Bagaimana jadinya jika kamu harus menikah dengan musuh kamu, itu yang di rasakan Haziqa Elvarreta Shanum atau kerap di sapa Hazi.
Seorang Dokter umum di salah satu rumah sakit di Jakarta ,anak kedua dari pasangan Kiyia Luqman dan Nyai Khodija.
Hazi harus menikah menggantikan sang kakak, apakah Kehidupan Hazi, akan baik- baik saja setelah menikah, tunggu updatenya hanya di novel ini yaa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Istri Pengganti 27
Setelah tiga puluh menit, Hazi sudah menghabiskan buburnya, karena terlalu lama yang membuat Arras geram, di beberapa suap terakhir Arras memaksa sang istri untuk tetap menghabiskan dengan Arras sendiri yang menyuapi sang istri.
" Nah... gini, makan bubur aja tiga puluh menit " gerutu Arras menaruh mangkok bekas sang istri di meja dan juga memberikan sang istri minum.
" orang lagi males makan" sahut Hazi denan bergumam, namun sialnya Arras mendengarnya.
" Bilang sekali lagi coba, males makan apa nyiksa diri?" sahut Arras.
" Iyaa maaf" jawab Hazi.
" Tadi Mas panggil aku kenapa?" tanya Hazi, yang ingat tujuan awal untuk menemui suaminya.
" Tadinya mas mau hukum kamu, buat nambahin jam kamu, tapi lihat kamu lagi sakit kayak gini enggak jadi , jadinya mau anter kami pulang " jawab Arras .
" pulang gimana? di luar pasti lagi banya orang ,apalagi pergantian shift " sahut Hazi.
" Yahhh terus, kamu mau di sini ?" .
" Mas, emang udah selesai kerjanya ?" tanya Hazi.
" Yahhhh belom, mas harus cek beberapa dokumen" jawab Arras.
" Ya sudah, aku nunggu mas di sini aja, sambil nunggu di luar sepi " jawab Hazi.
" enggak, ayo mas anter pulang mas bisa cek dokumennya di rumah, di sini kamu enggak bisa leluasa istirahat, enggak ada tempat tidur " sahut Arras.
" aku bisa tidur di sofa ini, udah mas lanjut aja kerjaannya " jawab Hazi membaringkan dirinya di sofa yang berada di ruangan suaminya.
Arras hanya bisa pasrah, ia kemudian kembali ke meja kerjanya dan kembali mengerjakan pekerjaannya, sembari memantau sang istri yang kini sudah terlelap.
Sedangkan di rumah besar keluarga Arras, Atthaya sedang marah- marah tidak jelas,sejak semalam karena ia di usir, begitu saja oleh kakaknya.
" Aaaaaa..... gara- gara cewek itu, gue jadi di usir sama Kak Arras, lagian kenapa sih semua orang masih bela dia, jelas - jelas dia udah buat keluarga ini malu "gerutu Atthaya.
" Awas aja, gue bakal bikin perhitungan samadia, tapi kenapa sih Kak Arras bela dia segitunya" gumam Atthaya.
Tidak lama ponsel Atthaya berdering panggilan dari Axel, Axel adalah teman Atthaya yang sedang dekat dengan dirinya, untuk saat ini hubungan mereka masih sekedar untuk teman .
" Hai,Axel...." sapa Atthaya kala meneka tombol biru pada panggilan tersebut.
" ........."
" kesini aja, di rumah gue lagi enggak ada orang " jawab Atthaya.
" .............."
" okey ,aku tunggu " jawab Atthaya yang kemudian menutup telfonnya.
Mood Atthaya tiba- tiba berubah setelah menerima panggilan dari Axel, Atthaya memang terlihat baik- baik saja dari luarnya, namun karena kesibukan kedua orang tuanya dan juga kakaknya yang jarang di rumah, ia sering sekali pergi party.
Dan semua itu pasti tidak di ketahui oleh keluarganya, karena ia tahu keluarganya yang menaati perintah agama, termasuk menjauhi minuman- minuman keras.
Atthaya di ajak oleh teman- temannya untuk party, namun karena mood dia untuk keluar sedang tidak ada,dia memilih untuk mengajak teman- temannya party di rumah Atthaya, karena sekarang dia memang benar- benar sendiri di rumah yang begitu luas ini.
" Mending gue party dari pada mikirin orang itu .... ya.. gak" gumam Atthaya.
Atthaya kemudian memesan beberapa makanan untuk teman- temannya dan berharap ayah bundanya tidak pulang tiba- tiba.
" moga aja masih lama di luar negrinya, harusnya sihh...masih ya" gumam Atthaya yang terlihat senang