Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Lebih dari Sekadar Adik
Di dalam kafe, ponsel Sael bergetar di atas meja. Begitu membaca pesan dari Kael, wajahnya merona, Sael refleks mengedarkan pandangan ke arah luar jendela kaca, menebak-nebak di mana kembarannya itu bersembunyi.
Namun, perhatiannya langsung terputus begitu aroma kopi yang pekat dan manis menguar di hadapannya.
Aeros kembali dari meja barista membawa sebuah nampan kecil. Ia meletakkan secangkir 𝘊𝘢𝘳𝘢𝘮𝘦𝘭 𝘔𝘢𝘤𝘤𝘩𝘪𝘢𝘵𝘰 dengan 𝘭𝘢𝘵𝘵𝘦 𝘢𝘳𝘵 berbentuk hati yang sempurna di depan Sael, lengkap dengan sepiring 𝘊𝘪𝘯𝘯𝘢𝘮𝘰𝘯 𝘙𝘰𝘭𝘭 hangat yang masih mengepulkan uap.
"Buat tamu VIP ku," ujar Aeros lembut. Suaranya yang berat namun renyah terdengar begitu seksi di tengah riuhnya suasana kafe. Ia lalu duduk di kursi seberang Sael, melepas celemek hitamnya, dan melonggarkan satu kancing teratas kemejanya—sebuah pemandangan yang sukses membuat Sael mengalihkan pandangannya.
"Makasih, Kak Aeros. Repot-repot banget, padahal kafe lagi ramai," kata Sael, mencoba terlihat tenang meski tangannya agak gemetar saat memegang cangkir.
Aeros terkekeh pelan, menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap Sael. "Nggak ada kata repot buat kamu, Sael. Lagipula, kalau kamu minta aku tutup kafe ini malam ini juga supaya kita bisa berdua, aku bakal kunci pintunya sekarang."
"Eh? Jangan dong! Rugi nanti!" sahut Sael panik, yang langsung disambut tawa renyah dari Aeros. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, sadar kalau ia sedang digoda.
"Gimana sidang hari ini? Lancar?" tanya Aeros, mengalihkan pembicaraan.
"Lancar kok, Kak. Tadi sempat tegang karena kliennya agak rewel, tapi untungnya semua bisa diatasi," cerita Sael. Ia mulai menyuap potongan 𝘊𝘪𝘯𝘯𝘢𝘮𝘰𝘯 𝘙𝘰𝘭𝘭. "Hmm, ini enak banget!".
Aeros tersenyum puas melihat binar bahagia di mata Sael. Tangan kanan Aeros bergerak pelan di atas meja, mendekat ke arah tangan Sael yang bebas. Ibu jarinya dengan lembut mengusap punggung tangan Sael,
"Baguslah kalau lancar. Aku sempat khawatir kamu masih lemas karena sakit kemarin lusa," ucap Aeros, suaranya merendah, "Makanya malam ini, kamu nggak boleh mikirin kerjaan dulu. 𝘠𝘰𝘶 𝘥𝘪𝘥 𝘨𝘳𝘦𝘢𝘵 𝘵𝘰𝘥𝘢𝘺, Sael. Sekarang waktunya aku yang urus kamu."
Sael menatap tangan Aeros yang menggenggam jemarinya.
"Kak Aeros..." panggil Sael lirih.
"Ya?"
"Boleh minta tolong satu?" Sael menggigit bibir bawahnya, teringat ucapan Kael di pesannya.
Aeros menaikkan alisnya, tersenyum geli. "Apapun, Sael. Sebut aja."
"Bungkusin dua 𝘤𝘳𝘰𝘪𝘴𝘴𝘢𝘯𝘵 cokelat sama satu 𝘐𝘤𝘦𝘥 𝘈𝘮𝘦𝘳𝘪𝘤𝘢𝘯𝘰 ya? Pakai... kartu ini," ucap Sael sambil menyodorkan kartu tersebut. "Ada siluman di luar yang harus diberi sesajen supaya rahasia masa kecilku aman."
Aeros sempat melongo sesaat sebelum tawa lepasnya pecah. Ia melirik ke arah luar jendela, seolah tahu ada Kael yang sedang memantau mereka dari dalam mobil.
"Oke, oke, dicatat," kata Aeros sambil mengambil kartu itu, jemarinya sengaja menyelip di antara jemari Sael sejenak sebelum berdiri.
Sael menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik kedua telapak tangannya, sementara dari seberang jalan, Kael yang melihat Aeros berjalan kembali ke meja barista sambil tertawa hanya bisa mengangguk puas.
Aeros kembali beberapa menit kemudian, tidak hanya membawa satu kantong kertas, tetapi juga sebuah mangkuk kecil berisi 𝘸𝘢𝘧𝘧𝘭𝘦 es krim vanila dengan siraman saus stroberi segar.
Ia meletakkan kantong kertas itu di sisi meja, lalu kembali duduk dan menggeser mangkuk 𝘸𝘢𝘧𝘧𝘭𝘦 ke hadapan Sael.
"Ini bonus buat kamu," ujar Aeros, matanya berbinar jenaka.
"Kak Aeros, ini kebanyakan, nanti aku gendut," protes Sael, meski tangannya sudah menyendok es krim yang mulai meleleh.
Aeros tertawa kecil reflek tangannya mengelus puncak kepala Sael.
Sael menghentikan gerakannya, menatap wajah Aeros yang kini juga menatapnya.
"Kak..." Ucap Sael pelan.
"Sebenarnya apa sih hubungan kita ini??" Tanyanya.
Aeros kembali meletakkan tangannya diatas meja dan memainkan jari jemarinya.
"Menurut mu gimana?" Aeros balik bertanya.
"Kenapa balik bertanya, yang aku tahu jelas ini kakak anggap aku adik, tapi entah kenapa apa yang kita lakukan akhir akhir ini diluar hubungan kakak adik biasa dan untuk Kael, kakak tahu lah, dia lagi ada misi comblangin aku sama kakak. Jadi perasaan kakak gimana? Aku nggak mau salah paham sendiri" jawab Sael, matanya menatap lurus ke Aeros.
Aeros terdiam sejenak, ia memajukan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Sael, mengunci seluruh perhatian gadis itu.
"Sael," panggil Aeros lembut, suaranya terdengar begitu tulus hingga membuat jantung Sael berdegup dua kali lebih cepat.
Aeros meraih tangan Sael, menggenggamnya dengan kedua tangannya.
"Maaf kalau sikapku akhir-akhir ini bikin kamu bingung dan merasa digantung. Tapi jujur, nggak pernah sedetik pun aku menganggap kamu cuma sebatas 'adik'. Maaf aku bohong waktu itu" Aeros menghela napas pendek.
"Misi comblang Kael itu... sebenarnya nggak akan berhasil kalau dari awal aku nggak punya perasaan apa-apa sama kamu."
Sael menahan napas, matanya sedikit membelalak mendengar pengakuan blak-blakan itu.
"Aku peduli sama kamu, dan aku selalu pengen jadi orang pertama yang ada buat kamu, bukan karena aku menganggap kamu adik Sael," lanjut Aeros, ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Sael.
"Aku ngelakuin semua ini karena aku sayang sama kamu. Sebagai seorang pria kepada wanita yang dia cintai."
Aeros menjeda kalimatnya,
"Jadi, kamu nggak salah paham sendiri," ucap Aeros lagi, tatapannya melembut, penuh dengan kesungguhan. "Jika perasaanmu sama, Sael. Aku mau kita lebih dari sekadar hubungan tanpa status ini. Aku mau kamu jadi pacarku. Tapi, aku nggak mau buru-buru menuntut jawaban sekarang. Aku cuma mau kamu tahu, bahwa di hati aku, tempat ini cuma punya kamu."
Sael terpaku, tangannya yang berada di dalam genggaman Aeros terasa dingin karena gugup,
Sael menundukkan kepalanya.
Penjelasan Aeros adalah hal paling indah yang ia dengar hari ini, namun di sudut hatinya, ada keraguan yang mendadak keluar.
Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian sebelum kembali menatap mata Aeros.
"Kak... aku bohong kalau dibilang nggak bahagia dengar ini," ucap Sael lirih, ada nada bimbang yang kentara dalam suaranya. "Tapi... aku baru sebulan lebih pulang ke Indonesia. Tujuh tahun aku di luar negeri, Kak. Itu waktu yang cepet tapi juga lama banget. Aku merasa... kita berdua sudah banyak berubah dibanding waktu kita kecil dulu. Aku takut kalau perasaan Kak Aeros sekarang cuma bayang-bayang masa lalu, atau mungkin karena kita baru ketemu lagi jadi suasananya terasa baru."
Sael menggigit bibir bawahnya, menatap Aeros dengan pandangan meminta pengertian. "Aku cuma takut kita terlalu buru-buru, sementara aku masih adaptasi sama semuanya di sini."
Aeros tidak tampak terkejut ataupun kecewa. Sebaliknya, senyumnya justru semakin melembut.
"Tujuh tahun itu memang lama, Sael. Tapi kamu salah kalau mikir perasaanku ini cuma karena euforia kamu baru pulang, atau sekadar nostalgia masa kecil," kata Aeros tenang.
Aeros bersandar ke kursi, matanya menerawang sejenak, mengenang sesuatu yang sudah lama ia simpan sendiri.
"Kamu ingat malam sebelum kamu berangkat ke luar negeri tujuh tahun lalu? Waktu kita semua kumpul buat acara perpisahan kamu?" tanya Aeros.
Sael mengangguk pelan, mengingat samar-samar malam itu.
"Malam itu, saat semua orang sibuk ngobrol, aku cuma bisa ngelihatin kamu dari jauh. Di situ aku baru sadar satu hal... dadaku rasanya sesak banget bukan cuma karena bakal kehilangan teman masa kecil, tapi karena aku bakal ditinggal pergi sama cewek yang aku suka," ucap Aeros jujur, membuat mata Sael melebar.
"Kak Aeros... sejak dulu?"
"Iya, bahkan sebelum kamu pergi," Aeros terkekeh pelan. "Waktu itu aku masih terlalu muda, dan takut. Aku takut kalau aku egois dan bilang suka, aku malah bakal ngebebanin kamu yang mau berobat dan ngejar mimpi di luar negeri. Jadi, aku milih diam."
Aeros kembali menatap Sael,
"Selama tujuh tahun kamu di sana, Kael itu, dia selalu cerita gimana perkembangan kamu, pacar kamu siapa—dan untungnya kamu nggak punya pacar yang serius di sana," goda Aeros, membuat wajah Sael kembali merona. "Jadi, pas tahu kamu akhirnya pulang sebulan yang lalu, aku bersumpah sama diriku sendiri, kali ini aku nggak boleh telat lagi. Aku nggak mau jadi pengecut yang cuma bisa ngelihatin kamu dari jauh kayak tujuh tahun lalu."
Aeros mengusap lembut punggung tangan Sael dengan ibu jarinya.
"Aku tahu kamu butuh waktu buat adaptasi setelah lama di luar negeri. Dan aku juga tahu kita perlu saling mengenal lagi versi dewasa kita yang sekarang. Makanya, aku nggak minta kamu jawab malam ini, Sael. Aku siap nunggu, sekalian buktiin ke kamu kalau perasaan ini udah bertahan lebih dari tujuh tahun, dan nggak akan berubah cuma karena hitungan bulan."