NovelToon NovelToon
Saat Aku Berhenti Pulang

Saat Aku Berhenti Pulang

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:375k
Nilai: 5
Nama Author: Larasati

"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.

Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.

Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.

Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27 - Kalung Itu Kembali

Adrian datang tepat waktu.

Itu hal pertama yang Alina catat ketika turun ke lobi apartemennya pukul sepuluh pagi. Pria itu berdiri di dekat area duduk, tidak naik, tidak memaksa satpam memanggil, tidak membawa rombongan.

Hanya Adrian.

Dan sebuah kotak biru tua di tangannya.

Kotak itu milik Alina.

Ia mengenalinya bahkan dari jarak beberapa meter. Kain beludru di salah satu sudutnya sedikit pudar karena dulu ia sering membukanya hanya untuk melihat kalung ibunya, bahkan ketika tidak memakainya.

Nadia tidak bisa hadir, tapi ia sudah tahu pertemuan ini. Alina menyalakan perekam suara di ponselnya sebelum mendekat.

Adrian melihatnya.

"Aku tidak akan memprotes rekaman," katanya.

"Bagus."

Mereka duduk di area lobi yang terbuka. Satpam berada tidak jauh. Seorang ibu muda dengan stroller duduk di sisi lain. Tempat itu cukup aman untuk dua orang yang dulu pernah berbagi kamar, tapi kini perlu saksi publik untuk bicara.

Adrian meletakkan kotak itu di meja.

"Aku minta maaf."

Alina tidak menyentuh kotak itu dulu.

"Untuk kalung?"

"Untuk mengambilnya. Untuk memberikannya pada Vania. Untuk menganggapnya hanya benda."

Alina menatap kotak itu.

Suara ibunya seperti datang dari tempat jauh.

Kalau suatu hari kamu merasa tidak punya siapa-siapa, ingat, kamu selalu punya dirimu sendiri.

"Kenapa kamu mengambilnya?" tanya Alina.

Adrian menunduk. "Vania melihatnya di ruang kerja. Dia bilang bentuknya indah. Saat itu dia baru menerima hasil pemeriksaan yang buruk. Aku ingin membuatnya merasa lebih baik."

"Dengan benda peninggalan ibu orang lain."

"Aku tahu."

"Tidak. Saat itu kamu tidak tahu. Atau tidak peduli."

Adrian menerima kalimat itu.

Alina membuka kotak.

Kalung bintang itu terbaring di dalamnya.

Batu biru tua di tengahnya masih utuh. Rantainya sedikit kusut, tapi tidak rusak. Alina mengangkatnya dengan hati-hati. Selama beberapa detik, dunia mengecil menjadi logam dingin di telapak tangannya.

Ia tidak menangis.

Ia pikir ia akan menangis.

Ternyata tidak.

Mungkin karena kalung itu kembali, tapi sesuatu yang hilang bersamanya tidak.

Adrian menatap wajahnya. "Aku bisa memperbaiki rantainya jika..."

"Tidak perlu."

"Alina."

"Aku akan memperbaikinya sendiri."

Adrian terdiam.

Kalimat itu bukan tentang rantai.

Mereka berdua tahu.

*****

Arka meminta ikut bertemu Alina sore itu.

Jadwal kunjungan sebenarnya baru akhir pekan depan. Namun Adrian mengirim permintaan melalui Nadia, dan Alina menyetujui satu jam di taman umum dekat apartemennya, dengan syarat Vania tidak hadir.

Adrian menyetujui.

Ratna marah.

Vania diam.

Arka datang dengan gips penuh gambar baru. Di salah satu sisi, ada gambar bintang biru kecil.

"Aku gambar sendiri," katanya pada Alina.

Alina duduk di bangku taman. "Bagus."

Arka menatap lehernya. Kalung bintang itu sudah dipakai. Rantainya masih belum sempurna, tapi liontinnya bersinar di bawah matahari sore.

"Itu kalung yang Tante Vania pakai?"

Adrian menegang.

Alina menjawab pelan, "Itu kalung Nenek dari Mama. Dulu milik ibu Mama."

"Kenapa Tante Vania pakai?"

Pertanyaan anak kecil.

Tajam karena tidak tahu cara membungkus.

Adrian membuka mulut, tapi Alina lebih dulu berkata, "Karena Papa meminjamkannya tanpa izin Mama."

Arka menoleh ke ayahnya. "Papa salah?"

Adrian menatap anaknya, lalu mengangguk. "Iya."

"Papa sudah minta maaf?"

"Sudah."

Arka menatap Alina. "Mama maafin?"

Alina menyentuh liontin itu. "Mama menerima permintaan maafnya. Tapi menerima maaf bukan berarti semuanya kembali seperti dulu."

Arka mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Kalau kamu memecahkan gelas, lalu minta maaf, Mama bisa menerima. Tapi gelasnya tetap pecah. Kita bisa membersihkan pecahannya, mungkin membeli gelas baru, tapi gelas lama tidak utuh lagi."

Arka berpikir keras.

"Rumah kita gelas?"

Alina hampir tersenyum. "Mungkin."

"Bisa beli rumah baru?"

Pertanyaan itu membuat Adrian menatap Alina.

Alina menjawab setelah beberapa detik. "Orang dewasa sedang mencari bentuk yang tidak melukai kamu."

"Tapi aku mau Mama di rumah."

"Mama tahu."

"Tante Vania bilang kalau Mama sudah punya rumah sendiri, nanti Mama lupa sama aku."

Adrian langsung menoleh tajam. "Arka."

Arka kaget. "Aku nggak bohong."

Alina menutup mata sebentar.

Vania tetap bekerja.

Pelan.

Lewat kalimat yang tampak kasihan.

Lewat ketakutan anak kecil.

Alina membuka mata. "Arka, Mama punya rumah sendiri supaya Mama bisa berdiri. Bukan supaya melupakan kamu."

"Tapi kenapa aku nggak punya kamar?"

"Karena semuanya butuh waktu."

"Kalau nanti ada kamar, aku boleh lihat?"

Alina merasakan dadanya nyeri. "Boleh."

Arka mengangguk kecil, lalu duduk lebih dekat.

Adrian memperhatikan jarak itu.

Tidak dekat seperti dulu. Arka tidak langsung memeluk Alina tanpa ragu. Alina juga tidak menarik anak itu ke pangkuan seperti dulu.

Tapi ada ruang kecil di antara mereka yang tidak lagi dipenuhi teriakan.

Itu mungkin awal.

Dan Adrian bukan bagian dari awal itu.

Ia hanya duduk di sisi lain bangku, menyaksikan.

*****

Setelah Arka bermain sebentar di area rumput, seorang anak kecil berlari melewati mereka sambil membawa biola mainan plastik. Arka menatapnya, lalu menoleh pada Alina.

"Mama kemarin keren."

Alina terkejut. "Kamu lihat videonya?"

"Tante Melisa lihat. Aku ikut lihat."

Adrian mengerutkan kening. "Arka, kamu tidak perlu..."

"Aku suka," potong Arka.

Ia menatap Alina dengan mata yang masih polos. "Kenapa Mama nggak pernah main di rumah?"

Pertanyaan itu menghantam lebih dalam daripada yang Arka tahu.

Alina tersenyum kecil. "Mama lupa."

"Orang bisa lupa main musik?"

"Bisa. Kalau terlalu sibuk mengurus hal lain."

Arka menatap gipsnya. "Aku dulu bikin Mama sibuk?"

"Kamu anak Mama. Mengurus kamu bukan hal yang Mama sesali."

"Lalu apa?"

Alina menatap Adrian sebentar, lalu kembali pada Arka. "Mama menyesal karena lupa mengurus diri Mama sendiri."

Arka mengangguk pelan, menyimpan kalimat itu entah di bagian mana dari pikirannya.

Adrian menyimpan kalimat itu juga.

Dengan cara yang lebih menyakitkan.

*****

Di rumah Wicaksono, Vania menunggu kabar dengan gelisah.

Ia tidak ikut.

Adrian tidak mengizinkan.

Kalimatnya sopan, tapi jelas: Waktu itu untuk Arka dan Alina.

Vania tersenyum saat mendengarnya, lalu masuk kamar dan hampir melempar vas kecil ke dinding.

Sekarang ia duduk di tepi ranjang, membuka ponsel.

Bimo belum membalas pesan terakhirnya. Setelah dipermalukan di gala dan diusir Adrian, pria itu mungkin sedang merawat egonya.

Tidak berguna.

Ia membuka laci dan mengambil map medis yang ia simpan terpisah.

Ada beberapa dokumen yang belum ia serahkan.

Dokumen yang menunjukkan kondisinya membaik lebih cepat daripada cerita yang ia bangun.

Dokumen yang menunjukkan dokter lamanya pernah menulis: stabil, tidak dalam fase terminal.

Vania menatap kertas itu lama.

Prof. Hadi meminta rekam medis lengkap dalam tujuh hari.

Jika ia menyerahkan semuanya, Adrian akan tahu.

Jika ia tidak menyerahkan, Prof. Hadi akan curiga.

Ia meremas kertas itu.

Selama ini ia selalu menang karena orang lebih takut melukai orang sakit daripada mencari kebenaran.

Sekarang Alina mengubah aturan main.

Dan Adrian, yang dulu menjadi pelindungnya, mulai membaca aturan baru itu.

Ponsel Vania bergetar.

Pesan dari Adrian.

Adrian:

Aku sudah mengembalikan kalung.

Vania membaca kalimat itu.

Sesuatu di dalam dirinya jatuh.

Kalung itu kembali.

Arka mulai bertanya.

Adrian mulai mencatat.

Vania membuka galeri ponselnya. Masih ada beberapa foto dirinya memakai kalung itu. Dulu ia menyimpan foto-foto tersebut seperti bukti diam bahwa Adrian memilihnya. Sekarang foto yang sama terlihat seperti barang curian.

Ia memilih satu foto, hendak menghapusnya, lalu berhenti.

Tidak.

Ia tidak mau menghapus bukti kemenangannya sendiri, meski kemenangan itu mulai membusuk.

Ia menyembunyikan foto-foto itu ke folder terkunci, seolah dengan begitu masa lalu bisa tetap berpihak padanya.

Di luar kamar, langkah Adrian lewat tanpa berhenti. Biasanya, jika ia batuk sedikit saja, pintu akan diketuk. Biasanya, namanya akan dipanggil dengan cemas.

Malam itu tidak ada ketukan.

Vania memegang ponsel lebih erat.

Ia ingin keluar dan memanggil Adrian, tapi ia tahu nada suaranya harus tepat. Terlalu lemah akan terlihat seperti sandiwara. Terlalu kuat akan membuat orang bertanya kenapa ia tidak selemah yang selama ini mereka percaya.

Untuk pertama kalinya, ia ragu pada caranya sendiri.

Dan Vania mulai kehabisan benda untuk membuktikan bahwa ia masih dipilih.

1
Fi Fin
tadinya ku berharap lina jadian sama damar eeeee tau2 hamil anak riven makin ga jelas ceritanya
Emily
Dulu merasa berkuasa dan berfikir Alina gak akan melawan..
ternyata di luar ekspektasi
Emily
Adrian mau aja di goblokin vania
Runi Hardaningsih
cape baca nya, tapi benar benar benar
Santi Seminar
kapan bikinnya woy,belum nikah pula🤔
Santi Seminar
katanya kata2 adalah doa,kapan kata2 Vania terkabul tidak akan melihat dunia lagi
Santi Seminar
ini kapan Vania nya kena karma ,sih aman2 wae wong iku😡
Santi Seminar
lha Bimo Kuwi sopo Jan jane
An'ra Pattiwael
biar zj vania mampus
Yati Syahira
rasain sekaran andrian ,lakor zerta cs mulai kalang kabut
Yati Syahira
rasain lakor
Yati Syahira
bagus alina
Yati Syahira
korban dari seorang laki yg arogan dan lakor licik
Yati Syahira
pelakor licik lakinya murahqn
Yati Syahira
rasain laki egois demi lakor
Yati Syahira
lakor licik mainin peran
Yati Syahira
lakor jahat lakinya bodoh
Yati Syahira
jijik lihat pasangan munafik ,alina sdh tepat amvil langkah
Yati Syahira
jijik ama adrian
Yati Syahira
jgn luluh alina cuma di jadiin babu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!