GIVEAWAY PULSA 50K UNTUK KOMEN DAN LIKE TERBANYAK PER BAB AFTER 50BAB NANTI UNTUK 1 ORANG PILIHAN MOM SECARA ACAK!! PEMENANG AKAN DIUMUMKAN SETELAH BAB KE 51. JANGAN LUPA ULASAN UNTUK NILAI PLUS.
Kiara adalah definisi dari wanita modern yang ambisius. Cantik, cerdas, dan gila kerja. Baginya, satu-satunya hal yang lebih seksi daripada pria tampan adalah saldo rekening yang terus bertambah.
Hingga dia bertemu mengenal Kenan Xequel.
Kenan adalah seorang CEO yang sombong menyebalkan dan sialnya sangat tampan. Dia mewarisi kerajaan bisnis Xequel Group dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya dengan jentikan jari.
Kiara memutuskan untuk menaklukkan hati pria sialan itu berstatus bosnya, bukan karena cinta saja tapi karena dia menginginkan segalanya.. Love and Money.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy ji ji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 30.
Arkan memarkirkan mobilnya di basement. ketiganya masuk ke gedung mewah yang sudah sangat familiar bagi Kiara. Mereka Arkan, Kiara dan Tasya naik dengan lift menuju unit penthouse yang berada di lantai teratas.
Begitu pintu terbuka, Kiara langsung menarik napas panjang. menghirup aroma ruangan yang membangkitkan ribuan kenangan masa lalu.
Kiara tersenyum getir sembari mengusap meja kayu di sudut ruangan.
"Dulu, aku sering banget lari-lari di sini sampai Ayah dan ibuku pusing melihat tingkahku. di pojok itu ada bekas coretanku waktu umur lima belas tahun."
"Apa tidak ada penghuni setelahmu?" Tasya penasaran.
"Tidak, sebab unit ini dibeli oleh temanku yang di paris. dia menjualnya lagi kalau aku sudah punya uang."
Itu teman Kiara yang pernah Kiara tolong dari kecelakaan kecil dan dia tahu unit ini sangat berharga untuk Kiara. jadi mereka menjalin kesepakatan dan sekaligus sebagai balasan atas kebaikan Kiara.
"Ah... dia baik sekali." Kata Tasya dan Kiara mengangguk setuju.
Setelah memastikan. Kiara menoleh ke arah Arkan.
"Arkan, bisa aku pinjam mobilmu?"
Arkan memutar kunci mobilnya di jari.
"Kamu mau nyetir sendiri? memang bisa? seingatku kamu selalu diantar jemput Kenan atau pakai taksi."
"Bisa. mobilku itu sebenarnya masih di bengkel karena rusak. makanya aku tidak menyetir belakangan ini. wajar kalau kamu tidak tahu kamu kan baru pulang dari luar negeri." jelas Kiara meyakinkan.
"Oh begitu? terus aku dan Tasya nunggu di sini?" tanya Arkan sambil melirik Tasya yang asyik melihat pemandangan kota dari balkon.
"Iya... kalian tunggu di sini dulu. Ibu, Ayah, dan Nenekku sudah bersiap-siap untuk pindah. Aku mau menjemput mereka sekarang supaya malam ini kami sudah bisa tidur di sini."
"Baiklah, ini kuncinya. hati-hati, mobilku akselerasinya agak galak." Arkan menyerahkan kuncinya.
Kiara hendak melangkah pergi menuju pintu, tapi tiba-tiba dia berbalik. matanya menatap Arkan dengan sangat tajam.
"Jangan macam-macam." ucap Kiara penuh peringatan.
"Hei Kakak Ipar! apa maksud Anda, ha?" Arkan protes sambil tertawa kecil.
"Jangan apa-apakan Tasya. satu helai rambutnya lecet karena kamu, aku adukan ke orang tuamu." ancam Kiara.
Arkan merasa itu bukanlah ancaman, Kiara saja tidak mengenal Mom dan Dadnya. memang menggemaskan.
"Aku juga punya harga diri, Kiara. mana mungkin aku merusak anak gadis orang di rumah calon kakak iparku sendiri."
"Kita belum pacaran Kiara..." sahut Tasya cepat dengan wajah memerah padam.
"Aku harap begitu." balas Kiara pendek. Ia teringat betapa buasnya Kenan. dia hanya berharap Arkan punya sedikit lebih banyak pengendalian diri dibanding kakaknya yang dominan itu.
***
Baru saja Kiara membuka pintu mobil Arkan di basement. sebuah tepukan di pundaknya membuat Kiara hampir saja melayangkan tasnya.
"Kiara! Tunggu!"
Kiara berbalik dan matanya membelalak.
"Nathan? kamu... ngapain di sini?"
Nathan berdiri di sana dengan gaya santai.
"Pertanyaannya terbalik. harusnya aku yang tanya kamu ngapain di sini? Aku tinggal di sini."
"Hah? sejak kapan?"
"Sejak aku kembali dari luar negeri bulan lalu. Aku menyewa apartemen tepat satu lantai di bawahmu. jadi... penthouse mu itu dibeli lagi?" Nathan menunjuk ke arah atas.
"Iya, aku mau pindahan sekarang."
"Oke, mari aku bantu. minggir!" Nathan mencoba masuk untuk mengambil alih pintu pengemudi.
"Tapi...."
"Aku yang nyetir. kamu kelihatan capek." potong Nathan tegas.
"Tidak bisa, ini mobil Arkan. dia bisa marah kalau orang lain yang bawa." Kiara berat hati.
"Kiara, ayolah. bagaimana kalau pakai mobilku saja? kamu bisa bantu angkut beberapa barang dari tempatmu yang sekarang. mobilku bagasinya luas."
Kiara tampak menimbang-nimbang.
Menjemput Ayah yang sedang sakit memang lebih nyaman dengan mobil yang lebih luas.
"Apa? barang? dengan mobil mewahmu itu? kamu serius?" Kiara menatap mobil Nathan yang memang mobil mahal keluaran terbaru.
"Terserah padamu. mau dibantu atau tidak?"
Tanya Nathan dan Kiara tersenyum.
"Tentu saja boleh! Ayo, kita ke kontrakanku sekarang."
***
Setibanya disana. Ibu, Nenek, dan Ayahnya sudah menunggu di teras. beberapa barang besar sudah diangkut oleh mobil sewa yang dipesan Kiara tadi pagi. Di teras hanya tersisa tiga koper besar berisi pakaian dan obat-obatan Ayah.
Nathan langsung turun dan tanpa banyak bicara mengangkat tiga koper itu sekaligus. Otot lengannya terlihat menonjol, membuat Kiara sedikit terpana.
Astaga, apa yang kau lihat. Nathan temanmu Kiara sadarlah. lagian pak Kenan punya otot lengan yang sama bagusnya. tidak apa-apa, mengagumi pria tampan bukan kesalahan kok.
"Berat Nath. biar aku bantu satu." tawar Kiara.
"Diam saja di sana. tugasmu itu cuma mengantar Ayah dan Ibumu masuk ke mobil. urusan berat biarlah pria yang lakukan." balas Nathan sambil memasukkan koper ke bagasi.
Kiara dan ibu membantu Ayahnya masuk kee mobil sementara Nenek mengikuti dari belakang.
"Kiara, sebenarnya kita mau pindah ke mana Nak?" tanya Nenek lembut sambil mengusap jok kulit mobil itu, sudah lama mereka tidak merasakan kemewahan.
"Kita kembali ke penthouse pemberian Ayah dulu Nek," jawab Kiara sambil tersenyum ke arah Ayahnya yang tampak terharu.
"Tapi bukannya itu sudah dijual untuk pengobatan Ayah?" tanya Ibu dengan raut cemas.
"Kiara mendapatkannya lagi Bu."
Ibu melirik ke arah Nathan yang sedang fokus menyetir di depan.
"Apa karena Nathan? Nathan yang membelikannya untukmu?"
Nathan terkekeh dari kursi kemudi.
"Bukan Tante bukan saya. saya cuma bagian bantu Kiara hari ini."
"Bukan dari Nathan Bu. tapi dari Pak Kenan, atasan Kiara itu. beliau memberi bonus besar karena Kiara sudah mau menggantikan tugas Sekretaris Robi dan membantu banyak urusan perusahaan." jelas Kiara.
Mencoba memberikan alasan yang paling masuk akal tanpa harus menceritakan detail kesepakatan "mereka.
"Jadi begitu... luar biasa sekali bos kamu itu Kiara. jangan lupa berterima kasih ya. jarang ada atasan yang sebaik itu sampai membelikan penthousemu." ucap Ibu dengan mata berkaca-kaca.
"Iya Bu. pasti Kiara sampaikan," jawab Kiara lirih.
Sementara di unit paling atas. Tasya mengajak Arkan untuk turun ke basement supaya kalau barang yang Kiara bawa banyak, mereka bisa membantu.
Lift bergerak turun dengan kecepatan stabil. Arkan bersandar di dinding lift, matanya tak lepas dari wajah Tasya yang tampak lebih semangat meski sisa bengkak di matanya masih terlihat.
"Tasya, kamu tahu kenapa lift ini turunnya pelan?" tanya Arkan memecah keheningan.
"Ya memang teknisnya begitu kan? biar aman." Balas Tasya.
"Bukan. sebenarnya karena lift ini tahu kalau dia turun terlalu cepat, waktu aku buat berduaan dengan jarak sedekat ini sama kamu jadi berkurang." cetus Arkan dengan senyum smirk.
Tasya spontan tertawa, gombalan pria itu kenapa banyak sekali?
"Nanti lift nya macet karena gombalanmu itu."
"Sambil menyelam minum air, sambil nunggu lift turun ya nyicil deketin kamu." Goda Arkan yang membuat Tasya senyum begitu dalam.
Arkan terkekeh lalu menatap Tasya lebih dalam. senyumnya perlahan memudar, berganti dengan tatapan yang lebih hangat.
"Tapi serius Sya... aku bingung. kenapa kamu masih bisa tersenyum begini padahal aku tahu masalah yang kamu simpan itu banyak?"
Tasya terdiam sejenak, menatap angka lantai yang terus berganti.
"Aku sudah terbiasa Arkan. Aku memang sensitif kalau ada hal yang sakit banget aku pasti hancur saat itu juga. tapi setelah puas menangis aku biasanya bisa menjalani semuanya lagi dengan baik."
Arkan mengangguk pelan, dia merasa kekagumannya pada wanita di sampingnya ini makin bertambah.
"Kalau gitu... kamu mau jadi pacarku?"
Pertanyaan yang begitu tiba-tiba itu membuat Tasya tersentak. Ia menatap Arkan dengan dahi berkerut.
"Kamu tanya gitu karena kasihan padaku?"
Arkan terdiam sedetik, lalu menjawab jujur.
"Rasa kasihan yang kumiliki di dasari cinta. ada rasa ingin melindungimu biar kamu tidak perlu merasa sendirian lagi."
Tasya tersenyum tipis, tapi menggelengkan kepalanya.
"Cintai aku dulu dengan benar, baru aku mau jadi pacarmu. kasihan itu bukan dasar yang bagus buat sebuah hubungan. cintai aku dengan ketulusanmu."
"Aku memang sudah jatuh cinta Tasya. Kamu tidak merasakannya?"
"Kamu mungkin baru sekadar suka atau terpesona sama ketangguhanku." balas Tasya sambil melangkah keluar saat pintu lift terbuka di area basement.
"Pahami dulu perasaanmu sendiri, Arkan. bedakan mana rasa ingin menolong dan mana rasa ingin memiliki seutuhnya. nyatainnya juga jangan di dalam lift begini, nggak romantis sekali tahu!"
Arkan menyusul langkah Tasya, berjalan bersisian menuju area parkir.
"Oke, oke. nanti aku cari tempat yang lebih bagus. mungkin di atas helikopter biar kamu nggak bisa kabur."
"Serius sedikit!"
"Aku serius!" Tasya menggeleng kemudian keduanya terdiam. mobil Arkan ada di depan mata mereka.
Bersambung...
tetap semangat berkarya 💪💪💪👍👍👍🥰🥰🥰
maafkan daku kak..salah ketik 🤣🤣😭