juga hilang.
Dari balik pohon, pria misterius itu tersenyum tipis. Tatapannya masih tertuju pada Niel. Seolah-olah setelah sekian lama ia akhirnya berhasil menemukan orang yang selama ini di carinya.
🥀🥀🥀
"Di sini tempatnya?" tanya Zalina begitu mobil mereka tiba di sebuah taman bunga di tengah kota.
Diandra tampak memastikan alamat yang ada di buku catatannya sekali lagi. "Iya, seperti benar di sini." jawabnya yakin setelah memperhatikan papan nama taman yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berhenti.
Zalina mengangguk pelan.
Diandra kemudian membuka mobil dan turun. Di tangannya terdapat beberapa kantong berisi pesanan kopi dan kotak-kotak kue yang telah mereka siapkan sejak tadi.
"Mau ku bantu bawakan?" tanya Zalina yang memperhatikan Diandra agak kerepotan dengan bawaannya.
"Tidak usah. Aku bisa sendiri." jawabnya dengan penuh keyakinan. "Kau tunggu saja di sini. Aku tidak akan lama."
"Iya. Aku tunggu di sini."
Diandra lalu berjalan menuju area taman. Langkahnya cukup hati-hati agar minuman dan kue yang dibawanya tidak tumpah. Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat beberapa orang berkumpul di salah satu sudut taman, seolah sedang menunggu kedatangannya.
Sepertinya sedang ada pemotretan. Ah, bukannya itu Niel?
Tatapannya beralih menatap seorang pria tampan yang sedang berpose di depan jepretan kamera fotografer.
Sementara itu, Zalina memilih berdiri di luar mobil.
Matanya memandang ke arah sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu. Taman bunga itu tampak cukup ramai pada siang hari. Beberapa pengunjung berjalan santai di sepanjang jalan setapak. Sementara anak-anak kecil berlarian diatas hamparan rumput.
Zalina tersenyum tipis melihat pemandangan tersebut.
Namun, beberapa menit berlalu dan Diandra belum juga kembali.
Zalina menoleh ke arah Diandra yang kini tampak semakin jauh. Gadis itu sedang berbicara dengan seseorang sambil menyerahkan pesanan yang dibawanya.
Ia melihat gadis itu kini malah berdiri diam, melihat pemotretan yang sedang berlangsung di taman tersebut.
"Apa dia melihat pria tampan itu?" gumamnya pelan sambil geleng-geleng kepala. "Aku susul saja, deh. Aku juga penasaran."
Ia mulai melangkah meninggalkan sisi mobil. Namun, baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba terdengar suara mesin sepeda motor dari arah berlawanan.
Vrooomm!
Zalina spontan menoleh. Matanya membulat seketika saat melihat sebuah sepeda motor tua melaju ke arahnya
Dengan arah yang tidak stabil. Pengendaranya tampak panik, berusaha mengendalikan sepeda motornya yang bergoyang ke kanan dan ke kiri.
"Awass!!"
Teriakan seseorang terdengar. Namun, Zalina malah membeku di tempatnya. Semuanya terjadi begitu cepat tanpa bisa ia hindari.
Brukk!!
Sepeda motor itu tanpa sengaja menabrak tubuh Zalina.
"Ahh!"
Tubuh Zalina terpental ke samping, sebelum akhirnya jatuh menghantam tanah. Rasa perih langsung menjalar dari lutut hingga ke telapak tangannya.
"Zalina!"
Diandra yang mendengar suara benturan itu langsung menoleh. Wajahnya seketika berubah panik ketika melihat sahabatnya terjatuh di tengah jalan setapak. Tanpa pikir panjang, Diandra segera berlari menghampirinya.
Begitu pula dengan supir Zalina yang tampak panik ketika keluar dari mobil.
"Ya, Tuhan! Zalina!" Diandra berjongkok di sampingnya. "Kau tidak apa-apa?"
Zalina meringis pelan sambil mencoba untuk bangkit.
"Aku... tidak apa-apa." jawabnya pelan, meski wajahnya tampak menahan sakit.
Namun, saat Diandra melihat lutut Zalina yang terluka dan berdarah, wajahnya langsung berubah khawatir.
"Kau berdarah."
Zalina langsung menunduk. Lututnya terasa perih, sementara telapak tangannya juga tampak lecet dan berdarah akibat menahan tubuhnya ketika terjatuh.
Diandra segera menatap tajam ke arah pengendara sepeda motor tua tersebut.
Namun, sebelum ia sempat mengatakan apa pun dari kejauhan terdengar seorang pria yang berlari mendekat.
Wajah pria itu tampak datar, namun terselip sedikit rasa khawatir di wajahnya.
Pria itu mengangkat tubuh Zalina yang terasa sakit di beberapa bagian.
Zalina tampak terpaku sesaat begitu menatap wajahnya. "Kai...den."
🥀🥀🥀
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...