Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27.
"Salindra," panggil Vita sambil melambaikan tangan.
Salindra berjalan mendekat ke arah Vita, baru akan duduk Citra menarik tangannya dan membuat Salindra terjatuh di lantai karena tarikannya sangat keras. Salindra terkejut seketika lalu menoleh melihat Citra sedang menertawakannya. Ia berdiri langsung menampar wajah Citra.
Citra tertegun sekaligus terkejut mendapat tamparan dari Salindra. Ia menatap nyalang dan membalas dengan tamparan. Sebelum berhasil menampar, Salindra menangkap tangannya dan menjauhkan dari wajahnya.
"Kamu_"
"Kenapa, kamu pikir aku takut sama kamu,"
Salindra membalas tatapan Citra tak kalah sengit. Salindra sudah tidak bisa menahan rasa amarah terhadap Citra, jika lama dibiarkan akan semakin melunjak dan nekad. Maka, ia memilih melawan daripada ditindas terus-menerus.
"Kamu pikir aku akan diam saja setelah kamu memperlakukanku selama ini. Aku diam bukan berarti aku terima dengan perilakumu padaku, aku tidak takut sama sekali," balas Salindra beranjak pergi tidak jadi duduk bersama Vita.
Sebelum pergi ia melihat Vita berdiri dengan tatapan yang sulit diartikan. Sementara Citra tersenyum sinis melihat kepergian Salindra. Ia melirik Vita sambil menepuk bahunya.
"Kerja yang bagus, Vita. Tapi sayangnya aku kurang puas, masih ada waktu buat menjalankan rencana berikutnya," kata Citra berlalu meninggalkan Vita sendirian
Vita menatap kepergian Citra, mengepalkan tangannya dengan kuat. Dalam hatinya ia akan menuntut balas kepada Citra, ia tidak mau diperbudak olehnya.
"Jika Salindra saja bisa melawannya, aku juga harus bisa," gumamnya.
Salindra pergi mencari tempat makan untuk makan siangnya. Ia berjalan keluar dari perusahaan, begitu melihat ada warung sederhana langsung berjalan dengan cepat menuju warung tersebut. Ia masuk dan melihat di dalam etalase penuh dengan aneka hidangan yang membuat lidahnya bergoyang ingin segera memakannya.
Baru akan menunjuk makanan, seseorang memberikan sepiring nasi beserta lauknya. Salindra terkejut pandangannya beralih kepada seorang perempuan di depannya dengan senyum ramah. Mata Salindra membulat sempurna, melihat perempuan itu sangat cantik dan menawan.
"Makan ini saja, lagi pula sayang kalau mubazir," katanya menyodorkan piring berisi nasi dan lauk kepada Salindra.
Salindra merasa sungkan saat melihat makanan di piring lalu menatap perempuan enggan menerima.
"Tenang saja aman kok, Aku sudah memesan makanan ini untuk temanku tapi, dia tidak datang. Jadi, untuk kamu saja," jelas perempuan tersebut.
Akhirnya Salindra menerima pemberian perempuan itu dan duduk bersamanya satu meja.
"Terimakasih, kenalkan namaku Salindra," ucap Salindra mengulurkan tangannya.
Perempuan itu meraih ukuran tangan Salindra memperkenalkan diri. "Valeri," sahut perempuan tersebut dengan senyum manis.
Deg
Jantung Salindra terasa berhenti di tempat, ia teringat nama sekretaris yang disebut oleh Haikal. Dalam benak Salindra apakah benar ini orangnya atau ada nama Valeri lainnya. Untuk saat ini ia tidak ingin berpikir terlalu jauh mengenai orang yang baru dikenalnya. Ia hanya ingin menikmati makan siang.
Mereka terlibat pembicaraan receh sesekali tertawa karena merasa ada yang lucu. Sampai akhirnya mereka selesai makan dan berpisah, Valeri pergi lebih dulu meninggalkan Salindra yang sedang memikirkan Valeri yang baru saja dikenalnya.
Waktu menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit, Salindra masih berkutat dengan pekerjaannya yang tinggal beberapa, ia harus menyelesaikan saat ini juga karena besok sudah ada pekerjaan baru.
"Rajin amat sampai jam pulang saja tidak tahu atau sengaja cari muka sama Pak Haikal biar di katakan karyawan paling rajin," kata Citra dengan nada sewot.
Salindra mengabaikan perkataan Citra, ia hanya ingin fokus dalam pekerjaan. Merasa tidak ada sahutan dari Salindra, Citra menggebrak meja kerja Salindra.
Spontan Salindra terperanjat lalu berdiri menatap wajah Citra dengan tajam, membuat Citra bergidik. Salindra mendekatkan wajahnya ke wajah Citra menelisik mata yang membuatnya muak setiap kali melihatnya.
“Sudah kubilang jangan membuat masalah denganku atau kamu akan malu sendiri," ucap Salindra merasa geram dengan ulah Citra yang semakin menjadi.
Citra tersenyum licik kemudian memanggil orang suruhannya membawa Salindra dengan sekali tepuk tangan. Dua pria berbadan tinggi berjalan masuk ke ruangan Divisi langsung memegang tangan Salindra dengan kuat sampai Salindra tidak bisa melepaskan diri.
Citra tersenyum puas memerintah mereka membekap Salindra dan membawa keluar dari perusahaan melalui pintu darurat belakang agar tidak ketahuan orang lain. Salindra di bius dan di bopong oleh salah satu orang pria masuk ke dalam mobil yang sudah mereka siapkan.
Mobil melaju dengan sangat cepat keluar dari perusahaan, seorang sekuriti melihat mobil keluar dari perusahaan tanpa merasa curiga karena jendela kaca hitam jadi tidak terlihat ada orang lain di dalamnya.
...----------------...
Di rumah baru Jayanti pulang malam tidak melihat adiknya di rumah merasa curiga tiba-tiba hatinya merasa tidak enak dan khawatir, jantungnya berdegup sangat cepat. Ia segera menghubungi nomor ponsel adiknya tapi tidak ada jawaban. Sedangkan ponsel Salindra tertinggal di meja kerjanya beserta barang dan sisa pekerjaannya yang belum selesai.
Jayanti segera membersihkan diri setelah itu menghubungi teman Salindra yaitu Hafsah. Siapa tahu bersamanya.
"Hafsah, apakah Salindra sama kamu?"
"Tidak, Kak. Aku sedang ada acara keluarga, memangnya ada apa, Kak?" jawab Hafsah ikut khawatir.
"Salindra belum pulang padahal ini sudah malam banget, aku pikir sama kamu," sahut Jayanti panik.
"Tumben banget belum pulang, apa mungkin meeting di luar kantor," kata Hafsah mencoba berpikir positif.
"Tapi dia tidak memberitahu, biasanya kalau lembur atau ada kerjaan di luar kantor selalu menghubungi dulu," ucap Jayanti merasa terjadi sesuatu pada adiknya.
"Maaf banget ya, Kak. Aku tidak bisa membantu malam ini, soalnya acara keluarga tidak bisa ditinggalkan," balas Hafsah merasa tidak enak hati.
“Iya tidak apa-apa, maaf sudah mengganggu acara keluarga mu," kata Jayanti kemudian memutuskan panggilan telepon.
Di saat rasa panik ponselnya berdering nama kekasihnya menelpon tapi ia tidak melihatnya langsung mengangkat.
“Iya, ada apa?"
“Kok ada apa," Hezel mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan Jayanti kekasihnya, sambil melihat ke layar ponselnya.
Jayanti melihat layar ponselnya merasa malu dan bersalah, ia pun meminta maaf. Hezel mendengar suara Jayanti merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Apa terjadi padamu?" tanya Hezel khawatir.
"Aku tidak apa-apa cuma_"
Jayanti bingung harus jujur atau tidak karena tidak mau merepotkan kekasihnya yang sedang beristirahat.
“Ada apa... katakan saja jangan buat aku cemas," sahut Hezel dengan suara tinggi tapi tidak kasar.
"Salindra belum pulang, aku sudah menelponnya tapi tidak diangkat, dia tidak biasa seperti ini aku... Aku khawatir terjadi sesuatu padanya," jawab Jayanti dengan suara berat, airmatanya langsung jatuh begitu saja.
Hezel langsung menutup panggilan teleponnya, membuat Jayanti terkejut dan berpikir buruk. "Kok, langsung mematikan panggilan. Ada apa dengannya?"
Jayanti semakin gelisah kekasihnya mematikan panggilan secara sepihak. Di sisi lain hatinya merasa tidak enak dan sangat khawatir terjadi sesuatu kepada adiknya.
Hezel tiba di depan rumah Jayanti, menggunakan motor sportnya dan langsung turun melangkah menuju pintu dan mengetuknya dengan suara terburu-buru. Di dalam Jayanti di buat heran dan bertanya-tanya, siapa malam-malam datang. Apakah adiknya pulang, ia berjalan cepat membuka pintu.
Mata Jayanti membulat sempurna melihat sosok pria tinggi dan tampan terlihat di wajahnya sangat khawatir langsung memeluknya.
"Apa yang sudah terjadi pada kalian, dimana Salindra?" tanya Hezel menangkup wajah Jayanti.
Jayanti masih tidak percaya kalau Hezel datang, karena ia tidak memberitahu kekasihnya tempat tinggalnya yang sekarang.
"Sayang, kok bengong," kata Hezel menepuk pipi Jayanti sedikit keras.
Jayanti tersadar dari lamunannya mengusap sisa airmatanya, kemudian duduk dengan perasaan tidak menentu. Hezel duduk di sebelahnya, menunggu Jayanti menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Kamu tahu dari mana aku pindah rumah?“ tanya Jayanti menatap kekasihnya heran.
"Tidak penting tahu dari mana sekarang ceritakan ada masalah apa?“ sahut Hezel tidak sabar.
Jayanti menceritakan kalau Salindra belum pulang, ia merasa sangat khawatir, takut terjadi sesuatu hal buruk pada adiknya.