Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 : Balas dendam ke Jenny?
Sore itu, suasana di depan Kampus Rylance. Satu per satu mahasiswa terlihat meninggalkan area kampus. Ada yang dijemput mobil keluarga dan ada yang menaiki bus kota.
Sementara sebagian lainnya berjalan kaki menuju halte.
Di halte yang berada tidak jauh dari gerbang kampus, terlihat Lyko duduk sendirian di bangku besi. Tasnya diletakkan di samping, sementara kedua tangannya sibuk memainkan ponsel.
Sesekali ia membalas pesan Kelly yang kembali mengirim berbagai stiker aneh ke grup mereka. Senyum kecil muncul di wajah Lyko.
Angin sore berembus lembut, membuat beberapa helai rambutnya yang terlepas dari ikatan bergoyang pelan.
Ia melirik jam di layar ponselnya.
'Bella biasanya sudah sampai...' batinnya.
Namun beberapa sudah menit berlalu, dan Bella belum juga datang. Lyko kembali memainkan ponselnya sambil menunggu.
Sampai tiba-tiba sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan halte. Lyko langsung mengangkat kepalanya.
Namun begitu pintu mobil terbuka, bukan Bella yang keluar dari sana, melainkan adalah Xavier.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam sederhana tanpa dasi. Rambut putihnya tertiup angin saat ia melangkah ke luar mobil. Wajahnya tetap datar dan tatapannya tetap tenang seperti biasa.
Di belakangnya, Felix ikut turun sambil menutup pintu mobil.
Lyko berkedip beberapa kali. “X-Xavier?"
Xavier berjalan mendekat beberapa langkah. Tatapannya tertuju langsung kepada Lyko. “Ayo masuk.”
Lyko hanya bisa berkedip lagi kemudian mengangguk. "Baik,” ia segera mengambil tasnya, lalu berjalan mengikuti Xavier masuk kedalam mobil.
Felix dengan sigap melebarkan pintu belakang. "Silakan, Nona Lyko."
"Terima kasih, Felix."
Lyko masuk lebih dulu. Tak lama kemudian Xavier ikut masuk dan duduk di sampingnya.
Pintu kembali tertutup.
Dan mobil kembali melaju meninggalkan kampus. Suasana di dalam mobil sangat hening. Lyko sesekali melirik Xavier dari sudut matanya.
Pemuda itu sedang membaca beberapa dokumen di tablet miliknya.
Akhirnya Lyko memberanikan diri membuka percakapan. “Xavier...”
Xavier mengalihkan pandangan. "Ada apa?"
Lyko menatapnya penasaran. "Mengapa kamu yang menjemputku?”
Xavier menutup layar tabletnya. "Aku hanya ingin mengajakmu makan."
Lyko hanya mengangguk pelan.
Ia sudah cukup mengenal sifat Xavier. Kalau pemuda itu sudah memutuskan sesuatu sangat sulit untuk ditolak. Jadi ia memilih diam sambil melihat pemandangan di luar jendela.
***
Sekitar dua puluh menit kemudian. Mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah bergaya modern.
Begitu turun dari mobil, Xavier langsung berjalan masuk. Dan Lyko mengikuti dari belakang. Sementara Felix berjalan dibelakang mereka berdua.
Saat memasuki restoran, salah satu pelayan langsung membungkukkan badan. "Selamat datang, Tuan."
Xavier hanya mengangguk tipis.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari dompetnya. "Felix," panggilnya.
Felix segera mendekat. "Ya, Tuan."
"Kau makanlah sambil menunggu kami," ucap Xavier sambil menyerahkan kartu itu.
Felix menerima kartu itu dengan kedua tangan. "Baik, Tuan."
Ia kemudian membungkuk kepada Lyko. "Permisi, Nona, Tuan.”
Lyko tersenyum ramah dan mengangguk.
Felix pun berjalan menuju ruang makan khusus sopir.
Sementara Xavier mengajak Lyko menuju sebuah meja kosong di dekat jendela. Biasanya Xavier selalu duduk berhadapan dengannya.
Namun kali ini berbeda, begitu Lyko duduk Xavier justru menarik kursi di sampingnya.
Lyko sedikit menegang. Jarak mereka sekarang hanya dipisahkan oleh beberapa puluh sentimeter. Namun ia berusaha tetap terlihat santai. Walaupun di dalam hati masih sedikit canggung.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang membawa buku menu. "Selamat datang, Tuan, Nona. Silahkan dilihat menunya.”
Xavier menoleh kepada Lyko. "Kau mau makan apa?"
Lyko menggeleng kecil. "Aku ikut kau saja."
Xavier mengangguk.
Kemudian tanpa melihat menu terlalu lama ia berkata, "satu chocolate cake dengan potongan stroberi segar, satu hot chocolate dengan marshmallow, dan satu coffe Americano."
"Baik Tuan, silahkan ditunggu.”
Pelayan segera mencatat pesanan mereka sebelum pamit. Begitu pelayan pergi.
Lyko terlihat masih diam. Ia menoleh perlahan kepada Xavier. "Ba-Bagaimana...”
Xavier menatapnya. "Kenapa?"
Lyko tampak benar-benar penasaran. "Bagaimana bisa kamu tahu makanan dan minuman favoritku?” tanya Lyko.
Xavier tidak menjawab selama beberapa detik. Namun ia langsung berkata dengan tenang. "Kau tidak perlu tahu.”
Lyko berkedip dan terlihat semakin bingung.
'Kami bahkan belum pernah pergi makan bersama... lalu bagaimana dia bisa tahu semuanya tentangku?’ batin Lyko.
Namun melihat ekspresi Xavier, akhirnya Lyko hanya mengangguk kecil.
Beberapa saat kemudian Xavier kembali membuka percakapan. “Aku ingin bertanya sesuatu padamu,” kata Xavier.
"Hm?" Lyko mengangkat alisnya.
Xavier melanjutkan. "Apa kau mempunyai musuh?"
Lyko mengedipkan mata beberapa kali. Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba. Ia perlahan berpikir sejenak, kemudian menggeleng pelan.
Lyko kemudian menjawab. "Kalau musuh... sepertinya tidak ada, tapi... ada beberapa orang yang tidak menyukaiku.”
Mata Xavier tampak sedikit menyipit. "Siapa?”
"Namanya Jenny,” kata Lyko. “Dia sering merendahkanku dan kedua teman-temanku.”
Xavier mendengarkan tanpa memotong.
"Aku memang tidak punya alasan yang jelas mengapa dia membenciku, tapi menurutku Jenny hanya tidak suka kalau ada orang yang lebih unggul darinya.”
Xavier mengangguk pelan. "Lalu apa dia pernah membuatmu terluka?"
Lyko membeku, ia kembali teringat pada malam saat dirinya hampir menjadi korban para laki-laki hidung belang di bar. Malam ketika Jenny dengan sengaja menjebaknya untuk menjadi wanita penghibur.
Kalau saja Xavier tidak datang waktu itu... mungkin saja hidupnya sudah berubah selamanya sekarang.
Namun, karena Lyko tidak ingin memperbesar masalah akhirnya ia hanya tersenyum tipis. "Sejauh ini tidak. Hanya saja aku terkadang kesal karena mereka sering meremehkan aku, Kelly, dan Ruby."
Xavier menatapnya beberapa detik. Tatapannya tetap datar. Namun entah kenapa ia tampak tau bahwa Lyko sedang menyembunyikan sesuatu. Meski begitu ia tetap tidak memaksanya bercerita lebih jauh.
Tidak lama kemudian pelayan kembali datang.
“Pesanan Anda, Tuan, Nona.”
Chocolate cake dengan taburan stroberi cantik diletakkan tepat di depan Lyko. Di sampingnya menyusul secangkir hot chocolate hangat dengan marshmallow yang perlahan meleleh.
Sementara Americano diletakkan di depan Xavier.
"Selamat menikmati."
Kemudia pelayan kembali pergi.
Lyko menatap kue itu beberapa detik. Matanya tampak sedikit berbinar.
"Makanlah," ucap Xavier.
Lyko mengangguk kecil. “Terimakasih banyak.”
Xavier hanya mengangguk.
Lyko kemudian mengambil garpu dan menyendok potongan kue pertama masuk ke mulutnya. Rasa cokelat yang lembut langsung berpadu dengan manis asam dari stroberi.
Matanya tanpa sadar sedikit berbinar. "Enak...”
Melihat reaksi kecil itu sudut bibir Xavier hampir terangkat. Walau hanya sepersekian detik.
Lyko kemudian bertanya, “apa kau mau coba? Ini enak loh.”
Xavier menggelengkan kepala dan menjawab. “Tidak, kau makan saja. Terimakasih.”
Lyko mengangguk sambil tersenyum dan kembali memakan kuenya.
Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Oh iya."
Xavier menoleh. "Ada apa?"
"Besok aku akan menghadiri pesta ulang tahun temanku."
Xavier meletakkan cangkir kopinya. "Besok?"
Lyko mengangguk. "Aku sudah terlanjur bilang akan datang."
"Apa kau ada undangannya?"
Lyko langsung membuka tasnya. "Sebentar..."
Beberapa detik kemudian ia mengeluarkan kartu undangan berwarna emas. "Ini."
Xavier langsung menerimanya. Tatapannya jelas membaca nama yang tertera. Jenny Fanesya Agrasa.
Mata Xavier sedikit menyipit, ia membalik undangan itu lalu membaca lokasi tempatnya.
Beberapa detik kemudian tatapannya berubah tipis.
"Yang benar saja,” katanya dingin.
"Ada apa?”
Xavier mengangkat pandangannya. “Ia bahkan belum bisa menyewa tempat itu, bagaimana bisa sudah terlalu percaya diri sekali.”
Lyko tertegun. “Bagaimana... kau bisa tau?”
Xavier mengetuk pelan alamat yang tertulis di undangan. "Karena ballroom itu milikku."
Lyko membelalakkan mata. “A-Apa?”
Xavier hanya mengangguk.
Lyko benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Namun setelah dipikir-pikir itu memang masuk akal. Xavier memiliki begitu banyak properti di berbagai kota.
Xavier kembali berkata. "Ayah Jenny sudah menawar sampai harga paling rendah yang dapat kuberikan, tetapi mereka tetap belum mampu membayarnya."
Lyko terdiam, di dalam benaknya muncul banyak pertanyaan.
Jenny memang selalu dicap orang terkaya dikampus, namun bagaimana bisa ia tidak dapat menyewa sebuah ballroom?
Kemudian Xavier kembali mengeluarkan suara. "Apa kau ingin membalas dendam?"
Lyko langsung menggeleng cepat dan menjawab. "Tidak, tentu saja tidak. Kasihan Jenny tahu.”
Xavier menghela napas pelan. Tatapan datarnya seolah berkata, 'dia benar-benar terlalu polos.'
"Pantas saja kau mudah ditindas, kau saja tidak mau melawan orang yang sudah menindasmu," ucap Xavier sambil menggelengkan kepala.
Lyko tersenyum canggung. "Aku memang tidak suka bermusuhan... karena itu tidak baik juga.”
Xavier kembali berbicara. "Kalau begitu... kau dapat membalas dendam dengan cara yang halus."
Lyko tampak bingung. "Maksudnya?"
Xavier menyandarkan punggungnya ke kursi. "Keluarga Agrasa menawarkan seluruh saham perusahaan mereka sebagai jaminan apabila gagal melunasi biaya sewa ballroom."
Lyko langsung menatapnya.
"Kalau mereka benar-benar gagal membayar saham itu akan berpindah tangan."
Lyko terlihat masih belum mengerti.
Xavier lalu berkata dengan tenang, "dan aku bisa mengalihkan kepemilikan saham itu atas namamu."
Mata Lyko membesar. "A-Atas namaku?"
Xavier mengangguk. "Menurut perhitunganku kemungkinan mereka tidak akan mampu melunasi seluruh biaya ballroom, perusahaan mereka sudah berada di ambang kebangkrutan."
"Mereka masih memiliki beban operasional, gaji karyawan, hutang proyek, serta biaya lain yang jauh lebih besar daripada kemampuan income mereka."
Lyko benar-benar terdiam. Selama ini Jenny selalu bertindak seolah keluarganya adalah yang paling kaya di kampus.
Namun kenyataannya keadaan perusahaan mereka justru sangat genting.
Xavier kembali meminum sedikit kopinya. Kemudian ia kembali menatap Lyko. "Jadi bagaimana? Apa kau setuju?"
Lyko menggenggam sendok kue itu di tangannya dengan kuat. Tatapannya turun ke arah secangkir cokelat hangat di depannya.
Disatu sisi ia tidak ingin mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain. Namun di sisi lain, ia juga tahu bahwa Jenny telah berkali-kali menyakiti dirinya dan sahabat-sahabatnya.
Untuk pertama kalinya Lyko benar-benar bimbang menentukan jawaban yang ingin ia pilih.